LEE TAEYONG X YOU

LEE TAEYONG X YOU
Taeyong Marah


__ADS_3

Taeyong melempar semua berkas-berkas yang berada didalam Map berwarna ditangannya "JUNG JAEHYUN BERENGSEK!!!"


.


.


.


Trowback.


Wendy selaku receptionist sekaligus penghubung antar client dengan Taeyong tergesah-gesah berlari memasuki ruangan Taeyong sambil menggenggam map warna ditangannya, diketuklah pintu ruangan sang atasannya itu.


'Masuk'


Sesuai perintah Wendy langsung memasuki ruangan sang atasan.


"Ada apa Wendy?"


"Pak kantor kita dalam masalah, silahkan bapak lihat berkas-berkasnya"


Wendy menyerahkan berkas -berkas yang tersimpan didalam map warna tadi, bibir Wendy bergetar ia takut kalau Taeyong akan mengamuk ia tahu betul bagaimana atasannya itu kalau sedang marah tak pandang bulu.


"Kenapa yong?" Johnny sedikit penasaran dengan apa yang Taeyong lihat didalam map warna itu apa lagi Taeyong sesekali berdecak kesal dan beberapa kali juga ia menyebut nama Jung Jaehyun disana.


"Berengsek!!!" Taeyong melempar map warna ditangannya kelantai.


"Yong, kenapa?!" Dengan nada tinggi Johnny bertanya pada Taeyong.


Keributan ini membuat beberapa kariyawan lain berkumpul di divisi Ten,Yuta, Hansol dan Taeil dimana divisi itu adalah pembatas antar ruang kerja Taeyong dan divisi lainnya.


"Taruhan yuk pasti Jaehyun bakal dibakar hidup-hidup abis ini" ucap Ten yang sedang menyimak pertengkaran yang terjadi diruang Taeyong.


"Hush sembarangan lo jangan gitu" Timpal Hansol yang sedang merapihkan beberapa berkas lainnya.


Taeil dari arah divisi pertama berlari menuju divisi Yuta,Ten, dan Hansol sambil membawa map yang berisikan cadangan dari berkas asli yang sekarang ada ditangan Taeyong memberikannya langsung pada Hansol.


"Sol coba lu cek" Taeil menyerahkan berkas itu pada Hansol.


Dibukannya Map yang td Taeil berikan padanya, satu persatu ia lihat secara detail "Aishh Jaehyun bagaimana bisa???" Hansol memijit keningnya setelah melihat berkas yang diberikan Taeil padanya.


"Ada apa? Bahkan divisi lain membicarakan dua divisi yg bertetangga ini (divisi Taeyong dan divisi Taeil)" Doyoung baru saja keluar dari divisi nya setelah mengejerkan beberapa project yang tidak dia ketahui akan batal akibat ulah kesalahan Jung Jaehyun.


Hansol menyerahkan map tersebut pada Doyoung, sama seperti Hansol Doyoung pun terkejut dibuatnya "Are u fuckin kidding me? Kalau gini caranya perusahaan kita bakal kena denda juga dong?" Wajah Doyoung nampak geram setelahnya ingin rasanya memaki Jaehyun seharian.


"Iya begitulah, entah apa yang Jaehyun pikirkan sehingga salah dalam hal ini" Hansol sudah putus asa apa yang ia takutkan terulang kembali sekarang bahkan lebih parah ingin rasanya ia meninggalkan Lee Company tetapi ia msih memikirkan Taeyong dan kawannya yang lain.


Kringg!!!


Dipencetnya Alarm itu artinya Taeyong menyuruh semua kariyawan berkumpul termasuk mereka-mereka yang sedang menikmati hari liburnya, waktu mereka tidak akan terganggu jika Jaehyun tidak melakukan kesalahan ini.


Tidak ada satupun yang berani bertanya akan hal ini semuanya hanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing tentang masalah yg perusahaan alamin, mereka hanya bisa berdoa semoga Taeyong tidak semarah yang mereka bayangkan.


"Ten, Doyoung, Hansol hyung, Taeil hyung kalian lihat Jaehyun dan Mark?" Pria bersurai hitam kebiruan ini berusaha untuk sabar dalam menghadapi ini namun sepertinya sulit baginya, kini wajah tampan itu tertutup oleh kemarahan hanya nampak warna kemerahan disana semoga saja Taeyong masih bisa mengontrol emosinya saat bertatap oleh Jaehyun.


"Belum datang sepertinya Yong tunggu saja dulu" Sahut Taeil tenang.


Tidak lama kemudian yang ditunggu-tunggu datang juga kedua pria muda yang baru saja datang jelas kebingungan sekali kenapa semua karyawan berada diluar divisi seperti ini, jantung Jaehyun berdetak cukup kuat beberapa penjelasan logis sudah memenuhi kepalanya sejak dimobil tadi sehingga antara dia dan Mark hanya terdengar suara radio mobil dari Jaehyun saja Sebenarnya apa yang terjadi Jaehyun mencoba untuk tenang dalam situasi saat ini.


"M-mm ada apa lu nyuruh kita kesini?" Jaehyun mencoba membuka suara dari heningnya semenjak ia datang.


Lantas saja Taeyong melempar berkas yang diduga kesalahan dari Jaehyun sendiri "Ini yang lu bilang ada apa? Harusnya gue yg nanya lu ada apa" emosi Taeyong sudah tidak dapat dibendung lagi namun dia mencoba untuk tetap tenang agar tidak terjadi adegan pukul memukul.


Jaehyun meraih berkas-berkas itu dilihatnya dengan detail hasil kerjanya itu, halaman demi halaman dijelajahi oleh jari-jari tegasnya matanya pun ikut mengamati bagian dari kertas yang penuh tulisan itu, halaman pertama sampai pertengahan masih terlihat baik-baik saja sehingga membuat Jaehyun mengerutkan keningnya


"Ini aman-aman aja kok, apa yang salah?" Jaehyun menoleh kearah Taeyong.


"Lu liat halaman akhir" jawab Taeyong singkat

__ADS_1


Dibukanya halaman akhir oleh jari-jari itu sehingga menunjukkan halaman akhir seperti yang diperintahkan Taeyong seketika ekspresi Jaehyun berubah menjadi panik tidak seperti diawal


"Kenapa bisa????" Jaehyun panik sendiri akibat ulahnya sendiri tapi anehnya Jaehyun tidak pernah merasa melakukan hal tersebut.


"Lu kalau punya masalah sama gue bilang aja Jeff jangan lu libatin perusahaan gue dimasalah kita!?"


Taeyong menarik kerah kemeja Jaehyun lalu menariknya dan sedikit menganggkatnya hingga membuat Jaehyun tercekik "Yong gue gak ngelakuin ini sekalipun gue benci sama lu gue ga akan ngehancurin tempat kembalinya gue!!"


"Cih omong kosong Jeff!!!" Taeyong mendorong tubuh Jaehyun ketembok sehingga membuat kepala Jaehyun terbentur disana sedikit keras.


Johnny menarik Taeyong lalu Taeil mengamankan Jaehyun dibawanya Jaehyun keruangannya untuk menghindari kontak dengan Taeyong


"Yong lu bisa tenang ga sih?" Johnny mencoba menenangkan Taeyong yang memang pada dasarnya Taeyong susah dikendalikan jika sudah marah.


"Tenang John kata lu? Dia ngumbar niat kita kerja sama selama ini sama perusahaan besar untuk menutupi kerugian lu masih bisa tenang??? Gabisa John ini udah fatal!" Bahkan dengan Johnny pun Taeyong membentaknya akibat sudah terlewat emosinya.


"Yong, semua orang pernha ngelakuin kesalahan apa lagi Jaehyun yang gue pikir-pikir udah kaya kaki tangan lu semuanya dia yang kerjain selain lu dan kita ga bisa bantu karena kesibukan masing-masing rasanya ga adil kalau Jaehyun yang paling sibuk diantara kami Yong, jadi wajar saja kalau ia melakukan kesalahan ini!!!" Johnny pun sudah mulai ikut terpancing emosi karena Taeyong yang makin sulit untuk dijelaskan


"Lu bilang ini wajar,hm? Lu juga ada rencana mau ngehancurin perusahaan ini hah? Kalian semua mencoba mengkhianati gue? Bagus ya" Taeyong menepukkan jarinya sambil tersenyum miring entah apa yang ada diotak Taeyong sekarang ia sedang dikuasai kemarahan.


"Kalaupun iya kenapa? Lagian perusahaan ini sudah tidak berjalan sesuai prosedur yang ada, Yong. Lu menghalalkan segala cara semenjak kejadian bangkrutnya perusahaan ini lu mencari investasi sana sini lu memanipulasi MOU dan yang lainnya lu pikir ini bentuk apresiasi perusahaan? Bukan Yong bukan!!" Kini bergantian sekarang malah Johnny yang marahnya sudah meluap tak dapat dibendung kembali "Perusahaan ini berdiri karena ketulusan tapi skearang perusahaan ini bangkit kembali karena kebusukan, lebih baik bangkrut selamanya dari pada harus memanipulasi semua keadaan" lanjutnya.


Tidak emnggubris satupun perkataan Johnny Taeyong pun pergi meninggalkan Johnny ia kembali kedivisi dimana tadi ia berteriak memarahi Jaehyun


"Dimana si pengkhianat itu?!" Tegas Taeyong yang mulai memanas.


"Jaehyun?" Sahut Ten


"Iya, dimana dia?"


"Diruangannya" jawab Ten singkat lebih tepatnya ia tidak ingin dirinya kena imbas malasah ini.


"Panggil dia Ten cepart!"


Ten berdecih lalu setelah nya pergi keruangan Jaehyun.


"Baik pak"


Ten membuka pintu ruangan Jaehyun disana ia melihat Jaehyun sedang mengerang frustasi sesekali ia mengacak-acak rambutnya kasar ditemai Taeil, Hansol, dan Doyoung juga yang bergantian menasihati dan memberi saran padanya.


"Jeff, dipanggil Taeyong" potong Ten disela mereka sedang berbicara.


"Mau apa lagi sih si sialan itu?" Titah Doyoung.


"Entah, Johnny juga tadi dipanggil kok udah sana keluar dulu lu dari pada kena masalah lgi"


Jaehyun pun berdiri menuju pintu diikuti oleh Hansol, Taeil, dan Doyoung.


"Yong gue akui gue salah gue lalai dalam memeriksa ataupun dalam mengerjakan berkas ini tapi sumpah gue ga ada niatan menjelek-jelekan perusahaan yang dari dulu lu sama Johnny bangun,Yong gue minta maaf soal ini" baru kali ini Jaehyun berlutut dihadapan musuh percintaannya terbesarnya kalau tidak seperti ini pasti ia akan dikeluarkan dari perusahaan sungguh Jaehyun sangat mencintai perusahaan tersebut lebih dari dia cinta pada siapapun tapi sudah terlambat segala permintaan maaf kalau bagi Taeyong ini adalah masalah besar maka jalan terbaik adalah Mengeluarkan atau Dikeluarkan.


"Gue juga minta maaf Jeff lu dan Johnny gue pecat"


Mereka orang-orang dibalik kesuksesan Lee Company terkejut mendengar Taeyong mengucapkan hal seperti itu, bahkan Johnny sekalipun tak percaya bahwa ia akan dikeluarkan dari perusahaannya sendiri.


Johnny menujukkan senyum miringnya "Oke kalau itu mau lu"


"Yong, lu boleh pecat gue asal jangan Johnny dia kan yang udah bantu Lee Company dari awal Yong!" Hingga sampai dititik akhir Jaehyun meneteskan air matanya, ini yang pertama kalinya ia meneteskan air mata untuk hal sepele ini.


"Lu tanya aja alasannya sama teman lu tu, udah sekarang lu kemasin barang-barang lu terus angkat kaki dari sini"


"Hyung, lu apa-apaan sih?! Lu yang bilang sendirikan lu butuh kami semua tapi nyatanya apa?!" Mark sedari tadi mencoba menahan dan akhirnya ia membuka suara untuk ini.


Taeyong berjalan menuju barisan kaca yang terdapat didivisi Johnny, ia melihat pemandangan indah dari lantai 8 Lee Company "Iya itu dulu, Mark sebelum perusahaan ini maju sekarang sudah beda lagi, dan gue rasa gua bisa ngatasin ini sendiri dan gue sudah tidak membutuhkan dua orang pengkhianat ini" ia menghirup udara diruangan itu sambil memejamkan matanya tak lupa ia merentangkan tangannya setelah menghirup udara dingin diruangan itu Taeyong perlahan lahan membuka kedua matanya.


"Lu udah gila Yong, lu inget ga dulu siapa yang bantu lu disaat perusahaan lagi jatuh-jatuhnya?" Sudah cukup membuat emosi untuk Hansol angkat bicara.


"Gue ga peduli Hansol hyung, oh ya dan sisahnya masih baik gue sama lu semua jadi bekerjalah yang baik kalau tidak nasib kalian akan sama seperti dua pengkhianat ini" lahi-lagi Taeyong menunjukkan senyum miringnya "Jangan lupa beres-beres barang, gue ga mau liat lu lagi" setelahnya ia pergi menuju ruangannya.

__ADS_1


Mark berdecih "Udah gila dia ya???? Bahkan dia lupa sama orang yang bikin perusahaan ini jadi besar"


"Sudahlah Mark, kita ikuti saja permainan bodoh ini" Sahut Johnny sambil membereskan barang-barangnya sesuai perintah Taeyong.


Taeyong menjatuhkan dirinya diatas sofa empuk dalam ruangannya sesekali ia mengacak-acak surainya dengan frustasi "Brengsek!"


Terkadang ia juga mendesah pertanda ia sedang sangat gelisah dan banyak hal yg ia pikirkan.


Ditengah ia sedang berkalut dengan pikirannya seseorang mengetuk pintu ruangan Taeyong lalu masuklah seorang pria mungil berkulit putih maskulin atau di Lee company kerap disapa dengan Ten


"Hyung, Maaf tapi kau harus tanda tangan kontrak dari perusahaan china dulu" Ten menyodorkan map berwarna hijau disana untuk ditandatangani Taeyong.


Tanpa berbicara Taeyong langsung menyambar map tersebut lalu menandatangani nya dengan sedikit membaca sekilas isi dari map tersebut.


"Selesai" Taeyong memberikan kembali map hijau pada Lucas "Ten, nanti pulang lo bisakan temani gue ke club?" Tanya Taeyong nampak sesikit keraguan disana, biasanya Taeyong akan seperti ini jika merasa begitu banyak beban ia akan melakukannya bersama Jaehyun tapi sekarang ia harus melakukannya bersama Lucas karena teman sressnya yang justru membuatnya seperti ini.


Ten mengangguk cepat "Oke, tapi gue beresin tugas-tugas gue dulu"


"Hmm, gue tunggu diruangan gue"


Ten hanya mengangguk lalu setelahnya pria tinggi itu keluar dari ruangan Taeyong.


•••


Jam kantor telah selesai namun Ten masih membereskan beberapa kekacauan yang Jaehyun perbuat sehingga ia harus membenarkan beberapa kekacauan ini tapi ia tidak membutuhkan waktu lama untuk ini lagi pula hanya bagian rahasia perusahaan saja yang diperbaiki sisahnya Jaehyun kerjakan dengan baik.


Selesainya membereskan pekerjaannya ia langsung berjalan menuju ruangan Taeyong, ngomong-ngomong soal kariyawan mereka semua sudah pulang lebih awal karena memang tidak ada kerjaan yang perlu mereka selesaikan jadi Taeyong sengaja memulangkan kariyawan lebih awal hanya tersisah dirinya dan Ten yg akan menghilangkan stress malam ini.


"Hyung?"


"Masuklah"


Ten menuruti perintah Taeyong ia msuk keruangan yang besar itu.


"Ayo berangkat"


Taeyong hanya membalas anggukan saja disana lalu keluar dari ruangannya.


Hanya keheningan yg tercipta sesungguhnya Ten ingin sekali menanyakan beberapa pertanyaan yg sudah dia siapkan diotaknya tapi dirinya ragu karena Taeyong masih dalam keadaan marah saat ini tapi sungguh pertanyaan-pertanyaan itu sangat mengganggu pikiran Ten.


"Hyung, harusnya lo gak mecat Johnny Hyung bagaimana pun juga dia yang sudah bantu lo memajukan perusaha...." belum selesai melanjutkan kata-katanya bibir Ten sudah dibungkam oleh Taeyong.


Taeyong ******* kasar bibir ranum Ten seperti sedang kerasukan Ten juga menerima hal tersebut walaupun dalam pikirannya menolak untuk ini namun tetap saja rayuan Taeyong tidak bisa ditolak siapapun persetanan dengan wanita-wanita mantan Taeyong jdi seperti ini rasanya ketika dicumbu oleh pria brengsek angkatannya dulu.


Adegan ini masih berlanjut hingga bibir Taeyong menyentuh leher mungil Ten sang empu hanya diam seribu kata dengan perlakuan pria brengsek dihadapannya dan dengan sedikit desahan sesekali ketika ia mencapai hasratnya.


Tringg!!!


Sial! Kenapa handphone Ten harus berbunyi Taeyong membatin.


"Sebentar aku angkat telepon ku dulu"


Taeyong hanya membalas anggukan.


"Nee yeobuseyo"


"Besok kita bicarakan, Hyung. Oh ya aku malam ini pulang agak malam ya bilang pada ibu"


"Terimakasih, sampai nanti"


"Siapa?" Taeyong menoleh kearah pria disebelahnya.


"Kakak laki-laki ku"


"Oh"


Suasana kembali seperti awal, hanya suara radio yang menominasi ditelinga mereka sekarang sampai akhirnya mereka tiba di Club malam tujuan Taeyong.

__ADS_1


To be a continue...


__ADS_2