Love Melody

Love Melody
Bab 19


__ADS_3

Suasana sekolah hari ini cukuplah ramai seperti biasanya, Sefa yang telah sembuh dari sakitnya kembali bersemangat untuk menjalani aktivitasnya di sekolah di tambah acara festival semakin dekat ia harus kembali berlatih untuk menampilkan yang baik dari yang terbaik dan menunjukkan pada papa nya bahwa dia akan sukses dengan menjadi seorang pianis.


"Semangat." Gumam Sefa ketika ia berada tepat di depan gadung sekolahnya.


Gadis itu mulai melangkah masuk dengan penuh semangat dan senyuman yang ceria di wajahnya seolah hari ini adalah hari pertama ia masuk ke sekolah itu. Di sisi lain Alan berdiri dengan pandangan melihat ke arah Sefa yang sedang berjalan, gadis itu sedikit melirik dan langsung mendapatkan ucapan semangat dari Alan walau hanya dengan bahasa isyarat.


Sefa pun mengangguk dengan senyuman yang mengembang di wajah nya.


Satu hari sebelumnya. . .


Sefa yang benar-benar marah terhadap Alan masih enggan untuk menampakkan wajahnya, ia masih bertahan di bawah selimut walau sebenarnya ia sangat ingin melihat Alan saat ini. Entah apa yang tejadi dengan nya sungguh hal yang tidak biasa untuknya.


Setelah menjelaskan semuanya mengenai pertemuan Alan bersama dengan wanita itu, akhirnya nya hati Sefa mulai meluluh. Entah benar ia merasa cemburu tapi rasanya cukup tenang dari sebelum Alan menjelaskan semuanya. Tidak sia-sia berbagai bujukan dan rayuan yang Alan keluarkan akhirnya Sefa mau menurunkan selimutnya dan menampakkan wajah pucatnya.


"Badan mau sungguh panas, kau sudah minum obat?" Tanya Alan seraya meletakkan telapak tangannya di dahi Sefa.


"Mama sudah membuatkan ku obat tradisional."


"Baiklah, jika sampai sore demam mu masih belum turun kau harus mau ikut bersamaku ke rumah sakit."


"Apa hak mu meminta ku untuk menuruti mu?"


"Kau tidak ingin tampil di festival itu?" Ucap Alan yang seolah mengancam Sefa.


"Apa hanya karena itu kau mencemaskan ku?" Tanya Sefa dengan raut wajah yang serius.


Pria itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Sefa, entah apa yang harus ia katakan saat ini. Jika berkata jujur mungkin itu bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya tapi jika membenarkan ucapan Sefa tidak menutup kemungkinan itu akan menyakiti hati nya.


Akhirnya Alan mengatakan hal yang sebenarnya, jika selama ini ia memang sedang mengejarnya, mulai dari pertemuan yang tidak sengaja di toko buku sampai saat ini. Terlihat raut wajah Sefa yang sedikit memerah ketika Alan mengatakan kebenarannya.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa menyukai ku?" Tanya Sefa dengan pemasaran.


"Dalam sebuah melodi yang selalu kau mainkan." Sahut Alan yang membuat Sefa mengerutkan keningnya.


"Aku hanya pemain pemula yang bercita-cita setinggi langit, bagaimana kau bisa menyukai itu?"


"Sebuah rasa datang dengan sendirinya, tanpa bisa aku jelaskan."


"Di tambah kita sudah mengenal sejak kecil kau ingat itu?" Sambung Alan.


Pertanyaan Alan tersebut di sahuti dengan anggukan kepala dan senyuman dari gadis yang sedang terduduk di ranjangnya.


**


Jam pelajaran pertama dan kedua telah selesai kini saat nya semua murid beristirahat, ada yang ke kantin, taman sekolah, perpustakaan dan juga ruang musik seperti yang selalu Sefa lakukan disaat waktu senggang.


"Makasih." Gadis itu menghentikan permainan nya sejenak dan memakan makanan yang di bawakan oleh Alan. Disisi lain seorang anak laki-laki seusia Sefa memperhatikan keduanya dengan tatapan yang lekat dan penuh amarah.


Melihat Sefa tertawa dengan Alan membuatnya semakin kesal dan ingin rasanya ia muncul di tengah-tengah mereka untuk membuatnya kacau. Pria udah itu terlihat mengepalkan tangannya dan pergi dari tempat tersebut.


"Aku sudah kenyang, bolehkan aku berlatih kembali?"


"Tidak, hari ini latihan mu sudah cukup."


"Tapi aku takut tidak bisa menampilkan yang terbaik di acara festival nanti."


"Percayalah kau pasti bisa dan aku akan selalu di samping mu untuk mendukung mu sepenuhnya." Ucap Alan meyakinkan dan menyemangati gadis nya.


"Lalu bagaimana dengan papa? Apa kau sudah membujuknya?"

__ADS_1


"Aku janji akan membawanya untuk melihat penampilan mu nanti."


Sefa mengacungkan kelingkingnya guna untuk mengikat janji Alan, begitupun dengan pria itu yang langsung menyatukan kelingkingnya dengan kelingking Sefa.


Suasana istirahat yang cukup ramai tentu saja kedekatan Sefa dan Alan selalu menjadi perbincangan hangat para guru dan murid, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani menegur atau menanyakan hubungan nya karena kepala sekolah melarang itu.


Bukan tanpa alasan ia melarang para guru untuk menegur Alan melainkan karena ia tahu betul siapa itu Kalandra dan seperti apa posisinya disana. Lagian setelah di lihat-lihat juga rasanya tidak ada yang salah jika mereka dekat atau menjalin hubungan yang lebih dari itu.


Sebelum bell kembali berbunyi, Sefa telah pamit terlebih dulu pada Alan untuk masuk kedalam kelas, tidak bisa menahan nya Alan hanya bisa memberi izin pada gadis itu untuk mengikuti pelajaran berikut nya toh setelah pulang sekolah juga ia masih bisa bertemu bukan?


Di koridor sebelum sampai ke kelasnya, terdengar seseorang memanggil nama Sefa, suara yang tidak asing bagi Sefa dan berhasil membuatnya menoleh ke belakang.


"Arsen, kau memanggilku?" Tanya Sefa yang mendapati Arsen berdiri tepat beberapa langkah di belakangnya.


"Hm, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Ucap Arsen.


"Ohh apa itu?"


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, pulang sekolah nanti aku tunggu kamu di rooftop." Ucap Arsen yang kemudian berbalik dan melangkah menjauh dari Sefa.


"Heran, tidak biasanya dia bicara dengan serius seperti itu." Gumam Sefa yang melihat punggung Arsen yang perlahan terus menjauh.


Tanpa pikir panjang lagi Sefa melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas. Rasanya suasana kelas cukup sepi bagi Sefa karena tidak ada Rania yang menemaninya walau terdapat banyak murid lainnya namun tidak ada yang setulus Rania untuk menjadi teman dekat Sefa.


"Heran, kenapa harus gantian sih? Kemarin aku dan sekarang kamu." Gumam Sefa menatap bangku Rania.


Gadis itu pun menghela sebelum ia melanjutkan gumaman nya mengenai Rania. Bagaikan dua anak kembar Sefa dan Rania selalu pergi bersama dan hal itu tidak berlanjut ketika Rania telah memiliki kekasih.


"Apa Alan juga akan bersikap sepertinya? Haahhh... Tapi rasanya itu tidak mungkin karena dia bukan orang yang pencemburu seperti kekasihnya dia." Gumam Sefa yang melamun di tengah-tengah pembelajaran nya.

__ADS_1


__ADS_2