Love Young People

Love Young People
Pertemuan di antara keduanya.


__ADS_3

Gadis tersebut keluar dari kantin dan berjalan menyusuri koridor sekolah dengan penuh rasa kesal. Manik birunya senantiasa menelusuri ke segala arah.


Ia beberapa kali mengumpat kesal, dan mengucapkan sumpah serapah yang tiada henti. Hingga seketika ia menabrak tubuh seorang lelaki tampan bertubuh jangkung.


 


'BUGHH'


"Aww.. Sakit tau," ringis Nisa sembari mengusap lututnya yang mencium lantai tersebut.


Sedangkan, lelaki yang menabraknya tadi hanya melihat Nisa dengan wajah sangat datar serta enggan untuk menolong gadis bermanik biru yang kini tengah jatuh di hadapannya.


"Eh lo itu kalau jalan pakai mata dong, seenaknya aja nabrak-nabrak orang, sakit tau ishh," pekik Nisa seraya berupaya untuk segera berdiri


"Dimana-mana jalan itu pakai kaki," ujar lelaki tersebut yang masih setia dengan tatapan datarnya seraya memasukkan tangannya ke saku celananya.


"Eh lo itu ya, udah salah tapi ngga mau minta maaf. Udah gitu dibilangin tapi tetap masih nggak mau dengar. Lo nggak liat apa kalo ada orang didepan. Seenak jidat banget nabrak-nabrak orang aja," oceh Nisa yang sedikit emosi serta rasa sebal yang sedang menyelimuti benaknya.


"Oh," jawab lelaki tersebut seraya berlalu meninggalkan Nisa yang masih tetap mematung di tempat.


Retina biru miliknya membulat sempurna, gadis tersebut tak percaya atas jawaban singkat yang telah dilontarkan oleh lelaki tersebut.


"DASAR COWOK NYEBELIN, ES BATU BERJALAN, GUE BENCI SAMA LO." teriak Nisa kepada lelaki itu dengan emosinya yang telah meledak.


Kring..Kring..


Bel pulang sekolah pun akhirnya berbunyi. Momen yang selama ini tengah di nanti-nanti. Semua siswa-siswi terlihat segera berhamburan menuju ke parkiran sekolah.


"Eh Nis, tadi lo kemana aja? Gue cariin tapi nggak ketemu-ketemu," ujar Clara yang menatap gadis itu seperti kebingungan.


Nisa pun mendengus kasar, "Kenapa emang?"


"Ya tidak apa-apa sih, cuma gue bingung aja gitu !" ujar Clara kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Oh, yaudah gue mau pulang dulu. Sampai bertemu besok lagi," titah Nisa seraya melambaikan tangannya.


"Eh, tapi lo belum menjawab pertanyaan gue !" Seru Clara yang terlihat mencegah langkah gadis tersebut.


"Apa?" tanya Nisa malas.


Merasa di perhatikan, Clara pun tersenyum seraya memperlihatkan sederet giginya. "Tadi lo kemana?"


"Jalan-jalan keliling sekolah," ujar Nisa yang terlihat malas seraya berlalu pergi meninggalkan kelas.


Setelah kepergian gadis tersebut, Clara pun tertegun seketika. Apakah ia tidak salah mendengar? Oh, tentu saja tidak.


'Nih cewek aneh sekali ya, apa ini sifat asli dari Nisa? Baru beberapa jam gue ketemu dia, selalu ada aja tingkahnya. Kenapa gue harus ketemu cewek konyol dan langka seperti Nisa,' batin Clara sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


****


Beberapa siswa-siswi berjalan melewati gadis bermanik biru yang kini tengah berdiri celingukan seperti mencari keberadaan sesorang. Hingga seketika ia di kagetkan oleh suara bariton lelaki dari belakang tubuhnya.


 


"Hay dek, udah nunggu lama ya?" ujar Dimas sembari merangkul bahu gadis cantik tersebut.


"Ish abang nih, ngagetin aja. Nanti kalo aku jantungan gimana?" ucap Nisa yang memanyunkan bibirnya beberapa senti kedepan.


"Hehe, iya deh abang minta maaf," kata Dimas sambil mengacak rambut adiknya gemas.


"Yaudah bang ayo pulang," ucap Nisa yang dibalas anggukan oleh Dimas.


Sepanjang koridor sekolah, banyak pasang mata yang menatap mereka secara sinis. Mereka berbisik-bisik seolah ingin menerkam gadis tersebut. Namun, gadis bermanik biru tersebut hanya menanggapinya dengan acuh.


Mengapa bisa begitu? Karena gadis bermanik biru itu telah berjalan beriringan dengan Dimas, seorang yang menjadi incaran para wanita. Sekaligus membuat mereka semua iri melihatnya.


Setau mereka, Dimas orangnya sangatlah dingin dan cuek. Mereka juga mengetahui kalau Dimas sangat sensitiv terhadap cewek.


Lalu, siapakah yang berada di sampingnya? Apakah dia pacar baru Dimas? Begitulah kira-kira omongan mereka yang menurut Dimas sangat membuang-buang waktu saja.


Sesampainya di parkiran, Dimas langsung membukakan pintu mobilnya untuk adiknya. Dan ketika Dimas hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Seketika ia terkejut dan mengumpat beberapa kali.


"Ihh Dar apaan sih, lepasinn ini lagi di parkiran, banyak yang liatin," umpat Dimas sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan tersebut.


Banyak pasang mata yang tengah memperhatikan mereka, melihat secara sinis dan terlihat berbisik-bisik menertawan perilaku gadis centil tersebut.


Gadis tersebut yang tak lain adalah Dara.


Apa? Dara lagi? Ya, memang pelakunya adalah Dara. Bukan hanya suka membuat onar saja, tetapi Dara sudah lama mengincar hatinya Dimas.


Meskipun Dimas enggan menanggapi dan terus mengacuhkannya. Namun, Dara tak berhenti untuk mengejarnya, berharap lelaki tersebut juga membalas perasaannya.


"Biarin aja, Dim aku pulangnya bareng kamu ya?" ujar Dara seraya bersemangat.


"Nggak," jelas Dimas dengan ekspresi datar.


"Ihh Dimas boleh ya? Sekali ini aja deh," rengek Dara dengan mata berbinar, berharap sang empu ikut membolehkan.


"Nggak, lo pulang sendiri. Lo kan juga bawa mobil," kata Dimas seraya melepaskan cekalan tangan cewek tersebut dan telihat segera masuk ke dalam mobilnya.


Sementara di dalam mobil, terlihat sepasang manik mata biru yang tengah memperhatikan mereka. Dan menyaksikannya dengan penuh perasaan kesal, hingga ia hanya bisa berdecih dan mengumpat beberapa kali.


Dengan segera mereka pun menjalankan mobil mereka untuk segera menuju kerumahnya. Hingga tak terasa, bila mereka saat ini tengah sampai didepan gerbang yang berwarna putih, mereka pun langsung melangkahkan kaki keluar dari mobil tersebut.


"Assalamualaikum," ujar Dimas dan Nisa hampir bersamaan.


"Waalaikumsalam, eh kalian udah pulang?" Jawab Ratna yang menyambut mereka untuk segera memasuki rumah.


"Iya, Mah." kata Nisa.


"Gimana adek sekolahnya? Ceritakan ke mamah dong," tanya bu Ratna bersemangat.

__ADS_1


"Iya dong dek, cerita ke abang juga lah," goda Dimas tersenyum jahil.


"Huft, aku capek mau ke kamar dulu. Nanti aja mah ceritanya," jawab Nisa dengan mimik wajah yang terlihat sangat malas.


"Yaudah, kamu istirahat dulu sana, jangan ditekuk terus mukanya. Nanti tambah jelek lo," ucap bu Ratna sambil terkekeh geli.


"Issh mamah," kata Nisa sebal seraya berlalu ke kamarnya.


Setelah memasuki kamar, gadis itu pun mulai beranjak mengambil handuk guna menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya yang sudah terlihat lengket.


Setelah selesai, lalu ia pun segera merebahkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Hoam, ngantuk gue." ujarnya seraya menutup mata yang dirasa sudah sangat mengantuk.


Tiga jam telah berlalu. Gadis itu pun terbangun, dikala terdapat benda yang tengah mengusik tidurnya. Ia pun mengambil benda pipih tersebut, lalu melihat jam yang tertera di layar ponselnya. Waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan.


Dengan segera, ia pun bergegas untuk segera turun dari kamarnya guna ikut bergabung di lantai bawah bersama keluarganya. Tepatnya berada di ruang keluarga.


Tap! tap! tap!


Terdengar langkah kaki seseorang yang tengah menuruni anak tangga dengan langkah yang sangat santai. Sesekali retina biru miliknya melihat ke arah ruang keluarga.


Hingga langkahnya terhenti, dikala sudah sampai di tempat tujuan.


"Widih udah bangun kamu dek?" Sapa seorang lelaki muda yang tengah duduk bersantai di sofa.


"Hm," gadis itu hanya berdehem tak jelas menanggapi pertanyaan kakaknya.


"Kok mukanya lesu gitu? Ada apa? Sakit ya?" tanya Dimas agak khawatir kepada adeknya.


"Ngga papa," jelas Nisa singkat.


Gadis bermanik biru itu pun duduk disebelah Dimas yang terlihat masih menatapnya heran dan penuh pertanyaan.


"Eh anak mama udah bangun. Udah enakan badannya?" Tanya Ratna yang baru saja keluar dari bilik dapur.


"Udah, Ma." kata Nisa yang memandang Ratna sekilas.


"Kok mukanya di tekuk gitu sih? Oh, ya tadi kan kamu mau cerita tentang hari pertamamu sekolah. Gimana? Seru kan?" Tanya Ratna dengan senyum sumringah yang melekat di bibirnya.


"Ihh Mamaa, Nisa sebal banget hari ini," rengek Nisa seperti anak kecil.


"Sebal kenapa sih?" Tanya Ratna yang terlihat kebingungan.


Sementara Dimas yang menyimak percakapan mereka hanya terdiam seolah tak mengerti apa yang sedang di bicarakan.


"Tadi itu ya, waktu Nisa ke kantin bersama teman-teman Nisa, tiba-tiba ada seorang cewek yang menggebrak meja Nisa dan merendahkan teman Nisa. Ya Nisa nggak terimalah, jadi Nisa bela teman Nisa dan setelah itu Nisa langsung pergi keluar dari kantin dan waktu Nisa sedang berjalan tiba-tiba ada seorang cowok yang menabrak Nisa. Parahnya nih ya, Mah. Cowok itu ngga mau minta maaf sama Nisa dan ketika Nisa ngomong panjang lebar cowok itu hanya membalasnya 'oh' dan pergi gitu aja, ya kan jadinya Nisa kesal mah." Cerocos Nisa panjang, lebar, tinggi dan tanpa jeda.


Ratna hanya mengangguk paham, "Oh, jadi seperti itu, ya?"


"Ada cewek yang menggebrak meja kamu? Siapa dek?" Tanya Dimas dan sontak membuat Nisa dan Ratna menoleh ke sumber suara.


"Nggak tau namanya bang, kalo ngga salah sih cewek itu yang deketin abang juga waktu di parkiran tadi," jawab Nisa yang seolah tampak berfikir.


"Sepertinya sih iya," kata Nisa mantap.


"Dan cowok yang nabrak kamu?" Tanya Dimas menaikkan alisnya bingung.


"Nggak tau sih kalo itu bang, yang pasti orangnya nyebelin buanget. Tapi kalo diliat-liat sih ganteng juga," ujar Nisa yang terlihat tampak memikirkan sesuatu.


"Awas naksir loh nanti," goda Dimas seraya mengacak rambut gadis bermanik biru tersebut.


"Ihh abang apaan sih, nggak akan pernah sampai kapanpun dan bagaimanapun aku nggak akan suka sama cowok nyebelin seperti kulkas itu," Titah Nisa cepat yang sedikit berteriak.


"Haha bercanda doang dek, yaudah tidur lagi sana, besok sekolah. Awas aja kalo bangunnya kesiangan bakal abang tinggalin," kata Dimas sambil terkekeh melihat tingkah Nisa.


Nisa pun kebingungan, "Lah, aku barusan bangun bang. Masa suruh tidur lagi sih?"


"Oh, iya abang lupa. Yaudah makan sana," ujar Dimas seraya menepuk jidatnya pelan.


"Nggak lapar," ketus Nisa.


"Dih, marah," goda Dimas mencubit hidung adiknya.


"Apaan sih, aku mau ke kamar aja !" Seru Nisa seraya menuju ke kamarnya.


"Makan dulu dek, nanti kamu sakit," teriak Dimas gemas.


Gadis tersebut melangkahkan kakinya untuk segera menuju ke kamarnya tanpa enggan menuruti ucapan kakaknya, yang baginya hanya akan membuatnya naik darah.


****


TRINGG....


Suara alarm yang berhasil membangunkan seorang gadis cantik yang sedang asyik terbilang terbang ke dunia mimpinya.


"Egh," suara lenguhan dari gadis tersebut seraya bangun dan mengucek-ngucek matanya beberapa kali.


"Nisaaa bangun, sudah siang nih, abang kamu nungguin tuh," suara perempuan paruh baya yang berteriak memanggil gadis tersebut untuk segera turun ke bawah.


"Iya, Mah. Bentar lagi," jawab Nisa sembari mengambil tasnya di meja belajar dan segera bergerak turun ke bawah.


"Ayo dek berangkat," ujar Dimas yang diangguki oleh Nisa.


"Kalian hati-hati ya," ujar Ratna memberikan nasehat ke keduanya.


"Iya, Mah. Kami berangkat dulu, Assalamualaikum," kata keduanya lalu menyalami Ratna dengan sangat sopan


"Waalaikumsalam," jawab Ratna seraya tersenyum.


Setelah memakirkan mobil, mereka pun turun bersamaan untuk segera menuju ke kelas mereka masing-masing.

__ADS_1


"Bang, abang di kelas mana sih?" Tanya Nisa yang tengah serius menatap kakaknya.


"XI-MIPA 4," ujar Dimas datar.


Nisa hanya ber'oh' ria menanggapi ucapan kakaknya. Ketika sedang asyik berjalan di koridor sekolah, Dimas bertemu dengan teman-temannya yang berjumlah sekitar empat orang. Mereka menyapa Nisa dengan ramah dan hanya diberikan anggukan olehnya.


Gadis bermanik biru itu pun mengamati satu persatu setiap detail mimik wajah dan penampilan dari temannya Dimas, dan seketika ia harus terkejut dikala salah satu dari teman Dimas adalah lelaki yang pernah menabraknya kemarin di koridor sekolah.


"Hah, lo?" Teriak Nisa yang sontak membuat aktifitas para siswa-siswi terhenti sejenak akibat teriakan gadis tersebut.


"Ih kamu apa-apaan sih dek, teriak-teriak tidak jelas. Malu tau diliatin orang," kesal Dimas sembari menatap Nisa yang terlihat masih terbelalak kaget.


"EH LO, YANG NABRAK GUE TANPA RASA BERSALAH. SEENAKNYA BANGET LO NINGGALIN GUE TANPA MEMINTA MAAF, LO NGGA PERNAH DIAJARI UNTUK MENGHORMATI ORANG YANG LAGI NGOMONG HAH?" Teriak Nisa dan lagi-lagi membuat aktifitas para siswa-siswi terhenti.


Dimas dan ketiga temannya pun menutup kedua telinga mereka masing-masing karena mendengar teriakan cempreng milik gadis bermanik biru tersebut. Sementara lelaki itu hanya menatapnya datar tanpa ekspresi sedikitpun.


"Terus?" Respon cowok tersebut yang masih setia dengan muka datarnya.


"Ihh lo tuh nyebelin banget tau nggak. Masa gue ngomong panjang lebar sambil teriak-teriak dan respon lo cuma gitu doang," Kesal Nisa dan melirik sinis ke arah lelaki tersebut.


"Oh jadi ini cowok yang kamu ceritain semalam yang telah nabrak kamu waktu jalan-jalan kemarin dek? Benar nggak Ga?" kata Dimas seraya bertanya ke keduanya.


"Hm," dehem lelaki tersebut.


"Jadi, si es balok kutub utara ini teman abang? Ih kok mau sih abang temenan sama es batu berjalan kaya gini," sindir Nisa yang mengejek lelaki itu dengan sesekali meliriknya sekilas.


"Nama gue Arga," kata lelaki tersebut yang tak lain adalah Arga Kusuma Sanjaya yang masih setia dengan wajah datarnya.


"Dihh siapa yang tanya coba, GR banget lo jadi orang," ejek Nisa yang melihat Arga dengan sedikit menahan tawa.


"Huss.. Kamu nggak boleh gitu dek sama Arga, dia itu kapten basket loh," ujar Dimas seraya menyenggol lengan adiknya dan menyuruhnya untuk segera diam.


"Terus kenapa? Emang gue pikirin?" Cibir Nisa seraya berlalu meninggalkan mereka berlima yang masih berada di koridor sekolah.


"Idihh adek lo cerewet banget ya Dim, tapi dia juga sangat cantik. Eh btw, kok gue baru pertama kali ketemu adek lo disini?" Ucap Feri, salah satu temannya Dimas.


"Iya emang dia baru pindah ke sekolah ini," jawab Dimas enteng tanpa beban.


Feri, Riko, dan Faiz hanya mengangguk paham. Sementara Arga masih diam ditempat tak bergeming dan mengacuhkan ucapan Dimas.


"Ga, maafin adek gue ya. Dia emang gitu orangnya, jangan dimasukin hati ya kata-katanya Nisa," kata Dimas memelas yang terlihat seperti tak enak hati.


Arga hanya berdehem asal dan acuh menanggapi ucapan Dimas dan sembari menuju ke kelasnya karena bel sebentar lagi berbunyi. Sementara Dimas, Faiz, Riko, dan Feri hanya mengekorinya dari belakang.


****


Retina biru miliknya yang tengah menatap lurus ke depan, hatinya berkecamuk yang kini ia rasakan. Hingga seketika ia terkejut mendengar seseorang memanggilnya.


"Woy Nisaa," teriak seorang cewek dan duduk disebelah bangku gadis tersebut


"Ih ngagetin aja sih lo Clar," cibir Nisa tak terima.


"Hehe.. Maap atuh neng, bercanda doang. Eh btw, kok lo badmood gitu sih pagi-pagi begini?" Ucap Clara sedikit memperhatikan gerak-gerik gadis cantik di sebelahnya.


"Gue kesal banget hari ini," ujar Nisa seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Kesal kenapa?" Tanya Clara yang terlihat kebingungan.


"Tadi tuh gue ketemu sama cowok nyebelin tingkat dewa yang udah nabrak gue kemarin. Setiap gue ketemu tuh cowok, ada aja kesialan yang gue dapat," kata Nisa yang malas jika harus menceritakan Arga kepada sahabatnya.


"Cowok siapa?" Tanya Clara penasaran.


"Itu si kulkas. Namanya sih Ar_" ucapan Nisa terpotong dikala pak Bandi telah memasuki kelas mereka.


"Pagi anak-anak," sapa pak Bandi tegas.


"Pagi pak," ujar mereka serempak.


"Baiklah, buka buku Geografi kalian halaman 124 sekarang," titah pak Bandi seraya duduk di kursi guru.


"Baikk pak."


Tiga puluh menit telah berlalu, dan waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Para siswa-siswi segera berhamburan menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong.


Nisa, Clara, Tina, dan Laras saat ini sedang berada di taman belakang sekolah karena mereka sedang malas untuk berdesak-desakan di kantin yang tak pernah sepi tersebut.


"Eh Nis, cowok yang nabrak lo yang tadi pagi lo ceritain siapa namanya," ujar Clara seperti memikirkan sesuatu.


"Arga," kata Nisa datar.


"DAEBAKK!! SERIUS LO?" Ujar mereka bertiga serempak.


"Ish nggak usah teriak-teriak juga kali. Gue denger nih," kesal Nisa seraya menujukkan telinganya kepada mereka.


"Hehe, ya maap lah Nis kita reflek tadi," ujar Laras cengengesan.


"Emang benar yang lo ucapkan barusan?" Tanya Tina mengintrogasi.


"Ya benar lah, ngapain juga gue bohong," jawab Nisa enteng tanpa dosa.


"Wihh gila lo Nis, masak cowok ganteng kayak Arga lo katain nyebelin sih. Dia itu kapten basket juga loh," ujar Clara membela Arga seraya memuji-mujinya.


"Kalau gue yang ditabrak sama Arga, gue bakal seneng banget deh pastinya," tambahnya yang terlihat membayangkan sesuatu dan diangguki oleh Laras, dan Tina yang juga ikut membayangkan.


Laras pun menambahi, "Iya, gue pasti juga akan bahagia sekali."


"Bodoamat," ketus Nisa dan hanya memutarkan bola matanya malas menanggapi ketiga temannya yang menurutnya sudah kehilangan akal.


****


"Entah kenapa, ketika aku melihat wajahmu yang teduh. Hatiku seakan penuh gejolak, harus ku akui jika kau sangatlah cantik. Namun, rasa apa ini yang menyelimuti diriku? Apakah aku telah mencintaimu? Bagaimana aku bisa mencintai seseorang pada saat baru mengenalnya? Sungguh, gejolak aneh yang bergetar di dadaku."

__ADS_1


~Arga Kusuma Sanjaya~


__ADS_2