
Sehari setelahnya, Sefa pergi ke sekolah bersama dengan Alan, kini ia tidak perduli lagi dengan apa yang akan di katakan semua teman-temannya mengenai hubungan nya dengan guru musik nya itu. Saat kakinya melangkah hendak menuju kelas, seperti biasa para kaum lelaki memberikan beberapa hadiah untuk Sefa terlebih selepas penampilannya kemarin di acara festival.
Sefa menunduk sejenak dan tersenyum walau dengan terpaksa, "lain kali tolong jangan lakukan ini oke?" Pinta Sefa pada teman-temannya sekaligus fans nya itu.
"Apa yang di katakan nya benar, lain kali kau harus menjaga jarak darinya, bukankah kemarin kalian sudah melihat adegan romantis di atas panggung?" Ucap seseorang yang berjalan dari arah berlawanan dengan Sefa.
Mereka pun segera menyingkir ketika melihat Arsen datang menghampiri Sefa. "Mau aku antar ke kelas?" Tanya Arsen dengan senyuman yang memiliki arti tersendiri.
Sefa menggaruk kepalanya walau tidak terasa gatal sedikitpun, ia menoleh ke setiap sudut sekolah sebelum akhirnya Arsen menarik tangan Sefa dan membawanya pergi dari sana. Setengah berjalan Sefa melepaskan genggaman tangan Arsen karena di rasanya itu cukup risih di lihat banyak orang.
"Mampuss.." Gumam Rania yang melihat Sefa berjalan dengan Arsen serta Alan yang memperhatikannya dari sisi lain.
Selepas turun dari mobil Alan, Sefa berjalan secara terpisah namun tidak sedikit dari mereka yang melihat Sefa keluar dari mobil yang sama dengan Alan. Rania berlari mengejar Sefa dan menariknya masuk kedalam kelas.
"Hey.. apa yang kau lakukan?" Tanya Sefa setelah berada di dalam kelas.
"Kau tidak tau seseorang sedang memperhatikan mu?"
"Seseorang? Siapa?" Tanya balik Sefa.
"Haishh.. dasar kau ini! Harusnya kamu bisa memilih salah satu dari mereka." Ucap Rania.
"Alan? Oops.." Sefa langsung menutup mulutnya ketika ia dengan spontan menyebut nama Alan.
"Maksud kamu dia memperhatikan ku?" Bisi Sefa.
Rania mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan temannya itu. Sefa tersenyum yang kemudian duduk di bangku nya, sikapnya itu tentu saja membuat Rania bingung sendiri bukan malah cemas karena ketahuan bersama dengan pria lain tapi malah sebaliknya.
Di tengah pelajaran Sefa mendapatkan pesan yang di kirimkan oleh Alan, pesan tersebut berisi perintah untuk Sefa ke ruangannya di saat jam istirahat nanti. Tidak banyak kata yang di ketik nya Sefa hanya mengirim emoticon pada kekasih nya itu.
Tentu saja hal itu membuat Alan sedikit kesal, walau usianya sudah cukup matang tapi jika mengenai masalah hati ia terkadang seperti anak kecil bahkan memiliki rasa cemburu yang cukup besar terutama pada Arsen.
__ADS_1
**
Bell istirahat berbunyi, sengaja Alan tidak mengirimi pesan pada Sefa dan memilih menunggu di ruangannya. Gadis itu berniat untuk ke ruangan Alan namun siapa sangka Arsen datang ke kelas nya dan mengajak Sefa untuk makan siang bersama. Tidak enak untuk menolak tapi ia juga tidak bisa menerima ajakannya itu Sefa memilih untuk terdiam sejenak.
Sampai ia menemukan sebuah alasan dan bergegas pergi menuju toilet. "Kamu gak mungkin mengikutinya ke toilet wanita kan?" Tanya Rania yang masih berdiri disana bersama dengan Arsen.
"Jika itu harus kenapa tidak?" Sahut Arsen yang langsung melangkah pergi.
"Yak! Arsen!! Apa kau sudah gila?" Teriak Rania yang langsung berlari mengejar Arsen.
Tidak benar ke toilet, melainkan Arsen pergi ke tempat lain. "Fiuuhh..." Rania bernapas lega karena Arsen tidak benar-benar membuntuti Sefa.
Sementara di sebuah ruangan, Sefa sedang menikmati makan siang nya yang di masak oleh Alan. Ia sengaja kembali ke rumah pada saat jam pelajaran pertama yang kebetulan tidak ada jadwal mengajar.
"Memang sudah agak dingin, tapi tidak akan mempengaruhi rasanya."
Sefa mengangguk membenarkan ucapan Alan. "Kau benar, ini bahkan masih terasa enak di banding dengan masakan ku." Ucap Sefa yang terus mengunyah tanpa jeda.
"Sedekat apa kau dengan Arsen?" Tanya Alan yang secara tiba-tiba.
Sefa tertawa kecil mendengar pertanyaan Alan yang sudah jelas terlihat cemburu. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya dan menatap pria di depannya itu. "Jika aku bilang cukup dekat kau mau apa?" Tanya Sefa masih dalam posisi yang sama.
"Memakan mu." Sahut Alan yang mendekatkan wajahnya sampai jarak dari keduanya begitu dekat.
Sefa mengedipkan matanya mendengar apa yang di katakan Alan, gadis itu memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Alan. Namun terlanjur telah tergoda oleh gadis di depannya Alan memegang dagu Sefa dan memutarkan kepalanya hingga kembali saling menatap.
"Apa yang kau...." Belum sempat Sefa menyelesaikan ucapannya, Alan telah lebih dulu mendaratkan bibir nya di bibir Sefa.
Sebuah kecupan lembut pria itu berikan pada gadis kecilnya dengan refleks Sefa memejamkan matanya sebelum akhirnya Alan melepaskan kecupannya. Sefa mengedipkan matanya berulang kali, rasanya sungguh seperti mimpi ketika First kiss nya di ambil oleh pria yang ia cintai.
Alan melambaikan tangannya di depan wajah Sefa sampai akhirnya gadis itu tersadar dan menarik bibirnya ke dalam. "Apa itu yang pertama?" Tanya Alan setelah melihat ekspresi wajah Sefa.
__ADS_1
"Jika tidak, kenapa?"
Alan berjalan ke sisi lain, tepatnya dekat sebuah jendela. Ia menatap keluar sana melihat aktifitas beberapa murid di bawah sana karena kebetulan ruangan Alan berada di lantai atas. Sefa beranjak dari duduknya dan memeluk Alan dari belakang.
"Kau yang pertama." Ucap Sefa yang menghirup aroma tubuh Alan yang menjadikannya candu.
Pria itu tersenyum dan membalikan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Tanpa kau bilang pun aku sudah tau." Sahut Alan memeluk pinggang Sefa.
"Lantas kenapa kau terlihat marah seperti tadi?"
"Hanya ingin mengerjai mu saja."
"Tch, menyebalkan!" Sefa mendorong pelan dada bidang Alan dan bergegas ke sisi lain.
Ia melihat beberapa buku yang tertata rapi di ruangan itu sambil terus melangkah memperhatikan satu persatu benda yang ada di ruangan Alan.
Tok tok tok. . .
Mendengar suara ketukan pintu membuat Sefa membulatkan matanya, terlihat kepanikan dalam dirinya. Ia menoleh ke arah Alan mengisyaratkan apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Pak Alan, apa kau di dalam?" Ucap seseorang dari balik pintu.
Alan menarik Sefa dan menyuruhnya untuk bersembunyi di sebuah lemari yang di dalamnya memang kosong. Kemudian Alan segera membukakan pintu nya dan terlihat seorang siswi yang berdiri tepat di depan itu.
"Apa bapak sibuk?" Tanya siswi itu.
"Ohh tentu, ada apa?"
"Emm... Hanya ingin memberikan ini untuk bapak." Siswi itu memberikan sebuah amplop dan bergegas pergi dari ruangan Alan.
Alan tersenyum melihat amplop yang di pegangnya saat ini tanpa ia sadari sepasang mata menatap tajam dirinya dari depan lemari tempat Sefa bersembunyi.
__ADS_1
***