
Hujan membasahi setiap perkara yang dilaluinya. Gemuruh petir menyambar yang mengiringinya. Angin berhembus kencang menerpa bak mengejar sesuatu. Seperti diriku yang telah kehilangan sosok hadirmu !
Cuaca yang kurang membaik, terlihat seorang gadis cantik tengah terduduk ditepi ranjangnya. Pandangannya kosong lurus kedepan, tak henti-hentinya ia menatap hujan yang seperti sedang mengeluarkan amarah isi hatinya.
Penampilannya yang berantakan. Retina birunya yang terus mengeluarkan air mata, membuat pipi mulusnya pun kini tengah sembab. Hatinya seolah berkecamuk, pikirannya melayang entah kemana.
Hingga terdapat seorang lelaki seumuran dengannya, terlihat sedang memasuki kamar bernuansa pink miliknya seraya membawa sebuah mangkuk berisi sup hangat.
Kriett !
Terdengar suara pintu yang tengah diputar oleh seseorang. Lelaki itu pun berjalan perlahan mendekati adik perempuannya yang duduk termenung seraya memandang keluar jendela.
"Dek," Sapa Dimas pelan.
Namun, perkataannya tak dihiraukan oleh gadis tersebut. Seketika ia pun meraih pipi putih adiknya yang kini tengah sembab oleh air mata.
"Kamu kenapa? Daritadi kamu belum makan, nanti kamu bisa sakit !" Tutur Dimas seraya menatap lekat retina gadis itu yang terlihat basah oleh air mata.
"Aku nggak lapar," Ujar Nisa mengusap air matanya kasar.
"Sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Dimas yang terlihat khawatir.
"Cerita sama aku, Dek." Lanjutnya meyakinkan.
Seketika gadis itu pun langsung memeluk erat tubuh kakak lelakinya. Tangisnya kini pecah, ia butuh teman untuk mencurahkan segala isi hatinya.
"Abang, Hiks...Hiks.." Lirih Nisa seraya terisak tangis.
Merasa iba, Dimas pun mengelus pelan pucuk rambut adiknya, "Kamu kenapa, Dek?"
"Arga, Bang," Ujar Nisa yang terlihat masih memeluk tubuh kakak lelakinya.
"Kenapa dengan Arga?" Tanya Dimas yang terlihat kebingungan.
"Arga membenciku, dia memintaku untuk menjauhinya !" Jelas Nisa yang semakin terisak tangis.
Seketika Dimas pun melepaskan pelukannya dan terlihat memegang kedua bahu adik perempuannya. Ia tatapi lekat-lekat manik biru gadis tersebut seraya tersenyum.
"Apa kamu mencintai Arga?" Tanya Dimas tersenyum tulus.
"Aku masih belum yakin, Bang." Jawab Nisa yang terlihat masih ragu.
"Jika begitu, mengapa kamu bersedih saat Arga menjauhimu?" Tanya Dimas meyakinkan.
Terlihat gadis itu pun sedang berfikir. Bahkan, ia sendiri juga masih bingung terhadap apa yang kini telah ia lakukan !
"Dek, hati dan pikiran itu memang selalu beda pendapat. Kamu tidak bisa membohongi perasaanmu sendiri," Ujar Dimas seraya menyeka sudut air mata gadis tersebut.
"Sekarang lebih baik kamu makan dulu, setelah itu istirahat. Sini abang suapin !" Titah Dimas seraya menyuapkan sesendok makanan ke mulut adik perempuannya.
Dengan segera, Nisa pun membuka pelan mulutnya dan melahap makanan tersebut. Hingga tak terasa supnya kini telah ia habiskan.
"Sekarang kamu istirahat. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu bisa gila hanya karena mikirin cintanya Arga !" Seru Dimas seraya mencubit gemas pipi mungil adiknya.
"Abang ihh," Pekik Nisa yang terlihat tersenyum.
"Nah, gitu dong senyum. Itu sisa air matanya tolong segera dihilangkan ya?" Goda Dimas seketika.
"Apaan sih !" Raung Nisa tak terima.
"Lah, emangnya kamu mau jika mama sama papa tau soal masalah ini?" Tanya Dimas tertawa jahil.
"Enggak juga sih," Balas Nisa seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yaudah, sekarang kamu tidur. Ingat besok sekolah !" Pinta Dimas lembut.
Seketika gadis itu pun membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, tak lupa Dimas juga menyelimuti tubuh mungilnya.
"Abang pergi dulu ya?" Ujar Dimas mengecup dahi gadis tersebut.
Sementara Nisa hanya mengangguk dan mengamati tubuh kakak lelakinya yang telah menghilang dibalik pintu kamarnya.
****
Hari yang menjelang pagi, matahari pun mulai menampakkan sinarnya. Kicauan burung yang merdu, hembusan angin sejuk pagi hari. Menambah kesan damai bak curahan alam.
Di tengah bisingnya suara kendaraan berlalu lalang, terdapat seorang gadis yang tengah tertidur pulas disebuah kamar lantai dua. Suara alarm yang terus mengusiknya, harus ia matikan beberapa kali.
Hingga datanglah seorang wanita paruh baya, tengah menuju ke arah gadis tersebut, seraya membawakan segelas susu putih yang segar.
"Dek, bangun sudah pagi !" Tutur Ratna lembut.
"Nanti kamu terlambat sekolahnya," lanjutnya.
"Egh sst.." Gadis itu hanya mendesis tak jelas.
"Nisa, ayo bangun sayang." Ujar Ratna menggoyang-goyangkan tubuh gadis tersebut.
Namun, tak kunjung ada jawaban dari sang gadis, Ratna pun sedikit khawatir dan terlihat seperti memeriksa kondisi putrinya. Dan ternyata, gadis itu sedang demam !
"Yaampun Nisa badan kamu panas sekali. Mama akan antarkan kamu ke dokter," ujar Ratna panik seraya ingin segera melangkah keluar ruangan tersebut.
Namun, seketika ada yang menahan pergelangan tangannya !
"Jangan, Mah. Aku tidak apa-apa," lirih Nisa yang berusaha membuka matanya.
"Tapi badan kamu panas sekali, Nak." Ujar Ratna khawatir, "Nanti kamu bisa demam !"
"Tidak, Mah. Aku hanya kecapean," balas Nisa seraya tersenyum getir.
"Kalau begitu, mama akan panggil dokternya kesini ya?" Tanya Ratna meyakinkan.
"Iya,"
Dengan segera, wanita paruh baya tersebut segera menghubungi seorang dokter yang akan memeriksa putrinya.
Lalu, datanglah seorang lelaki tampan seumuran dengan Nisa. Mungkin hanya beda 1 tahun lah, terlihat sedang menghampiri mereka berdua dengan pakaian seragam yang telah rapi.
"Mah, Nisa_" Ucapan lelaki tersebut terpotong seketika.
__ADS_1
"Adikmu sedang sakit, dia tidak sekolah !" Sanggah Ratna cepat.
Lelaki tersebut yang tak lain adalah Dimas, harus mendengus pelan, "Yaelah, Mah. Aku baru aja ingin bertanya kok udah dipotong dulu."
"Udah sana kamu berangkat nanti kamu bisa terlambat !" Sergah Ratna yang terlihat mengusir lelaki tersebut.
"Aduh, Mah. Aku kesini itu mau menjemput Nisa untuk berangkat bareng," ujar Dimas yang terlihat sedikit kesal.
Seketika Ratna pun menatap putra sulungnya secara tajam seperti ingin segera melahapnya.
Sementara Nisa, ia hanya terkekeh geli melihat kelakuan mama dan kakaknya. Yang pagi-pagi sudah bikin ribut saja !
"Sudah berapa kali sih mama harus bilang kalau adik kamu itu sakit, tidak masuk sekolah dulu. Makanya, kalau punya telinga itu didengarkan," geram Ratna seraya menjewer telinga lelaki tersebut.
"Aww sakit, Mah !" Lirih Dimas memelas.
"Iya, Dimas minta maaf," ujar Dimas mendengus pasrah.
"Yaudah sana berangkat !" Titah Ratna.
"Nisa tadi kemana, Mah?"
"Mau dijewer lagi?" Tanya Ratna mengangkat kedua tangannya.
"Eh, enggak kok, Mah." Ujar Dimas cengengesan.
"Adik kamu sedang sakit !" Seru Ratna yang terlihat khawatir.
"Oh, sakit ya," kata Dimas mengangguk paham.
Selang beberapa detik, Dimas baru tersadar akan ucapannya.
"Hah? Sakit apa? Kok bisa? Nisa gimana keadaanmu?" Tanya Dimas panik seraya menuju ke arah gadis tersebut.
"Aduh, Dimas. Kamu jangan mengganggu adikmu, biarkan dia istirahat !" Sergah Ratna sedikit kesal.
Dengan segera, Dimas pun menaruh punggung tangannya ke dahi gadis tersebut. Seketika ia terbelalak kaget, dikala merasakan suhu tubuh adiknya yang sangat panas.
"Badan kamu panas sekali," lirih Dimas khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Bang." Balas Nisa tersenyum.
"Mah, kenapa Nisa nggak dibawa ke dokter aja?" Tanya Dimas kebingungan.
"Ini dokternya masih dalam perjalanan kesini," ujar Ratna.
Seketika Dimas pun mengangguk paham. Tak henti-hentinya ia memeriksa suhu tubuh adik perempuannya.
"Ini pasti gara-gara Arga, nanti aku akan bikin perhitungan sama dia !" Bisik Dimas tepat ditelinga gadis tersebut.
"Abang apaan sih. Jangan, Bang. Aku mohon," sergah Nisa yang terlihat memelas.
"Kita tunggu aja nanti," bisik Dimas tertawa jail.
"Abang ihh," pekik Nisa seraya mencubit lengan lelaki tersebut.
Membuat sang empu sedikit kesakitan. Ratna yang mendengar jeritan nyaring dari putri bungsunya, segera menghampiri kearah mereka berdua.
"Cepat kamu sekarang berangkat ke sekolah !" Lanjutnya seketika.
Dengan malas, akhirnya Dimas pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut guna menuruti ucapan dari wanita paruh baya tersebut. Tak lupa, jika ia beberapa kali harus mengguruti pelan karena sikap Ratna yang begitu menjengkelkan baginya.
Tetapi bagaimanapun, Ratna adalah seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang !
Cukup lama Perjalanan yang ditempuh oleh Dimas, akhirnya ia pun telah sampai ke area sekolah, tepatnya parkiran siswa. Lalu, ia keluar dari mobilnya seraya melangkah gontai.
Namun, langkahnya harus terhenti dikala terdapat sepasang mata hazel yang menatapnya dengan tatapan heran.
Dengan segera, ia pun berjalan mendekat kearah sosok tersebut yang tak lain adalah Arga sahabatnya !
"Woy, tumben lo hari ini berangkatnya siang? Biasanya shubuh pagi udah berangkat," ejek Dimas yang tergelak tawa.
"Kemarin gue susah tidur !" Balas Arga datar.
Seketika Dimas pun mengernyitkan alisnya bingung, "Kenapa bisa susah tidur?"
"Karena gue memikirkan_" Arga menggantung ucapannya seolah tampak berfikir.
"Tugas," lanjutnya cepat.
"Memikirkan tugas atau dia?" Goda Dimas seraya menyenggol pelan bahu lelaki tersebut.
Sementara Arga, ia sangat gugup untuk menanggapi ucapan Dimas. Bahkan, keringatnya pun sampai jatuh bercucuran ke rahang keras miliknya.
"Di-dia sip-siapa?" Tanya Arga gelagapan.
Tawa Dimas pun semakin meledak, "Jangan gugup begitu dong, kapten. Masih pagi tapi udah berkeringat, seperti habis dikejar sama hantu aja !"
Merasa tak ada jawaban dari lawan bicaranya, akhirnya Dimas pun mengajak lelaki tersebut untuk segera memasuki kelas mereka.
"Baiklah. Ayo kita ke kelas, kapten?" Ajak Dimas yang berusaha mencairkan suasana.
Seketika Arga pun hanya mengangguk dan ikut melangkahkan kakinya bersamaan dengan Dimas. Hingga sedari tadi ia pun seperti ingin menanyakan sesuatu perihal seseorang yang belum Arga temukan kehadirannya.
Sempat membuka mulut, kemudian ia urungkan lagi niatnya untuk mencari informasi tentang seseorang tersebut. Entah mengapa terasa sangat berat baginya !
"Dim," panggil Arga tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
"Iya, kenapa?" Tanya Dimas penasaran.
Saat ini, mereka tengah berjalan memasuki ruangan kelas mereka. Hingga Arga pun menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Seketika ia pun langsung ikut duduk disamping Dimas.
"Nisa kemana?" Satu lontaran kata yang berhasil lolos dari bibir Arga.
"Hari ini dia berangkat sekolah naik taxi lagi? Dan tidak bersama lo?" Lanjutnya seketika.
Sementara Dimas, ia pun langsung menoleh kearah lelaki tersebut secara singkat dan hanya sekilas.
"Dia tidak masuk sekolah !" Titah Dimas seraya tersenyum miring.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Arga yang terlihat kebingungan.
"Sakit," ujar Dimas singkat.
Merasa khawatir, seketika Arga pun melontarkan berbagai pertanyaan mengenai kondisi gadis tersebut. Apakah Arga masih mencintai Nisa? Entahlah, mungkin dia hanya simpati belaka.
"Kok bisa? Sakit apa? Bagaimana kondisinya sekarang? Udah dibawa ke dokter kan?" Tanya Arga yang merasa khawatir.
"Memangnya kenapa? Lo kok terlihat cemas begitu?" Ujar Dimas yang kembali bertanya.
Arga diam tak bergeming, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Udah, jangan bohong lagi. Kalau lo memang masih sayang sama Nisa, lo harus perjuangkan dia. Jangan disia-siakan, nanti ujungnya lo bisa menyesal !" Tutur Dimas yang terlihat menyemangati lelaki tersebut.
"Sebenarnya gue memang masih sangat menyayangi Nisa, tapi dia udah bikin gue merasa kecewa," balas Arga seketika.
"Kecewa? Maksud lo?" Tanya Dimas heran.
Seketika Arga pun tersenyum miring, ia enggan menanggapi ucapan dari sahabatnya tersebut. Lalu, ia pun menelungkupkan wajahnya diatas meja.
Lain dengan Dimas, ia merasa kebingungan atas sikap Arga saat ini. Bahkan, guru sudah datang dan mengajar sedari tadi. Namun, lelaki tersebut tak kunjung terbangun pula. Tidurnya seolah semakin pulas.
"Arga kenapa ya?" Lirih Dimas pelan.
Dengan segera, Dimas pun kembali memperhatikan kearah papan tulis guna mencatat tulisan yang telah diberikan oleh sang guru tersebut.
****
Tak terasa bila sore hari pun telah tiba. Disebuah kamar mewah yang bernuansa pink, menampakkan sesosok gadis yang terlihat baru saja terbangun dari tidurnya.
Dengan upaya yang gigih, gadis itu pun dapat berdiri dengan tegap dan hendak turun kebawah guna mencari sebuah makanan, tepatnya perutnya saat ini memang sedang keroncongan.
Sedari tadi, ia habiskan waktunya untuk tidur seharian. Bahkan, ia melupakan jika dirinya belum memakan sesuap nasi atau roti sedikitpun. Hanya sekali saja pada waktu pagi hari, itu pun rotinya tidak ia habiskan.
Tanpa berfikir lagi, akhirnya gadis itu pun mulai melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar kamarnya. Namun, seketika kepalanya terasa sangat sakit dan berkunang-kunang.
"Aduh, kepalaku rasanya sangat pusing sekali !"
Tak kuat menahan bobotnya sendiri, gadis bermanik biru itu pun hendak jatuh ke lantai. Tetapi, terdapat sebuah tangan kekar yang menahan tubuhnya. Hingga ia pun tidak sampai tersungkur ke lantai.
Perlahan, ia pun membuka matanya. Seketika ia terkejut dikala mengetahui siapa yang sedang membopong tubuhnya untuk dibaringkan diatas ranjang kini !
"Kamu mau kemana? Jika belum sehat, sebaiknya jangan jalan-jalan dulu," ujar lelaki tersebut yang terlihat khawatir.
"Aku lapar!? Aku mau ke dapur untuk mengambil makanan, Bang." Jawab Nisa dengan suara sedikit melemah.
Dimas pun mengelus kepala adiknya lembut, "Sebentar, akan aku ambilkan."
Setelah mendapat anggukan dari adiknya, Dimas pun segera keluar dari ruangan tersebut dan menuju dapur guna mengambilkan makanan untuk adiknya.
Cukup lama Nisa menunggu, akhirnya lelaki tersebut yang tak lain adalah kakaknya, segera menuju kearahnya dengan membawa semangkuk makanan berisi soto ayam dan segelas susu segar yang masih terlihat hangat.
Dengan segera, Dimas menyuapkan sesendok demi sesendok kedalam mulut gadis tersebut yang memakannya dengan lahap.
"Bang, kok udah pulang?" Tanya Nisa disela-sela makannya.
"Hm, pulangnya kan memang jam segini?!" Balas Dimas datar.
"Bukannya jam empat ya, Bang? Ini kan masih siang?" Tanya Nisa heran.
"Itu, lihat sudah jam berapa," ujar Dimas melirik sebuah jam dinding yang berada didepannya.
Seketika Nisa pun menoleh kearah tersebut, dan betapa terkejutnya ia dikala melihat jam itu sudah menunjukkan jam setengah lima lebih sepuluh menit. Hey, bagaimana hari bisa terlihat seperti masih siang !
Mungkin karena terkejut, sontak ia pun tersedak makanan dan terbatuk-batuk. Merasa cemas, Dimas langsung memberikan segelas susu hangat kepada gadis tersebut.
Dengan segera, Nisa meraih segelas susu tersebut lalu meneguknya hingga tandas tak tersisa.
"Makanya kalau sedang makan itu jangan sambil bicara, jadi begini kan akibatnya?" Tutur Dimas yang merasa jengah.
"Maaf, Bang. Aku khilaf," ujar Nisa seraya memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi.
"Hm, gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Dimas mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah lebih agak membaik," balas Nisa tersenyum simpul.
Seketika Dimas pun ikut tersenyum, "Besok sudah bisa bersekolah?"
"Iya, Bang."
Mendengar jawaban dari gadis tersebut, Dimas merasa sangat lega jika adiknya kini telah sembuh dan keadaannya pun mulai membaik.
"Bang, Arga ngapain tadi?" Tanya Nisa seraya menundukkan kepala.
Seketika Dimas pun langsung menoleh kearah gadis tersebut.
"Ya, seperti biasa. Memang kamu pernah mengecewakan Arga?!" Titah Dimas berhati-hati.
"Kecewa? Maksudnya?" Tanya Nisa tak mengerti.
Dimas hanya mengangkat bahunya acuh, "Ya, begitulah."
"Memangnya Arga mengatakan sesuatu?" Tanya Nisa yang terlihat cemas.
Seketika Dimas tampak diam, seolah terlihat berfikir sejenak.
"Enggak juga sih !" Seru Dimas seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Yaudah, kalau begitu abang keluar dulu ya?" Pamit Dimas seketika.
Nisa pun hanya mengangguk pertanda mengerti akan ucapan kakaknya. Merasa direspon, dengan segera Dimas langsung berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian Dimas, gadis itu pun merasakan ada keganjalan yang mungkin sedang terjadi. Padahal, sehari saja tak bertemu. Tetapi ia sudah merasakan rindu yang mendalam kepada sosok lelaki yang menjadi kapten basket tersebut.
"Arga, gue rindu sama lo?!"
Tanpa terasa, air matanya pun ikut keluar membasahi pipi mulusnya serta wajahnya yang tengah sembab . Hingga hidungnya pun kini telah memerah seperti tomat akibat tangisannya itu.
*****
__ADS_1
"Suatu saat, kamu akan melihat kebelakang. Saat kamu menemukan penyesalan yang manis, kamu akan melihat duka dan hati yang hancur. Tetapi pada akhirnya hidupmu akan berubah."
~Aura Nisa Beautifalentina~