
Sesampainya di rumah Sefa mendapatkan tatapan tajam dari sang ayang ketika ia masih berada di ambang pintu. Melihat tatapan ayah nya yang seperti itu membuat Sefa sadar akan kesalahannya, siap tidak siap ia harus menerima amarah yang akan di keluarkan oleh Aidan.
Walau Alan berada di sampingnya, tidak menurunkan amarah Aidan sedikitpun. Pasalnya orang yang ia percayai malah mendukung putrinya dalam karier nya yang ingin menjadi seorang pianis atau musisi. Merry yang melihat ketakutan dalam diri putrinya memberikan kode supaya Sefa kembali ke luar bersama dengan Alan.
Sefa yang mengerti akan hal terebut langsung beralasan bahwa ada sesuatu yang ingin ia beli. Gadis itu segera memutar balikkan tubuhnya dan menggandeng tangan Alan berniat untuk pergi dari rumah namun langkahnya terhenti ketika Aidan menyerukan namanya dengan nada tinggi.
Gadis itu menggenggam erat tangan Alan, jantung nya berdebar lebih cepat terlihat jelas rasa takut dalam raut wajah Sefa. Alan memegang bahu Sefa hingga mereka berhadapan ia mencoba memberikan ketenangan pada gadisnya dan menghadapi amarah Aidan bersama.
Alan mengangguk pelan seraya menatap mata Sefa, kini gadis itu merasa lebih tenang dari sebelumnya mereka pun berbalik berama melihat Aidan dan Merry yang sedang membujuk suaminya.
Aidan menghampiri Sefa dan hendak melayangkan tamparan namun berhasil di hentikan oleh Merry yang menyerukan namanya. "Aidan!!" Seru Merry hingga pria itu berhasil menurunkan kembali tangannya di saat Sefa memejamkan matanya karena ketakutan.
Aidan mengacungkan tangannya mengisyaratkan agar Merry tidak ikut campur dengan urusannya bersama Sefa. Ia menunjuk wajah Sefa dan mengatakan hal yang telah membuatnya kecewa sampai terjadi pertengkaran antara keduanya.
"Sekuat apapun papa mencoba untuk menghentikan aku, aku gak akan pernah berhenti untuk mengejar karier ku!"
"Hentikan omong kosong mu Sefa! Kau hanya akan menjadi bahan omongan di luar sana!"
"Aidan cukup! Kamu tidak akan pernah bisa menghentikan nya, bagaimanapun juga kamu tau tekadnya dia untuk menggapai mimpinya seperti apa."
"Ku mohon jangan sampai kalian terus bertengkar hanya karena masalah ini." Sambung Merry dengan air mata yang telah menetes.
"Ma.." sega menghampiri mamanya dan memeluknya.
__ADS_1
"Sudah." Merry mengusap pelan punggung putrinya itu.
Aidan melirik sekilas istri dan putrinya kemudian ia beralih menatap Alan yang masih berdiri disana. "Kau... Bukankah kau yang mengajarkan dia menjadi seperti itu?" Pertanyaan Aidan langsung di sahuti dengan anggukan kepala Alan.
"Baiklah, mulai hari ini kamu bawa dia pergi dan jangan pernah kembali!" Aidan menunjuk Sefa dengan tatapan yang seolah dia mengusir putrinya.
"Kau benar-benar sudah gila Aidan! Bagaimana mungkin kamu mengusir putri mu sendiri hanya karena masalah ini!" Merry mencoba membela putri semata wayangnya.
Namun tidak dengan Sefa, ia justru malah menyetujui ucapan papa nya itu. Dengan menyeka air matanya Sefa mengatakan bahwa ia akan pergi bersama dengan Alan, gadis itu bergegas masuk kedalam kamarnya dan membereskan beberapa barang miliknya, ia memasukkan nya kedalam koper dan kembali ke luar.
"Akan ku tunjukkan pada papa kalau aku bisa sukses dan menggapai mimpi ku sendiri." Sefa melirik kedua orangtuanya sekilas dan mengajak Alan untuk segera pergi dari rumah nya.
"Kau lihat apa yang kau lakukan? Kau sungguh keterlaluan!" Ucap Merry yang pergi ke kamarnya.
Sementara Sefa yang keluar dari rumah karena terbawa emosinya hanya terdiam selama perjalanan, ia sungguh tidak punya tempat tujuan kemana dirinya harus pergi. Hari mulai gelap Sefa masih tidak membuka suaranya sampai Alan menepikan mobilnya tepat di depan minimarket.
Ia melepas seat belt nya dan keluar tanpa bicara dengan Sefa terlebih dulu. Ponsel Sefa berdering beberapa kali sampai ia tersadar dan menerima panggilan tersebut dari Rania. Melihat postingan Sefa dimana-mana tentu saja gadis itu mencemaskan temannya karena tau Aidan menentangnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rania dari balik sambungan telfon nya.
"Hm, aku baik-baik saja." Sahut Sefa dengan suara parau.
Mendengar suaranya yang seperti itu Rania sangat yakin jika Sefa tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia berniat untuk berkunjung ke rumah Sefa namun gadis itu menolaknya dan meyakinkan Rania bahwa dirinya memang dalam keadaan baik-baik saja. Tidak lama sambungan telfon pun terputus dan Alan telah kembali dari minimarket.
__ADS_1
Ia membawa satu kantong yang berisi makanan serta minuman untuk Sefa. "Minumlah, setidaknya itu akan sedikit menenangkan mu." Alan membuka tutup minuman itu dan memberikannya pada Sefa.
Gadis itu langsung menerima dan meneguknya dengan cukup banyak. "Rasanya sungguh biasa saja, bolehkan aku meminta mu untuk membelikan alkohol?" Pinta Sefa yang menatap jalanan tanpa menoleh pria di sampingnya.
Alan memegang dagu Sefa dan memutarkan kepalanya hingga mereka saling berhadapan. "Anak kecil tidak boleh minum alkohol, kau mengerti?" Ucap Alan seraya tersenyum.
Sefa mendesis kecil, di rasanya ia sudah cukup dewasa untuk mencicipi minuman itu karena sebentar lagi Sefa lulus dari SMA nya. Namu Alan bersikeras melarang Sefa karena ia tidak tahu toleransi alkohol Sefa sebesar apa.
Alan kembali melajukan mobilnya, ia memutuskan untuk membawa Sefa ke rumah nya. Memang yang di tempatnya bukan rumah utama melainkan rumah pribadi Alan yang di belinya beberapa tahun lalu. Ia membersihkan satu kamar untuk di tempati oleh Sefa sementara waktu.
"Kau bisa tinggal disini sampai kapanpun." Ucap Alan.
"Sampai sekolah ku selesai dan mendapatkan pekerjaan, maaf merepotkan mu." Sahut Sefa.
"Tidak ada yang merepotkan ku, jangan bilang maaf dan berterimakasih karena itu sudah menjadi tugas ku untuk menjaga mu." Ucap Alan.
Gadis itu pun memeluk kekasihnya, ia sangat beruntung karena bisa memiliki Alan saat ini. Di tengah pelukannya ponsel Alan berdering, ia melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Sefa untuk menerima panggilan tersebut.
Sementara dengan Sefa membereskan beberapa barangnya kedalam lemari dan membersihkan dirinya karena di rasanya sudah cukup lengket. Selsai mandi Sefa keluar dari kamarnya dan menghampiri Alan yang berada di dapur, ia menanyakan hair dryer karena tidak bisa menemukannya dimana pun.
Alan yang sedang menyiapkan makan malam menunda pekerjaan nya sebentar dan membantu Sefa untuk mengambilkan hair dryer. Tidak hanya itu Alan juga membantu gadisnya untuk mengeringkan rambutnya.
Sungguh suasana yang romantis bagi Sefa karena ini pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pria. Selesai mengeringkan rambut Sefa, pria itu kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya yang di susul oleh Sefa. Bukan membantu, gadis itu malah memeluk punggung Alan dengan begitu manja dan menampakkan kepalanya dari samping kanan pria yang sedang di peluknya.
__ADS_1
***