Langkah Bodoh Menuju Tamat

Langkah Bodoh Menuju Tamat
Chapter 4: Iblis


__ADS_3

Arthur POV


Aku pernah mendengar sebuah legenda tentang seorang pemuda gagah yang menemukan selendang bidadari di tepi telaga. Para bidadari tersebut sedang mandi di malam hari, pemuda itu mencuri salah satu selendang sang bidadari sehingga ia tidak dapat pulang kembali.


Apakah ini pemandangan yang pemuda itu lihat dalam legenda? Aku tidak pernah tahu legenda itu nyata.


TAP, TAP, TAP..


"Oi, apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengintip mereka?"


"Mengin- Aku tidak mengintip! Aku hanya mengecek keadaan!"


Pak penyihir menyilangkan tangannya. Menjewer telingaku, ia menyuruhku tidak mengada-ada dan menyeretku kembali ke perkemahan. Setelah itu, aku diceramahi habis-habisan.


Bukannya aku berniat mengintip, aku bukanlah orang mesum. Aku hanya tanpa sengaja menemukan mereka sedang mandi. Apa itu salah?


Terutama, aku memiliki seseorang yang ingin kunikahi setelah perjalanan ini selesai. Gwendolyn, perempuan yang kucintai. Dia adalah temanku dari kecil. Aku berjanji akan melamarnya seusai semua ini berakhir.


"Hei, apa kau mendengarkanku?! Aku tidak mengajarkanmu menjadi orang mesum!"


"Jangan takut, pak penyihir. Aku hanya memiliki satu wanita di dalam hatiku. Kau harusnya lebih mengkhawatirkan dirimu-"


"Aku impoten dan aseksual. Aku tidak memiliki ketertarikan pada siapapun"


...


.............. Aku tidak perlu mendengar itu.


Aku ingin mengatakan keamanannya karena ia tidak bisa menggunakan sihir tapi apa boleh buat.


Dia adalah satu penyihir yang eksentrik.


"Lupakan- jadi apa yang harus kulakukan dengan selendang ini?" Tanyaku, menyerahkan selendang jingga ke tangannya.


"Kita sepertinya pergi danau yang salah. Jadi kita terpaksa harus melakukan rencana B"


".. Kita memiliki rencana B?"

__ADS_1


Pak penyihir mengangguk. Menarikku ke tepi danau, kami menemukan seorang wanita yang menangis. Terlintas sejenak di benakku rencana buruk yang akan dilakukan pak penyihir.


Ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengancamnya membantu kami mendapatkan pedang legendaris Excalibur. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan itu.


"Hei, hentikan!" Tanganku bergerak menarik bahunya mundur. Mengambil paksa selendangnya, ia melototi ku tidak senang.


Pak penyihir ternyata adalah orang yang licik. Dia tidak ragu bermain kotor jikalau perlu. Aku tidak menyukai caranya meskipun aku tahu dia melakukan ini karena ia sangat putus asa untuk membantuku.


Aku tidak ingin dia marah. Penyihir ini sedikit gila. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan apabila aku menghalangi rencananya.


"Aku.. Aku pikir ada cara lain yang lebih baik daripada mengancamnya"


Dia menakutkan. Terkadang aku bisa mengerti tetapi juga tidak mengerti tindakannya. Alasan mengapa ia membantuku terasa sangat ambigu.


"Pak penyihir, serahkan saja padaku. Aku bisa menjamin kita akan mendapatkan Excalibur"


...****************...


Arthur berjalan medekati sang dewi bulan. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dari kejauhan. Ia memintaku untuk tidak ikut campur dengan rencananya.


Padahal aku memiliki rencana yang sempurna. Aku bukannya akan mengancam dewi itu, aku hanya akan bernegosiasi sedikit dengannya. Apa yang ia takutkan?


!!..


Angin malam tiba-tiba berubah arah menuju selatan. Aku bisa merasakan langit malam bergerak sedikit. Dengan jalannya plot, waktu perlahan-lahan mulai bergerak.


Dari balik semak-semak, aku bisa melihat dua buah cahaya merah yang menyala di kegelapan. Aku mencondongkan badanku mendekatinya. Berusaha melihat lebih jelas, aku merasakan hawa di hutan menjadi dingin.


'Anak muda, kau terlihat lezat..'


Aku merinding dan secara refleks, aku melompat berdiri. Mataku menangkap mata sosok berada di dalam bayangan. Ini adalah berita buruk. Aku telah berhadapan dengan sosok iblis.


Aku melirik ke belakangku. Arthur masih sedang berbincang dengan sanh Dewi bulan. Malahan, mereka terlihat sedang melakukan ritual untuk memanggil peri danau. Ini gawat. Aku benar-benar sendirian sekarang.


Aku tidak memiliki kekuatan super ataupun kepintaran lebih tentang iblis. Apa yang harus kulakukan? Apa berbicara melalui logika bisa membantuku keluar dari situasi ini?


"H, Hei.. sebentar.. Aku ingin menawarkan sesuatu padamu"

__ADS_1


'Kau ingin menawarkanku sesuatu?'


"I, Iya. Bukankah kau peri yang ada di legenda danau?"


Sosok itu terdiam, tidak menyangka aku akan mengatakan itu padanya. Melepaskan tawa kecil, ia mengiyakanku dan menampakkan dirinya sebagai seorang wanita cantik dengan upaya menggodaku.


'Kau lulus ujianku.. Perkenalkan, aku adalah sang peri danau. Apa permintaanmu anak muda?'


Aku tersenyum kaku. Menggaruk pipiku, aku menelan ludahku. Aku tidak memikirkan sejauh ini. Jadi aku memberitahunya aku menginginkan pedang Excalibur yang bisa mengalahkan raja iblis.


Sang iblis tertawa terbahak-bahak begitu aku mengatakannya. Aku berpura-pura bodoh dihadapannya dan masih menanyakan bagaimana cara mendapatkan Excalibur. Iblis itu menopang dagunya menikmati permainan ini.


Ia berkata akan memberikannya padaku setelah aku berhasil lulus ujian berikutnya. Sembari ia menjelaskan aturannya, aku meraih sebuah kayu terdekat dengan ujung yang runcing.


'Apa kau mengerti?'


"I, Iya.. tapi.. B, Bisakah kau melindungiku sebentar? Aku merasa ada sesuatu di dalam sana"


Sang iblis mengangkat alisnya dan membalikkan badannya terburu-buru untuk melihat arah yang kutunjuk. Memanfaatkan situasi ini, aku menancapkan kayu runcing itu pada kepalanya.


Iblis tersebut terjatuh ke tanah. Menggeliat, aku melihat tubuhnya berubah menjadi rubah yang mengerikan. Ia kesusahan untuk bergerak karena aku melukai kepalanya.


Ia belum mati. Untuk membunuh iblis, aku harus menusuk jantungnya. Sayangnya, aku tidak tahu dimanakah jantungnya terletak. Para iblis seringkali menyembunyikan jantungnya di tempat yang sulit. Bahkan ada yang diluar tubuh mereka.


'K, Kau menjebakku..'


"Kau yang menjebakku duluan. Aku hanya bernegosiasi denganmu"


'Berani-beraninya kau!'


Aku melempar batu-batu yang bisa kutemukan ke arah iblis yang menyerangku. Sang iblis mengelak setiap batu yang dilemparkan kepadanya. Kehabisan rencana yang dapat membantuku, aku berlari berliku-liku agar bisa kabur darinya.


Karena berlari tanpa arah, berita baiknya, sang iblis akhirnya melepaskanku karena tidak bisa menemukan jejakku yang berantakan. Berita buruknya, aku kini tersesat di dalam hutan.


"Haa.. Ha... Gila.. Aku bisa gila lama kelamaan"


Jikalau aku bukanlah seorang karakter dengan pengetahuan dunia luar, aku pasti akan mati. Aku tahu aku tidak akan mati apabila tidak makan dan tidur. Sayangnya itu tidak menghilangkan rasa lelah dan lapar.

__ADS_1


Biarkan aku tidur selama beberapa menit. Aku tidak yakin mampu berjalan lebih dari ini.


__ADS_2