Love Melody

Love Melody
Bab 12


__ADS_3

Hari demi hari Sefa selalu di sibukkan dengan terus berlatih di sela-sela aktivitas sekolahnya, selain menggunakan fasilitas sekolah ia juga di bimbing secara khusus oleh Alan di tempatnya. Kebetulan hari ini adalah weekend, Sefa mengunakan kesempatan itu untuk melatih bakatnya.


Tok tok. .


"Sefanya... Bisakah kau berhenti bermain piano?!" Teriak Aidan dari luar kamar putrinya.


Alih-alih mendengarkan papa nya berteriak, Sefa terus bermain dengan sengaja dan mengabaikan papa nya itu. Sampai Aidan yang mendengarnya telah pusing dengan apa yang di lakukan putri nya itu. Melihat suami nya yang terus tidak mau diam Merry segera menarik tangannya dan mengajak nya duduk untuk meminum teh hangat buatannya.


"Sudah ku bilang, perhatikan kondisi mu jangan terlalu mengurusi putri mu itu."


"Dasar anak itu tidak mau di atur, sudah ku bilang berapa kali jangan terlalu fokus bermain piano itu hanya membuang-buang waktu!"


"Haishh..." Desis Merry seraya menghela napasnya.


"Sudah-sudah daripada kau pusing memikirkan anak gadis mu itu, mending kita pergi jalan-jalan untuk menstabilkan kesehatan mu." Ajak Merry yang tanpa menunggu persetujuan Aidan langsung membawanya keluar.


Sengaja Merry melakukan itu untuk memberikan ruang pada Sefa agar lebih fokus pada hobi yang menjadi mimpi nya itu. Di sebuah toko roti siapa sangka Merry dan Aidan akan bertemu dengan anak kecil yang dulu sering bermain ke rumah nya, meski keadaan nya sekarang telah berbeda namun merek berdua masih bisa mengenali pria itu dari sosot matanya yang tajam.


Merry memangil nama pria itu dan benar saja mereka tidak salah mengenali orang, pria itu langsung menoleh dan menatap kedua orangtua yang kini sedang berdiri tepat di depannya itu. Tapi berbeda halnya dengan Merry dan Aidan yang mengenali nya, pria itu mengerutkan alisnya untuk mengingat kedua wajah yang kini sedang menatapnya.


"Hey anak muda, apa kau sudah melupakan kita?" Ucap Aidan yang terlontar begitu saja.

__ADS_1


Setelah mengingat sebentar akhirnya pria itu ingat dengan sosok Aidan dan Merry. Ya, dulu mereka adalah tetangga di kampung halaman sebelum akhirnya pindah ke kota. "Bibi Merry, paman Aidan.." ucap pria itu sambil menunjuk Merry dan juga Aidan bergantian.


Mereka pun tertawa gembira akhirnya anak kecil yang kini telah tumbuh dewasa dengan sempurna itu mengenali keduanya. Obrolan berlangsung begitu saja sampai akhirnya Aidan menyuruh pria itu untuk mampir ke rumah nya sekaligus makan siang disana.


Tidak enak untuk menolak akhirnya pria itu menyetujui permintaan Aidan untuk makan siang di rumah nya. Sesampainya di rumah, merry menyuruh pria itu untuk segera masuk dan tidak usang sungkan ketika dirinya berada di rumah itu. Sudah akrab sejak kecil Merry dan Aidan menganggap anak itu seperti putra nya sendiri.


"Duduklah dulu, bibi akan masakan makanan kesukaan kamu." Merry meninggalkan Aidan bersama dengan pria itu di ruang tamu.


Terdengar suara alunan nada piano yang di mainkan oleh Sefa dari dalam kamarnya, pria itu tersenyum mendengar nada tersebut. Berbeda hal nya dengan Aidan yang sudah kesal karena sedari pagi Sefa hanya bermain piano bahkan sarapan yang telah di buatkan ibu nya saja belum ia makan.


"Dasar anak itu, aku harus segera menegurnya." Ucap Aidan yang beranjak dari duduknya.


"Tidak usah paman, aku sangat menyukai permainan musiknya."


Setelah berhasil menemui Sefa, Aidan langsung menyuruhnya untuk berhenti bermain piano walau sedikit terjadi percekcokan diantara keduanya tapi mereka tidak benar-benar saling debat karena hal itu sering terjadi diantara keduanya ketika mereka berbeda pendapat.


Aidan kembali ke ruang tamu dan di susul oleh Sefa yang masih mengomel mencari sosok ibu nya untuk meminta pembelaan. Dengan masih mengenakan pakaian tidur pendek tanpa malu Sefa keluar dari kamar nya karena pikir nya tidak ada tamu yang datang berkunjung.


"Ekhem." Aidan berdehem untuk memberikan kode pada putrinya siapa berhenti mengomel.


Sefa yang masih kesal dengan reut wajah yang kusut menoleh ke arah ayah nya dan betapa kagetnya dia ketika melihat sosok pria yang duduk dengan santai di ruangan itu sedang menatapnya. Sefa mengucek matanya untuk memastikan jika dirinya tidak salah lihat, tapi bagaimana mungkin dia bisa asa disini? Apa dengan sebagai ia datang untuk menemui Sefa atau karena hal lainnya Sefa sendiri tidak tahu akan hal itu.

__ADS_1


"Alan..." Ucap Sefa menunjuk pria itu.


Alan hanya tersenyum dan mengangkat sebelah tangannya tanpa bersuara. Mendapati kebenaran itu Sefa langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Alan dan juga ayah nya, ia menutup kedua wajahnya yang kini mungkin terlihat merah merona seperti tomat karena rasa malu nya pada si guru yang sudah menjadi temannya itu.


Sefa berlari kecil kembali masuk ke kamarnya, bukan hanya menutup pintu ia juga mengunci nya agar tidak ada orang yang bisa masuk tanpa izin. "Pertemuan macam apa ini?" Gumam Sefa yang melihat dirinya sendiri dari bawah sampai atas. Rambut yang sedikit berantakan dan baju tidur yang melekat itu lah menjadikan Sefa malu untuk muncul di depan Alan.


Ia pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju. Tidak lama setelah itu Merry memanggil putri semata wayangnya itu untuk ikut makan siang bersama.


15 menit berlalu, dengan kilat Sefa mengeringkan rambutnya serta mengoleskan sedikit liptint di bibirnya ia langsung meluncur menuju meja makan. Terlihat tiga orang yang telah menunggunya disana, dengan wajah yang anggun dan terlihat malu-malu Sefa menghampiri mereka, tidak ada kursi lain akhirnya Sefa duduk di samping Alan.


"Ayo mari makan."


"Dan ini makanan kesukaan mu, kau makan lah dengan banyak." Sambung Merry yang memberikan banyak lauk ke piring Alan.


"Bagaimana bisa mereka seakrab itu? Bahkan kelihatannya mama sudah mengenal dia sejak lama." Batin Sefa dalam lamunannya.


Alan yang melihat Sefa melamun, langsung menyadarkannya dengan sebuah sumpit yang sudah berada tepat di depan mulut Sefa. Gadis itu menatap Alan dan mengerutkan keningnya.


"Kau tidak akan kenyang dengan hanya melamun disini, makanlah." Ucap Alan yang hendak menyuapi Sefa.


"A-aku bisa makan sendiri." Sahut Sefa yang langsung mengambil alat makan nya dan menyuap dengan begitu lahap.

__ADS_1


Melihat tingkah Sefa yang menggemaskan seperti itu membuat Alan tertawa kecil dan melanjutkan makan nya, begitu juga dengan kedua orang tua Sefa yang terlihat senang ketika melihat putrinya bersama dengan Alan yang nampak sekali akrab.


***


__ADS_2