
Keesokan harinya, Sefa mejalani aktivitas sekolah seperti biasnya. Sial nya pagi-pagi ia sudah di pertemukan dengan Alan tepat di gerbang sekolah, bukan karena hal lain melainkan Sefa masih kesal dengan Alan karena dirinya merasa di bohongi olehnya selama ini.
Tapi tidak hentinya juga ia di buat baper oleh guru yang satu itu terutama disaat dia mengajari Sefa dalam bermain musik. Dengan rasa percaya dirinya Sefa berjalan menuju kelasnya tanpa melirik mobil Alan yang melewati nya. Namun lain hal nya dengan pria itu yang menekan klakson dan mengedipkan sebelah matanya ketika Sefa melirik ke arahnya karena dengan sengaja Alan membuka kaca jendela mobilnya.
"Ch, kamu pikir aku bisa tergoda gitu dengan hanya kedipan mata yang biasa saja?" Gerutu Sefa yang masih berjalan.
Seseorang menepuk pundak Sefa di saat dirinya tengah sibuk dengan gerutuan mengenai pria menyebalkan itu. "Hayoloohhh mikirin apa?" Tanya Rania yang membuat Sefa kaget.
Sefa mendelik memutar bola matanya, dengan segala keseruannya bersama dengan sahabatnya akhirnya Sefa sampai di depan kelas. Anehnya tidak seperti biasanya suasana kelas hari ini cukup ramai dengan kaum wanita yang berkerumun di bangku milik Sefa, entah hal apa sampai mereka mengerumuni meja gadis yang cukup populer itu.
Sefa bersama dengan Rania pun bergegas menuju bangku miliknya dengan menerobos beberapa gadis yang menghalanginya. Terlihat seorang pria muda yang duduk di bangku Sefa dengan sebuah kotak cokelat di depannya. Sefa yang berdiri di samping meja nya langsung saling kontak maga dengan Arsena yang sedang duduk di bangku nya.
"Kau... Apa yang kau lakukan di meja ku?" Tanya Sefa seraya menunjuk Arsen yang bukan teman sekelasnya.
"Morning my baby girl." Ucap Arsen yang mendekatkan wajahnya dan langsung mendapatkan sorakan dari teman-teman di kelas Sefa.
"Ekhem, hal apa yang udah gue lewatkan selama ini?" Bisik Rania menyikut lengan Sefa.
"Gak ada!" Tegas Sefa.
Gadis itu langsung membawa Arsen keluar dari kelas nya untuk mengajaknya bicara di luar. Perlakuan Sefa yang seperti itu mendapatkan tatapan dari sepasang mata dengan sorot mata yang tajam. Dari kejauhan pria itu terus memperhatikan Sefa sampai akhirnya ia berbalik dan kembali ke ruangannya.
"Apa yang kau lakukan di meja ku? Apa kau sengaja ingin mengundang perhatian semua orang?" Ucap Sefa yang meminta penjelasan Arsen.
"Tidak ."
__ADS_1
"Lalu? Untuk apa kau diam disana dan di kerumuni banyak gadis."
"Ohh aku hanya ingin memberikan mu coklat, tapi karena kamu belum sampai jadi aku menunggu mu." Sahut Arsen yang tersenyum.
"Tapi aku gak suka cokelat."
"Benarkah? Sepertinya aku salah memilih hadiah, baiklah kalau gitu ku traktir kamu nanti sepulang sekolah."
"Bye cantik." Sambung Arsen kembali seraya mengedipkan sebelah matanya dan melangkah pergi yang di ikuti beberapa kawan nya.
Sefa menghela seraya menatap punggung Arsen yang perlahan mulai menghilang. Ia tidak habis pikir dengan cowok populer yang benar-benar mengejarnya itu. Bell masuk berbunyi, semua murid masuk kedalam kelas nya dan mengikuti pelajaran seperti biasa.
Tidak ada kelas seni hari ini, hal itu membuat Sefa sedikit lega karena tidak harus bertemu dengan guru yang selalu membuatnya salting ataupun kesal. Bell istirahat berbunyi Sefa bergegas ke kantin bersama dengan Rania untuk mengisi perutnya.
"Bagaimana dengan festival musik itu? Kau yakin ingin mengikutinya?" Tanya Rania di sela makan siang nya.
"Tapi bagaimana dengan orangtua mu?"
"Alan sudah mengurusnya." Celetuk Sefa yang sepertinya keceplosan mengatakan hal itu pada Rania.
Gadis yang duduk di depannya itu langsung membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang di katakan Sefa barusan. Matanya berkedip berulangkali dengan posisi yang masih sama, Sefa yang baru sadar dengan apa yang di diucapkannya tadi langsung memukul mulutnya pelan.
"Katakan sampai mana hubungan kamu dengan guru itu?" Ucap Rania yang mendekatkan wajahnya ke arah Sefa.
"Apa yang kau tanyakan?" Sahut Sefa seolah tidak mengerti dengan pertanyaan Rania.
__ADS_1
"Sefanya Arkhava! Jangan bilang kau dan dia sudah...."
"Tidak!" Sahut Sefa menyela ucapan Rania.
Gadis itu memicingkan matanya menatap Sefa dengan penuh kecurigaan. Beruntung nya tiba-tiba Arsen datang dan duduk di samping Sefa hingga berhasil mengalihkan pembicaraan dan kecurigaan Rania. Ia memainkan jarinya di atas meja ketika melihat kedekatan Arsen dengan Sefa.
"Mungkinkah cinta segitiga?" Batin Rania yang masih melihat keduanya.
Sementara di tempat lain, terlihat seorang cowok yang sedang bermain ponsel dengan serius. Benar, Alan sedang membalas pesan dari temannya yang ingin mengaturnya untuk kencan buta. Berulang kali ia menolak namun Leo tetap membujuk alan untuk mencobanya karena diantara semua temannya mungkin hanya Alan yang masih sendiri.
"Besok suruh dia temui aku, nanti ku kirim alamatnya." Alan menulis pesan untuk temannya itu.
Ia pun menyeringai seolah memiliki rencana terselubung dalam pertemuannya nanti, Alan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan berjalan menuju kantin. Suasana kantin masih cukup ramai oleh beberapa murid yang masih mengisi perutnya termasuk Sefa dan Rania.
Rania memberi kode pada Sefa dengan mengetuk meja menggunakan jari nya. Ia menunjuk Alan dengan sedikit melirik kan matanya, Sefa yang mengerti dengan kode temannya itu langsung mengikuti kemana arah lirikan mata Rania.
Dengan cuek Sefa kembali menghabiskan makannya yang di temani oleh Arsen di sampingnya. Kling... Ponsel Sefa berdering satu kali menandakan sebuah pesan masuk di ponsel nya, gadis itu langsung melihat layar ponselnya dan melihat pesan yang di kirimkan oleh papa nya.
Sefa membalas pesan tersebut dan kembali menaruh ponselnya di atas meja. Tidak lama setelah makanannya habis, gadis itu beranjak tanpa pamit pada kedua temannya dan langsung menghampiri Alan yang masih berada di sana.
Ia sengaja melewati guru itu dan terlihat membisikkan sesuatu tepat di telinganya. "Berusahalah terus jika kau bisa." Bisik Sefa yang kemudian pergi keluar kantin.
"Apa kau lihat dia membisikkan sesuatu?" Tanya Rania pada Arsen yang masih duduk di tempat.
"Sepertinya iya, kau coba saja tanya dia nanti." Sahut Arsen yang beranjak dan meninggalkan Rania sendiri.
__ADS_1
"Ku rasa kisah cinta mereka akan cukup rumit." Gumam Rania yang juga pergi dari kantin menuju kelas nya.
Di sebuah lorong, Alan berjalan tepat di belakang Arsen ia membisikkan sesuatu ketika berjalan melewati anak laki-laki tersebut hingga membuat nya terdiam sejenak sampai akhirnya ia berhasil mencerna ucapan Alan barusan dan membuat sudut bibirnya terangkat hingga terlihat senyuman yang menyeringai. Melihat senyuman Arsen yang seperti itu membuat beberapa temannya bergidik ngeri melihatnya.