
Alan menuntun Sefa menuju mobilnya, ia membukakan pintu untuk gadis nya itu. Bukan satu dua orang yang melihat keromantisan mereka tetapi hampir satu isi sekolah memperhatikan nya. Tanpa ragu Sefa masuk kedalam mobil yang di susul oleh Alan.
Sebelum melaju, Alan memberikan satu buket bunga tulip putih pada hadis di sampingnya sebagai bentuk permintaan maaf nya atas masalah pagi tadi. Sebenarnya bukan masalah hanya saja Alan tidak enak karena telah membiarkan Sefa pergi ke sekolah sendiri.
Dalam perjalanan menuju rumah, Sefa menyalakan siaran radio dalam mobil. Terdengar suara seorang gadis sebagai bintang tamu dari acara yang di siarkan radio tersebut memperkenalkan dirinya, ia di wawancarai secara langsung mengenai karir nya di dunia entertainment. Salah satu yang membuatnya sukses sampai saat ini ia menyebut nama Kalandra yang menjadikannya penyemangat.
Sefa yang mendengar gadis lain menyebut nama pria yang di cintai nya itu mencoba untuk berpikir positif karena mungkin nama Kalandra tidak lah satu dan yang di sebutnya tadi kemungkinan bukan Kalandra miliknya melainkan orang lain.
Sementara dengan Alan hanya terdiam ketika Ashley menyebutkan namanya dalam siarannya. Sebelum sampai ke rumah, Alan mengajak Sefa untuk berjalan-jalan sebentar di sebuah taman hiburan, ajakannya itu langsung di sahuti dengan anggukan kepala Sefa.
Alan segera memarkirkan mobilnya dan menggandeng Sefa masuk ke area taman hiburan. Beberapa makanan Sefa beli sampai tidak sadar bibirnya belepotan seperti anak kecil. Alan yang melihat itu langsung menyeka bibir Sefa dengan tangannya dan membuat gadis itu terdiam sejenak.
"Dasar anak kecil." Ucap Alan seraya tersenyum.
"Siapa yang kau bilang itu anak kecil?" Protes Sefa yang mengerucutkan bibirnya.
"Ohh itu tadi anak kecil yang lewat dan hampir menabrak mu." Sahut Alan ngeles.
Sefa melihat sekeliling tempat itu dan satu tempat berhasil menarik perhatiannya, ia menarik tangan Alan dan mengajak nya kesana untuk bermain. Sebuah permainan dengan hadiah boneka besar hanya dengan memecahkan 10 balon kecil yang di simpan dengan jarak cukup jauh.
Awalnya Alan tidak ingin bermain, ia bisa membelikan lebih banyak boneka secara langsung untuk Sefa namun gadis itu meledeknya hingga akhirnya Alan menerima tantangan Sefa untuk bermain. Dalam waktu hitungan detik ia berhasil memecahkan 10 balon dan mendapatkan hadiah boneka ukuran besar.
Sefa yang melihat itu meloncat dan teriak kegirangan layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah, ia juga melompat ke pangkuan Alan layaknya seekor koala. Penjaga permainan tersebut pun ikut tersenyum melihat keromantisan mereka berdua. Ia memberikan boneka itu langsung pada Sefa.
"Makasih ganteng." Ucap Sefa mengedipkan sebelah matanya dan berjalan ke arah lain.
__ADS_1
Alan menggeleng pelan seraya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Ia segera menyusul Sefa dan mereka kembali berjalan bersama. Sudah cukup merasa lelah, Sefa mengajak Alan untuk duduk sejenak di kursi yang telah di sediakan disana.
Sefa mengipasi dirinya dengan menggunakan tangannya, melihat itu Alan segera beranjak dan pergi sesaat untuk membeli sesuatu. Tidak lama ia kembali dengan membawa kipas portable dan dua kaleng minuman. Pria itu membuka minuman tersebut dan memberikannya pada Sefa, tidak hanya itu ia juga mengipasi gadis nya mengunakan kipas yang di belinya barusan.
Perlakuannya memanjakan Sefa sungguh membuat orang lain iri. Sangat jarang di temukan pria yang pengertian seperti Alan, tidak salah jika gadis itu begitu mencintainya dan takut kehilangan sosok nya.
Alan melihat arlojinya dengan waktu yang menunjukkan pukul tujuh malam. "Mau sekalian makan malam?" Tanya Alan mumpung belum kembali ke rumah.
"Ayo, kebetulan aku lapar karena tadi siang gak sempet makan." Sahut Sefa yang langsung berdiri.
"Kau tidak makan siang?" Tanya Alan yang menarik tangan Sefa.
Gadis itu mengangguk, "tadi aku sibuk di ruang musik, males juga rasanya untuk pergi ke kantin."
"Kenapa kau melakukan itu? Sesibuk apapun kamu harus makan tepat waktu, kamu mau membuat aku cemas lagi hm?"
"Ditambah lagi kamu membuat aku kesal!" Sambung Sefa.
Tidak ingin berdebat lagi dan menyadari akan kesalahannya, Alan pun mengalah dan mengajak Sefa pergi dari tempat itu menuju restoran yang sudah biasa ia kunjungi dari jaman dulu. Sesampainya disana ia memesan beberapa makanan kesukaan Sefa dan juga dirinya.
Entah itu kebetulan atau bukan, ditengah-tengah keduanya sedang menikmati makan malam lagi-lagi Ashley menghubungi Alan, pria itu segera menolak nya hingga membuat Sefa bertanya. Namun belum sempat Alan mengatakannya ponselnya telah kembali berdering dan sedikit membuat Sefa tidak nyaman sehingga gadis itu menyuruh Alan untuk menerimanya.
Dengan terpaksa Alan pun menerima panggilan tersebut, dalam perbincangan nya Ashley mengajak Alan untuk makan malam bersama. Dengan secara terang-terangan Alan menolak ajakan Ashley dan langsung menutup panggilannya.
"Ck, kau telah benar-benar berubah Kalandra!" Gumam Ashley yang merasa kesal karena terus-terusan di abaikan oleh pria yang selama ini ia rindukan.
__ADS_1
"Kenapa raut wajah mu seperti itu? Siapa yang mengubungi mu?" Tanya Sefa.
"Hanya teman."
"Sepertinya kau begitu kesal pada nya, apa tebakan ku benar?"
Alan mengangguk pelan yang di ikuti lambaian tangannya guna untuk memanggil salah satu pelayan disana. Ia memintanya untuk menghitung semua jumlah makanan yang di pesannya.
Setibanya di rumah, ekspresi Alan masih tetap sama seperti di restoran tadi. Sefa yang melihat itu langsung berinisiatif untuk menanyakan hal apa yang telah membuat nya kesal secara perlahan.
Namun alih-alih Alan menjawab nya ia lebih memilih untuk memberitahu Sefa mengenai hal lain yang kemungkinan besar itu akan terjadi. Ia memegang kedua bahu Sefa dan menatapnya dengan begitu lekat begitu juga Sefa yang menatap Alan dengan tatapan yang sama.
"Jika suatu saat ada yang bilang tentang aku dimasa lalu tolong kamu percaya aku bahwa dari dulu orang yang selalu aku cintai itu cuma kamu."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Karena memang seperti itu kenyataanya."
Sefa mengangguk walau ia tidak begitu mengerti dengan maksud yang di katakan oleh Alan. Pria itu langsung menarik kedua tangan Sefa masuk kedalam pelukannya. Terdengar suara detak jantung Alan yang begitu tenang dan pelukan hangat yang selalu membuat Sefa nyaman berada di sampingnya.
"Sudah, badan ku begitu lengket aku ingin mandi." Ucap Sefa yang melepaskan pelukannya.
"Bolehkah malam ini aku tidur bersama mu?"
"Hah?!" Sefa begitu terkejut ketika Alan mengatakan hal yang berada di luar pikirannya. Selama tinggal di rumahnya ia tidak pernah berpikir untuk tidur dalam satu kamar dan ranjang yang sama, lalu apa ini? kenapa Alan meminta izin untuk tidur bersama?
__ADS_1
***