
Sepulang sekolah Sefa hanya terdiam selama perjalanan, tidak ada suara yang ia keluarkan sedikitpun. Sayang nya Alan tidak peka dengan raut wajah Sefa saat ini ia menganggap semua baik-baik saja sampai Alan menghentikan mobil nya di sebuah parkiran minimarket dan bergegas turun, namun tidak dengan Sefa yang masih duduk di dalam mobil dengan bibir yang membentuk sebuah kerucut.
Alan yang sudah membuka pintu mobil melihat gadis nya yang masih diam seolah enggan untuk turun ia pun mendekatkan sebagian tubuhnya untuk menatap Sefa yang melihat lurus kedepan. Ia menggoda nya berulang kali namun gadis itu masih tetap dengan posisinya.
"Kenapa dengan gadis ku ini hm? Apa kau tidak ingin turun?"
Sefa hanya melirik sekilas dengan sinis dan kembali pada tatapan semula nya. Tidak menyerah, Alan terus membujuk Sefa dengan berbagai rayuan sampai ia berhasil membuat Sefa bicara padanya dan mengatakan dengan jelas bahwa ia kesal karena Alan mendapatkan surat dari gadis lain yang merupakan murid satu sekolah nya.
Pria itu tertawa lepas di tengah-tengah parkiran yang cukup sepi itu. Lagi-lagi ia menggoda Sefa sampai akhirnya gadis itu memukul dada bidang Alan yang di akhiri dengan tertawa kecil.
"Perbuatannya sungguh membuatku geli, kau baca saja isi suratnya." Ucap Alan.
"Nanti akan ku baca setelah sampai rumah." Sahut Sefa yang berjalan lebih dulu.
Sepasang kekasih itu masuk ke sebuah supermarket, Alan membawa sebuah troli sementara dengan Sefa sibuk memilih beberapa camilan tanpa ia tahu apa yang ingin di beli Alan sebenarnya di tempat itu.
Terlihat Alan yang sedang memilih beberapa bahan makanan, Sefa yang melihat itu langsung menghampirinya dengan beberapa snack di tangannya. Ia menaruh snack tersebut kedalam keranjang belanja di samping Alan.
"Apa yang kau beli?" Tanya Sefa melihat beberapa sayuran di depannya.
"Beberapa bahan buat masak, apa kau tidak pernah belanja seperti ini?"
Sefa menggeleng pelan dalam ingatannya sepertinya ia tidak pernah berbelanja bahan makanan karena selalu ibu nya yang belanja semua itu. Mereka mengitari hampir setiap penjuru supermarket tersebut sampai tidak terasa troli yang di bawa Alan sudah penuh.
Sefa dan Alan bertukar tatapan ketika melihat troli yang mereka bawa sudah tidak muat lagi untuk belanja, setelah saling menatap satu sama lain mereka pun tertawa bersama dan berjalan menuju kasir.
__ADS_1
Memang tidak ada yang tidak terpesona dengan ketampanan seorang Kalandra sampai setiap gadis yang melihatnya selalu di buat kagum olehnya termasuk salah satu kasir yang menghitung barang belanjaan.
Tidak rela pria nya di goda oleh gadis lain, Sefa segera menghampiri Alan dan menggandeng tangannya dengan manja. "Sayang, setelah ini antar aku ke salon ya?" Ucap Sefa yang bergelayutan di tangan Alan.
Mengerti dengan situasi saat ini, Alan tersenyum geli seraya mengangguk menyahuti ucapan Sefa. Sementara dengan kasir yang melayani nya sedikit mendelik melihat tingkah Sefa yang menurutnya itu menyebalkan.
Memang terlihat sedikit alay, namun Sefa melakukan itu demi menjaga kekasihnya dari godaan wanita liar diluar sana. Setelah membayar semuanya, mereka kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanan menuju rumah.
"Kau ingin pergi ke salon?" Tanya Alan sebelum mereka sampai ke rumah.
"Tidak, tadi aku hanya beralasan saja untuk menjaga mu dari godaan wanita liar." Sahut Sefa.
Alan tertawa mendengar penuturan Sefa, ia mengelus surai gadis nya dengan penuh kasih sayang.
Sementara di tempat lain, Aidan tidak hentinya terus mondar-mandir di dalam rumah. Merry yang melihat itu sudah cukup pusing di buatnya tidak mengerti lagi dengan suaminya itu. Tempo lalu ia mengusir Sefa dan menyuruh Alan untuk membawanya pergi tapi kali ini ia justru merindukannya dan berharap Sefa kembali ke rumahnya.
"Haishhh... Dasar kau ini, bukan nya kamu menyuruh Alan membawanya pergi? Sudah jelas dia tidak akan pulang." Sahut Merry yang asik dengan tayangan televisi.
Aidan bergegas duduk di samping istrinya, ia mengusap wajah nya serta menghela nafasnya. Benar yang di katakan Merry, ia sendiri yang menyuruh Alan membawa putri nya.
"Tapi aku mendukung atas sikap mu itu, karena dengan kebersamaan mereka yang semakin dekat itu akan menciptakan chemistry diantara keduanya sebelum mereka menikah nanti." Sambung Merry kembali sambil membayangkan bayangan yang ada di kepalanya. Aidan mendelik sinis melihat tingkah istrinya itu. Ia pun kembali beranjak dan pergi masuk ke kamarnya.
Di sela merapikan beberapa belanjaannya, ponsel Alan yang di taruh nya di atas meja berdering sebuah panggilan masuk dari nomor baru. Sefa yang pertama mendengar dan melihat itu langsung melirik Alan yang masih berdiri di depan lemari penyimpanan.
"Siapa?" Tanya Alan menanyakan siapa yang menghubungi nya.
__ADS_1
"Nomor gak di kenal." Sahut Sefa dengan cuek.
Alan langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengambil ponselnya, ia melangkah sedikit menjauh dari dapur dan menerima panggilan tersebut. Dengan rasa penasarannya Sefa mengikuti langkah Alan dan berdiri dengan jarak yang tidak begitu jauh dari tempat Alan berdiri.
"Siapa?" Tanya Alan dalam sambungan telfonnya.
"Ini aku, kau mengingatnya?" Sahut seseorang di balik telfonnya.
Alan sedikit menarik sudut bibirnya yang mengartikan bahwa ia mengenali suara di balik telfon tersebut. Tidak cukup lama sambungan telfon pun berakhir, Alan membalikan tubuhnya dan mendapati Sefa yang berdiri tidak jauh darinya.
Ia menghampiri gadis nya itu dan memeluk pinggangnya, terlihat sefa yang sedikit memajukan bibirnya yang langsung di sambar oleh bibir Alan. Seketika Sefa langsung memalingkan wajahnya dan sedikit tersenyum. Alan membalikan tubuh Sefa dan memegang bahunya mendorong pelan gadis itu menuju kembali ke dapur.
"Siapa yang menghubungi mu?" Tanya Sefa yang asik makan camilan sementara Alan masih membereskan belanjaannya.
"Bukan siapa-siapa." Sahut Alan dengan singkat.
"Ohh benarkah? Lalu kenapa kau harus menjauhi ku untuk menerima teflon nya?" Tanya Sefa kembali.
"Kau ini kenapa hm? Tidak percaya dengan ku?" Tanya Alan kembali seraya mencubit pipi Sefa.
"Tidak, aku percaya padamu tapi kau yang selalu membuatku curiga." Sahut Sefa yang menyuapi Alan dengan kesal.
Pria itu kembali tertawa dan kembali beres-beres. Sementara dengan Sefa asik menghabiskan makanan yang di belinya sambil bermain ponsel. Ia juga mengambil beberapa potret yang langsung di unggahnya dalam salah satu media sosial miliknya.
"With my favorit boy." Caption yang di tulis oleh Sefa di bawah fotonya bersama dengan Alan yang membelakangi kamera.
__ADS_1
Postingan tersebut langsung di banjiri oleh sejumlah like dan komentar dari beberapa teman Sefa termasuk Rania dan juga Arsen.
***