
Aku tidak lagi bisa memuntahkan keluar semua jantung itu. Semua yang ia berikan sudah menyatu dengan tubuhku dengan paksa.
Aku merasakan sebuah sensasi mengambang. Tenagaku terasa terkuras. Tanganku menahan darah yang menetes statis dari hidung dan telingaku. Aku merasa sesuatu sedang memakan ku dari dalam.
Jantung para iblis menolak menyatu dan dicerna oleh tubuhku. Mereka memberontak dengan tubuh ini seolah-olah mereka sedang menjaga rumah mereka agar tidak dimasuki.
Jika ini terus berlanjut, aku mungkin akan berakhir kehilangan diriku dan mati lagi!
KRIETt...
"!! Hei, kau baik-baik saja?!"
Seorang perempuan berambut cokelat berlari masuk dengan panik saat melihat kasur yang ku tempati berlumuran darah.
Ia memegang leherku, merasakan nadiku berirama inkonsisten. Terperanjat dengan horor, pupil matanya mengecil. Ia mematung di sampingku sembari berusaha memproses apa yang terjadi.
Melihat wajahnya memutih, tanganku secara refleks menepuk pundaknya agar ia tidak pingsan.
"Kau.. baik..?" Tanyaku, mengecek keadaannya.
Perempuan itu tersentak kecil. Menganggukkan kepalanya, ia memintaku menunggu sebelum berlari keluar ruangan untuk memanggil ayahnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, aku melihat sesosok algojo tua menghampiriku. Tanpa basa-basi, ia menarik tanganku mendekatinya dan mengeluarkan sebuah suntikan berisi cairan merah dari kotak yang ia simpan di bawah kasur.
"Bertahanlah. Ini tidak akan lama"
".. H, Hentikan..."
Aku menggelengkan kepalaku, memohonnya dengan putus asa untuk tidak menancapkan suntikan tersebut pada kulitku.
Akan tetapi, seakan-akan ia tidak bisa melihat ketakutanku, jarum suntik di tangannya tetap menembus masuk lenganku.
Seketika, tubuhku menjerit dari rasa perih. Sebuah sensasi panas membakar kepalaku. Aku samar-samar bisa mendengar suara hujan. Dengan buram, aku bisa melihat sesosok iblis bertanduk merah yang menyeringai di benakku.
"AAAARGH!!!"
Menutup telingaku, aku merasa gendang telingaku akan pecah dari suara ledakan jantung sesosok iblis. Aku merasa semua yang ada disekitar ku berputar dalam kecepatan tinggi.
"P, Pak Algo-"
"Tenanglah. Kau tidak bisa mengendalikan jantung itu jika kau tidak mengenal sang pemilik. Lihatlah dengan baik wajah mereka"
Algojo tua itu mengelus kepalaku, membuatku kembali tenang. Menarik nafas dalam-dalam, aku memejamkan mata dan memfokuskan diriku pada siluet iblis yang muncul.
__ADS_1
Aku berusaha melihat dibalik hujan kabut di benakku. Sekilas, aku menangkap sepasang taring kecil yang menggantung di bagian atas rahangnya dan sisik di lehernya.
Aku melihat sosok iblis itu berjalan mendekatiku. Penampilannya tidak terlihat berantakan. Melainkan, iblis ini memiliki paras yang mendekati manusia modern.
Dia memberikan aura misterius nan tenang. Semuanya menjadi hening dan mati rasa dalam hujan kabut semakin ia berjalan ke arahku.
Mengamatiku, ia mendekatkan kepalanya ke wajahku. Aku bergidik sewaktu tangan dinginnya menyentuh belakang leherku. Ia membuat tubuhku mati rasa sehingga aku tidak bisa kabur darinya.
Memberikan tatapan tajam dengan mata emasnya, mulutnya bergerak memberitahukan ku sesuatu.
'... Nóe'
THUMP!!
Sebuah hentakkan kuat kurasakan mendadak. Menahan rasa sakit, aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka mataku. Jantungku berubah lebih stabil. Semuanya kembali terlihat normal.
"Anak muda, apa kau baik-baik saja?" Tanya sang algojo tua. Ia membantuku bangun dari posisiku dan membiarkanku menyender di sandaran kasur.
Aku yang masih setengah linglung menjadi sunyi senyap. Kepalaku terasa ringan. Aku tidak lagi mengerti bagaimana kondisiku maupun arti dari frasa baik-baik saja.
"Aku bisa mendengarmu," responku secara ambigu. "Ada banyak sekali hal yang ingin kutanyakan padamu pak algojo"
__ADS_1