Langkah Bodoh Menuju Tamat

Langkah Bodoh Menuju Tamat
Chapter 3: Ketenangan


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri aliran sungai bersama Arthur. Dengan lentera yang menjadi satu-satunya penerangan, kami harus menjadi lebih hati-hati dari sebelumnya.


"Langit masih gelap. Bukankah lebih baik kita menunggu hingga sedikit lebih terang?"


"Langit ini tidak akan pernah terang. Kita sedang berada di bawah pengaruh raja iblis"


"Benarkah? Bagaimana kau tahu?"


Alisku berkedut sedetik. Berbalik mengeceknya di belakangku, mataku bertemu dengan mata hijaunya yang disinari cahaya lentera. Dia mencurigai ku.


Aku mungkin telah meremehkannya. Ternyata dia tidak se-bebal yang kukira.


Aku menenangkan diriku. Sesaat, aku memikirkan 2 pilihan: Pertama, aku bisa memainkan peran seorang korban perbudakan raja iblis yang sedang dalam pelarian. Aku bisa mendapatkan simpati dan perlindungan dari sang protagonis.


Kedua, aku bisa berakting sebagai seseorang berstatus tinggi yang berpengetahuan luas tentang dunia iblis. Aku bisa menggunakan identitas ini untuk mengarahkannya.


Tanpa memiliki dewa waktu di pihakku, aku memilih hal yang pertama kali muncul di benakku. Aku memilih opsi kedua untuk dicoba.


Dengan begitu, aku akan lebih mudah memanipulasinya demi kelanjutan cerita!


"Aku adalah seorang penyihir kerajaan Athonia. Ketika aku mendengar berita tentang pahlawan yang terpilih, aku bergegas kemari untuk menemui"


"Kau tidak terlihat seperti satu"


"Sama denganmu. Kau tidak terlihat seperti perkiraanku"


Arthur menundukkan kepalanya. Ia terbungkam mendengar ucapanku. Protagonis ini benar-benar memiliki isu kepercayaan diri. Dari semua cerita yang author pernah tulis, aku rasa ini adalah protagonis yang paling merepotkan.


Yah, tidak bisa kubilang di buruk. Mungkin ini hanya karena aku tidak menyukai tipe orang yang seperti dirinya.


"Ada apa dengan wajahmu?"


"Tidak. Aku hanya.. berpikir mungkin sang raja salah memilihku. Aku tidak mungkin adalah seorang pahlawan yang bisa mengalahkan raja iblis"


Pilihan raja ya? Aku hampir lupa sang raja memilih Arthur hanya karena ia mencabut pedang Caliburn dari batu. Alasannya sebenarnya cukup sederhana mengapa ia terplih gara-gara itu.


—— Mereka ingin menggunakannya sebagai korban untuk mengalahkan raja iblis. Realistis saja, tidak ada alasan lain selain itu.


Mereka ingin mengeksploitasi sang protagonis demi keuntungan mereka sendiri. Bukankah semua orang akan berpikiran sama jika mendapatkan kesempatan itu?


Di sisi lain, aku bisa mengerti mengapa ia berpikir ia tidak cocok memainkan peran pahlawan. Sebagai seorang petani, aku yakin ini adalah situasi yang absurd baginya.


Sebelumnya ia hanya memegang cangku menuju sawah nya. Kini ia memegang pedang menuju kastil iblis.


"Itu membuat kita senasib. Aku juga selalu mempertanyakan mengapa akulah yang diangkat sebagai penyihir kerajaan meskipun aku tidak bisa menggunakan sihir sama sekali"


"!!.. K, Kau tidak bisa.. menggunakan sihir?"

__ADS_1


"Iya. Hingga sekarang aku pun tidak mengerti mengapa. Tapi aku percaya satu hal dari pengalamanku"


Meskipun aku adalah satu-satunya karakter yang dipilih untuk memiliki kesadaran akan dunia lain-


"—— Itu tidak membuat dirimu lebih spesial dari orang lain. Baik itu pahlawan atau penyihir, kau hanyalah manusia dengan kekurangan dan kelebihan. Jadi hargailah dirimu dan hiduplah sepuasnya"


Pertanyaan mengapa yang ku tanyakan, seiring waktu kulupakan. Saking sibuknya menjalani hidup, kita tidak akan sempat menjawab pertanyaan tersebut.


Aku harap perkataan ku cukup jelas. Dia harus mengubah pola pikirnya itu agar bisa menjadi protagonis andalan.


SPLASH.. SPLASH..


Hm..? Air?


Aku mendengar suara cipratan air dari balik pepohonan. Dari sela-sela, aku bisa melihat danau yang kami cari di depan mata.


Kita sudah sampai! Akhirnya, kita bisa istirahat!


"Arthur, aku akan menyalakan api unggun disini. Bisakah kau mengecek situasi di sekitar sini?"


Arthur mengangguk cepat dan langsung pergi memeriksa are sekeliling. Kurasa aku membuat pilihan yang benar dengan opsi kedua. Sementara, ia mengecek situasi, aku pergi mengumpulkan kayu kering.


Api menjadi salah satu hal penting di hutan ini. Dengan malam yang tidak pernah habis dan monster buas nan liar berkeliaran, api adalah penyelamat kita dalam segala situa-


PING!!


.


.


[Anda memiliki bab baru yang belum anda baca]


"Author meng-upload cerita baru?" Aku membeku di tempat. Menjatuhkaknsemua kayu yang ku kumpulkan, aku membuka layar biru untuk membaca bab paling barunya.


Pukul 7 lewat 45 menit. Ini bukan bab yang di upload author. Jangan bilang ini adalah-


[Malam itu, Arthur bertemu dengan seorang pria misterius di tengah hutan. Penampilannya kurus dan berantakan.]


I, Ini..


Bukankah ini barusan terjadi?! Bagaimana bisa? Aku belum menuliskan ceritanya!


Apa sistem misterius ini memiliki fitur ajaib untuk menuliskan apa yang terjadi di dunia ini. Gaya penulisannya mirip dengan sang author.


["Aku datang kemari untuk menemuimu atas keinginanku sendiri," ujar sang pria.


"Menemuiku?" Arthur menatap tidak percaya mendengar ucapannya.

__ADS_1


Terlebih lagi, pria itu terlihat mencurigakan. Dari penampilan hingga pertanyaan yang ia ajukan, semuanya terdengar janggal. Ia mulai bertanya-tanya kewarasan sang pria misterius untuk menemuinya malam-malam.]


Ha?! Dia mengira aku orang gila? Dasar anak kurang ajar


Aku tidak gila. Aku hanya tidak memiliki apapun jadi aku tidak takut kehilangan sesuatu yang penting.


Tapi ya.. Untung saja identitasku sebagai pengemis tidak bocor. Dalam bab ini, aku ditulis sebagai pria misterius atau sang penyihir.


[Arthur menatap punggung sang penyihir dengan tidak percaya. Tersenyum tipis, ia merasa tenang mendengar ucapannya.


'Aku pasti terdengar menyebalkan di telinganya. Mungkin aku terlalu banyak bertanya dan mengeluh. Mungkin aku terlalu takut mencoba sesuatu yang baru'


Arthur menyadari sisi buruknya. Ia mengakui alasan mengapa ia disini adalah karena ia dijadikan sebagai tameng.


Kenyataannya, ia bukanlah seorang pahlawan. Hanya seorang petani yang terjebak dalam situasi tidak menguntungkan. Dan tidak pernah akan ada yang mengharapkan bertindak sebagai satu.


Oleh karena itu, ia tidak perlu takut lagi akan ekspektasi orang lain, perannya sebagai pahlawan, dan memutuskan untuk menjalani hidup sebagai petani sial yang berusaha mempertahankan diri dari raja iblis.


'Jika aku akan mati, maka aku setidaknya ingin hidup sepuasnya.' ]


...


Itu bukan maksudku. Aku tidak ingin sang protagonis menjadi egois seperti itu. Aku berniat membuatnya tidak merendah tetapi masih ingin menjadi pahlawan untuk kebaikan yang lebih besar.


Bukan seorang petani yang terjebak dalam skenario gila!


Mana kutahu sang protagonis ternyata adalah selembaran kertas putih kosong- Jika aku tahu, aku mungkin akan memilih pilihan pertama!!


Terlebih lagi, aku tidak yakin apa yang sudah ditulis oleh sistem bisa diubah lagi. Karena dia menuliskannya secara live, aku takut perubahan itu akan berdampak pada masa kini.


[Setelah berulangkali mengecek area sekitar, Arthur menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya untuk pertama kali.


Sebuah selendang bewarna jingga tergantung di ranting pohon.]


Oh.. ini adalah bagian saat kuminta dia berpatroli.


Itu aneh dia menemukan selendang. Legenda Excalibur seharusnya adalah pedang yang diberikan kepada sang protagonis oleh peri danau. Atau apakah aku kelewatan sesuatu?


[Dari balik pepohonan, ia bisa melihat 9 dewi bulan sedang bermain air di danau. Mengucek matanya, ia tidak bisa mempecayai apa yang ia lihat]


.


.


.


HAAH?!?!

__ADS_1


Sejak kapan sang protagonis menjadi mesum?!!


__ADS_2