LLAN-NI

LLAN-NI
LLAN-NI #17# TATAPAN*


__ADS_3

**TAYPO BERTEBARAN.


......Author POV***......


Dari sore Allan tak pulang ke apartemen ia sudah ijin ke Eni kalau lagi ada acara dengan gengnya. Sekarang sudah pukul 23.00 malam Allan mengambil kunci motor nya lalu melangkah keluar beskem tak lupa berpamitan dengan anggotanya.


Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tak sayang nyawa emang!


25 menit Allan sudah sampai di Besmen apartemen naik ke lift menuju lantai 15 dan masuk ke nomor 335.


Baru saja menaruh sepatu di rak saat berjalan melewati ruang tamu Allan melihat tunangannya tidur di sofa dengan posisi tak stabil. Bisa-bisa besok Eni akan sakit leher jika tidur dengan posisi seperti itu. Menyelipkan tangan di bawah paha dan bawah leher, Allan mengangkat tubuh ringan Eni berhati-hati agar tak sampai ke bangun.


Merebahkan tubuh Eni di kasur empuk di kamar Allan. Menyelimuti tubuh mungil Eni yang tertidur dengan damai seperti tak punya masalah. Allan mengambil T-shirt hitam dan boxer lalu masuk ke kamar mandi.


15 menit kemudian Allan keluar dengan wajah yang sudah fresh. Merebahkan diri di samping tunangannya masih tak menyangka bisa mendapatkan apa yang ia inginkan sendari kecil, dengan gampang Allan hanya takut semua ini hanya ilusi atau akan asa badai yang menerpa.

__ADS_1


Karena yang Allan tahu memperjuangkan cinta itu sangat sulit dan tak segampang ini. Allan takut ia yang akan membuat Eni sedih.


Karena untuk mempertahankan bukan hanya sekedar mempercayai atau membuat nyaman tapi, Saling melengkapi dan berpikir akhir dari kedepan hubungan mereka harus di teruskan atau tidak.


Memandangi lama wajah Eni, Allan perlahan-lahan mendekat dan memeluk tubuh kecil Eni. Menghirup aroma rambut sang hawa, dan mulai mengembangkan wajahnya di ceruk leher Eni yang kalau tidur seperti mayat taka akn bangun jika sedang jiwa rebahan aja.



Sang Surya sudah mulai muncul memancarkan cahaya kehidupan kembali, memberitahu kepada semua umat bahwa aktivitas sudah di mulai lagi.


Gedung, pasar, dan sekolah sudah mulai terisi manusia. Terlihat di kamar yang temarang karena lampu masih belum di nyalakan.


Kedua sejoli masih terlelap di mimpi indah mereka. Eni perlahan menggerakkan tangannya menyentuh lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya.


Menatap pahatan sempurna wajah Allan.

__ADS_1


Hidung mancung bak perosotan,Alis tebal, bulu mata menyorot ke bawah tajam namun teduh, bibir tebal merah alami, dan ragang yang tegas menambah kesan seksi dan macho.


"Terpesona, hm." Allan perlahan membuka mata indahnya menatap Eni dengan dalam dan mengeratkan pelukannya.


Entah kenapa pipi Eni terasa panas sudah pasti pipinya memerah bak kepiting rebus. Allan menyingkirkan rambut -rambut Eni dan menyelipkan di belakang kuping. Mencium dahi, kedua mata Eni yang dengan naluri terpejam, hidup mancung namun imut, dan bibir manis yang selalu menggoda Allan untuk **********.


"Bangun sekolah." Suara serak nan bass membuat sensasi tersendiri bagi Eni. Allan bangun menuju kamar mandi.


Sekolah.


Allan dan Eni satu mobil mereka memutuskan membawa mobil. "Nanti pulang nya kamu bisa naik Greb aja? Aku lagi ada urusan di kantor papa." Tanya Allan sambil membukakan pintu.


Eni mengangguk sebagai jawaban. Mereka jalan menuju kelas lain tanpa mereka ketahui ada mata yang mengawasi mereka dari tadi dengan pandangan benci dan iri.


Gadis berkuncir dua dengan, warna kuning asli menandakan dia bukan orang Indonesia. Gadis itu tersenyum misterius akan rencana yang dia buat dengan matang.

__ADS_1


__ADS_2