
Sinar mentari yang berhasil menerobos masuk melalui celah\-celah jendela, membuat seorang gadis cantik yang memiliki manik mata biru terusik dalam tidur lelapnya. Seketika ia terkejut, dikala melihat jam yang berada di samping ranjangnya telah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit pagi.
"HUWAAA, GUE UDAH TERLAMBAT NIH," jeritnya seraya bergegas menuju ke kamar mandi dengan beberapa kali mengumpat panik.
"Aduh, kalo tidak cepat\-cepat, Nisa bisa terlambat nih!" Gerutunya sembari terus bersiap dan memasukkan buku\-buku pelajaran ke dalam tas miliknya.
Ya, gadis tersebut yang tak lain adalah Aura Nisa Beautifalentina, atau kerap di panggil Nisa. Ia baru saja pindah dari Prancis, dan hendak bersekolah di SMAN 2 Jakarta. Yang merupakan sekolah barunya.
****
Tap! tap! tap!
Terdengar suara langkah kaki seorang gadis yang sedang menuruni anak tangga dengan sangat tergesa\-gesa. Sesampainya di lantai bawah, ia pun celingukan mencari keberadaan seseorang.
"Mama? Abang mana? Nisa udah terlambat nihh. Nisa tidak mau ya, kalau hari pertama Nisa sekolah harus terlambat hanya gara-gara abang lama bersiapnya," parau Nisa seraya menuju ruang makan tempat mamanya, yakni Ratna berada.
Nisa mempunyai kakak lelaki yang bernama Dimas Alfiansyah. Atau kerap dipanggil Dimas. Sosok pria yang tampan dan menjadi incaran para kaum wanita, merupakan seorang Most Wanted Boy disekolah SMAN 2 Jakarta.
Ya, dia bakal satu sekolah dengan Nisa, adiknya. Pria yang bersikap cuek serta dingin kesemua orang. Namun, berbeda halnya kalau sedang bersama Nisa. Ia akan bersikap lembut dan penyanyang, membuat orang yang melihatnya akan merasa iri.
"Iya\-iya bawel sekali kamu, dek. Ini abang udah siap daritadi. Abang yang nungguin kamu daritadi," seketika suara seorang lelaki muncul dari balik ruang tamu dan menuju kearah Nisa, membuat sang empu sedikit terkejut.
"Issh abang nih, tidak asik sekali deh. Masa aku yang disalahkan? Aku bangun kesiangan itu karena kemarin malam aku baru pindahan dari Prancis, tidak pengertian sekali sih abang malah marahin aku," cerocos Nisa sambil memajukan bibirnya sedikit kedepan.
"Iya, deh. Abang minta maaf, abang yang salah," ujar Dimas sambil mengelus pucuk rambut adiknya dengan lembut.
"Eh\-eh ada apa ini pagi\-pagi udah ribut melulu, buruan kalian berangkat nanti terlambat loh sekolahnya," tegur Ratna dari balik pintu dapur.
"Iya, Mah. Kami berangkat dulu ya, Assalamualikum," ucap Dimas lalu mencium pucuk telapak tangan Ratna, dan diikuti oleh Nisa.
"Iya kalian hati\-hati. Dimas kamu jangan ngebut\-ngebut, kasian tuh adek kamu. Jagain yang benar," titah Ratna memperingati.
"Siap komandan," kata Dimas memberikan hormat kepada Ratna dan berlalu menuju ke mobil, membuat Ratna dan Nisa tertawa kecil.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, hingga sampailah mereka pada sebuah sekolah yang megah nan elite. Dengan segera, mereka pun memakirkan mobil ke parkiran sekolah bersama dengan yang lainnya.
Setelah memakirkan mobil di parkiran sekolah, mereka pun berjalan melewati koridor sekolah dan hendak menuju ke ruang kepala sekolah.
Saat mereka sedang melewati koridor sekolah, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan sinis, tetapi ada juga yang menatap kagum.
"Udah, tidak usah di dengarkan. Mereka emang begitu, kalau ada murid baru pasti jadi bahan gisipan," bisik Dimas ke telinga adiknya.
Nisa hanya mengangguk pertanda mengerti akan ucapan Dimas. Hingga langkah mereka terhenti, dikala melihat sebuah papan kecil yang bertuliskan ruang kepala sekolah.
"Dek, abang ke kelas dulu ya?" Pamit Dimas yang terlihat undur diri.
"Iya," balas Nisa singkat.
Setelah kepergian Dimas, dengan segera gadis itu pun mengetuk pintu ruangan tersebut. Susah payah ia mengatur detak jantungnya, badannya pun ikut sedikit bergetar. Ia sangatlah canggung.
Tok! tok! tok!
"Masuk," suara seseorang dari balik pintu tersebut.
Seketika gadis tersebut langsung membuka ganggang pintu dan dilihatnya seorang pria paruh baya yang sangat sibuk dengan laptop miliknya.
"Ada perlu apa?" Tanya lelaki tersebut tanpa mengalihkan pandangannya.
Dengan susah payah, gadis tersebut menelan silavanya sendiri. Ia merasa sangat gugup sekarang ini.
"Saya Nisa, Pak. Saya murid pindahan dari Prancis dan akan bersekolah disini," ujar Nisa gugup seraya menunduk.
__ADS_1
"Oh begitu, sebentar. Biar di antarkan sama bu Rini," titah lelaki tersebut.
"Bu Rini, tolong ibu antarkan anak ini ke kelasnya," lanjutnya tanpa enggan mengalihkan pandangannya.
"Baik, Pak. Mari nak, ibu antarkan ke kelasmu," ujar Rini seraya menuntun Nisa untuk keluar dari ruangan tersebut.
Gadis bermanik mata biru tersebut hanya mengangguk dan sesekali tersenyum manis kepada guru yang ada di sampingnya.
Hingga mereka pun telah tiba didepan sebuah ruangan yang terlihat lumayan rapi. Akan tetapi, suara mereka terdengar sangat bising dari luar ruangan tersebut.
Suasana kelas XI\-Ips 2 yang amat ricuh nan gaduh, seketika terhenti dan hening dikala Rini memasuki ruangan tersebut dengan membawa gadis cantik di sebelahnya.
"Anak\-anak, kita kedatangan murid baru. Nak, ayo perkenalkan dirimu kepada teman\-temanmu," titah Rini seraya mempersilahkan gadis yang ada di sebelahnya tersebut.
"Iya, Bu. Perkenalkan nama saya Aura Nisa Beautifalentina, kalian bisa memanggil saya Nisa, saya pindahan dari Prancis," ujar Nisa seraya tersenyum kikuk.
Terdapat berbagai bisikan\-bisikan aneh dari murid\-murid tersebut dan terus menatap Nisa dengan tatapan horor, membuatnya kini sangat tak nyaman.
"WOW, CANTIK SEKALI,"
"UDAH PUNYA DOI BELUM NENG?"
"BAGI NOMOR WHATSAPP\-NYA DONG,"
"BIASA AJA, MASIH CANTIKAN GUE,"
"WOW, DARI PRANCIS? PANTESAN CANTIK SEKALI MIRIP SEPERTI BULE,"
"NAMANYA CANTIK, PERSIS SEPERTI ORANGNYA,"
"HUUUU..."
Begitulah kira-kira ucapan dan teriakan dari teman-teman barunya. Gadis tersebut sangat risih di tatapi terus menerus yang kini menjadi pusat perhatian. Melihat gadis yang di sebelahnya merasa risih, Rini pun menyuruhnya untuk segera duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Tepatnya bangku pojok kiri belakang.
"Sudah\-sudah, Nisa kamu boleh duduk di samping Clara. Clara angkat tangan kamu," titah Rini seraya memulai kegiatan belajar mengajar.
Setelah mendapatkan petunjuk dari Rini, gadis bermanik biru itu pun langsung menuju ke arah yang telah di perintahkan barusan.
Dengan segera, ia pun duduk di sebelah gadis manis yang memiliki mata lebar seperti boneka. Ia sangat canggung sekarang ini.
"Hay, namaku **Clara Septiana**, kamu bisa memanggilku **Clara**," ujarnya seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Aku Nisa," balas Nisa meraih uluran tangan tersebut.
Seketika, dua gadis yang duduk di depan mereka juga ikut angkat bicara. Membuat Nisa menoleh ke arah mereka.
"Aku **Laras Rahayu**, dan sering di panggil **Laras**," ucap gadis yang memiliki rambut pendek seleher.
"Kalo aku **Sekar Airitina**, biasa di panggil **Tina**," kata gadis tersebut yang memiliki mata sipit dan berkacamata.
Nisa pun hanya mengangguk dan sesekali tersenyum manis, membuat lesung pipinya pun kini ikut terlihat.
"Kami ini sahabatan loh," ujar Clara seraya merangkul ke dua bahu gadis tersebut.
"Nanti ke kantin bareng skuy," lanjutnya seraya menyenggol bahu kanan Nisa.
__ADS_1
Tak terasa, bila waktu pun telah menunjukkan jam istirahat. Membuat para murid yang tengah berhamburan untuk menuju ke kantin seraya mengisi perut mereka yang kosong.
Tak lupa pula, Nisa bersama dengan ketiga sahabat barunya juga terlihat berada di kantin. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada di kantin, tepatnya di pojok kanan depan.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Laras yang terlihat berdiri dari duduknya.
Seketika mereka tampak berfikir, hingga seorang gadis bermanik biru itu pun angkat bicara seraya membenarkan jawaban mereka.
"Serah lo deh, apa aja yang penting perut gue kenyang," ujar Nisa seraya menyandarkan bahunya pada ujung kursi yang tengah ia duduki saat ini.
Sontak mereka bertiga membulatkan mata tak percaya yang mendengar ucapan dari gadis tersebut, bagaimana bisa Nisa menjawab dengan sangat ceplas\-ceplos barusan?
"Kalian ngeliatin apaan?" tanya Nisa celingukan seperti mencari sesuatu.
"Engg\-enggak ada kok," ujar Clara sembari menyeka keringat yang ada di pelipisnya.
"Oke, pesanan segera di antarkan!" seru Laras yang terlihat menuju ke tempat pemesanan.
Saat sedang asyiknya bercanda gurau, seketika ada seorang siswi beserta kedua sahabatnya menghampiri meja mereka. Sontak mereka terkejut, dikala sang siswi angkuh tersebut menggebrak meja mereka yang lumayan keras.
"Woy ini tempat gue, cepetan kalian pergi. Siapa suruh kalian duduk disini ha?" bentak seorang siswi angkuh tersebut seraya menatap sinis ke arah Nisa, Clara, dan Tina.
"Tapi kan kami duluan yang duduk disini Dar?" lirih Clara kepada Dara yang telah menggebrak meja mereka.
Ya, gadis itu bernama Dara Drawing, ia adalah seorang siswi yang kejam, sombong, dan suka membulli orang lain bersama dengan kedua sahabatnya yaitu Vita dan Sherly, atau sering disebut sebagai 'Dara cs'.
"OH LO BERANI SAMA GUE SEKARANG HAH?" bentak Dara yang mendorong bahu Clara hingga terhuyung ke belakang, sontak semua yang berada di area kantin, terkejut seketika.
Namun, tak ada yang berani bergeming sedikitpun. Mereka hanya saling diam dan menunduk karena takut dengan sosok siswi tersebut. Melihat hal itu pun, membuat Nisa sedikit emosi dan tak terima atas perlakuan Dara kepada sahabatnya, lalu ia pun segera angkat bicara.
"Ini hak kita, kita yang duluan duduk disini. Kita wajib menikmati fasilitas yang telah disediakan, toh kita juga bayarnya sama. Tidak ada yang berbeda, tidak ada boss disini, tidak ada yang berkuasa juga. Jadi lo nggak berhak ngusir kita dari sini!" tutur Nisa yang terlihat santai seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
Sontak mereka semua membulatkan mata tak percaya, baru kali ini ada siswi yang berani melawan Dara yang terkenal kejam tersebut.
"LO SIAPA HAH? LO BERANI SAMA GUE?" lagi\-lagi Dara membentak dan melotot horor kepada gadis bermanik biru tersebut.
"Ya berani lah, ngapain juga takut sama lo? nggak guna banget," ejek Nisa seraya tertawa meremehkan.
"Oh, jadi lo anak baru disini? pantas aja gue nggak pernah liat lo, bentar lagi lo nggak akan bisa tertawa seperti ini. DASAR ANAK BARU YANG BELAGU," geram Dara yang terlihat hendak menampar pipi mulus milik gadis bermanik biru tersebut.
Namun, dengan sigap Nisa menangkisnya. Seketika dengan amat kasar, Nisa pun meraih kerah baju milik Dara yang membuat gadis tersebut kewalahan, dan badannya harus sedikit terangkat ke atas serta lehernya yang sedikit terkecik akibat ulah gadis di hadapannya yang terlihat seperti menahan emosi.
"Gue peringatin ya sama lo, jangan pernah macam\-macaim sama gue. Karena lo telah berurusan dengan orang yang salah, paham?" bisik Nisa ke telinga Dara yang menekan setiap kata\-katanya, lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan kantin dan ketiga sahabatnya.
Sontak Clara, Laras, serta Tina, terbelalak kaget dengan ucapan sahabat barunya barusan. Namun, terbelesit rasa senang, puas serta kagum oleh ketiganya.
"Cih, sial." Decih Dara yang terlihat mengatur nafasnya.
"Awas aja, gue akan balas perbuatan lo. Anak belagu," geramnya seraya pergi meninggalkan kantin bersama dengan kedua sahabatnya.
****
"Nikmati hidupmu, selagi kau masih dapat bernafas. Jangan pernah menyerah dan merasa takut, atas apa yang sedang kau alami."
~Aura Nisa Beautifalentina~
__ADS_1