Love Melody

Love Melody
Bab 28


__ADS_3

Di tengah perjalanannya ponsel Alan berdering sebuah panggilan masuk dari nomor mama nya. Sudah cukup lama Alan tidak pulang ke rumah, hari ini Thalita menyuruh putranya itu untuk segera pulang dan makan malam bersama disana.


Selepas bicara dalam sambungan telfonnya, Alan melirik gadis di sampingnya dan mengajak nya untuk pergi bersama. Mungkin ini untuk kali pertamanya Sefa di ajak alan kerumahnya tidak ingin melewatkan momen tersebut Sefa langsung mengangguk menerima ajakan Alan.


Sudah akrab sedari kecil, Sefa tidak begitu canggung ketika bicara dengan orangtua Alan walau saat itu usianya masih cukup kecil namun ingatan nya masih melekat dimana ia suka bermain di rumah Alan yang lama. Thalita menyambut kedatangan putranya bersama Sefa dengan penuh kehangatan dan keakraban.


"Ahh bibi... Biar aku membantu mu memasak, apa yang perlu aku siapkan?" Ucap Sefa yang ikut berkecimpung di dalam dapur.


"Sudahlah, kau tidak perlu melakukan itu gimana kalau waktu luang mu kamu gunakan untuk latihan?" Sahut Alan yang juga berada di sana.


"Alan benar, lebih baik kau ikut bersamanya biar semua ini bibi yang masak." Sahut Thalita dengan penuh senyuman ramah.


"Bukankah paman lagi bekerja? Bagaimana nanti aku menggangunya?" Tanya Sefa.


"Tidak akan, karana ruang latihan ku kedap suara jadi sebesar apapun suaranya tidak akan terdengar keluar." Jelas Alan yang kemudian meraih tangan Sefa dan mengajaknya pergi ke ruang latihan.


Thalita uang melihat itu tersenyum senang karena bisa melihat putranya menggandeng seorang gadis. "Apa ini alasan dia bekerja sampingan jadi guru?" Gumam Thalita yang masih menatap putranya walau sudah hampir tidak terlihat.


Sesampainya di sebuah ruangan, Sefa di buat takjub dengan semua alat yang ada disana bukan ruang latihan biasa melainkan sudah seperti ruangan seorang produser handal yang sudah senior.


"Kau bisa gunakan ruangan ini sesuka mu, aku keluar sebentar." Ucap Alan seraya mengacak rambut Sefa dan bergegas keluar.


Sefa duduk di salah satu kursi disana dan mulai menekan nada satu persatu hingga jiwa nya terbawa oleh suasana dan bermain dengan begitu lihai. Disisi lain Alan mengambil dua kaleng minuman di tangannya dan hendak kembali menemui Sefa namun langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan papa nya.


"Sudah puas kau bermain-main disana?" Tanya Dirga yang menatap putranya.


"Papa.. apa kabar?" Tanya balik Alan yang seolah tidak punya salah.

__ADS_1


Tingkahnya mendapatkan tatapan tajam dari sang ayah, namun Alan tidak menanggapinya dengan serius, ia malah cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Mau sampai kapan kau meninggalkan agensi hm? Menunggu sampai orang lain merebutnya?"


"Ada Leo disana dia yang akan mengurus semuanya."


"Sementara kamu asik bermain-main dan menikmati hidupmu jadi seorang guru iya?"


"Gak gitu pa, aku sedang menyiapkan sesuatu yang spektakuler." Sahut Alan.


"Tidak sengaja papa lewat ruangan mu, seseorang sedang bermain musik siapa dia?"


"Calon bintang dia lah yang aku maksud, sudah aku menemuinya dulu papa bantu lah mama menyiapkan makan malam." Ucap Alan dengan candaannya dan langsung melangkah pergi.


Didalam ruangan, Alan menempelkan kaleng minuman di pipi Sefa hingga membuat gadis itu kaget dan refleks menoleh nya. Sefa menghela dan menggelengkan pelan kepalanya melihat tingkah Alan, ia memutar kursinya hingga berhadapan dengan pria itu.


"Kebetulan Leo salah satu manager di agensi, apa kau ingin bergabung dengannya?"


"Aku ingin menjadi seorang pianis bukan idol." Sahut Sefa yang langsung menolak.


"Tapi suara indah mu sayang jika tidak di kembangkan, apa salahnya jika menjadi seorang pianis sekaligus bernyanyi."


Sefa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang di maksud Alan. "Akan ku pikirkan lagi." Sahut Sefa yang melanjutkan permainannya.


"Ini akan menjadi kesempatan terbesar untuk mewujudkan impian mu." Sambung Alan kembali yang mendukung penuh atas karir Sefa.


"Siap pak guru, kau ini sungguh bawel sekali."

__ADS_1


Alan tertawa kecil mendengar penuturan Sefa yang mengatainya bawel. Di tengah perbincangan keduanya, Thalita datang memanggil mereka untuk makan malam. Alan dan Sefa pun langsung mengikuti langkah Thalita menuju meja makan.


Semula tidak ada percakapan di tengah makan malam mereka sampai akhirnya Thalita membuka suaranya untuk memecah keheningan. Sudah biasa bagi mereka dengan kehadiran Sefa namun tidak dengan gadis itu yang masih begitu canggung ketika berada di tengah-tengah keluarga besar Alan.


Hampir saja Dirga membahas mengenai Sefa masuk kedalam agensi yang di pimpin oleh putra nya namun dengan cepat Alan memberi kode untuk tidak memberitahunya. Alan memanglah seorang produser sekaligus pemilik agensi yang di dirikan nya sendiri tidak hanya itu ia juga sangat mahir dalam bermain piano, pekerjaannya sebagai seorang guru hanyalah alasan untuk dia bisa mendekati Sefa.


Ia sengaja tidak memberitahukan semuanya pada Sefa, bukan berniat untuk membohongi nya, tetapi Alan tahu betul mengenai sifat Sefa yang mempunyai tekad dan pekerja keras. Jika ia mengatakan semuanya mungkin Sefa tidak akan mau bergabung dalam agensi nya.


Selesai makan malam, Alan langsung pamit pada kedua orangtuanya begitu juga dengan Sefa. Awal nya Thalita menyuruh putranya untuk menginap di rumah namun Alan segera menolak itu karena ia tidak bisa membiarkan Sefa sendiri.


Di tengah perjalanan menuju rumah Alan, ponsel Sefa berdering sebuah panggilan masuk dari Arsen. Ia segera menerima panggilan tersebut tanpa meminta persetujuan Alan terlebih dulu. Mendengar pembicaraan yang tidak biasa Alan sudah bisa menebak jika itu adalah Arsen.


Ia segera merebut ponsel Sefa dan memutuskan panggilannya begitu saja. "Ck, apa yang kau lakukan?" Protes Sefa yang tidak terima dengan tingkah Alan yang seperti itu.


"Aku tidak suka kau bicara dengannya." Sahut Alan dengan ekspresi wajah datar.


"Tapi kamu bisa bicara baik-baik tidak seenaknya seperti itu!" Sahut Sefa kesal.


"Ohh jadi kamu lebih mementingkan dia daripada aku?"


"Kenapa kau jadi kekanak-kanakan seperti ini?"


"Sudah ku bilang jangan terlalu dekat dengan nya." Sahut Alan yang masih fokus dengan setir nya.


Daripada harus terus berdebat yang tidak akan ada selesainya Sefa memilih untuk diam dan menatap jalanan di depannya. Bukan masalah cemburu, Sefa merasa ada hal lain yang membuat Alan tidak suka dengan Arsen karena ketika ia dekat dengan pria lain Alan akan bersikap seperti biasanya lain hal nya dengan Arsen seolah ia sangat tidak suka Sefa di dekatinya.


Pertanyaan-pertanyaan baru mengenai kedua pria itu mulai bermunculan di benak Sefa. Dengan cara nya sendiri ia perlahan harus mencaritahu mengenai semuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2