LLAN-NI

LLAN-NI
LLAN-NI #23# BIANCA BERULAH


__ADS_3

TEYPO BERTEBARAN 🤧


"Kau tau ketika kita ada di titik terendah masalah dalam hubungan maka perpisahan adalah jalan terbaiknya. Namun, apakah kita bisa kembali sesukanya? Tidak! Jangan memulai jika tak mau mengakhiri."



Pagi yang sangat menyengat hati. Hari Senin Upacara di adakan di tengah terik sinar matahari. Membakar pori-pori, keringat bercucuran, Belum lagi yang sedang perawatan takut kulit hitam.


Sendari tadi Karina berceloteh tak jelas dan Eni hanya memutar bola matanya malas.


" Anjir pak Bambang nggak ngotak banget udah panas masih aja cerama. "


"Kulit gua item woi."


"Entuh matahari kagak bisa di mundurin dikit napa? Biar kagak panas amat?"


"Haredang-haredang-haredang panas-panas-panas!!" Sisi bernyanyi dengan penuh penghayatan.


"Bacot nyet." Sinis Roy. Sisi langsung terdiam kena mental.


"DEMIKIAN BAIKLAH SEKIAN NASEHAT BAPAK. BAPAK HARAP KALIAN SEMUA MENJADI ORANG-ORANG YANG SUKSES BERGUNA BAGI NUSA DAN BANGSA!"


"AMIN!!" Jawab semua murid serempak.


Di kelas Eni sekarang sudah seperti kapal pecah tak ada adem-ademnya. Karina dan Karel tengah berdebat masalah sepatu. Dan Eni masih sabar menjadi nyamuk musiman.


-


Allan tengah risau hatinya tak bisa di berbohong jika ia sangat merindukan Eni. Namun, mengusir Bianca juga Allan tak mau otaknya menyuruh Bianca tinggal namun hatinya memilih sang tunangan.


Bianca pernah ada dan menemaninya di saat saat rapuhnya dulu. Lalu sekarang saat Bianca di sini sendiri Allan harus menjaganya.


Allan hanya mau membalas budi akan kebaikan nya dulu. Tapi, kenapa Eni egois dan memilih menjauhinya.


Harusnya Eni sebagai tunangannya bisa lebih mengerti Allan bukan pergi bersenang-senang dengan Karina.


Makin lama Eni makin ngelunjak. Bianca tengah demam jadi Allan memutuskan tidak sekolah persetan dengan teman-temannya yang menjauhinya.


Bianca butuh tempat untuk pulang.


Allan melihat wajah pucat di kasurnya. Ya, Bianca memang cantik dari dulu memang cantik. Bianca punya segalanya Cerdas, cantik, body ok, penyayang, tapi entah kenapa hatinya lebih suka kepada Eni dari dulu hingga sekarang.


Allan masih menyukai Eni masih selalu mantau Eni dari jauh. Ada kelegaan jika melihat Eni baik-baik saja. Allan tau Eni kuat dia tak pernah tampak lemah tak seperti Bianca yang lemah lembut dan manja.


Bianca tak bisa di bentak, Bianca selalu menempel kepadanya. Mengusap rambut halus Bianca dan mencium keningnya.


Bianca mengalungkan kedua tangan nya di leher Allan. Tertawa terbahak-bahak dalam hati Allan selalu bodoh sejak dulu.


Melihat sayu mata Allan dan memajuka wajahnya mencium bibir Allan dengan bibir tipis nya.

__ADS_1


Mata Bianca mengejek seseorang yang melihat adegannya dengan Allan dan dengan bodohnya Allan membalas ciuman nya menjadi *******. Dengan senang hati Bianca membalasnya dengan lembut.


Eni menaikkan satu alisnya tanda tangan dan melipat kedua tangan di bawah dada. Menatap jijik pada kedua instan tak tau malu oh jangan lupa Eni memvideokan perbuatan terpuji Allan.


Sofun kah seperti itu?


Bagaimana jika video ini ia sebar siapa yang malu dia atau keluarga Allan. Puas men-video Eni kembali ke kamar moodnya sudah hilang begitu saja.


Berganti baju dan mengedit video konten yang ia buat tadi di sekolah.


BRAK


Pintu kesayangan Eni di dobrak dengan tidak elitnya. Sungguh terlalu!


Terlihat Allan tengah menahan emosi agar tidak meledak di depan Eni.


Eni melihat penuh tanya kepada Allan ada apakah gerangan?


"Lo ngga liat Bianca sakit?" Tanya Allan penuh makna.


"Tau."


"Trus ngapain lo masih keluar setidaknya lo bisa rawat Bianca?"


Eni mengerjapkan mata dua kali ke Allan WOW.. Eni di buat Shok dengan perubahan drastis Allan. Bianca memang hebat.


"Lo bisa ngga usah egois gara-gara lo Bianca sakit."


"Kok gua?"


"Cih, basi En sok ngga tau lagi lo. Gua udah bersabar ya ngadepin sikap egois lo yang maunya menang sendiri tapi makin lama lo makin ngelunjak."


Wah Eni benar-benar tak tau maksud Allan. Topeng joker di pasang Eni melihat cowok di depannya dengan sangat datar.


Tak ada emosi yang keluar dari wajah dan sorot mata Eni.


"Trus-"


PLAK


"Kalau lo kayak gini trus mending lo pergi deh gua muak liat wajah lo lama-lama."


Eni melihat tak percaya pada Allan apa ini sebuah penghinaan di pikir Eni miskuen apa? Gini-gini Eni juga punya Apartemen walaupun minimalis.


Eni mengangguk singkat lalu mengambil kopernya memasukkan baju bajunya dan mengambil tas besarnya untuk barang-barang yang menurutnya berguna.


Tak ada acara drama Eni memohon agar di usir? Cih, tak akan sudi Eni memohon kepada Bianca.


Keluar dari kamar tanpa memperdulikan tatapan kecewa dari Allan yang seakan-akan menjadi korban. Keluar apartemen Allan dan menuju lantai bawah.

__ADS_1


Eni sudah memesan Taksi online tadi. 10 menit sebuah mobil hitam menghampiri Eni.


"Dengan mbak Eni?" Tanya sang supir.


"Iya pak." Eni masuk dan di bantu oleh supir memasukkan kopernya.


Mobil berjalan keluar gedung apartemen mewah itu. "Nanti mampir ke Indomaret ya mz saya mau belanja bulanan dulu."


"Iya mbak!" "Mbaknya mau pindah apartemen ya?"


"Iya tetangganya ngga enak yang di sini, sewanya juga terlalu mahal."


"Iya sih mbak tempat orang kaya."


Taksi onlineEni Berhenti di Indomaret yang ada Eni turun dan berbelanja bulanan.


Selesai belanja Eni masuk ke Grab dan melanjutkan perjalanan.


25 menit Eni sampai di unit Apartemen nya. Membayar dan tak lupa mengasih tips pada mz Taksi online-nya.


Masuk ke lift 18 dan menuju


Apartemennya. Eni langsung merebahkan diri di kasur masih sore males mandi akhirnya bebas. Nenek lampir liat aja.


-


DI TEMPAT LAIN


Seorang pria terlihat frustasi di meja bar bersama teman-temannya. Allan menegak lagi alkohol merasakan tenggorokannya serasa terbakar. Rambut Allan sudah mulai memanjang, kumis sedikit tumbuh menambah kesan Seksi pada khalayak yang melihat.


Allan menjambak rambutnya. Dua minggu sudah Eni meninggalkannya, ia tau ia keterlaluan hingga menampar Eni tanpa mendengar penjelasannya. Allan sudah kepalang emosi dengan sikap Eni ke Bianca.


Kenapa Eni tak mau mengerti. Bianca sedang sakit saat itu. Setidaknya Eni bisa mengesampingkan channel Youtube nya dulu kan?!


Ketiga bawahan Allan melihat kefrustasian temannya tanpa minat.


Kenzo bahkan menguap tanda kepalanya pusing. Mengangkat satu tangan dan datanglah penyegar kehidupan.


Menarik tangan wanita yang berpakaian minim itu ke pangkuannya lalu berpangutan bibir. Tak mau melihat temannya yang sedang gila? Well bagi Kenzo itu tak penting.


Kedua cowok yang melihat tingkah Kenzo dengan jijik lebih memilih bermain game di headphone masing-masing. Sambil berteriak-teriak nggak jelas karena ujung-ujungnya kalah main.


Allan berdecih melihat ulah teman-teman nya menyebabkan mereka menjadi pusat perhatian.


Memang bukan pilihan terbaik mengajak mereka tak ada gunanya. Menegak Vodka sekali lagi lalu mengambil kunci motor nya.


Allan harus pulang ada Bianca di Apartemen ia tak mau Bianca berteriak marah dan berakhir memecahkan barang-barang lagi cukup kemarin Bianca memecahkan foto pernikahan ia dan Eni.


Ingin marah namun tak tega.

__ADS_1


__ADS_2