Love Melody

Love Melody
Bab 20


__ADS_3

Bell pulang telah berbunyi, semua orang berhamburan ke keluar kelas dengan menenteng tas nya masing-masing. Jika mereka langsung pergi menuju gerbang lain hal nya dengan Sefa yang melangkah ke arah tangga menuju rooftop sekolah, tanpa ragu ia berjalan untuk menemui Arsen yang telah berjanji menunggu nya disana.


Setiba nya di atas, Sefa melihat sosok pria muda yang mengajaknya bertemu dengan posisi yang sedang melihat keramaian kota. "Arsen" panggil Sefa ketika dirinya berada tepat di belakang pria itu. Mendengar suara Sefa, Arsen pun langsung menoleh dan menghampirinya.


"Duduklah." Ucap Arsen yang menunjuk sebuah kursi panjang disana.


Sefa menuruti ucapan nya, ia duduk di bangku itu dengan semilir angin yang menerpa rambut panjang nya. Beberapa detik Arsen menatap Sefa dengan penuh kekaguman sampai suara Sefa menyadarkan nya ketika gadis itu bertanya apa tujuan Arsen menyuruhnya ke tempat itu.


"Ahh iya, hampir lupa dengan apa yang ingin aku ucapakan."


"Cepat bilang aku tidak punya banyak waktu karena masih ada latihan hari ini."


"Kau sangat rajin berlatih apa itu tidak membuatmu lelah?"


"Tidak, semua aku lakukan karena hobi."


"Baiklah, jika kau tidak ingin bicara aku akan kembali."


"Apa guru itu telah menunggumu?"


Pertanyaan Arsen barusan membuat Sefa terdiam dan mengurungkan niatnya untuk beranjak dari posisinya saat ini. Ia menoleh menatap Arsen untuk mencerna apa maksud dari pertanyaan nya itu.


"Ahh iya, kau benar aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama karena mungkin dia juga mempunyai kesibukannya sendiri." Jelas Sefa.


"Aku tau bukan itu alasan yang sebenarnya, dia bukan orang yang begitu sibuk."


"Maksud kamu apa bicara seperti itu?"


Arsen mengulas senyumnya dan beranjak berjalan ke sisi lain. "Tidak, sepertinya kau tidak cukup mengenal dia." Sahut Arsen.


"Pergilah, dia telah menunggu mu terlalu lama." Sambung Arsen kembali seraya melihat ka bawah tepatnya ke parkiran mobil.

__ADS_1


Sefa yang masih tidak mengerti dengan apa yang di katakan Arsen mencoba untuk terus berpikir positif mengenai orang yang kini telah berhasil mencuri hati nya itu.


Di sebuah parkiran, Alan telah standby duduk di mobil nya menunggu kedatangan Sefa. Rencananya hari ini mereka akan melakukan latihan di rumahnya. Meski keduanya belum resmi menjalin hubungan namun mereka sudah terlihat seperti sepasang kekasih.


Arsen yang masih berada di atas sana memperhatikan mobil Alan yang perlahan mulai meninggalkan lingkungan sekolah. "Kita lihat sampai mana kau bisa bertahan dengan nya." Gumam Arsen dengan senyuman yang menyeringai.


Sesampainya di rumah Alan, Sefa langsung berlatih dengan begitu semangat. Alan yang melihat itu melebarkan senyumnya seraya terus memperhatikan Sefa. Di tengah kesibukannya mengajari Sefa, ponsel Alan pun berdering sebuah panggilan dari Leo yang tidak lain adalah teman dekat nya. Ia mengambil beberapa langkah untuk sedikit menjauh dari Sefa dan menerima panggilan nya.


"Waktunya hanya tinggal sebentar lagi, bagaimana perkembangannya?"


"Lumayan, kau tenang saja semua akan baik-baik saja."


"Aku percayakan semuanya pada mu, karena hanya kamu yang bisa mengendalikan agensi."


"Aku akan membawanya masuk setelah festival selesai."


Tidak sengaja ucapan Alan tersebut terdengar oleh Sefa yang berdiri di belakangnya. Setelah selesai berbincang dalam panggilannya Alan berbalik dan hendak kembali menemani Sefa namun ia telah melihat Sefa berdiri tidak jauh dari nya.


"Tidak, jari ku hanya pegal dan ingin beristirahat sebentar."


"Ohh baiklah, kau istirahatlah dulu akan ku ambilkan minum." Sahut Alan yang bergegas ke dapur untuk mengambil minuman.


Selama Alan pergi ke dapur Sefa kembali berkeliling melihat seisi rumah tersebut. Sebenarnya ia bukan orang yang seperti itu ketika berada di rumah orang lain namun karena terus teringat dengan ucapan Arsen, gadis itu tertarik untuk mengenal lebih dalam seperti apa sebenarnya kehidupan Alan.


"Itu foto bersama dengan teman kuliah ku dulu." Ucap Alan yang melihat Sefa sedang menatap sebuah foto.


Sefa hanya tersenyum dan kembali menghampiri alan, ia duduk di sofa seraya meneguk minumannya. Sefa menggerakkan jari-jarinya yang terasa pegal, melihat itu Alan langsung meraih kedua tangan Sefa dan memijitnya perlahan.


Deg.. deg.. deg... Seperti ada aliran listrik yang mengalir dari tangan Alan, jantung Sefa kini di buat berdetak tidak seperti biasanya bahkan ia tidak berani untuk menatap mata Alan yang kini sedang menatapnya.


"Kenapa kau tidak ingin melihatku?"

__ADS_1


"Tatapan mu menyeramkan." Sahut Sefa dengan refleks.


Hal itu membuat Alan tertawa, baru kali ini rasanya ada yang mengatakan tatapannya menyeramkan setelah ia berhasil meluluhkan beberapa gadis pada saat kuliah dulu walau tidak sampai menjalin hubungan. Sefa segera menarik kedua tangannya dan kembali meneguk minumannya.


"Di samping bermain piano, bagaimana jika kamu berlatih vocal?" Tanya Alan yang secara tiba-tiba.


"Suara ku tidak begitu bagus."


"Siapa bilang? Kau memiliki suara yang indah kenapa tidak ingin mencobanya?"


Tidak enak untuk menolak akhirnya Sefa menerima tawaran Alan dan mencobanya untuk berlatih vocal, pikirnya tidak ada salahnya juga jika ia bisa bermain piano sambil bernyanyi bukankah itu akan menjadi hal yang sempurna.


Merekapun kembali berlatih, sesuai dengan perkiraan Alan gadis itu memiliki sejuta kemampuan dalam dunia musik dan itu akan menjadi awal yang baik untuk karier nya. Ternyata Alan tidak salah karena telah mendukung Sefa selama ini, ia yakin bahwa dirinya mampu menjadikan Sefa sebagai bintang besar dalam agensi yang berada di bawah pimpinan nya.


Sayangnya sampai saat ini Sefa tidak mengetahui sosok Alan yang sebenarnya dan hanya tahu jika dia adalah seorang guru seni sekaligus musisi yang pernah terkenal.


Hari mulai sore, Alan melihat arlojinya dengan jarum yang terus berputar. Ia menyudahi latihan hari ini karena tidak ingin membuat Sefa kelelahan, mengingat dengan kondisinya yang baru sembuh setelah sakit kemarin.


Tidak membiarkan Sefa pulang sendiri, Alan segera mengambil kunci mobilnya dan mengantarkan Sefa pulang. Tepat setelah sampai di depan rumah Sefa, Alan kembali mendapatkan panggilan telfon bukan dari Leo tapi kali ini dari orang lain. Ia menyuruh Sefa untuk masuk terlebih dulu dan ia akan menyusulnya nanti.


"Aku pulang." Ucap Sefa ketika ia membuka pintu utama.


Terlihat kedua orangtuanya yang sedang duduk di depan televisi dengan siaran iklan yang mereka tonton. Gadis itu menghela melihat kedua orangtuanya yang terlihat mencurigakan. Sefa berniat untuk masuk kedalam kamarnya namun tertahan oleh ucapan Merry.


"Kau habis dari rumah nya?"


Gadis itu mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan mama nya.


"Jangan kira kita tidak tau, Alan yang menghubungiku secara langsung." Ucap Aidan.


Sefa hanya tersenyum menyahuti ucapan orangtuanya sebelum akhirnya ia masuk kedalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2