
"BANGG DIMAASSS," jerit seorang gadis bermanik biru yang terlihat berlari ke arahnya.
Sang empu yang memiliki nama tersebut segera menoleh ke asal suara.
"Bang tung-tunggu-tungguin Nis-Nisa," ujar nya terbata-bata yang masih terlihat mengatur nafasnya.
"Oh iya abang lupa, kan ada kamu sekarang," ujar Dimas seraya menepuk jidatnya.
"Abang sih, main ninggalin aku aja. Nyebelin deh" rengek Nisa yang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ya habisnya kamu tadi berangkatnya nggak sama abang sih," seru Dimas cengengesan seraya mengacak rambut adiknya gemas.
Saat sedang asyiknya mengobrol, seketika terdengar suara nyaring yang tengah memanggil nama gadis tersebut. Sontak mereka berdua langsung menoleh ke belakang.
"NISAAAA," teriak Clara nyaring mengisi setiap sudut ruangan dan diikuti oleh kedua temannya yang terlihat tengah berlari.
"Ih lo kok ninggalin kita sih, mana larinya kencang banget lagi," gerutu Laras kesal yang terlihat memegangi perutnya.
"Tau nih, capek tau kita ngejar lo," tambah Clara yang ikut terlihat kesal.
"Hehe maaf lah teman-teman, ya habisnya gue ngejar bang Dimas sih. Kan jadinya lupa kalo ada kalian," ujar Nisa cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Pandangan mereka bertiga langsung tertuju kepada Dimas yang berdiri berdampingan dengan gadis bule tersebut.
Sedari tadi, ternyata mereka bertiga baru menyadari akan kehadiran Dimas. Sontak mereka bertiga terkejut. Pikiran mereka pun berkelana kemana-mana yang akhirnya menimbulkan berbagai pertanyaan di benak mereka.
Clara terbelalak kaget, "Nisa, lo serius sama Dimas?"
"Iya, emang kenapa?" Jawab Nisa ragu.
Seketika mereka bertiga saling memandang sesama lain. Tak lupa juga saling memberikan kode masing-masing melalui gerakan tubuh.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Dimas yang terlihat bingung.
"Kalian berdua, pacaran?" Tanya Laras yang terbelalak kaget.
"Maksud lo, kita?" Ujar Nisa yang mengernyitkan alisnya bingung dan saling tatap bersama Dimas.
Seketika mereka bertiga mengangguk mantap menunggu jawaban dari kedua makhluk berbeda jenis tersebut. Yang akhirnya, membuat keduanya saling tergelak tawa.
"Kenapa ketawa, emang ada yang lucu?" Tanya Clara lirih yang sama bingungnya dengan Laras dan juga Tina.
"Ya bukanlah, ini itu abang gue. Ada-ada aja kalian !" Seru Nisa yang masih tergelak tawa.
"Hah? Kalian berdua bersaudara?" Pekik Clara yang nampak terkejut.
"Iya, Nisa itu adek kandung gue," ujar Dimas yang ikut angkat bicara seraya merangkul bahu adiknya.
"Habisnya kalian berdua cocok sih, jadinya kita mengira kalo kalian itu pacaran," ujar Tina seketika yang mendapat tatapan tajam dari ketiga gadis tersebut.
"Lo diem atau mulut lo gue sumpel pake sepatu," geram Nisa menatap tajam ke arah gadis tersebut.
Tina pun mendengus kasar, "Huft.. Kenapa sih? Ketika gue yang bicara kalian selalu aja emosi."
"Karena lo itu susah banget diajak bicara, sayang !" Seru Nisa dengan tawa yang membuncah.
Sontak membuat semuanya tertawa, terkecuali Tina sendiri. Ia bahkan bingung apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah bercanda gurau dengan cukup lama di koridor sekolah, mereka pun akhirnya melangkah menuju ke parkiran yang terlihat lumayan sepi dari para penghuninya.
"Woy Dimas, dari mana aja lo?" Tanya Feri yang terlihat masih membenarkan gaya rambutnya.
"Biasa, gara-gara anak ini," ujar Dimas enteng yang mendapat tatapan tajam dari adiknya.
"Nis, kami duluan ya," Ujar Clara yang hendak keluar dari parkiran dengan menaiki mobilnya bersama Laras dan Tina.
"Duluan ya Nis, goodbay," tambah Laras melambaikan tangannya yang diikuti oleh Tina.
"Oke, kalian hati-hati," jawab Nisa yang juga ikut melambaikan tangannya.
Setelah kepergian teman-teman Nisa, mereka pun kembali berbincang-bincang seolah membicarakan mengenai hal yang serius.
"Hari ini kita jadi nggak?" Tanya Feri yang terlihat serius.
"Jadi kemana?" Ujar Dimas bingung seraya mengangkat kedua bahunya.
"Ya ke base camp lah, masa lo lupa sih?" Ujar Faiz yang juga ikut angkat bicara.
"Lah, terus ini gimana?" Tanya Dimas bingung seraya menunjuk adiknya yang terlihat sibuk bermain ponsel.
"Suruh sama dia aja, dia nggak ikut katanya," ujar Feri sembari menunjuk keberadaan sosok lelaki yang juga sama sibuknya sedang bermain ponsel.
Dan tanpa berpikir lagi, Dimas pun langsung menghampiri sosok lelaki yang tengah duduk diatas motor tersebut.
"Ayo ikut abang," ajak Dimas kepada adik gadisnya.
"Kemana?" Tanya Nisa heran.
Bukannya menjawab pertanyaan adiknya, Dimas malah menggandeng lengan Nisa untuk segera menuju ke tempat seseorang tersebut.
"Ga, lo nggak ikut ke base camp kan?" Tanya Dimas serius ke lelaki tersebut.
"Nggak," ujar Arga datar tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bagus deh, gue titip adik gue ya !" Seru Dimas bersemangat seraya menyerahkan adiknya kepada lelaki tersebut.
Sontak Arga langsung mendongakkan kepalanya, ia tidak tau kalo Dimas bersama gadis tersebut. Pandangannya pun langsung teralih ke gadis bermanik biru yang terlihat membulatkan matanya sempurna.
"APA? SAMA DIA? IH NGGAK MAU AKU BANG," pekik Nisa menggeleng cepat seraya menunjuk sinis cowok tersebut.
"Abang mau ke base camp Nis, disana itu cowok semua. Abang nggak mau kalo kamu ikut kesana, nanti kamu kenapa-napa lagi. Mending sekarang kamu di anter Arga pulang ya," lirih Dimas seraya memegang kedua bahu adiknya.
"Tapi bang, aku nggak mau kalo sama si kulkas itu, mending aku naik taxi aja," balas Nisa yang mengelak cepat.
"Nggak, pokonya kamu harus bersama Arga !" Tegas Dimas seraya menarik lengan adiknya mendekat ke arah Arga.
"Tapi_" Ucapan Nisa terputus dikala Dimas memotongnya.
"Ga, gue titip adek gue ya, jagain dia," titah Dimas seraya berlalu dari hadapan mereka.
Arga hanya mengangguk serta menatap kepergian Dimas, dan tak lupa juga ia menatap gadis yang berada di sampingnya yang terlihat memberikan tatapan sinis padanya.
"Naik," pinta Arga seraya menyodorkan helmnya ke gadis tersebut.
"Nggak," ketus Nisa yang mengalihkan pandangannya.
"Yaudah, gue pulang sendiri aja," ujar Arga seraya menghidupkan mesin motornya.
Seketika Nisa tertegun. Dan tanpa berfikir lagi, ia pun langsung meraih helm yang tadi di berikan oleh lelaki tersebut.
"Huft, kenapa sih gue harus ketemu lo mulu, capek tau," umpat Nisa seraya menaiki motor sport milik lelaki jangkung tersebut.
"Mungkin takdir," ujar Arga dingin yang mendapat pukulan di bahu kanannya.
Seketika Arga mendesis kesal, "Dih, sakit *****."
"Cepetan jalan," titah Nisa memberikan arahan.
Tanpa berfikir lagi, Arga pun segera menjalankan mesin motornya guna agar segera sampai ke tujuan.
Motor sport berwarna merah, membelah jalanan kota Jakarta yang tak pernah sepi dari keramaian. Hingga motor tersebut pun berhenti, di kala mendengar suara permintaan tolong.
"TOLONGG, TOLONGG," suara teriakan perempuan dari balik semak belukar.
"Stop-stop !" Pekik Nisa mencubit bahu lelaki tersebut.
Mendapat cubitan dari bahunya, akhirnya Arga pun memberhentikan kendaraannya di pinggir jalan yang sepi.
"Apa lagi sih?" Desis Arga kesal.
"Eh Ga, lo dengar suara orang minta tolong nggak?" Tanya Nisa yang terlihat membuka kaca helmnya.
"Iya, gue dengar. Sepertinya arah suaranya dari sana," balas Arga seraya menunjuk ke arah tersebut.
"Kita samperin yuk," Ajak Nisa yang hanya di angguki oleh Arga.
__ADS_1
Setelah berada di tempat kejadian, betapa terkejutnya mereka dikala melihat seorang perempuan paruh baya yang tengah di jambret oleh kedua preman lelaki bertubuh kekar.
"WOY KEMBALIKAN TAS IBU ITU," bentak Arga kepada kedua lelaki berbadan kekar tersebut.
"Hahaha siapa lo anak kecil, jangan ikut campur lo," ujarnya seraya menonjok pipi Arga.
"ARGAAA," jerit Nisa histeris melihat kondisi Arga yang tengah di keroyok.
Perkelahian semakin sengit. Awalnya Arga memenangkannya, tetapi karena lelaki tersebut jumlahnya dua orang. Membuatnya semakin kewalahan dan terjatuh ke lantai. Seketika kedua preman tersebut segera melarikan diri.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" Tanya seorang ibu tadi dengan suara pelan. Arga hanya menggeleng menanggapinya.
"Ga, lo tidak apa-apa? Masih kuat berdiri kan?" Tanya Nisa khawatir.
"Iya, gue tidak apa-apa," ujar Arga seraya berusaha untuk berdiri.
"Lo masih kuat menyetir?" Tanya Nisa serius.
"Sepertinya sih enggak. Bu, maafkan saya karena tidak bisa mengambil tas ibu tadi," lirih Arga pelan yang terlihat merasa bersalah.
"Iya, Nak. Tidak apa-apa, maafkan ibu juga karena telah melibatkan kamu dalam hal ini," ucap ibu itu seraya tersenyum kepada mereka.
"Nggak bu, kita akan menolong ibu sampai tas ibu kembali," titah Nisa seraya menarik tangan Arga menuju ke motor sportnya.
"Tapi Sa, gue nggak bisa naik motor lagi," ujar Arga memperingati.
"Lo tenang aja, gue yang nyetir," kata Nisa serius seraya menaiki motor milik lelaki tersebut.
Sontak Arga membulatkan matanya tak percaya dan membuka mulutnya lebar, ia sangat terkejut dengan ucapan gadis tersebut yang tengah melontar begitu saja.
"Udah kagetnya nanti aja, sekarang lo naik, premannya makin jauh nantinya kalo nggak cepetan," pinta Nisa seraya menghidupkan mesin motor miliknya.
"Lo bisa naik motor?" Tanya Arga tak percaya.
"Iya,"
"Yakin?"
"Hm,"
"Serius?"
"Ck, banyak tanya lo. Lo mau naik atau gue tinggal," decih Nisa yang mulai sedikit kesal.
"Motor juga motor siapa, yang ditinggal juga siapa," gumam Arga pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Nisa.
"Udah cepetan naik," pinta Nisa yang sedikit menaikkan nada intonasinya.
Tanpa menjawab lagi, akhirnya Arga pun langsung menaiki di jok belakang motor tersebut dengan Nisa di depannya. Ia pun melingkarkan kedua tangannya ke perut gadis bermanik biru tersebut.
"Ih ngapain sih lo meluk-meluk gue," gerutu Nisa kesal seraya berusaha menyingkirkan tangan kekar lelaki tersebut.
"Takut nanti jatuh," lirih Arga seraya memejamkan mata.
"Serah lo deh," umpat Nisa seraya melajukan motornya dengan Arga masih setia melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya.
Motor sport berwarna merah yang melaju kencang di jalan raya. Menampakkan kedua sosok insan yang berbeda jenis, beberapa kali sang gadis celingukan mencari keberadaan seseorang. Hingga suatu ketika, ia memberhentikan motornya di jalanan yang teramat sepi.
Retina biru miliknya yang menyapu setiap sudut jalanan yang dikata sepi. Tak henti-hentinya gadis itu pun celingukan kesana-sini.
Merasakan ada sepasang tangan kekar yang singgah di pinggangnya, gadis itu pun langsung menepiskan tangan lelaki tersebut secara kasar.
"Lepasin ihh, turun sekarang," titah Nisa yang sedikit menahan emosi.
"Nggak mau, gue takut jatuh," lirih Arga ketakutan yang terlihat masih memejamkan matanya.
"INI UDAH BERHENTI ARGAA," jerit Nisa tepat di telinga lelaki tersebut.
Sontak lelaki tersebut melonjak kaget, dan melepaskan pelukannya di pinggang ramping milik gadis bermanik biru tersebut. Yang akhirnya ia pun turun dari jok belakang motornya.
"Aduh, kaget gue Sa !" seru Arga kesal seraya memegangi sebelah telinganya.
"Makanya lo kalo disuruh turun ya turun. Seenaknya aja main peluk-peluk gue," cibir Nisa tak terima.
"Gue takut jatuh aja, lo kalo nyetir ngebut mulu sih, kan jadinya gue pegangan ke pinggang lo," ujar Arga santai seraya merapikan rambutnya
yang sedikit berantakan.
"Modus lo," desis Nisa yang menatap tajam ke arah lelaki tersebut.
"Dih, jujur amat," cibir Nisa yang meliriknya sinis.
"Biarin, gue suka," balas Arga yang tersenyum jail.
Sungguh, pemandangan yang langka bagi gadis bermanik biru tersebut. Baru kali ini, ia melihat sosok Arga tersenyum. What? Arga tersenyum? Bagaimana bisa?
Gadis itu pun tertegun beberapa saat, seraya menatap sosok lelaki di hadapannya yang tengah tertawa. Membuat retina biru miliknya tidak berkedip sama sekali. Hingga suatu lambaian tangan kekar membuyarkan lamunannya.
"Lo kenapa?" Tanya Arga datar.
"Hah? Apa?" Jawab Nisa gelagapan.
Seketika tawa Arga kembali membuncah pecah memenuhi jalanan yang sepi, gadis itu pun kembali tertegun di buatnya.
"Sejak kapan lo ketawa?" Satu lontaran yang berhasil keluar lolos begitu saja dari mulut Nisa.
"Sejak bersama lo," ujar Arga enteng yang terlihat masih menahan tawanya.
"Hah? Gu-gue ken-kenapa?" Tanya Nisa gemetar dan terlihat kebingungan.
Kini, posisi keduanya tengah duduk berhadapan di samping jalanan yang amat sepi.
"Karena lo cantik," ujar Arga seraya mengelus pelan rambut gadis yang berada di hadapannya.
Seketika pipi Nisa berubah menjadi merah merona akibat menahan malu. Membuat lelaki tersebut semakin gemas melihatnya.
Tawanya kini kembali tergelak, gadis itu pun menatapnya tajam seperti ingin segera mencekik leher lelaki di hadapannya.
"Kenapa sih ketawa mulu daritadi, emang ada yang lucu?" Tanya Nisa kesal.
"Ada," ujar Arga yang terlihat menahan tawa.
"Apa?" Tanya Nisa yang terlihat kebingungan.
"Lo lucu kalo pipi lo berubah jadi merah gitu mirip kepiting rebus," ujar Arga yang kembali tergelak tawa.
Seketika gadis bermanik biru itu pun langsung menutupi ronaan di pipinya menggunakan kedua tangannya.
"Arga ihh," rengek Nisa kesal seraya mencubit perut lelaki di hadapannya secara bertubi-tubi.
"Aww, sakit Sa," ringis Arga yang mendapat cubitan tanpa henti di perutnya.
"Makanya lo diem jangan ngetawain gue mulu !" Seru Nisa kesal seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Iya deh maaf, Sayang," ujar Arga lembut seraya menarik tubuh gadis tersebut ke dalam dekapannya.
Detak jantung yang berkontraksi dua kali lebih cepat dari biasanya. Sepasang tangan kekar yang memeluk tubuh mungilnya. Hembusan nafas pelan yang ia rasakan di pucuk kepalanya, yang mampu menghangatkan tubuh mungilnya.
Gadis itu pun memejamkan matanya di dalam dada bidang milik lelaki tersebut. Nyaman yang kini ia rasakan, tanpa enggan lagi untuk berkutik sedikitpun.
'Entah kenapa, hati gue selalu aneh saat berada di dekat lo. Yang jelas, gue merasa nyaman bersama lo,' batin Nisa yang membalas pelukan lelaki tersebut.
Hingga retina biru miliknya terbuka pelan, seketika ia melihat dua orang lelaki berbadan kekar sedang berjalan cepat membelakanginya.
Sontak gadis tersebut langsung melepaskan pelukannya secara gusar, membuat tubuh Arga terhuyung ke belakang. Gadis itu pun berlari kencang menuju ke arah dua preman tersebut.
Arga yang baru tersadar jika gadis itu sudah melesat jauh dari hadapannya, barulah ia beranjak untuk segera menyusul langkah gadis bermanik biru tersebut.
"WOY, KALIAN BERHENTI," teriak Nisa menjajarkan langkahnya ke kedua preman tersebut.
"Hei, bocah tengil nggak usah ikut campur lo," ujar salah satu preman tersebut yang melihat remeh ke arah gadis cantik tersebut.
"Balikin tas itu sekarang," titah Nisa yang mulai terlihat naik darah.
"Eh gadis kecil, mendingan lo pulang aja tidur sambil nonton TV di rumah sana. Lo mau kita bikin babak belur seperti temen lo yang songong itu," ujar preman tersebut seraya menunjuk ke arah Arga.
__ADS_1
"Untung lo perempuan, kalo lelaki pasti udah kita habisin dari tadi," lanjutnya yang tertawa remeh seperti mengejek kedua remaja tersebut.
"Cih, kagak usah banyak bacot kalian. Lawan gue sekarang," geram Nisa dengan emosi yang sudah meledak seperti ingin memakan hidup-hidup kedua preman tersebut.
"Sa, jangan cari masalah sama preman-preman itu," bisik Arga seraya mengenggam erat sebelah lengan gadis tersebut.
"Diem lo," sergah Nisa yang menepiskan tangannya secara kasar.
"Bro, kita di tantang sama anak kecil, hahaha," ejek preman tersebut yang menertawai gadis remaja di hadapannya.
Gadis itu pun hanya tersenyum kecut, melihat kedua preman bertubuh kekar yang sedang menertawainya. Retina biru miliknya yang telah memerah, akibat menahan amarah yang siap membuncah.
Hingga satu tangan kekar milik preman itu yang hendak mendorongnya, seketika ia menghindar dan mengkilir tangan preman tersebut.
Perkelahian terjadi sangat sengit, hingga harus membekaskan luka di sudut bibir gadis bermanik biru tersebut.
Seketika harus usai dikala gadis tersebut menginjak dada bidang milik salah satu preman tersebut dengan sebelah kakinya.
BUGHH!
"A-am-ampunn," lirih preman tersebut menahan sakit di dadanya.
"Balikin tas itu sekarang, dan jangan pernah gangguin ibu itu lagi !" Tegas Nisa seraya melepaskan cengkramannya kepada preman tersebut.
"Iy-iya ini neng," ujar preman tersebut yang menyodorkan sebuah tas seraya berlari ketakutan.
"Haha, rasain tuh jurus dari gue," ujar Nisa yang tertawa kemenangan seraya menatap kedua preman tersebut yang tengah berlari menjauh dari hadapannya.
Lelaki muda tersebut yang sedari tadi memperhatikannya, harus di buat tertegun tak percaya dan mengerejapkan matanya beberapa kali.
"Kenapa muka lo begitu?" Tanya Nisa yang kini telah berada di depan lelaki tersebut.
"Lo bisa silat?" Tanya Arga yang masih tidak berkedip sedikitpun.
"Ya nggak juga sih, tadi itu cuma_" Ucapan Nisa terpotong seketika lelaki tersebut menyanggahnya.
"Gila, lo keren banget. Gue nggak nyangka, ternyata cewek berisik seperti lo bisa silat juga," ujar Arga tak percaya.
"Ihh Arga apaan sih, seenaknya ngatain gue berisik," rengek Nisa tak terima.
"Tapi emang benar kan? Lo itu bawel, berisik, alay, konyol," ujar Arga yang tergelak tawa.
"Dasar makhluk nyebelin," raung Nisa seraya mencubit lengan lelaki tersebut.
"Aww, iya-iya ampunn," ringis Arga yang mendapati lengannya tengah memerah.
"Yaudah ayo pulang," ajak Nisa yang segera duduk di jok depan motornya.
"Lo menyetir lagi?" Tanya Arga.
"Iyalah, tangan lo kan lagi sakit. Jadi nggak mungkin bisa menyetir, yaudah cepetan naik gih," pinta Nisa seraya menghidupkan mesin motor yang di tumpanginya.
Lelaki itu pun hanya mengangguk, dan segera ia menaiki jok belakang motornya. Kini gadis bermanik biru tersebut telah mengendarai motor sport berwarna merah untuk kembali membelah jalanan tersebut.
Gadis itu pun memberhentikan motornya tepat di hadapan ibu paruh baya tersebut.
"Bu, ini tas milik ibu," ujar Nisa seraya menyodorkan tas tersebut.
"Terimakasih banyak ya, Nak. Karena kalian tas ibu kembali," balas ibu tersebut yang tersenyum simpul ke arah dua remaja tersebut.
"Sama-sama, Bu." kata Nisa yang tersenyum tulus.
"Yaudah ibu pulang dulu ya?" Pamit ibu tersebut seraya hendak berlalu dari hadapan mereka.
"Iya, Bu. Hati-hati," jawab Nisa sopan.
Kini, tinggalah mereka berdua yang masih tersisa. Keheningan meliputi keduanya, hingga gadis bermanik biru itu pun angkat bicara.
"Terus ini gimana?" Tanya Nisa yang terlihat bingung.
"Ya pulanglah," balas Arga santai.
"Gue juga udah tau kali," dengus Nisa kesal.
"Kalo udah tau, kenapa nanya," ujar Arga enteng tanpa beban.
"Arga ihh, kenapa sih lo nyebelin mulu?" Parau Nisa yang seperti ingin mencekik leher lelaki di hadapannya.
Sedangkan lelaki tersebut hanya mengangkat bahu acuh seraya berjalan mendekat ke arah motor sportnya. Ia pun mengkode gadis bermanik biru tersebut untuk segera menghampirinya.
"Jadi ini gimana?" Tanya Nisa yang merasa tak mengerti dengan kode lelaki tersebut.
"Lo anterin gue pulang," ujar Arga yang menatapnya datar.
"APA? LO BILANG APA?" Teriak Nisa yang terkejut.
"Cih, budeg lo," decih Arga yang enggan mengulangi ucapannya.
"Sembarangan aja lo," cibir Nisa tak terima.
"Yaudah cepetan anterin gue," pinta Arga kepada gadis tersebut.
"Ini kan motor lo, terus gue nanti pulangnya gimana dong?" Ujar Nisa yang terlihat kebingungan.
"Besok kan libur, jadi lo menginap di rumah gue aja," ujar Arga yang tersenyum nakal.
"Ihh ogah banget gue," sergah Nisa galak.
"Nanti gue kabarin Dimas untuk menjemput lo, sekarang anterin gue dulu," pinta Arga serius.
"Nggak mau, lo pulang sendiri sana," tegas Nisa yang menggeleng cepat.
"Tangan gue kan sakit, jadi lo harus anterin gue," ujar Arga memelas seraya menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Gue nggak mau," elak Nisa cepat.
"Lo harus mau,"
"Nggak,"
"Pokoknya harus,"
"Nggak,"
"Tangan gue sakit,"
"Bodoamat,"
"Anterin gue,"
"Ogah,"
"Lo mau anterin gue atau..." Arga menggantung ucapannya.
"Atau apa?" Tanya Nisa penasaran.
"Atau, gue cium lo," ujar Arga tersenyum licik.
"Coba aja kalo bisa," tantang Nisa tak peduli.
"Oke," singkat Arga.
Lelaki itu pun melangkahkan kakinya maju ke depan, membuat gadis tersebut terus memundurkan langkahnya. Hingga langkahnya harus terhenti dikala tubuhnya tengah terhadang oleh tiang yang ada di pinggir jalan.
"Iy-iya gue anterin lo pulang," ujar Nisa pasrah seraya mendorong tubuh lelaki tersebut ke belakang.
"Yaudah ayo naik," titah Arga seraya mengajak gadis tersebut untuk segera mengendarai motornya.
'Kalo bukan karena lo sakit, gue nggak akan pernah mau nganterin lo pulang,' batin Nisa yang terlihat kesal.
"Nisaa, ayo cepetan," teriak Arga tak sabaran.
Nisa pun mendengus kesal, "Iya sabar sebentar."
"Dasar lama !" Seru Arga tertawa jail.
"Biarin," ketus Nisa yang tampak acuh.
Dengan segera, gadis itu pun kembali mengendarai motor yang tengah di hadapannya tersebut.
****
"Jadilah orang yang bermanfaat. Jika tidak bisa, jadilah orang yang menyenangkan. Jika tidak bisa juga, jadilah orang yang tidak merugikan."
__ADS_1
~Aura Nisa Beautifalentina~