
Waktu terus berputar, bell istirahat pun kini telah berbunyi namun Sefa menghiraukan itu karena ia sedang fokus pada hobi nya. Rasa lapar bisa ia tahan ketika sedang asik bermain piano, Alan yang melihat kesungguhan Sefa dalam bermain musik berinisiatif untuk membeli makanan dan segera kembali ke ruangan itu.
Pria itu menaruh sebuah kotak makan di atas alat musik yang di mainkan oleh Sefa hingga membuat gadis itu berhenti memainkannya dan pandangannya beralih pada kotak tersebut. Alan tersenyum ketika Sefa mengalihkan tatapannya ke arahnya.
"Makanlah dulu, bagaimana pun juga kau butuh asupan." Ucap Alan.
"Mengganggu saja tau gak?" Sahut Sefa mendengus kesal.
"Akan ku beri hadiah setelah kau makan."
"Benarkah? Apa itu?"
"Nanti ku berikan, asal kamu menghabiskan makanan nya."
"Baiklah."
Dengan penuh semangat Sefa melahap makanan yang telah di belikan Alan secara tidak langsung kali ini mereka makan siang bersama dalam satu ruangan yang sama, memang sangat langka momen yang seperti itu terutama bagi Alan yang rasanya tidak ingin jauh dari sosok seorang Sefa.
Tap! Sefa menaruh kotak makan yang telah habis tidak tersisa, ia pun mengambil botol air mineral dan meneguknya hingga sisa setengah tidak lupa Sefa menyeka mulutnya dengan menggunakan punggung tangannya. Hal tersebut menarik perhatian Alan yang masih makan dengan santai.
Ia mengambil selembar tisu dan meraih tangan Sefa di lanjutkan dengan membersihkan nya. Perlakuan Alan yang seperti itu lagi-lagi membuat Sefa bertanya dalam pikirannya sendiri. Saat dalam posisi yang masih sama, Rania datang dan menghentikan langkahnya ketika ia sampai di ambang pintu.
Pemandangan manis apa lagi kali ini? Jika tadi pagi Sefa membuat heboh satu sekolah dengan keromantisannya bersama dengan Arsen lalu apa lagi sekarang? Dia berbuat hal yang sama dengan guru pembimbing nya sendiri.
Tapi aneh nya ketika Sefa sedang bersama dengan Alan tidak ada seorang pun yang peduli dengan mereka kecuali Rania yang mungkin kebetulan melihat mereka dalam posisi yang berbeda.
__ADS_1
Gadis itu berdehem dan melangkahkan kakinya masuk ruangan tersebut sehingga Sefa refleks menarik tangannya yang masih dalam genggaman Alan.
"Ckckck... Ternyata ini alasan tadi kamu bolos pelajaran? Pertama Arsen dan sekarang pak Alan?" Ucap Rania dengan kedua tangan yang melipat di dadanya.
"Apaan sih, orang ini lagi belajar juga." Sahut Sefa yang menyangkal pernyataan temannya itu.
"Ohh ayolah, aku tidak yakin jika hubungan kalian sebatas guru dan murid, pasalnya nih ya kalian sering bersama terlebih dari itu semalam kau bersama dengannya bukan?"
"Sssttt.." Sefa langsung membekap mulut Rania karena takut suara temannya itu terdengar oleh murid lainnya.
"Apa? Jadi benar aku tidak salah?"
"Ekhem.." Alan berdehem dan menghampiri keduanya.
"Benar atau tidak bukankan itu sama sekali bukan urusan mu?" Sambung Alan kembali seraya menatap Rania.
"Baiklah, aku tidak akan menganggu lagi."
"Dan kau Sefa, ku tunggu penjelasan mu nanti." Sambung Rania yang kemudian berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Sesaat setelah Rania pergi Sefa teringat dengan ucapan Alan sebelum nya ia pun menagih hadiah yang di janjikan Alan sebelum ia menghabiskan makanan nya. Pria itu pergi menuju meja nya dan mengambil sesuatu dari dalam laci.
Di simpannya selembar kertas di atas piano yang langsung menarik perhatian Sefa, gadis itu segera mengambil kertas tersebut dan membaca isi nya dengan begitu teliti. Matanya membulat sempurna ketika ia membaca kata festival musik dalam kertas tersebut.
Ia pun mengalihkan pandangannya menatap wajah tampan Alan untuk meminta penjelasan mengenai semuanya. "Aku sudah mendaftarkan mu." Ucap Alan dengan santai nya. Sontak hal itu membuat Sefa kaget hingga membuat mulutnya sedikit terbuka, ia tidak tau harus senang atau sedih mengenai hadiah yang di berikan Alan.
__ADS_1
Sefa senang karena bisa ikut dalam acara festival musik tahun ini yang secara langsung di tonton oleh banyak orang tapi disisi lain ia juga merasa sedih karena hal itu sangat bertentangan dengan papa nya yang menganggap jadi seorang pianis itu tidak ada apa-apa nya dan hanya membuang-buang waktu.
Cukup lama Sefa terdiam menatap kertas yang masih di genggam nya, Alan pun menepuk pundak gadis itu hingga membuat nya tersadar dan kembali menatap matanya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Sefa menggelengkan kepalanya, ia memberikan kembali kertas tersebut pada tangan Alan dengan senyuman palsu di bibirnya. Pria itu mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang Sefa maksud, bukankah menjadi pianis terkenal adalah mimpinya selama ini? Lantas kenapa dia ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini?
"Aku tidak tertarik dengan hal itu." Ucap Sefa yang kemudian melangkah melewati Alan yang masih terdiam di tempat.
Ingin sekali rasanya Alan mengejar Sefa namun bell masuk telah berbunyi, ia tidak mungkin menganggu waktu Sefa lagi hanya untuk menanyakan hal yang tidak begitu penting dari pelajaran. Alan kembali mengurungkan niatnya dan membiarkan Sefa pergi masuk ke kelasnya begitu saja, namun ia tidak pantang menyerah apapun alasan nya Alan harus bisa membuat Sefa untuk tampil di acara festival musik nanti.
**
Selesai dengan semua pelajarannya, semua murid berhamburan keluar untuk kembali ke rumah nya masing-masing lain hal nya dengan Sefa yang masih di wawancarai oleh Rania si gadis super kepo dan penuh dengan kewaspadaan.
Dengan detail Sefa menjelaskan mengenai semalam hingga membuat Rania mengerti dengan semuanya namun tetap saja ia menyuruh Sefa untuk tidak terlalu dekat dengan si guru tampan itu karena hanya akan mendatangkan gosip yang tidak enak mengenai guru dan murid nya.
Sefa mengangguk mengerti, lagi pula tidak ada hubungan lain antara dirinya dan Alan melainkan hanya sebatas guru dan murid. Berhubung Rania telah di jemput oleh kekasih tercinta nya ia pun segera pamit untuk pulang terlebih dulu pada Sefa.
Suasana sekolah yang sudah cukup sepi menjadikan tempat itu lebih tenang dan nyaman untuk seorang Sefa yang pada dasarnya memanglah menyukai ketenangan, itu alasannya kenapa ia menyukai sebuah musik karena bisa membuatnya tenang dan nyaman.
Sefa membuka sebuah web dan melihat acara festival musik tahunan yang akan di selenggarakan nanti, kebetulan acara tersebut di buka untuk umum jadi siapa saja bisa berpartisipasi dalam acara tersebut sebelum pendaftaran di tutup. Ia hanya mengulas senyum kecut di bibirnya melihat pengumuman yang telah di bacanya itu.
"Andai papa mengerti." Gumam Sefa dengan senyuman yang masih sama.
__ADS_1
***