
Hari dimana festival musik di gelar pun tiba, kebetulan acara itu di laksanakan di hari libur sehingga banyak orang dari kalangan siswa/i yang datang dan ikut serta disana termasuk Rania dan teman-temannya. Sefa yang telah siap dengan riasan seadanya duduk di belakang layar menunggu giliran yang di temani oleh Alan.
Ia berharap dengan adanya acara seperti itu bisa membuktikan bakatnya dan membuat bangga orangtuanya terutama Aidan sang papa yang selalu menentang mimpi nya. Sefa yang tengah duduk di salah satu kursi terlihat sedikit gugup sebelum naik ke atas panggung.
Di tengah kegugupannya itu sebuah tangan menggenggam tangan Sefa dengan begitu lembut hingga membuatnya menoleh dan melihat siapa yang menggenggamnya. Terlihat senyuman lebar dari kedua sudut bibir Alan, ia menatap gadisnya dan duduk di depannya.
"Kau tidak perlu gugup, percaya dirilah bahwa kau bisa."
"Aku akan selalu ada di samping mu untuk mendukung mu." Sambung Alan kembali memberikan semangat pada Sefa.
"Apa kau berhasil membujuk papa?" Tanya Sefa.
Pria itu menggeleng pelan, karena memang begitulah kenyataannya. Tapi Alan berjanji ia akan membawa Aidan pada saat Sefa berada di atas panggung besar yang langsung di liput oleh stasiun televisi.
Terbesit rasa kecewa dalam diri Sefa, ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya dalam tatapannya. Alan mengusap pucuk kepalanya dan memberikan pelukan hangat agar Sefa tidak putus asa karena ini baru di awal untuk dia mengejar karier nya.
"Maaf, suatu saat nanti aku berjanji akan menepati semuanya."
"Tetap semangat, masih ada aku bersama mu." Ucap Alan.
Sefa mengangguk pelan dan mencoba tersenyum, ia tidak ingin membuat Alan kecewa karena selama ini ia telah berusaha untuk mengajarinya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kini saatnya Sefa tampil di atas panggung. Tidak hanya bermain piano ia juga menyanyikan sebuah lagu yang telah di pelajari nya bersama dengan Alan. Suara gemuruh sorakan serta tepuk tangan terdengar dari para penonton yang melihatnya.
"Sefa semangat..." Teriak Rania yang menyemangati sahabatnya itu.
Walau kondisinya masih belum pulih benar, namun Rania tetap datang guna untuk menyemangati penampilan perdana Sefa. Tentu saja ia tidak datang seorang diri melainkan di temani oleh sang kekasih yang setia bersamanya.
__ADS_1
"Jangan teriak seperti itu, kau masih belum pulih." Ucap Angga yang selaku kekasih Rania.
"Aku hanya ingin menyemangati teman ku apa itu tidak beh?"
"Terserah lah." Sahut Angga yang pasrah dan tidak ingin berdebat dengan Rania.
Tidak lama sebuah alunan nada dan lagu yang menyusul terdengar di tempat itu, seketika semua di buat terdiam oleh permainan musik Sefa. "Gila! Suaranya indah banget, haahhh... Sungguh kau membuatku bangga Sefa." Gumam Rania yang terpana melihat penampilan sahabatnya.
Bibit calon musisi terkenal telah terlihat dalam diri Sefa, Alan yang menyaksikannya secara langsung dan sekaligus membuat video selama Sefa bermain begitu bangga dengan anak didiknya yang satu itu sekaligus gadis yang di cintai nya selama ini.
Tidak hanya Alan dan Rania, tapi juga Arsen dan beberapa teman serta yang hadir disana tidak hentinya memuji kemampuan Sefa bahkan video nya sampai viral di dunia maya dalam beberapa medsos entah siapa yang menguploadnya tidak ada yang tahu disana hanya tertulis nama samaran si pemilik akun.
Penampilan Sefa telah selesai, sebelum ia turun dari atas panggung seseorang dengan berani naik ke atas panggung dan menghampiri Sefa dengan membawa satu buket bunga. Tanpa segan ia memberikan ucapan selamat pada gadis itu dengan memberikan buket bunga itu dan memeluknya di depan umum.
Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan sedikit berotot memang tidak terlihat seperti anak sekolah apa lagi disaat Arsen mengenakan pakaian bebas seperti saat ini. Sefa yang mendapatkan perlakuan Arsen seperti itu pun terkejut bukan main, masalahnya ia melakukan itu tepat di depan umum dan banyak uang melihatnya.
Alan yang melihat itu refleks mengepalkan tangannya, tidak rela rasnya ia melihat gadisnya di peluk pria lain tepat di umum seperti itu. Lain halnya dengan Arsen yang tersenyum ketika ia berhasil membuat Alan cemburu karena ulahnya.
Sefa segera melepaskan pelukan Arsen dan mengeluarkan senyumnya walau dengan sedikit terpaksa. Kini mereka pun kembali ke back stage, terlihat Alan yang tengah berdiri dengan tatapan yang menusuk melihat Sefa datang bersama dengan Arsen.
Pria itu langsung menarik tangan Sefa dan menjauhkannya dari Arsen. Pria muda itu mengeluarkan senyum remehnya ketika Alan menarik Sefa dari sampingnya. Walau belum menyatakan cintanya secara langsung namun sudah terlihat jelas bahwa Alan begitu cemburu ketika melihat Sefa di dekati pria lain sekalipun itu anak kecil baginya.
Alan mengambil buket bunga dari tangan Sefa dan membuangnya ke tempat sampah. Sefa yang melihat itu tercengang di buatnya bisa-bisanya Alan melakukan itu tanpa berpikir panjang.
"Aku bisa membelikan mu lebih dari itu." Ucap Alan yang menatap Sefa dengan tatapan serius.
"Ffttt... Hahaha..." Gadis itu pun tertawa lepas mendengar penuturan pria di depannya. Terlihat jelas bahwa Alan sedang cemburu dengan pria kecil yang mendekati Sefa.
__ADS_1
"Kau ini kenapa? Bukan tidak percaya kau bisa membelikan dari itu bahkan aku percaya kamu bisa memindahkan toko bunga ke rumah ku, hanya saja cara mu itu yang membuat ku heran." Ucap Sefa di sisa tawa nya.
"Sudahlah tidak perlu membahas itu, kau mau ikut bersama ku?" Ucap Alan yang mengajak Sefa pergi ke suatu tempat.
Tanpa berpikir panjang gadis itu mengangguk menerima ajakan Alan. Sampai mereka berhenti tepat di bibir pantai, Alan mengajak Sefa mengambil beberapa langkah dan menikmati semilir angin yang berhembus. Ia juga memberikan satu kaleng minuman yang telah di beli sebelumnya.
"Selamat atas pertunjukan mu, kau bermain seperti pianis yang handal." Ucap Alan seraya mengajak cheers.
Sefa hanya tersenyum dan melakukan cheers bersama Alan sebelum mereka meneguk minumannya bersama. "Terimakasih karena telah menjadi guru terbaik ku." Ucap Sefa yang kembali tersenyum menatap Alan.
"Apa kau hanya menganggap ku sebagai guru mu?"
"Lantas aku harus menganggap mu apa?" Sahut Sefa.
Alan memegang kedua bahu Sefa hingga mereka saling menatap satu sama lain. "Kamu percaya dengan cinta masa kecil?" Tanya Alan dengan tatapan seriusnya. Gadis itu menggeleng pelan. Benar, Sefa tidak begitu percaya dengan yang namanya cinta masa kecil karena menurutnya masa kanak-kanak hanyalah masa bermain.
"Jika kau tidak percaya, maka hari ini akan ku buat kau percaya." Ucap Alan meyakinkan gadis di depannya.
"Aku yang kembali hari itu adalah aku yang ingin menjemput cinta masa kecil ku, kau ingat dulu aku pernah berjanji satu hal?"
"Hm, kau bilang padaku akan menjaga ku sampai kapanpun karena dulu aku hampir terjatuh dari sepeda dan kau menolongku."
Alan pun tersenyum mendengar penuturan Sefa yang ternyata mengingat semuanya. "Dan hari ini aku akan menepati janji ku." Ucap Alan yang menggenggam kedua tangan Sefa.
Gadis itu mengangguk, "mari kita coba." Sahut Sefa dengan senyuman yang terukir di bibirnya,
***
__ADS_1