
"Bersihkan toilet bagian sini, gue akan tunggu di depan pintu," ujar Rio dingin seraya memperlihatkan tempat kepada gadis cantik tersebut.
Gadis tersebut hanya mengangguk paham pertanda mengerti akan penjelasan yang Rio berika. Tak lupa, ia selalu cengar-cengir tak jelas mengingat siapa yang tengah menemaninya saat ini.
Cukup lama Nisa membersihkan toilet tersebut. Merasa capek, ia pun memilih untuk istirahat sejenak. Namun, tiba-tiba ada keganjalan yang tengah menggeliat di ujung kakinya. Seketika ia menoleh ke bawah dan sontak ia terkejut dan menjerit kaget.
"ARRRGGGHHHH,"
"HUS MINGGIR MINGGIR, ARGHH," jerit Nisa histeris saat mendapati kecoa yang telah menggeliat di tepi kakinya.
Sementara Rio, yang sedari tadi berada di luar harus segera masuk ke dalam toilet guna mengetahui hal yang sebenarnya telah terjadi.
"Ada apa teriak-teriak gitu?" Tanya Rio panik.
"ITU KAK ADA KECOA, AKU TAKUT SAMA KECOA KAK TOLONG SINGKIKAN," jerit Nisa seraya berlari ke arah Rio dan sontak tanpa sadar memeluk lelaki tersebut dari belakang karena reflek.
Seketika Rio terkejut akan perlakuan gadis tersebut. Tetapi ia juga paham, karena gadis itu takut sama kecoa. Dan dengan segera ia membuang kecoa tersebut yang masih dengan posisi Nisa memeluk di belakang pinggangnya.
"Udah gue buang kecoanya, sekarang lo nggak usah takut dan segera kembali ke kelas," ujar Rio membalikkan tubuh gadis malang tersebut ke hadapannya.
"A-aku ta-takut kak," cicit Nisa lirih yang terlihat bergetar ketakutan.
"Udah, nggak usah takut lagi. Ada gue disini, kelas lo mana biar gue antarkan !" Seru Rio dengan lembut.
"Kelas XI-IIS kak," lirih Nisa yang terlihat masih menunduk.
"Udah jangan takut lagi, kecoanya udah nggak ada. Ayo, gue antar ke kelas lo," ajak Rio seraya menggandeng lengan kiri gadis malang tersebut.
Gadis itu pun hanya mengangguk, dan tak henti-hentinya ia tersenyum sumringah seraya diam-diam melirik lelaki yanga berada di sampingnya.
Sesampainya di depan kelas Nisa, Rio pun melepaskan cekalannya dan ingin segera undur diri dari hadapan gadis bermanik biru tersebut.
"Gue ke kelas dulu ya. Oh ya, nama lo siapa? Kita lupa belum kenalan tadi," ujar Rio yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Namaku Nisa kak," kata Nisa tersenyum kikuk dan menunduk malu.
"Oh, yaudah Nisa gue kembali ke kelas dulu ya. Dan lo segera masuk gih nanti dimarahin sama guru," jelas Rio menyuruh gadis tersebut untuk segera masuk ke dalam kelasnya.
"Iya kak, makasih ya," ujar Nisa tersenyum simpul. Rio hanya mengangguk dan berlalu pergi dari hadapan gadis tersebut.
****
Usai bercerita, gadis bermanik biru itu pun langsung menyandarkan bahunya ke belakang kursinya. Sembari menunggu respon dari ketiga temannya.
"Nisa lo nggak bohong kan?" Tanya Tina dengan polosnya.
"Enggak, ngapain juga gue bohong," balas Nisa enteng seraya menopang dagunya dengan jemarinya.
"Wah parah banget lo Nis, gila dah," pekik Clara yang terlihat masih melotot dan melongo menyimak cerita gadis bule tersebut.
"Iya nih, pasti lo bahagia banget kan?" Tambah Laras membenarkan.
"Yaiyalah gue bahagia, kan pangeran gue yang udah bikin gue jadi seperti ini," oceh Nisa dramatis.
"Serah lo deh," cibir Clara memutarkan bola matanya malas.
Cukup lama mereka berbincang-bincang dan bersenda gurau. Segala aktivitas yang bising nan gaduh, harus terhenti dan hening seketika dikala Sarah guru Bahasa Indonesia yang merupakan guru killer harus masuk ke dalam kelas XI-IIS 2.
"Pagi anak-anak," sapa Sarah judes.
"Pagi, Bu." Jawab mereka semua serempak.
"Hari ini ibu akan menerangkan tentang bab drama beserta unsur-unsurnya," ujar Sarah seraya menuliskan sesuatu ke papan tulis.
Semua murid tampak memperhatikan dengan serius, karena mereka takut apabila mendapatkan tatapan tajam serta hukuman dari guru killer tersebut. Lain halnya dengan Nisa, gadis itu terus melamun dan tidak memperhatikan penjelasan dari Sarah, guru killer tersebut. Ia lebih memilih untuk melamun.
Pandangan Sarah juga selalu tertuju kepada gadis bermanik biru tersebut yang berada di bangku belakang. Awalnya beliau membiarkannya, namun lama-lama Sarah juga merasa di kecewakan oleh tingkah gadis tersebut yang masih terus saja melamun dan mengacuhkan dirinya.
'Kok gue ngerasa aneh gitu ya sama si makhluk astral? Kenapa waktu dia gangguin gue, selalu aja gue merasakan ke ganjalan di hati gue. Dan sikapnya? Selalu tak bisa di tebak. Seperti tadi malam, dia tiba-tiba datang ke rumah gue hanya untuk mengembalikan cardigan gue yang ketinggalan? Hah aneh banget tau nggak.' Batin Nisa seraya terus melamun dan belum tersadar jika dirinya telah di tegur oleh Sarah.
Seketika Clara menyenggol bahu kanannya guna untuk segera menyadarkan lamunan dari gadis tersebut. Dan benar saja, kini ia telah tersadar kembali.
"Nisa, kamu tidak memperhatikan saya tadi. Terusin aja melamunnya sampai jam pulang nanti," tegur Sarah seketika.
"Saya memperhatikan kok bu, Ibu jangan seudzon dulu deh." Jawab Nisa santai.
"Hus, jangan gitu Nis, nanti kamu dihukum sama guru killer itu." ujar Clara berbisik karena takut jika Sarah turut mendengar ucapannya.
Nisa pun menelan silavanya, "Bagaimana dong, Clar? Gue takut nih."
"Oh jadi kamu memperhatikan? Coba sekarang kamu jelaskan lagi mengenai materi yang telah saya sampaikan barusan," pinta Sarah seraya duduk di bangku guru.
"Mampus gue," umpat Nisa pelan seraya menepuk jidatnya.
Gadis tersebut berjalan malas ke depan karena di suruh Sarah guna untuk menjelaskan materi yang telah ia sampaikan. Namun, penjelasannya sudah kalang kabut tak karuan karena ia sendiri juga tidak paham mengenai materi tersebut.
"Oke, saya akan menjelaskan kepada kalian mengenai materi kita hari ini karena di suruh sama bu Sarah yang cantik jelita," ujar Nisa seraya cengengesan melirik ke arah Sarah sebentar.
"Cepat ulangin penjelasan yang telah saya sampaikan tadi," titah Sarah judes seperti sedang menahan amarah.
"Iya iya sebentar, Bu." Ujar Nisa yang mulai membuka isi buku mengenai materi tersebut.
"Apakah kalian tau mengenai ekspresi? Ekspresi, itu seperti muka kita yang di selimuti oleh berbagai gaya." Jelas gadis tersebut seadanya.
"Mimik wajah, itu seperti kita berjalan terus ada serangga yang menempel di muka kita. Unsur batin, itu seperti hati kita yang merasakan keganjalan." Lanjutnya tanpa menyadari kalau penjelasannya semua salah.
Clara, Tina, dan Laras yang memperhatikan gadis tersebut dari belakang hanya bisa pasrah dan mengumpat beberapa kali.
"Pastinya Nisa akan di hukum sama bu Sarah deh," dengus Laras kasar sambil berbisik.
"Tau nih, apa dia nggak sadar sih kalo penjelasannya melonceng jauh," tambah Clara yang ikut jengah dengan kelakuan gadis tersebut.
"Dan untuk perasaan, kalian semua pasti sudah tau mengenai hal ini. Dan kalian juga pastinya memiliki perasaan masing-masing. Perasaan itu seperti suatu hal keganjalan yang terjadi pada lubuk hati kita yang terdalam juga terdapat orang yang kita cintai dan kita perjuangkan," jelas Nisa enteng tanpa dosa.
Semua murid bersorak-sorak yang membuat suasana kelas menjadi gaduh. Melihat hal ini, membuat Sarah yang sudah jengah dengan kelakuan Nisa, akhirnya beliau pun menyerah dan menyuruh gadis itu untuk segera meninggalkan kelas.
"WIDIH BUCIN," teriak Dodi si ketua kelas sambil memberikan tepuk tangan yang meriah dan diikuti oleh murid lainnya.
"Wih, Nisa pintar sekali deh !"
"Yeay kita merasa terhibur,"
PROK! PROK! PROK!
__ADS_1
"Terimakasih terimakasih," ujar Nisa bangga seraya memberikan kissbay kepada mereka semua.
"NISA SEKARANG KAMU KELUAR, IBU MUAK MELIHAT TINGKAH LAKU KAMU YANG SEPERTI INI," teriak Sarah yang terlihat sudah emosi, murid-murid pun langsung terdiam seketika karena takut hingga suasana kelas menjadi hening kembali.
"Loh kok keluar sih bu, kan saya sudah menjelaskan yang ibu suruh tadi," ujar Nisa bingung.
"YANG KAMU JELASKAN ITU SALAH SEMUA, SEKARANG KAMU KELUAAR," lagi-lagi Sarah berteriak marah dan menunjuk ke arah pintu dengan upaya agar gadis tersebut segera keluar dari kelas.
"Yaudah deh kalo itu yang ibu mau saya akan keluar," ujar Nisa pelan dengan memasang wajah memelas seraya menuju ke ambang pintu.
Sementara Sarah hanya mendengus kasar dan kembali menerangkan materi yang belum selesai tersebut.
"Baik, anak-anak kita lanjutkan materi kita lagi. Sekarang buka buku kalian halaman 78 !" Seru Sarah seraya bangkit dari duduknya dan mulai menjelaskan.
Retina biru miliknya yang terus saja menyusuri koridor sekolah, ia merasa tertawa kemenangan karena telah terbebas dari pelajaran guru killer tersebut yang baginya sangatlah membosankan.
"Yes, akhirnya gue keluar juga dari guru killer itu," ujar gadis tersebut saat sudah berada di depan kelas.
Ia pun berjalan gontai ke arah koridor sekolah seraya bersiul-siul. Namun, seketika ia melihat seseorang sedang duduk berdua bersama serta berbincang serius di taman layaknya sepasang kekasih. Lalu, ia pun memberhentikan langkahnya sejenak.
"Itu kan Arga, sama siapa dia? Siapa cewek itu?" Lirih Nisa seraya terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
Tanpa sadar, ia merasakan suatu ke ganjalan di lubuk hatinya yaitu seperti tersayat oleh pisau tajam.
"Kok hati gue jadi sakit gini sih, atau jangan-jangan gue...," Nisa menggantungkan ucapannya seolah berfikir seraya memegangi dadanya yang bergejolak.
"Gue suka sama Arga lagi," lanjutnya seraya masih terlihat memikirkan sesuatu.
"Ihh apaan sih nggak mungkin, gue itu sukanya sama kak Rio bukan si makhluk astral nyebelin yang suka gangguin hidup gue," paraunya menggeleng cepat seraya berlalu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terlihat berbincang-bincang serius.
Setelah kepergian gadis tersebut, rupanya sedari tadi Arga mengetahui jika Nisa berada jauh di depan matanya dan tengah memperhatikannya.
'Kenapa dia diluar? Apa dia tidak ikut pelajaran? Kan kelasnya juga ada gurunya? Tapi kenapa kok dia nggak masuk ke kelas dan malah keluyuran diluar?' Batin Arga seolah memikirkan sesuatu.
"Gue pergi dulu, Ka." ujarnya dingin pada sosok cewek di sebelahnya.
"Mau kemana lo, Ga?" Tanya gadis tersebut dengan name tag yang bernama Cika Violasari yang terlihat sedikit panik.
"Gue ada urusan," kata Arga dingin seraya berdiri dari duduknya.
"Tapi Ga, gue_" ucapan Cika terpotong dikala Arga sudah berlalu menjauh dari hadapannya.
****
Gadis bermanik biru tersebut kembali berjalan gontai keluar koridor sekolah, hingga seketika pandangannya tertuju kepada seseorang yang tengah bermain basket.
Seketika ia pun memberhentikan langkahnya seraya menatap sosok tersebut. Senyumnya mengembang sempurna dikala ia ingin menghampiri sosok yang tengah bermain basket sendirian.
"KAK RIO," panggilnya melambaikan tangannya seraya menghampiri sosok lelaki tersebut.
Sang empu yang merasa namanya terpanggil langsung menoleh kearah gadis yang tengah berlari menuju ke posisinya.
"Kak Rio, kakak sedang main basket ya? Aku boleh ikut nggak kak," sapa Nisa terengah-engah yang masih terlihat mengatur nafas.
"Nisa? Lo kok nggak masuk kelas? Kenapa malah berkeliaran diluar sini?" Tanya Rio bingung melihat sosok gadis yang berada di hadapannya.
"Aku dihukum sama bu Sarah kak, katanya aku disuruh keluar. Ya aku nurut aja deh," ujar Nisa tanpa rasa bersalah sedikitpun seraya memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi.
"Bandel juga lo ternyata," seru Rio mengacak rambut Nisa gemas.
Melihat perlakuan Rio barusan, seketika Nisa tertegun dan menjadi salah tingkah olehnya.
Rio tergelak tawa karena tingkah gadis tersebut yang begitu konyol dan menggemaskan. Baru kali ini dia menemukan sosok cewek yang konyol seperti Nisa.
"Kok ketawa kak? Ada yang lucu ya?" Tanya Nisa bingung seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Enggak kok nggak ada, yaudah ayo kita main basket. Emang lo bisa basket?" Tanya Rio yang masih terlihat menahan tawa.
Seolah gadis tersebut tampak berfikir !
"Nggak bisa sih kak sebenarnya, tapi aku lagi pengen main basket aja," ujar Nisa seraya menunduk dan memainkan jari jemarinya.
"Oh, mau gue ajarkan?" Tawar Rio kepada gadis tersebut.
Sontak Nisa tertegun dan tanpa berfikir sedikitpun langsung menerima tawaran dari lelaki tampan tersebut.
"Mau kak, mau banget." Balas Nisa yang mengangguk cepat seraya sedikit melompat kegirangan.
Rio kembali tergelak tawa karena melihat tingkah dan kelakuan gadis tersebut yang menurutnya sangatlah konyol.
Sedangkan Nisa, ia hanya kikuk dan tersenyum singkat. Perasaannya sangatlah bahagia sekarang karena dia mulai akrab dengan pangeran hatinya.
"Yaudah ayo mulai, ini gue tunjukin caranya ya. Pertama lo pegang bolanya seperti ini," Arah Rio seraya memberikan contoh kepada gadis tersebut.
"Kedua, lo lakukan dribling seperti ini," lanjutnya.
"Seperti ini kak?" Tanya Nisa memperlihatkan tangannya yang memegang sebuah bola.
"Bukan begitu, tapi seperti ini !" Seru Rio seraya memegang tangan Nisa untuk menunjukkan gerakan yang benar kepada gadis tersebut.
Tubuh Nisa bergetar, nafasnya memburu menahan gejolak di hatinya. Tak henti-hentinya ia menatap lekat wajah tampan milik lelaki di hadapannya.
"Dan yang ketiga, lo lempar dan masukkan bola itu ke ringnya," tunjuk Rio pada ring bola basket tersebut.
Dengan segera Nisa melemparkan bola tersebut ke ring basket. Namun, bola itu tidak masuk dan ternyata terkena pinggiran ring sehingga terdapat pantulan yang hendak mengenai kepala gadis tersebut.
Dengan segera, Rio menarik lengan Nisa hingga menyebabkan tubuh mungil gadis tersebut jatuh kedalam pelukannya. Tatapan mereka saling bertemu, hingga seperkian detik mereka baru tersadar dan dengan segera menjauhkan tubuh mereka masing-masing.
"Maaf kak," lirih Nisa pelan seraya menunduk.
"Nggak papa. Oh ya Nisa, gue ke kantin dulu ya, udah istirahat soalnya," pamit Rio kepada gadis yang masih menunduk di hadapannya.
"Iya kak," balas Nisa seraya berlalu menuju kelasnya dengan senyum yang melebar, membuat beberapa siswa tertegun akibat wajah manis milik gadis bermanik biru tersebut.
Tanpa sepengetahuan Nisa dan Rio, ternyata sedari tadi terdapat sosok mata hazel yang tengah memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
Urat-uratnya yang hampir keluar, tubuh berotot yang terbentuk sempurna, tatapan tajam mematikan yang siap menerkam siapa saja. Wajahnya yang merah padam akibat menahan amarah, harus sesekali mengumpat marah dan memukul pelan tembok di sebelahnya.
"Cih, sial," desisnya pelan.
****
"HAY GUYS AKU KEMBALI LAGI, ADA YANG KANGEN SAMA AKU NGGAK?" Teriak gadis cantik bermanik biru yang tersenyum lebar seraya berjalan ke dalam kelasnya dengan gaya ala-ala model.
__ADS_1
"Duh, Nisa lo udah gila ya !" Seru Laras kesal kepada gadis yang tengah berbahagia tersebut.
"Tau nih, senyum-senyum nggak jelas seperti orang gila. Mungkin efek dihukum bu Sarah tadi kali ya," ejek Clara yang diikuti gelak tawa oleh beberapa siswa yang masih berada di dalam kelas mereka.
"Ish apaan sih lo," ujar Nisa tak terima seraya menjitak kepala Clara.
"Aww, sakit tau," desis Clara sebal, Nisa hanya tertawa melihat ekspresi gadis tersebut.
"Eh kalian tau nggak?_" Ucapan Nisa terpotong.
"Nggak tau !" Sanggah Tina.
"Makanya dengerin dulu," lanjut Nisa yang terlihat kesal.
"Apaan?" Ketus Clara memutarkan bola matanya malas.
"Gue tadi diajarin basket sama kak Rio," pekik Nisa dengan manik birunya yang berbinar-binar.
Sontak mereka bertiga membulatkan mata tak percaya, dan harus tertegun karena perkataan dari gadis bule tersebut.
"YANG BENAR LO?" Teriak mereka bertiga serempak. Nisa mengangguk cepat membenarkan ucapan teman-temannya.
"Kok bisa?" Tanya Laras membenahi.
"Tadi waktu gue lagi jalan-jalan, tiba-tiba gue ngeliat kak Rio main basket dan akhirnya gue nyamperin dia. Trus waktu kita lagi bermain basket, gue salah masukin bola dan bola itu terpantul oleh pinggiran ring nya, yang akhirnya membuat kepala gue hampir tertimpa bola. Terus kak Rio langsung narik tangan gue hingga gue jatuh ke pelukan kak Rio. Tetapi gegara suara bel istirahat jadi kebuyar deh tatapan kita. Tapi nggak papa deh yang penting gue sangat bahagia hari ini," oceh Nisa tanpa jeda sedikitpun.
"Terus ekspresi kak Rio gimana?" Tanya Laras yang terlihat sudah sangat kepo.
"Ya sama terkejutnya seperti gue," ujar Nisa santai seraya melebarkan senyumnya.
"Dih gila benar lo Nis, eh tapi lo juga harus hati-hati. Karena Dara juga mengincar cintanya kak Rio dari dulu," Ujar Clara memperingati.
"Biarin aja, gue nggak takut tuh !" Seru Nisa membenarkan.
"Widih gila benar lo," cibir Clara tertegun.
"Tapi lo beneran suka sama kak Rio, Nis?" Tanya Tina yang sama kagetnya seperti mereka.
"Iyalah, gue emang cinta sama kak Rio," balas Nisa terlihat malu-malu.
"Yaudah deh, ayo ke kantin. Gue udah lapar banget !" Seru Laras seraya memegangi perutnya yang sudah keroncongan.
Seperti biasa, kantin tidak pernah sepi dari keramaian. Ke-empat gadis tersebut duduk disalah satu tempat yang ada di kantin.
Hingga suatu kejadian yang membuat mereka bertiga bingung, ketika mendapati sosok lelaki tampan yang keliatan begitu akrab dengan gadis bermanik biru seraya duduk di sebelahnya.
"Widih, lo sendirian aja Yon?" Tanya Nisa seketika lelaki tersebut duduk di sebelahnya.
"Iyalah, teman-teman gue lagi pada tidur di kelas. Ya gue kesini aja, toh gue juga lapar," ujar Dion enteng tanpa beban.
"Kenapa lo kagak ikutan tidur juga, Hahaha" ujar Nisa yang tergelak tawa dan diikuti oleh Dion.
"Lah kan gue lapar Sa, makan itu lebih penting daripada tidur mulu," Sanggah Dion yang masih tertawa bersama gadis tersebut.
Clara, Laras, dan Tina, hanya bingung kenapa Nisa begitu akrab sekali dengan Dion. Bahkan setahu mereka, Dion itu tipe orang yang paling sensitif terhadap perempuan.
"Nis, lo kenal Dion?" Tanya Clara bingung.
"Kenal dong, ini kan sahabat gue dari kecil," ujar Nisa seraya merangkul bahu Dion sebagai bukti ke akraban mereka berdua.
Sementara Dion, hanya tersenyum ke arah mereka.
"Dion kalo ketawa nambah ganteng aja sih," kata Tina dengan polosnya dan mendapat tatapan tajam dari teman-temannya.
"Hus, diem !" Seru Laras menginjak kaki Tina dan menyuruhnya untuk segera diam.
"Aduh, sakit Laras. Ngapain sih lo injek-injek kaki gue," rengek Tina jujur.
Sontak Clara, Laras, Nisa hanya menepuk jidat mereka masing-masing.
"Kalian pada kenapa sih?" Sambung Tina yang belum mengerti.
"Males ngomong sama si Lola seperti lo," ketus Nisa kesal seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.
Dion yang melihat ekspresi mereka hanya kembali tergelak tawa pelan.
"Sa, lo nanti pulangnya bareng sama gue lagi atau tidak?" Tanya Dion tiba-tiba.
"Nggak usah, gue seperti biasanya aja," balas Nisa santai.
"Yaudah kalo itu mau lo," ujar Dion menanggapi.
Tak terasa bel masuk sekolah pun berbunyi, hingga akhirnya para penghuni kantin segera kembali ke kelas mereka masing-masing untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
****
Kelas XI-IIS 2 mendapati jam kosong karena guru mereka sedang ada kepentingan mendadak dan hanya memberikan sebuah tugas kepada mereka.
"Wih enak banget kita jam kosong kuy," ujar Nisa seraya memakan cemilannya.
"Iyalah, untung gurunya nggak ada," kata Clara menambahi.
"Ayo mabar Free Fire kuy," ajak Nisa kepada teman-temannya.
"Yah, gue punyanya WormsZone, Nis?" Jawab Clara yang tampak mengeluh.
"Gue juga nih," tambah Laras.
"Iya gue juga," balas Tina yang juga ikut angkat bicara.
"Payah kalian, yaudah gue main sendiri aja," dengus Nisa kasar seraya memutarkan bola matanya malas.
"Lo nya aja yang mirip cowok," Ketus Clara pelan.
Seketika Nisa pun bertanya, "Lo bilang apa, Clar?"
"Nggak ada. Lo cantik banget mirip seorang princess !" Seru Clara yang sedikit kesal.
"Serius? Makasih Clara yang manis mirip mak lampir," ujar Nisa seraya merangkul bahu cewek yang berada di sebelahnya.
Clara hanya mendengus pelan, "Sebenarnya lo itu memuji gue atau menghina gue sih?"
Gadis bermanik biru itu pun hanya cengengesan tak jelas seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dengan segera, ia pun kembali menjalankan permainannya yang sempat tertunda sejenak.
****
__ADS_1
"Nyatanya, aku tidak takut jatuh cinta. Yang aku takutkan adalah orang yang telah ku cintai dengan begitu penuh, hanya mencintaiku dengan separuh."
~Aura Nisa Beautifalentina~