Love Young People

Love Young People
Perubahan sikap.


__ADS_3

Pagi yang indah, mentari yang tengah bersinar cerah dari balik lembah. Terlihat seorang gadis cantik yang memiliki manik mata biru, sedang berjalan gontai menelusuri koridor sekolah.


Hari ini, gadis itu berangkat lebih awal dari biasanya. Bahkan, ia berangkat sendiri tanpa di temani oleh kakak lelakinya. Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini !


Cukup lama ia berjalan, akhirnya ia pun tiba di sebuah kelas yang lumayan sepi. Tak lain adalah kelasnya sendiri. Saat gadis tersebut ingin segera menduduki tempatnya, seketika terdapat sebuah tangan yang tengah menempel di punggungnya. Sontak gadis itu pun terkejut.


"Arghh," jerit Nisa terkejut.


"Kalian ini, ngagetin aja !" Dengus Nisa yang terlihat kesal.


"Maaf," ujar Clara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Untung aku nggak terlalu kaget amat !" Sergah Nisa malas.


"Eh, Nisa. Tumben lo pagi-pagi begini udah datang?" Tanya Laras penasaran.


"Gue kan setiap hari juga selalu pagi berangkatnya," ujar Nisa yang terlihat sibuk merapikan bangkunya.


Sontak Clara pun berbicara jengah, "Pagi tapi kok sering terlambat."


Gadis bermanik biru itu pun hanya menyengir tak jelas seraya terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tak terasa, cukup lama mereka berbincang-bincang. Seketika bel masuk pun berbunyi, pertanda jam pertama pelajaran tengah di mulai.


"Udah bel masuk, kalian duduk dibangku masing-masing !" Tutur Nisa seraya mengeluarkan buku catatan biologinya.


"Dih, tumben lo bijak," cibir Laras tersenyum kecut.


"Iya lah, gue itu selalu bijak dan cerdas !" Ujar Nisa percaya diri.


Tina pun bertanya bingung, "Nisa, kamu bajak akunnya siapa?"


Seketika mereka bertiga pun menepuk jidat masing-masing dan menatap Tina sinis seolah ingin segera memakan gadis lugu tersebut.


"TINAAA !" Teriak mereka bertiga serempak.


Suasana seisi kelas yang sebelumnya terlihat gaduh, harus hening dan bungkam seketika mendengar teriakan nyaring mereka. Hingga keempat kawanan gadis itu pun menjadi tontonan sekilas oleh teman sekelasnya.


"Kenapa? Ada yang salah ya?" Tanya Tina dengan polosnya.


"Kapan sih, lo kalau diajak bicara bisa nyambung?" Ujar Nisa gemas yang berucap seperti dramatis.


"Capek kita ngomong sama lo," tambah Clara yang terlihat sedikit kesal.


"Memangnya aku kenapa?" Tanya Tina yang belum mengerti.


Nisa pun mendengus dramatis, "Aduh, Tina. Bolehkah aku mencekik lehermu?"


"Sudah-sudah. Tina, ayo duduk ke bangku kita sebelum bu Sri datang !" Seru Laras melerai.


Gadis itu pun hanya mengangguk tanpa enggan untuk berkata-kata lagi. Ia tak mau, jika teman-temannya marah lagi kepadanya.


Hingga tak berselang lama, guru biologi mereka yang kerap dipanggil Sri, seketika datang ke kelas mereka guna untuk segera melaksanakan kegiatan belajar mengajar.


Tiga puluh menit telah berlalu, waktu istirahat pun telah tiba. Semua murid terlihat sibuk mengisi perut masing-masing. Tak heran jika mereka selalu mengantri secara berdesak-desakan di kantin yang tak pernah sepi tersebut.


"Ayo ke kantin !" Ajak Clara yang terlihat sudah tak sabar.


"Ayo," balas Laras bersemangat.


Disaat mereka hendak pergi ke sebuah kantin, seketika langkah mereka terhenti tepat di depan pintu keluar dikala baru menyadari jika keberadaan gadis bermanik biru itu tidak ada diantara mereka. Lantas, kemana kah gadis tersebut?


Clara pun celingukan mencari keberadaan sosok tersebut. Hingga matanya pun tertuju kepada seorang gadis cantik yang tengah tersenyum seperti sedang membayangkan sesuatu.


"Woy, Nisa. Kita udah nunggu daritadi, lo malah cengar-cengir nggak jelas disitu !" Sergah Clara seraya menghampiri gadis tersebut.


"Kalian duluan aja, nanti gue menyusul," ujar Nisa yang masih tersenyum.


"Mau kemana lo?" Tanya Clara penasaran.


"Dih, kepo !" Seru Nisa tertawa seraya berlalu keluar kelas.


Sementara Laras dan Tina, yang sedari tadi menunggu di luar kelas. Merasa bingung, dikala melihat seorang gadis bermanik biru yang tengah keluar kelas seraya tersenyum manis yang mampu membuat mereka terpana. Memang benar, gadis itu sangatlah cantik !


Hingga Clara pun keluar dengan ekspresi sedikit kesal yang membuat mereka berdua heran seketika.


"Kenapa lo?" Tanya Laras heran.


"Dan, Nisa. Dia mau kemana?" Lanjut Laras.


Clara pun mendengus pelan, "Tidak tau. Dia nggak kasih tau ke gue."

__ADS_1


"Udah, ayo ke kantin !" Ajak Tina yang terlihat lesu.


"Iya," balas Laras seraya berlalu pergi dan diikuti oleh mereka berdua.


****


Gadis bermanik biru itu pun terlihat sedang berjalan menyusuri berbagai kelas yang terpapar di area sekolah tersebut. Sesekali ia pun celingukan seperti tengah mencari keberadaan seseorang.


Hingga langkahnya pun terhenti, dikala terdapat sebuah cekalan tangan yang mendarat di pergelangan gadis tersebut.


"Hay !" Sapa seorang lelaki yang tengah memegang pergelangannya.


Merasa terkejut, gadis itu pun langsung menoleh ke belakang. Tatapannya pun bertemu dengan sosok lelaki tersebut.


"Kak Rio. Aku kira siapa," dengus Nisa pelan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rio seraya tersenyum manis.


Seketika gadis itu pun tampak berfikir sejenak.


"Mau ke kelasnya abangku kak," balas Nisa kikuk.


"Kamu punya kakak disini?" Tanya Rio penasaran.


"Iya," balas Nisa singkat.


Entah mengapa, sekarang ini Nisa sangat canggung bila bersama Rio. Padahal, dulu ia selalu mengejar cintanya Rio dan pantang menyerah untuk terus berdekatan dengannya.


Namun, untuk saat ini. Gadis itu merasa jika berada di samping Rio, pria idamannya. Ia terlihat biasa saja dan tak ada perasaan aneh dalam hatinya.


Berbeda jika ia sedang bersama Arga, ia akan selalu merasakan gejolak aneh di hatinya. Apakah Nisa mulai menyukai Arga? Pria yang senantiasa dijulukinya sebagai kulkas berjalan?


"Yaudah, ayo aku antarkan sekalian !" Ajak Rio kepada gadis tersebut.


"Em, tidak usah kak. Kebetulan aku mau kembali ke kelas," ujar Nisa kikuk.


"Ini kan masih jam istirahat, bagaimana kalau kita ke taman belakang saja?" Tanya Rio yang terlihat menawar.


"Tidak, kak. Aku mau ke kelas saja !" Elak Nisa cepat.


Rio pun berusaha membujuk, "Ayolah, kita berbicara sebentar saja. Ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu."


"Hey, kenapa melamun? Ayo kita kesana sekarang," ajak Rio seraya melambaikan tangannya.


"Tapi_" Ucapan Nisa terpotong.


"Udah, ayo. Jangan kelamaan mikirnya !" Sergah Rio yang terlihat menggandeng pergelangan tangan gadis tersebut.


Mereka pun berjalan melewati para siswa-siswi yang terlihat berlalu lalang di depan mereka. Hingga mereka telah sampai di tempat tujuan, yakni taman belakang sekolah.


Seketika gadis itu pun segera melepaskan genggaman mereka, membuat Rio terkejut dengan tingkahnya.


"Kita duduk disini saja ya?" Tanya Rio memastikan.


Sementara Nisa hanya mengangguk dan enggan untuk menjawab perkataan lelaki tersebut. Ia merasa sangat canggung sekarang ini, mungkin karena ia jarang bertemu Rio akhir-akhir ini.


"Nisa, aku mau bilang sesuatu sama kamu !" Ujar Rio to the point.


"Bilang apa kak?" Tanya Nisa heran.


Seketika Rio pun menggenggam kedua tangan mungil milik gadis tersebut. Lalu, Rio pun mendekapnya ke dalam dada bidang miliknya. Tak lupa, ia selalu tersenyum kepada gadis di hadapannya yang terlihat kebingungan.


"Aku suka sama kamu," ujar Rio lembut.


"Maukah kamu menjadi pacarku?" Lanjutnya seraya mempererat genggamannya.


Seketika gadis bermanik biru itu pun membulatkan matanya sempurna, ia tak percaya jika Rio akan mengatakan hal itu. Ini benar-benar di luar dugaannya !


Dengan segera, gadis itu pun tersenyum kepada lelaki yang berada di hadapannya. Ia tatapi lekat manik mata lelaki tersebut. Bahkan, ia masih terlihat ragu jika sang pujaan hatinya juga merasakan hal yang sama dengannya.


Hingga Nisa pun menarik napas panjang. Lalu, setelah merasa dirinya siap, ia pun segera melontarkan sebuah kata guna menjawab pertanyaan dari lelaki tersebut. Apakah Nisa akan menerima cintanya Rio untuk menjadi kekasihnya?


"Jujur, aku juga suka sama kak Rio !" Lirih Nisa seraya tersenyum manis.


Merasa bahagia jika perasaannya telah terbalaskan, Rio pun seketika tersenyum kemenangan.


"Tetapi, rasa sukaku hanya sekedar kagum saja sama kak Rio," ujar Nisa yang terlihat melepaskan dekapan tangan lelaki tersebut.


"Dan bukan cinta !" Lanjut Nisa seraya berlalu pergi dari hadapan lelaki tersebut.


Sontak Rio pun terbelalak kaget, ia tak percaya jika gadis itu akan menolaknya. Seketika amarahnya pun meledak, terlihat ia sedang memukul bangku taman dengan lumayan keras.

__ADS_1


"Sial, baru kali ada cewek yang berani menolak cinta gue," murka Rio yang terlihat sedikit frustasi.


"Gue nggak akan biarin dia lolos begitu saja. Bagaimanapun caranya, dia harus tetap jadi milik gue selamanya !" Lirih Rio seraya tersenyum kecut.


****


Terlihat seorang gadis yang tengah berjalan cepat melewati koridor sekolah. Sesekali ia terus merutuki dirinya sendiri dikala sedang membayangkan kejadian yang baru saja menimpanya.


Mungkin karena kurang fokus terhadap jalanan di depan, gadis itu pun terlihat menabrak punggung seseorang yang berada dihadapannya.


"Maaf, aku nggak sengaja !" Ujar Nisa pelan seraya terus meminta maaf kepada seseorang tersebut.


"Hm," balas sosok lelaki tersebut.


Merasa tak asing lagi dengan suara deheman lelaki tersebut, segera gadis itu pun mendongakkan kepalanya guna ingin mengetahui siapa yang tengah ditabraknya.


"Arga !" Satu lontaran kata berhasil keluar lolos dari bibir Nisa.


"Kebetulan gue daritadi sedang mencari lo," ujar Nisa yang terlihat tersenyum malu.


Namun, lelaki tersebut yang tak lain adalah Arga. Hanya mengacuhkannya dan enggan menjawab perkataannya. Bahkan, ia hendak pergi meninggalkan gadis tersebut.


"Eitss, lo mau kemana?" Tanya Nisa yang terlihat menahan sebelah tangan kekar dihadapannya.


"Bukan urusan lo," ujar Arga dingin seraya menghempaskan tangan mungil gadis tersebut secara kasar.


Seketika Nisa pun meringis kesakitan, "Aduh, lo kenapa sih? Tiba-tiba jadi kasar begitu."


"Nanti kalau tangan gue patah bagaimana?" lanjut Nisa yang terlihat kesal.


"Gue nggak peduli," balas Arga datar seraya berlalu dari hadapan gadis tersebut.


Dengan segera, Nisa pun berlari mengejar Arga yang tengah menjauh dari hadapannya. Ia sedikit kewalahan ketika harus menjajarkan langkahnya dengan langkah Arga yang sangat lebar menurutnya.


"Arga, lo kenapa sih?" Tanya Nisa tak mengerti.


Namun, lelaki tersebut tak mengubris perkataan Nisa. Ia bahkan terus berjalan tanpa enggan untuk berhenti.


"Gue salah apa sama lo?" Tanya Nisa heran.


Lagi dan lagi, lelaki tersebut tak menjawab pertanyaannya.


"Oke, gue minta maaf kalau punya salah sama lo. Tapi please, jangan acuhkan gue !" Ujar Nisa memelas.


"Arga ihh," pekik Nisa seraya menarik pergelangan tangan lelaki jangkung tersebut.


"LO BISA DIAM NGGAK?" Teriak Arga yang di penuhi oleh amarah.


"KENAPA LO TERUS SAJA MENGUSIK KETENANGAN GUE?"


"BELUM PUAS LO BIKIN GUE SEPERTI INI?"


"APA YANG LO MAU?


"PERGI LO SEKARANG DARI HADAPAN GUE !" Usir Arga yang terlihat lantang.


Sementara gadis tersebut yang sedari tadi hanya diam mematung, tak berani lagi untuk berkata-kata. Retina birunya yang terlihat seperti menahan cairan bening dipelupuk matanya, tubuhnya yang bergetar hebat seolah tak mampu menahan bobotnya sendiri. Takut, itulah yang ia rasakan saat ini !


Sekarang, ia telah mengetahui sisi sebenarnya dari diri Arga. Ia tak percaya, jika Arga akan membentaknya seperti itu.


"Kenapa lo diam begitu? Takut?" Tanya Arga seraya tersenyum miring.


Arga pun mendekatkan kepalanya tepat di telinga gadis tersebut.


"Jangan pernah lo gangguin gue lagi. Lebih baik, lo menjauh dari kehidupan gue !" Tegas Arga seraya berlalu pergi dari hadapannya.


Deg !


Mengapa disaat Arga mengatakan hal itu, hati Nisa merasa sangat sakit. Tanpa sadar, cairan bening yang sedari tadi ditahannya harus lolos begitu saja dari pelupuknya dan membasahi pipi mulusnya.


Tak henti-hentinya gadis itu memegangi dadanya yang terasa sakit. Bahkan, ia juga merasa kehilangan akan kepergian sosok Arga tersebut.


"Apakah gue telah mencintai Arga?" Lirihnya pelan.


Seketika tubuh mungilnya pun merosot ke lantai. Tangisnya pecah sekarang ini, beruntung koridor tersebut tengah sepi. Jadi, tidak ada siapapun yang mengetahui begitu rapuhnya gadis tersebut !


****


"Saat cinta datang padaku, aku sambut dia dengan senyuman. Saat cinta menyapa diriku, aku sambut dia dengan hati yang gembira. Saat cinta melukai hatiku, aku fikir inilah pengorbanan. Dan saat cinta pergi, aku relakan dia dengan caci makian dan penyesalan karena telah mencintainya.


~Aura Nisa Beautifalentina~

__ADS_1


__ADS_2