LLAN-NI

LLAN-NI
LLAN-NI#21# MULAI MERESAHKAN*


__ADS_3

NIKMATI ALURNYA DULU😙😙🤧🤧


"Sebuah hubungan yang di bangun dengan keterpaksaan akan berakhir dengan keterpurukan."


" Air mata akan muncul disaat titik terendah cobaan dalam hidup.


Depresi adalah hal yang tak bisa di atasi."


*************************************



Hari berganti hari semakin kesini sikap Allan jadi tak menentu. Allan kini menjadi labil. Tak bisa memilih antara tunangan dan masalalu.


Seperti kata Allan Bianca sekarang tinggal di apartemen Allan dan Eni. Ralat apartemen Allan, Eni hanya menumpang lalu bisa apa?!


Ingin menolak tapi disini Allan yang punya tempat, hal yang paling mengesalkan dalam hidupnya adalah saat drama dadakan lokal Bianca dimulai.


Seperti sekarang contohnya tadi memaki-maki Eni hanya karena keasinan memasak memang sih disengaja tapi hay ayolah Eni bukan pembantu di sini.


Dan, lihatlah sekarang siapa yang menangis di lantai setelah menampar dirinya sendiri. Sedangkan si bodoh di hadapannya yang begonya lagi tunangannya tengah menatapnya tajam... setajam SILET!


Ok.ok jiwa-jiwa lawakan Eni meronta-ronta ingin keluar. Mau ketawa tapi takut singa begonya bertambah marah.


Oh. Bianca yang malang apakah dia tak sadar jika di setiap sudut apartemen ini sudah Eni pasang CCTV buat jaga-jaga ada maling saat pertama menempati apartemen ini.


Begonya di pelihara ya mbk!


Lanjut...


Bianca menangis tersedu-sedu di pelukan Allan. Allan menatap Eni dengan tajam tega sekali menyakiti gadis tak berdaya seperti Bianca.


Allan tau Eni jauh lebih bisa menahan rasa sakit di banding Bianca yang manja. Tapi, Allan tak menyangka pemikirannya salah ia kira Eni akan menjadi lebih dewasa untuk kedepannya. Namun, nihil malah sebaliknya.


"Lo apa-apaan sih En? Kenapa pake nampar Bianca segala?" Allan mencoba menahan emosi melihat tingkah Eni yang kelewat santai bahkan saat suasana seperti ini.

__ADS_1


"Gua ngga salah Lan." Bela Eni tenang mencoba tak terusik akan emosi Allan sekarang.


"Kalau lo ngga nampar dia kenapa ada bekas tamparan di pipi Bianca? Oh.. gua tau lo ngga suka Bianca tinggal disini?" Tekan Allan rasa kecewanya makin meningkat saat mengetahui jawaban Eni.


"iya." Singkat padat dan jelas. Eni, tak mau berbelit-belit. Eni tak berbohong jika ia tak suka Bianca di sini dari pada bohong mending jujur walaupun menyakitkan.


Allan menatap Eni kecewa. Eni yang sekarang bukan Eni yang Allan kenal.


Eni melihat santai Allan yang sedang menahan emosi untuk tak menampar bibirnya yang tajam jika bicara ini. Melirik sekilas pada Bianca yang sedang tersenyum remeh kepadanya tapi tertutup rambutnya sehingga Allan tak bisa melihatnya.


"Apa alasan lo nampar Bianca?" Tekan Allan di setiap kalimat.


"Gua ngga nampar Bianca Lan." Eni masih membela diri.


Allan berdecih kemarin juga seperti ini bahkan tadi malam Bianca hingga menangis meraung-raung di kamar karena Eni. Jadi sekarang Bianca tidur bersamanya.


Hanya tidur tidak lebih Allan bukan orang bodoh yang berhubungan intim dengan sembarang orang meski mereka juga pernah melakukannya.



Sekolah seperti hari-hari kemarin dimana akan gempar saat murid melihat Allan dan Bianca bersama.


Di, akun 'GOSIP NO HOAX ' tersedia semua!


Agak heran dari mana mereka mengetahui hingga sedetail itu.


Banyak yang tak mendukung hubungan mereka ada juga yang mendukung.


Eni tak mau ambil pusing yang penting ia tidak ikut-ikutan sih masih aman.


Eni sangat-sangat bersyukur hatinya tidak lagi sakit saat melihat Allan dan Bianca bersama. Sudah cukup hatinya sengsara saat di apartemen beberapa hari ini. Bianca memperlakukannya seperti pembantu.


Eni juga perempuan yang bisa merasakan sakit walau rautnya selalu datar. Menyimpan semua rasa sakit Sendiri.


Ingin Eni menangis andai saja ia bisa mengeluarkan air matanya. Namun tidak bisa, ada batu yang mengganjal sehingga air matanya tak bisa keluar.

__ADS_1


Walau sesakit apapun Eni tak bisa mengeluarkan air mata, walau dalam hati meraung-raung menangis. Sakit Eni merasakannya namun tak bisa mengungkapkannya.


-


"Woi." Eni melihat kanan-kiri namun tak ada orang. Berjalan agak cepat menuju kantin. Karina dan Karel lagi membucin tak ingat padanya.


Tenang sudah biasa.


Saat serius berjalan pundak Eni di pegang langsung Eni plintir lalu memberi tendangan mautnya.


"Akh." Rinti suara di belakangnya. Kenzo merinti kesakitan tendangam Eni, lumayan juga untuk standar cewek.


Eni sempat kaget namun ia ganti dengan raut B aja. Mengangkat satu alis." Apa?"


Kenzo berdecak sifat Eni memang tak bisa di prediksi. "Ck, sakit njirr. Tuh di panggil ma anak-anak mau tanya-tanya sama lo." Kenzo mengatakannya dengan hati dongkol.


"Tapi gua laper mau ke kantin dulu." Ucap Eni.


"Gampang nanti gua bawain lo ke rooftop


dulu gi." Suruh Kenzo seenak jidat lalu pergi ke kantin.


Eni ma nurut aja yang penting ada makanan tapi, tumben antek-antek Allan mau bertemu dengannya. Bukannya sekarang bu boss nya itu Bianca?


Atau mau ngajakin kudeta? WOW jika iya Eni dengan senang hati mau berpartisipasi.


Menuju lift menuju lantai atas Sendiri karena ngga mungkin naik tangga bisa pata nih kaki.


Saat sampai di lantai atas Sendiri. Eni langsung menaiki tangga di pojokan tangga untuk ke rooftop.


Memutar kenop pintu dan membukanya.....


............ "Bang-"


...----------------...

__ADS_1


😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂



__ADS_2