Love Melody

Love Melody
Bab 14


__ADS_3

Dalam sebuah bioskop, terlihat sefa yang membawa pop corn serta Arsen membawa 2 cola di tangannya. Mereka berjalan masuk untuk menonton film yang telah di tentukan. Dari belakang Alan mengikuti keduanya ia duduk tidak di kursi yang tidak begitu jauh dari Sefa dan Arsen.


"Ku kira mereka akan menonton film apa ternyata hanya film anak-anak." Gumam Alan sambil menikmati pop corn nya.


"Fokuslah pada film nya jangan lihat mereka yang sedang kencan." Ucap seorang pria muda yang duduk di samping Alan.


Alan langsung menoleh ka arah anak muda yang duduk di samping nya itu, setelah mengamati dari samping Alan kembali melihat ke depan namun ternyata Sefa dan Arsen sudah tidak ada di tempat, entah keluar terlebih dulu atau mereka pindah tempat duduk.


"Biarkan mereka menikmati masa nya jangan kau menggangunya om." Ucap anak muda itu kembali.


"Bisakah kau jangan sok tau? Dan perlu kau ingat usia ku masih muda jadi jangan kau memanggil ku dengan sebutan om!" Ucap Alan dengan penuh penekanan.


Seketika kerusuhan yang dibuat Alan menjadi daya tarik yang lainnya termasuk Sefa dan Arsen yang masih berada disana. Mereka dengan serempak melihat ke arah Alan, dengan cepat pria itu menurunkan tubuhnya dan sedikit menutupi bagian wajah nya agar Sefa tidak melihatnya dengan jelas.


Tidak lama film pun selesai, Sefa dan Arsen beranjak dari tempat duduknya dan bergegas keluar. Sefa sedikit melirik Alan saat ia melewati nya namun ia berpura-pura seolah tidak mengetahui bahwa Alan sedang mengikutinya.


Dengan sengaja gadis itu mengajak Arsen ke tempat arena bermain, dengan penyamarannya Alan terus mengikuti mereka. Sefa dan Arsen menaikkan beberapa permainan termasuk capit boneka, dengan kelihaiannya arsen berhasil mendapatkan boneka yang di inginkan oleh Sefa.


Terlihat kebahagiaan dalam raut wajah Sefa ketika Arsen berhasil mendapatkan yang Sefa mau. Di sisi lain Alan yang sedikit kesal melihat kedekatan keduanya ia ikut bermain capit boneka dan berhasil mendapatkan semua yang ada di dalam nya. Hal tersebut seketika menjadi tontonan banyak orang yang berada disana.


Alan membungkus semua boneka itu dengan kantong plastik yang cukup besar dan membawanya seolah ia telah mencuri semuanya. Sudah cukup lelah bermain Arsen memutuskan untuk mengajak Sefa makan salah satu restoran milik papa nya. Kebetulan tempat nya tidak begitu jauh dari posisinya saat ini.


Walau statusnya masih anak SMA namun melihat latar belakang keluarganya Arsen telah di izinkan untuk mengendarai mobil sendiri bahkan mobil itu di hadiahkan papa nya pada saat ia berulangtahun di usianya yang ke 17 tahun.

__ADS_1


Tidak ingin mengikutinya lagi, Alan bergegas kembali ke rumah Sefa. Beruntungnya Merry dan Aidan belum kembali ke rumah jadi ia bisa memanfaatkan situasi itu untuk mendapatkan pembelaan dari mereka seolah Sefa telah meninggalkan nya sendiri disana.


Benar saja, tidak lama Merry datang bersama Aidan dan mendapati Alan yang sedang duduk seorang diri dengan sebuah buku di tangannya. Keduanya menghampiri pria yang sedang terlihat serius itu dan menanyakan keberadaan putrinya.


"Ohh, paman dan bibi sudah kembali? " Tanya balik Alan.


Mereka dengan kompak mengangguk, "dimana Sefa? Kau belum menjawabnya." Tanya Merry.


"Ahh itu..." Alan menggantung ucapannya seraya melihat ke setiap penjuru rumah seolah dia terlihat sedang mencari keberadaan Sefa, sampai matanya terhenti ketika ia melihat ke arah pintu dan terlihat sosok gadis yang berdiri disana dengan tas selempang di bahu nya dan sebuah boneka yang di bawanya.


Alan menggerakkan dagunya menunjuk gadis yang baru saja datang itu sampai Aidan dan Merry pun menoleh bersamaan ke arah pintu. Merry segera beranjak dan menarik Sefa untuk ikut duduk bersama mereka.


"Darimana saja kau ini? Kenapa meninggalkan nya sendirian di rumah?" Tanya Aidan.


"Sungguh tidak sopan! Di rumah ada tamu dan kau malah keluyuran bareng temen kamu yang gak ada guna nya." Ucap Aidan kembali.


Sementara dengan Alan sedari tadi menahan tawa nya melihat Sefa yang di marahi oleh Aidan. "Awas saja kau!" Batin Sefa yang menunjukkan tatapan dendam pada pria di depannya itu.


Sefa bergegas masuk ke kamarnya dan benar saja ia mendapati satu kantong besar boneka di kamarnya, gadis itu membawa kantong boneka tersebut dengan cara menggusurnya ke rumah. Ia menaruh kantong itu di sampingnya dengan sudut bibir yang menyeringai menatap Alan.


Sefa melipat kedua tangannya dengan tatapan yang masih sama. "Aiya.. untuk apa kau membeli boneka sebanyak itu?" Tanya Merry menunjuk kantong boneka di samping Sefa.


"Mama tanya saja dia." Sefa menunjuk Alan yang masih duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Ha?"


"Tunggu-tunggu.. sebenarnya apa yang terjadi? Apa kalian pergi bersama?" Ucap Aidan menebak-nebak.


"Jika seperti itu lalu kenapa kalian pulang dengan terpisah?" Sambung Aidan.


"Haishh.. dasar tidak peka, mereka pulang terpisah karena masih malu-malu sama kita." Ucap Merry menepuk lengan suaminya.


Sefa mendesis kecil niat untuk mempermalukan Alan yang telah mengikutinya namun tanggapan orangtuanya malah seperti itu menyimpulkan situasi yang sebenarnya tidak benar. Sefa menghentakkan kakinya dan kembali masuk ke kamarnya, ia menekan note nada dengan sembarangan hingga terdengar bunyi yang nyaring dan tidak enak untuk di dengar.


"Sefanya hentikan permainan mu..!!!" Teriak Aidan yang menutup telinga nya.


Lain hal nya dengan Alan yang masih terdiam disana yang sedari tadi menahan tawa nya akhirnya tertawa walau tidak begitu lepas. Di saat Aidan hendak beranjak untuk memarahi putrinya, dengan segera Alan mencegahnya dan meminta izin untuk dia menemui Sefa di kamarnya.


Tanpa rasa keberatan, Aidan langsung memberi izin pada Alan untuk menemui putri nya itu. Di ketuk nya pintu kamar Sefa namun gadis itu tidak menyahutinya entah itu tidak terdengar akibat suara piano nya atau memang sengaja ia tidak menjawab ketukan pintu.


Merasa sudah mendapat izin, Alan langsung masuk karena Sefa memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya kecuali ia sedang keluar. Langsung saja Alan menghampiri gadis itu dan mencabut kabel yang terhubung langsung dengan sumber listrik.


Sefa langsung menajamkan netra nya menatap Alan yang berdiri di sampingnya. "Sungguh buruk sekali permainan mu itu." Ucap Alan melipat kedua tangannya dan bersandar di meja belajar milik Sefa.


"Ck, siapa kamu berani mengomentari ku?" Sahut Sefa yang langsung menghentikan permainan nya.


Alan berjalan menghampiri Sefa dan mendekatkan wajah dengan jarang yang benar-benar dekat. "Aku Kalandra Ghiffari guru yang akan mengajarimu secara khusus." Bisik Alan yang kembali pada posisinya semula. Sefa mengalihkan pandangannya karena ia sadar pipi nya akan berubah warna ketika Alan mendekatinya seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2