
Selesai makan Hye Naa dan Renjun membereskan piring serta peralatan makan lainnya, Renjun merapihkan meja makan lalu Hye Naa mencuci piring sisah mereka. Renjun membawakan piring dimeja untuk dicuci oleh sang ibu, perlahan ia berjalan sambil membawa piring ditangannya sampai ia pun menahan napas nya untuk beberapa detik agar piring itu tidak jatuh.
"Bunda, ini piringnya." Renjun menyerahkan piring yg ia bwa pda sang ibu, lalu Hye Naa menerima piring itu "Terimakasih. Setelah ini bunda ingin bicara dengan Injun,ya?"
Renjun mengangguk lalu setelahnya ia kembali membereskan meja makan yg msih berantakan.
•●•
"Tapi aku tidak sebodoh yg kau pikir, nuna."
Melihat ternyata Jisung tidak tidur kamu pun panik, berati dia mendengar apa yang tadi kamu katakan sebelumnya kan. Alasan apa yg akan kamu gunakan untuk saat-saat seperti ini. Keringat pun mulai menetes didaerah wajahmu, tangan mu bergetar bgtupun dengan bibirmu. Dan sialnya otakmu tidak dapat bekerja untuk saat ini.
Kamu hanya bisa menelan saliva mu saja, otak kamu pun sedang memproses beberapa alasan atas jawaban yg Jisung dengar.
"Tolong jawab jujur pada ku, aku ini adik mu yg pintar bukan seperti kakak mu Taeil yg bodoh itu."
"Aa-aku."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"T-tidak ada." Kamu menggelengkan kepala sekaligus tersenyum kaku pada Jisung. Jelas Jisung tahu kamu memberikan senyuman palsu yg berati kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Jisung.
"Jangan bohong, Nuna! Kau sendiri yang mengajariku betapa pentingnya kejujuran, tapi kau sendiri?!" Suara Jisung kali ini agak meninggi membuatmu menunduk takut.
"Cepat katakan ada apa sebenarnya!" Lanjutnya.
"Mm-mm tapi kau janji tidak akan mengatakan ini pada kak Taeil?" Sahut mu dengan nada sangat hati-hati.
"Hm, janji."
"Baiklah. Jadi sebenarnya..."
•●•
Taeil tengah menunggu kehadiran teman sekantornya itu, disana ia tengah sibuk memainkan handphone nya untuk memastikan kabar dari teman-temannya yang lain. 10 menit telah berlalu namun belum ada satupun dongsaeng kantornya yg terlihat ia pun tak heran dengan fenomena ini, ia akan memaklumi bahwa faktanya teman sekaligus adik-adiknya di kantor sangat suka sekali terlambat maka itulah alasan kenapa setiap ada pertemuan yang penting di pagi hari Taeyong mengancam mereka jika terlambat gaji akan terpotong.
Taeil melihat kembali layar handphonenya namun tidak ada satupun yg mengabari walau hanya sekedar memberitahu posisi mereka dimana.
Lonceng caffe berbunyi hingga menyita perhatian Taeil, terlihat 10 pemuda tampan mengenakan pakaian informalnya membuat kesan menawan sehingga para pengunjung caffe tak lepas pandangannya dari 10 pemuda tersebut. Taeil memberikan lambaian tangannya agar mereka bisa langsung menemui Taeil.
"Hyung udah nunggu lama?" Tanya Ten sambil manaruh bokongnya disofa caffe.
"Engga kok, belum lama sampai. Mau pesen apa?" Taeil bukan tipe orang yg akan marah jika ia disuruh menunggu lama. Bahkan ia pernah menunggu seseorang lebih lama dari ini, lalu setelahnya ia akan mengatakan bahwa ia belum lama datang memang pria ini sangat penyabar.
"Iya nanti kita pesan sendiri." Sahut Johnny.
"Oh, terus apa yg akan kita bicarakan?" Jaehyun membuka sesi obrolan mereka.
"Jadi..."
Taeil menceritakan Taeyong yg datang secara tiba-tiba kerumahnya hingga membuat keributan antara dirinya dan Jisung. Ia juga menceritakan bagaimana Jisung dan dia menonjok Taeyong sampai akhirnya Jisung yg menjadi sasaran empuk pukulan Taeyong. Tak lupa juga ia menceritakan dirinya yg memukul Taeyong tanpa ampun.
"Maafkan Hyung, Mark." Ucap Taeil pada Mark.
Mark mengusap pundak Taeil "Tidak apa, hyung. Bahkan ini pun tidak sebanding dengan apa yang ia lakukan pada adikmu." Mark juga menyertakan senyum tulus pada Taeil.
"Si sialan itu memukul Jisung juga?" Doyoung membuka suara setelah menyimak beberapa cerita dari Taeil.
"Iya, itu juga alasan kenapa aku melontarkan tinjuan ku beberapa kali padanya." Taeil merasa menyesal telah melakukan itu pada adik iparnya sekaligus temannya sendiri tapi jika tidak dilakukan maka ia tidak akan sadar bahwa perasaan wanitalah yg sedang ia mainkan.
"Bahkan Jisung pun kesal pada si sialan Lee Taeyong ituu." Ten memhtar bolamatanya malas.
"Hyung, aku ingin memesan beberapa ice coffe apa kalian mau?" Tawar Lucas yg tengah berdiri di sisi kursi Jaehyun dan Mark.
"Aku pesan hot chocolate, Luke!" Pinta Johnny.
"Hey, hyung? Bukankah tadi kau bilang akan memesannya sendiri?" Jawab lucas.
Johnny memukul kepala Lucas "Dan kau menganggap itu serius?"
Lucas mengangguk cepat "Iya"
"Benar katamu Jeffrey, Semakin tua usia mu semakin tidak terpakai jokes butut mu."
"Aku bercanda, hahaha. Biar ku catat dulu." Jawab Lucas disertakan tertawa renyah miliknya.
"Aku ingin ice coffe, Luke!" Jaehyun.
"Aku ingin dalgona." Doyoung.
__ADS_1
"Aku arabbian coffe." Hansol.
"Oke sudah mu catat semua." Ucap Lucas.
"Hey, Yukhei? Aku belum!" Sahut Ten.
"Sudah, Ten hyung...."
"Memangnya aku pesan apa?"
"Kau, Winwin, Kun, Mark, Yuta, dan Jungwoo memiliki selera yg sama dan itu setiap hari kalian meminta ku untuk membelikannya dikantor. Jadi, bagaimana bisa aku tidak tahu."
"Bagus, sudah cukup pintar kau sebagai pelayan pribadi ku." Seringaian Ten muncul diwajahnya.
"Cih, mana sudi." Sahut Lucas.
"Oh iya, Lucas?" Mark mengintrupsi.
"Iya, Mark?"
"Hari ini aku tidak ingin avocado esspreso."
"Lalu?"
"Aku menggantinya dengan Americano coffe."
Lucas mencoret pesanan milik Mark lalu menggantinya dengan menu yg Mark inginkan "Sudah, ada lagi?"
Semua menggelengkan kepala mereka pertanda tidak ada lagi yg ingin memesan, akhirnya lucas pergi kearah barista caffe sekaligus melihat prosesi pembuatannya.
"Oh ya, Hyung?"
"Iya?"
"Bagaimana dengan adikmu, apa dia masih memikirkan Taeyong?" Tanya Jaehyun dengan nada kecemasan disana.
"Ya begitulah, Jeff. Dan soal Taeyong di club aku suka memberitahunya." Taeil mengerang kasar. Awalnya ia tidak akan memberi tahu kamu sampai kamu benar-benar siap menerima hal ini tapi melihat kamu menangis karena Taeyong tak memberi kabar rasanya Taeil tak kuasa melihatnya itulah mengapa ia memberi tahu kamu lebih dulu.
"Iya maaf karena aku memberitahunya terlebih dahulu, bahkan aku merasa hati ku teriris jika aku menyimpan lama-lama tentang kebodohan Taeyong." Lanjutnya.
"Tak apa, hyung. Aku juga lalau jadi dirimu akan melakukan hal seperti itu." Jawab Jaehyun.
"Jawabannya masih sama. Bahkan lukanya Jisung menambahnya." Sahut Taeil parau.
"Sialan si brengsek itu, kalau gini keadaannya y/n nuna akan mengalami trauma." Timpal Mark.
"Entahlah, Mark. Doa kan saja semoga y/n tidak mengalami trauma yang berat."
"Ku harap begitu." Mark mengambil kedua tangan Taeil "Hyung? Maafin Taeyong hyung ya, karena dia keluarga hyung harus mengalami hal seperti ini." Lanjutnya.
Mark menoleh kearah Johnny dan Jaehyun secara bergantian "John hyung dan Jeff hyung juga, maafkan Taeyong hyung ya? Karena dia kalian jadi kehilangan tempat terpenting kalian."
"Hey Mark Lee, tidak apa aku memaklumi hal itu kok. Bahkan kalau aku ada di posisi dia aku juga akan melakukan hal ini." Johnny mengulas senyum terbaiknya, walaupun Johnny bertolak belakang dengan tindakan Taeyong namun ia tidak akan bisa membenci si brengsek itu, mau bagimana pun Johnny masih mengingat memori-memori bersama Taeyong itu untuk alasan ia tidak boleh membenci Taeyong terkecuali Taeyong telah membohonginya. Iya, Johnny paling tidak suka kalau dibohongi.
Sekarang Mark melirik kearah Jeffrey "Kau bagaimana, Jeff hyung?"
Jaehyun tersenyum menampakkan dimple nya "Mark, tidak ada alasan aku tidak memaafkan Taeyong dan lagi pula ia memecatku karena aku melakukan kesalahan jadi jangan pernah berpikir ini semua salah Taeyong sepenuhnya."
"Jeff jangan senyum lama-lama nanti Doyoung tambah suka." Cetus Ten sambil melirik kearah Doyoung.
Jaehyun yang memiliki julukan manusia terusil diantara mereka malah sengaja tersenyum kearah Doyoung sehingga menampakkan barisan gigi nya yg rapih disertai dimple nya di pipi, untung saja Doyoung lelaki normal kalau tidak sudah sejak lama ia menyukai bayi besar geng mereka.
Perbuatan Jaehyun dibalas dengan tatapan membunuh dari seorang Kim Doyoung.
"Kau sudah gila,Ten? Jangan mengada-ngada kau ya aku tidak pernah berkata seperti itu." Omelnya pada Ten. lalu ia melirik kearah Jaehyun "Kau juga, Jeffrey! Mau sampai kapan kau memandang ku samnil tersenyum seperti ini? Sama gila nya kau dengan si cabai Thailand ini!" Lanjutnya.
"Kau lucu, hyung. Mau menikah dengan ku?"
Doyoung melempar bantal sofa milik Caffe kearah Jaehyun "Gue masih normal Jung Jeffrey!!!!!!"
"Apa buktinya kalau kau normal?" Sudah ku bilang kan jaehyun adalah manusia terusil diantara mereka jadi jangan mencoba untuk mengusili nya atau kau akan dibuatnya sampai kau jatuh cinta padanya. Hati-hati.
"Aku masih suka adiknya Taeil hyung."
Seketika Jaehyun merasa kalah dalam mengusili Doyoung kali ini.
"Kau serius menyukainya?" Jaehyun memasang wajah memelas.
"Aigo~ bahkan dia terlihat tidak rela jika kau menyukai y/n." Timpal Kun sedikit menggoda Doyoung.
__ADS_1
"Diam kau, Kun. Sepertinya besok aku akan meminta Taeyong untuk memindahkan mu di divisi lain."
"Loh mengapa?" Kun.
"Kau kebanyakan bergosip dengan Ten hingga kau menjadi seperti ini." Jawab Doyoung sinis.
"Seperti ini bagaimana???"
"Masih tidak tahu, hmm??? Kau meledek kuu barusan dengan lancar, Kun!!!" Doyoung berdecak kesal. Bahkan ia sempat memikirkan apa benar orang-orang seperti Kun benar-benar pandai bahkan ia meragukannya setelah melihat sikap Winwin dan Kun.
"Aku tahu sih, hanya memastikan saja." Kun tertawa, ia berhasil mencetak gol kali ini biasanya ia akan kalah ditengah jalan dalam meledek Doyoung.
Semuanya berakhir dengan candaan sambil meminum coffe masing-masing yg dipesankan oleh Lucas.
•●•
"Baiklah. Jadi sebenarnya..."
Jisung menaikkan alisnya dan memasang wajah serius.
"Tapi kau janji ya tidak akan mengatakan hal ini pada kak Taeil, Kak Hye Naa apa lagi Renjun kan?"
Jisung berdecih "Iya. Cepat katakan"
"Sebenarnya aku...."
Jisung menatap mu serius.
"A-aku..."
"Lama sekali sih."
"Iyaiya, sebenarnya aku bukan hanya menginap dirumah teman ku tapi disana aku juga melakukan party kecil bersama teman perempuan ku hingga kami mabuk sampai pagi."
Jisung memutar bolanya malas.
"Astaga hanya itu?"
Kamu mengangguk cepat.
"Jangan katakan hal ini pada si bawel Taeil, oke?"
Jisung pun mengangguk juga "Hmm" tapi, pikiran Jisung mengatakan bahwa ada hal lain yg kau sembunyikan bisa saja ia menanyakan hal ini tapi ia lebih suka bahwa ia mencari tahuu sendiri jadi ia memilih mengalah sekarang.
•●•
"Ijun? Njun?" Hye Naa berteriak dari arah kamar berharap sang anak mendengar teriakannya itu.
Tak lama kemudian datanglah anak berusia 16 tahun bernama Moon Renjun kedalam kamar Hye Naa.
"Ada apa bunda?"
"Sini nak, Bunda ingin bicara padamu."
Hye Naa menepuk kasur disebelahnya tanda agar Renjun duduk disana juga. Tak perlu waktu lama Renjun sudah duduk disebelah Hye Naa ia pun menggenggam tangan sang anak.
"Bunda mau tanya." Tanya Hye Naa yg dibalas anggukan oleh sang anak "Bunda mau tanya soal pacar om nya Jeno. Apa dia benar-benar mirip dengan aunty y/n?" Lanjutnya.
Renjun mengangguk cepat "Bahkan tadinya setelah aku pulang dari rumah Jeno aku ingin bertanya pada mu, bun mengapa ayah, dirimu dan Jisung hyung tidak memberitahu aku kalau aunty memiliki kembaran tapi aku lupa untuk menanyakan." Renjun mengerucutkan bibirnya.
Bahkan tidak ada ceritanya kalau kamu memiliki kembaran jadi kalau pun Renjun bertanya apa yang harus Hye Naa jawab?
"Apa semirip itu, Renjun?"
"Iya bunda, kau ingin lihat?"
Hye Naa mengangguk "Boleh. Kau ada fotonya?"
"Ada, Jeno yg mengirimkannya."
Renjun memberikan handphonenya yg telah terbuka gambar seorang perempuan sedang memasak didapur keluarga Jung dengan rambut di ikat bulat menyisahkan rambut dipinggirnya menampakkan pipi merah merauna dan chubby membuat siapapun yg melihatnya terkesan pada perempuan tersebut.
Bahkan Hye Naa sendiri pun terkejut melihatnya.
"Njun.. ini memang aunty y/n. Astaga jangan bilang y/n dan Jeffrey....."
Tobe a continue....
__ADS_1