
" Iya," jawab Kiky.
" Ky aku boleh minta nomor telpon kamu ga?"
" Maaf Kiky ga punya handphone, dulu pernah punya tapi karena ada kebutuhan yang mendesak Kiky jual."
" Nanti kamu pulang jam berapa?"
" Belum tahu kak, ada apa?"
" Tanya saja."
" Kak nanti antarnya jangan sampai depan gerbang ya, aku takut soalnya."
" Takut kenapa?"
" Ya takut saja."
" Oke oke."
Kiky turun di pertigaan arah ke sekolahnya kira kira 100 meter dari sekolahnya. Ia takut kalau di sampai ada yang memergoki dia berangkat sekolah naik mobil mewah.
" Kak aku masuk ya, kakak hati hati."
" Ya, nanti pulang sekolah aku jemput lagi."
" Tapi kak."
" Pokoknya ga boleh ada penolakkan."
" Iya kak Sean."
Kiky berjalan menuju ke sekolanhnya sementara Sean masih berhenti di tempat mengawasi Kiky sampai ia benar benar masuk ke dalam gerbang sekolah.
" Kiky......" panggil Tara dan Dara di parkiran sekolahnya.
" Tara Dara ngagetin saja dech," kata Kiky panik.
" Bentar bentar kayanya ada yang aneh dech sama kamu,ada yang berubah gitu tapi apa ya?"
" Apaan sih kamu Ra?"
" Aku tahu rambut kamu modelnya berubah terus ini jam juga baru sepatu juga," kata Dara.
" Penasaran nih kenapa kok seorang Kiky yang cuek banget sama penampilan kini berubah."
" Jadi beberapa hari yang lalu aku bantuin ibu ibu yang hampir jatuh pas keluar dari lift di tempat kelas modeling, terus aku tolongin. Beberapa hari kemudian beliau datang ke rumah kasih oleh oleh ini dari Surabaya."
" Oh iya iya iya."
" Nanti pulang sekolah jalan yuk," ajak Dara.
" Ga bisa Dara cantik hari ini aku ada kelas tambahan buat persiapan lomba bulan depan."
" Yah, terus kelas model kamu gimana?" Tanya Tara.
" Aku ambil malam Ra, kemarin aku sudah bilang kok."
" Emang boleh?"
__ADS_1
" Boleh pakai banget, soalnya yang ambil sore cuma aku yang lain malam."
" Kalian mau jalan kemana?" panggil Suci sambil menarik tas milik Dara.
" Astaga kelas kita kelewat," ucap Tara lalu ke tiganya terkekeh.
Siang harinya Sean sudah mondar mandir di parkiran sekolah Kiky.
" Loh mas Sean ada apa kemari? Tanya kepala sekolahnya Kiky.
" Saya sedang jemput salah satu siswi sini pak, namanya Adinda Riksy. Kalau boleh tahu hari ini dia pulang jam berapa ya pak?"
" Oh Kiky ya, hari ini dia ada jadwal kelas tambahan buat ikut lomba sains dan matematika bulan depan. Kemungkinan pulangnya agak sore."
" Oh begitu ya."
" Kalau mas ga keberatan bisa menunggu di ruangan saya," ajaknya.
" Tidak usah pa, nanti kalau saya nunggu disana mengganggu pekerjaan bapak. Apalagi Kiky juga belum tahu kalau saya jemput," jelas Sean.
Sepeninggal kepala sekolah, Sean masih di parkiran. Setiap siswi yang lewat selalu memperhatikannya. Ada pula yang sampai salah tingkah ketika secara tak sengaja mereka bertatap muka. Apalagi ketika mereka melihat mobil yang terparkir di belakangnya yang membuat ciwi ciwi meleleh.
" Stop stoppp," kata Clara.
" Apaan sih Ra," kata Ratu dan Risa.
" Lihat tuh siapa yang di parkiran, ada mas mas kece badai," kata Clara.
" Aku juga ga tahu dia siapa Clara, gih sana deketin dari pada kamu nungguin Adam yang dingin kaya es batu itu," kata Ratu.
" Bener Cla deketin gih, siapa tahu bisa jadi gebetan kamu kan enak," sambung Risa.
" Kalian tunggu di sini sebentar ya, duh aku kok jadi dag dig dug gini sih," kata Clara kecentilan.
" Hay kakak," sapa Clara.
" Eh iya hay," jawab Sean dingin.
" Kakak di sini nungguin siapa atau lagi jemput siapa?"
" Kamu ga perlu tahu saya nunggu siapa dan jemput siapa bukan urusan kamu juga kan," jawab Sean ketus.
" Ya udah kalau ga boleh tahu ga papa. Tapi aku boleh kenalan sama kakak dong."
" Ini anak kok ga bisa di bilangin sih."
" Kakak kok pelit sih, orang aku cuma mau kenalan kok."
" Oke nama saya Sean Pramana, saya CEO Pramana Corp sudah puas."
" Nah gitu dong, kalau aku Clara Angelista siswi paling cantik dan paling populer di sekolah ini."
" Ga nanya," kata Sean lalu masuk ke dalam mobil.
Dua jam berlalu akhirnya yang di tunggu tunggu sama Sean keluar juga.
" Kak Sean, ngapain kesini?"
" Kan tadi pagi kakak sudah bilang kalau aku di suruh mama antar jemput kamu."
__ADS_1
" Tapi aku ngerepoti kak."
" Udah itu ga usah di bahas, kamu bisa ikut cari kado buat mama ga ,soalnya besok mama ulang tahun."
" Tapi aku masih pakai seragam kak gimana dong."
" Santai saja itu di pikir nanti."
Sepanjang jalan Kiky hanya melihat pemandangan sekitar. Sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, sebelum berkeliling terlebih dahulu Sean membelikan baju ganti buat Kiky.
" Makasih ya kak, seharusnya ga perlu kaya gini juga."
" Ga boleh ada penolakan."
Satu jam berlalu keduanya masih sibuk mencari apa yang pas buat kado. Di tempat yang sama ada yang sedang memperhatikan gerak gerik keduanya. Mereka mengambil gambar keduanya yang tampak kompak.
" Oh iya ada satu benda lagi yang mau aku beli," kata Sean.
" Buat mama lagi kak?"
" Bukan,pokoknya ayo ikut bantu aku milih," ajak Sean.
Mereka berdua sampai di konter handphone.
" Kamu pilih satu," ujar Sean.
" Buat aku?"
" Ya iyalah, masa buat kepala sekolah kamu kan ga mungkin," jawab Sean kesal.
" Kakak saja yang pilihin aku ga ngerti sama begituan."
Akhirnya Sean memilihkan satu handphone yang merknya sama punya dirinya.
" Mbak sekalian sama nomornya ya, aktifkan sekalian."
" Baik pak."
Setengah jam berlalu, keduanya lantas keluar dari konter tersebut.
" Kak ini berlebihan ini terlalu mahal buat aku."
" Gapapa, ini udah ada nomor aku sama mama. Kalau ada apa apa langsung kasih kabar."
" Baik kak."
Sesampainya di rumah Kiky langsung beberes membantu eyangnya.
" Eyang, kok aku ga enak ya sama ibu sekar sama kak Sean."
" Eyang juga begitu, terlalu berlebihan dengan keluarga kita."
" Apa lagi kemarin aku di kasih tahu sama kak Sean kalau ibu Sekar itu sayang banget sama aku. Terus dia juga bilang jangan pernah tolak ke inginan bu Sekar soalnya beliau ada penyakit yang kalau kambuh bisa fatal."
" Kasihan."
Keesokan paginya di sekolah Kiky ada berita heboh yang membuat semuanya tak percaya. Kiky yang baru turun dari mobil Sean di buat kebinggungan.
" Ini loh Kiky yang model amatiran itu, kemarin aku lihat dia jalan sama sugar daddy," kata Ratu.
__ADS_1
Kiky yang ga tahu menahu menjadi binggung.