Love Young People

Love Young People
Getaran hati.


__ADS_3

"Masuk !" Titah sosok lelaki tersebut secara dingin.


Tanpa berfikir lagi, akhirnya Dimas pun segera melangkahkan kakinya untuk segera memasuki rumah tersebut.


Namun, langkahnya seketika terhenti dikala ia baru tersadar kalau pemilik rumah tersebut beserta adik perempuannya belum juga masuk ke dalam rumah.


Retina biru milik sang gadis yang terlihat menatap ke sosok sepasang mata yang berada di hadapannya. Hingga tak terasa jika sebelah tangan gadis tersebut terulur pelan ke sebuah pipi berahang keras milik lelaki tampan tersebut.


"Ehem," dehem seseorang dari belakang mereka yang tak lain adalah Dimas.


Seketika tatapan mereka pun langsung teralih ke sumber suara tersebut.


"Ciee, kelihatannya gue akan jadi obat nyamuk nih !" Sindir Dimas melirik keduanya sekilas.


"Abang ihh, apaan sih?" Ketus Nisa galak.


Mungkin karena terlalu kesal, gadis bermanik biru itu pun langsung memasuki rumah tersebut, dan ia tak menyadari jika itu bukanlah rumahnya. Padahal pemilik rumahnya masih berada di pintu luar.


"Lah main nyelonong aja itu bocah !" Ujar Dimas kebingungan.


Sementara Arga, ia hanya mengangkat bahunya acuh seraya segera memasuki rumahnya tersebut.


Tak henti-hentinya, ia pun tersenyum sekilas dikala melihat gadis cantik itu yang tengah membaca sebuah majalah di ruang tamunya.


"Cantik," ujar Arga pelan seraya tersenyum.


"Woy, Captain. Gue kok di tinggalkan sendirian di luar," teriak Dimas.


Lagi dan lagi, momen indahnya harus kacau hanya gara-gara Dimas yang terus merusaknya.


"Lebay, udah ayo kerjakan tugasnya !" Sergah Arga seraya berlalu menuju ruang keluarga.


"Kenapa marah? Salahku apa ya?" Gumam Dimas yang terlihat tampak berfikir.


Merasa tak mengerti, akhirnya Dimas pun menghampiri adiknya yang terlihat serius membaca sebuah majalah.


"Dih, serius sekali !" Sapa Dimas seraya duduk di sebelah gadis tersebut.


Sementara Nisa pun hanya berdehem, "Hm."


"Bang, aku boleh tanya sesuatu nggak?" Tanya Nisa serius.


"Boleh," ujar Dimas.


Gadis itu pun celingukan yang terlihat seperti sedang mencari keberadaan seseorang.


"Sini, Bang. Dekatkan telinga abang !" Pinta Nisa yang terlihat berbisik.


Dengan segera, Dimas pun menuruti ucapan gadis tersebut guna mengetahui akan lontaran sebuah kata yang ingin di tanyakan oleh adiknya.


"Arga itu udah memiliki pacar atau belum?" Tanya Nisa berbisik tepat di telinga kakak lelakinya.


"Kalau di lihat dari tampangnya sih sepertinya belum !" Seru Dimas yang ikut berbisik.


"Tapi waktu itu aku sempat melihatnya di taman belakang bersama dengan seorang cewek," kata Nisa berbisik.


Dimas pun seolah berfikir, "Abang nggak sepenuhnya tau juga sih. Kenapa memang?"


"Ya tid-tidak apa-apa sih," ujar Nisa gelagapan.


Gadis itu pun segera membuka majalahnya kembali guna mengalihkan pembicaraan mereka. Merasa gelisah, ia juga tak sadar jika majalah yang sedang di bacanya ternyata terbalik.


"Jangan bilang kalau kamu mulai menyukai Arga !" Selidik Dimas mengangkat jari telunjuknya.


"Tidak akan pernah," Tegas Nisa sedikit gugup.


Sepasang mata milik Dimas pun mengamati secara detail dan teliti akan sikap gadis bermanik biru tersebut.


"Ken-kenapa liatin aku sep-seperti itu?" Tanya Nisa gugup.


Namun, tak kunjung ada jawaban dari Dimas. Lelaki tersebut malah menatap adiknya dengan tatapan penuh selidik.


"Udah aku bilang, aku nggak suka sama Arga !" Seru Nisa sedikit berteriak.


"Siapa yang tanya begitu?" Ujar Dimas menahan tawanya.


"Ya walaupun belum bilang. Aku tau kalau abang mau tanyakan soal itu," ketus Nisa memutarkan bola matanya sinis.


"Tidak, abang tidak ingin menanyakan soal itu !" Seru Dimas dengan tawa membuncah.


"Lalu?" Tanya Nisa kebingungan.


"Abang cuma mau bilang, kalau majalah yang kamu baca itu terbalik," ujar Dimas yang tergelak tawa.


Seketika retina biru milik gadis tersebut melebar, ia terkejut. Keringatnya bercucuran dari pelipisnya, ia juga tengah menggigit pelan bibir bawahnya. Ronaan di pipinya yang terlihat memerah, membuat sang empu sangat gugup.


Dengan segera, gadis itu pun membalikkan majalahnya. Ia merasa sangat malu. Ia yakin, jika kakaknya semakin curiga akan perasaannya.


"Kalau mau bohong boleh aja dek. Tetapi kamu juga harus lihat situasi dong," ujar Dimas yang menjahili adiknya.


"Abang ihh," pekik Nisa kesal yang menonjok bahu kanan kakak lelakinya.


Di saat mereka tengah asyik bercanda ria, seketika terdengar suara bariton lelaki yang menuju ke arah mereka.


"Udah bercandanya?" Tanya Arga dingin.


"Eh, Captain. Udah kok, ayo langsung aja kerjakan tugasnya !" Seru Dimas cengengesan.


"Hm," Arga hanya berdehem.


Dengan segera, kedua lelaki itu pun melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang keluarga. Ya, mereka meninggalkan gadis bermanik biru tersebut yang tengah terduduk di ruang tamu.


Namun, seketika salah satu tubuh lelaki berahang keras tengah berbalik menghadap gadis tersebut. Sebelum ia benar-benar pergi !


"Nanti adik gue kesini, lo temanin dia !" Titah Arga seraya kembali melangkahkan kakinya.


Gadis itu pun hanya mengangguk pertanda mengerti akan ucapan lelaki tersebut.


Cukup lama ia berdiam diri sendirian, seketika terlihat seorang gadis yang lebih muda darinya kira-kira berusia sekitar 14 tahun, sedang berjalan menghampirinya.


"Hay, kak Nisa !" Sapa gadis tersebut ramah.


Merasa terkejut, gadis bermanik biru itu pun langsung mendongakkan kepalanya keatas.


"Hay juga, adiknya Arga ya?" Tanya Nisa memastikan.


"Iya, Kak. Perkenalkan nama aku Syila kak," ujar Syila ramah.


Nisa pun hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Kak, main game yuk !" Ajak Syila bersemangat.


"Ayo, main game apa?" Tanya Nisa tersenyum.

__ADS_1


"Free Fire kak," ujar Syila memperlihatkan sederet gigi putihnya.


"Kebetulan sekali, ayo kita mulai !" Titah Nisa seraya mengeluarkan ponselnya.


Terlihat kedua gadis tersebut yang tengah fokus terhadap ponsel mereka masing-masing. Mereka bermain sambil teriak-teriak antusias pada permainan yang tengah mereka gunakan tersebut.


"Tembak-tembak !" Teriak Syila.


"Lah, jangan kesitu dong !" Lanjutnya.


"Ayo sedikit lagi. Dan, YEAY GUE MENAANG !" Jerit Nisa kegirangan.


"Wah, kak Nisa hebat sekali mainnya !" Ujar Syila memuji.


"Kamu juga hebat kok," balas Nisa seraya tersenyum kikuk.


Sementara di satu sisi, terdapat kedua lelaki tampan tengah serius mengerjakan sesuatu. Hingga salah satunya pun harus berdecih dikala merasa bising dengan sebuah suara yang menganggu konsentrasi belajar mereka.


"Mereka lagi ngapain sih, berisik amat !" Dengus Arga sedikit kesal.


"Biasa, kaum hawa ya memang begitu," jawab Dimas malas.


Arga pun hanya memutarkan bola matanya malas.


"Eh, Ga. Gue mau tanya sesuatu sama lo," ujar Dimas serius.


"Apa?" Balas Arga datar.


"Apa lo udah memiliki pacar?" Tanya Dimas seketika.


"Kenapa memang?" Balas Arga yang kembali bertanya.


"Jawab aja dulu, nanti gue jelaskan !" Seru Dimas jengah.


"Belum, orang yang gue suka belum membalas perasaan gue," ujar Arga tersenyum kecut.


"Hah? Lo suka sama seseorang?" Tanya Dimas terkejut.


"Iya,"


"Siapa?"


"Menurut lo?"


"Mungkin Renata,"


Arga pun mendengus kesal, "Gila, ya bukan lah."


"Lalu siapa?" Tanya Dimas penasaran.


"Gadis bule !" Balas Arga yang terlihat tersenyum singkat.


"Siapa?" Tanya Dimas yang belum mengerti.


"Tebak aja sendiri," jawab Arga malas.


Seolah Dimas pun tampak berfikir sejenak. Lalu, ia pun menghadap ke arah lelaki tersebut dengan ekspresi yang sedikit terkejut.


"Jangan bilang kalau lo suka sama_" Lirih Dimas terpotong.


"Adik lo !" Seru Arga mantap.


"Dih, keren lo captain," ujar Dimas yang tergelak tawa.


"Bagaimana?" Tanya Arga penasaran.


"Sini, gue bisikin !" Titah Dimas memberikan kode kepada lelaki tersebut.


Setelah mendengarkan perkataan Dimas, dengan segera Arga pun mengangguk mengerti akan taktik yang di berikan oleh sahabatnya tersebut.


"Oke, gue paham !" Ujar Arga seraya mengacungkan jempolnya.


"Kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang," tutur Dimas.


Tanpa berfikir panjang, akhirnya mereka pun berjalan gontai keluar dari ruang keluarga dan hendak menuju ke tempat seseorang yang tengah menjadi sasaran mereka. Lalu, apakah yang sedang mereka rencanakan?


"Widih, sedang apa kalian sampai teriak-teriak begitu?" Tanya Dimas yang terlihat muncul dari belakang mereka.


Seketika kedua gadis itu pun langsung menengok ke belakang guna mengetahui pemilik suara tersebut.


Eits, jangan lupa jika Nisa juga menatap ke arah Arga !


"Main Free Fire dong," jawab Syila yang terlihat bangga.


"Cewek kok sukanya main peperangan," ujar Arga tersenyum kecut.


"Biarin, daripada kakak takut sama kucing !" Balas Syila seraya menjulurkan lidahnya.


Seketika manik hazel milik lelaki tersebut tengah membulat sempurna, sepertinya ia ingin sekali menerkam adik perempuannya itu.


"Awas kamu ya," geram Arga seraya mendekat ke arah adiknya.


Merasa ketakutan, dengan cepat Syila pun berlari menjauh guna menghindari terkaman mengerikan dari kakaknya.


Tak mau kalah, Arga juga ikut berlari mengejar adiknya. Hingga mereka pun seperti bermain kejar-kejaran.


Tanpa sadar, ternyata sedari tadi ada sepasang manik biru yang tengah mengawasi lelaki tampan tersebut. Hingga tak terasa bibirnya pun juga ikut terangkat sedikit, menyunggingkan sebuah senyuman yang tipis. Sangat lah tipis !


"Hey, apa ini? Kenapa kalian berlarian seperti ini? Lihatlah, Nisa daritadi terus melihat kalian tanpa berkedip !" Seru Dimas enteng dan tanpa merasa bersalah.


Merasa terkejut, gadis bermanik biru itu pun langsung menundukkan kepalanya. Fikirannya berkecamuk dan sesekali menatap Dimas secara sinis. Dasar kakaknya memang brengsek !


Akhirnya lelaki bertubuh jangkung itu pun langsung memberhentikan langkahnya. Lalu, ia menatap ke arah gadis yang tengah menunduk tersebut.


Sementara Dimas, ia hanya menatap keduanya saling bergantian. Merasa terkode, akhirnya ia pun segera menjalankan misinya yang telah di susun bersama captain basket tersebut.


"Syila, kamu mau es krim?" Tanya Dimas seraya mendekat ke arah gadis kecil tersebut.


"Mau, kak Arga belikan Syila es krim dong !" Pinta Syila menatap kakak lelakinya penuh harap.


"Tangan kakak kamu sakit, mending aku aja yang belikan gimana?" Tawar Dimas kepada gadis kecil tersebut.


"Kak Dimas nggak keberatan?" Tanya Syila memastikan.


"Tentu tidak," jawab Dimas mantap.


"Yaudah ayo kita beli sekarang !" Titah Syila seraya berlari ke pintu luar.


Dengan segera, Dimas pun menyusul langkah gadis kecil tersebut yang telah menghilang dari pandangan mereka.


"Bang, lalu aku gimana dong?" Teriak Nisa sedikit panik.


"Sama Arga dulu, nanti abang kembali lagi," balas Dimas yang tanpa enggan menoleh ke belakang.

__ADS_1


Kini, tinggalah mereka berdua yang masih tersisa. Hening di antara keduanya, tak ada yang membuka suara. Hingga seketika terdengar deheman dari salah satunya, yang tak lain adalah Arga.


"Hm," dehem Arga.


"Kenapa?" Tanya Nisa seketika.


"Nggak ada," balas Arga dingin.


Gadis itu pun hanya mendengus kesal, beberapa kali ia harus merutuki kakaknya karena telah tega meninggalkannya berdua dengan sosok lelaki sedingin es di sebelahnya.


"Kenapa begitu?" Tanya Arga heran.


"Tidak apa-apa," ketus Nisa kesal.


Seketika Arga pun duduk tepat di sebelah gadis tersebut, membuat sang empu sedikit terkejut.


"Ngagetin aja !" Seru Nisa seraya memegang dadanya.


"Gitu aja udah kaget," sindir Arga seraya menyenderkan kepalanya ke bahu gadis tersebut.


Lagi dan lagi, gadis itu pun memekik kaget karena ulah Arga yang menurutnya sangatlah mendadak.


"Arga ihh, jangan begini deh," pekik Nisa terkejut.


"Bentar aja, kepalaku masih pusing !" Lirih Arga memelas.


"Pusing kenapa?" Tanya Nisa penasaran.


"Pusing mikirin kamu," ujar Arga seraya tersenyum nakal.


"Dih, gombal !" Balas Nisa yang juga ikut tersenyum.


Tanpa tersadar, sebelah tangan gadis tersebut pun terulur pelan ke samping yang terlihat mengelus lembut kepala Arga. Membuat sang empu nyaman dan enggan untuk berpindah lagi.


'Aduh, kenapa gue jadi gemetar begini?' Jerit batin Nisa.


Gadis itu pun memejamkan matanya pelan, dengan tangan yang masih mengelus lembut kepala lelaki yang tengah terbaring di bahunya.


"Sa, gue mau bilang sesuatu !" Lirih Arga yang masih bersender di bahu gadis tersebut.


"Bilang apa?" Tanya Nisa penasaran.


Dengan segera, Arga pun kembali berposisi duduk seraya menghadap gadis tersebut dengan tatapan yang tak bisa di tebak.


Ia tatapi manik biru di hadapannya secara lekat, tanpa enggan untuk berpaling lagi. Sang empu pemilik retina tersebut pun mengernyitkan alisnya bingung.


Sebuah tangan kekar tengah memegang kedua bahu gadis tersebut seraya menatap lekat retina birunya. Lalu, Arga pun menyunggingkan senyumnya yang terlihat tulus.


"Gue suka sama lo !" Satu lontaran kata yang berhasil keluar lolos dari bibir Arga.


Deg !


Seketika gadis itu pun terkejut, ia membulatkan matanya seolah meyakinkan jika ini bukanlah mimpi. Dan benar saja, ini memang nyata !


Bibirnya bungkam seketika, seolah ia tak sanggup tuk berkata-kata lagi. Retina birunya yang terus menatap lelaki di hadapannya, keringatnya yang bercucuran, menambah kesan gugup dalam tubuh gadis tersebut.


Dengan segera, sepasang tangan kekar milik Arga pun meraih tubuh mungil gadis tersebut ke dalam dekapannya. Gadis itu pun merasa nyaman, ia juga membalas pelukan dari lelaki tampan tersebut.


Namun, seketika memorinya mengingatkan kembali akan kejadian di taman belakang beberapa hari lalu. Dengan sigap, ia pun melepaskan pelukan mereka secara gusar.


"Dih, lo kalau bercanda nggak lucu," ujar Nisa seraya tertawa garing.


"Siapa yang bercanda?" Tanya Arga yang terlihat bingung.


"Elo lah, siapa lagi?" Ujar Nisa tergelak tawa.


"Gue nggak bercanda, Gue serius !" Seru Arga meyakinkan.


"Udah jangan di lanjutin dramanya. Gue udah tau permainan lo," sindir Nisa yang masih tergelak tawa.


"Lo suka sama gue atau tidak?" Tanya Arga seketika.


"Tidak lah, gue tau kok ini cuma permainan lo," ujar Nisa tertawa renyah.


"Asal lo tau, gue itu sukanya sama kak Rio !" Lanjutnya seraya tampak membayangkan sesuatu.


Merasa di kecewakan, Arga pun langsung berdiri guna segera pergi dari hadapan gadis tersebut. Entah mengapa, disaat ia mendengar gadis pujaannya tengah menyebutkan nama lelaki lain. Hatinya merasa panas, ia tak sanggup melanjutkan lagi. Sakit yang kini di rasakan oleh Arga !


"Oke, jika itu mau lo !" Ujar Arga seraya tersenyum kecut.


Seketika Arga merajuk dan segera menuju ke dalam kamarnya, meninggalkan Nisa yang tengah sendirian di ruang tamu.


"Apa dia serius mengatakan itu?" Lirih Nisa seraya terus menatap punggung lelaki tersebut yang mulai menghilang.


"Gue juga masih ragu sama perasaan gue !" Lanjutnya seketika.


Tanpa sadar, retina birunya pun berkaca-kaca. Hatinya sangat sakit yang dia rasakan !


Dengan segera, ia menyeka air matanya yang hampir terjatuh di pipi mulusnya.


Cukup lama ia termenung, seketika terdapat sesosok lelaki dan perempuan yang tengah menghampirinya.


"Dih, sendirian aja kamu !" Sapa Dimas kepada adiknya.


Gadis itu pun hanya menatap sekilas ke arah kakaknya.


"Arga dimana?" Tanya Dimas.


"Marah !" Jawab Nisa malas.


Dimas pun mengernyitkan alisnya bingung, "Marah kenapa?"


"Nggak tau, bang ayo pulang yuk !" Sanggah Nisa cepat.


"Tapi tugas abang bel_" Ucapan Dimas terpotong.


"Pokoknya aku mau pulang. Titik !" Tegas Nisa seraya berlalu keluar dari rumah tersebut.


Sementara Syila, yang sedari tadi hanya menyimak percakapan di antara keduanya. Ia pun segera ikut angkat bicara.


"Kak Nisa kenapa itu kak?" Tanya Syila bingung.


"Aku juga tidak tau. Kami pamit dulu ya, nanti sampaikan ke kakakmu," ujar Dimas seraya berlalu.


"Iya, Kak." Jawab Syila.


Dengan segera, Dimas pun menyusul adiknya yang telah memasuki mobil mereka. Lalu, ia pun menjalankan mobilnya guna untuk segera mencapai tempat tujuannya.


****


"Mencintai tidak harus memiliki. Tetapi, memiliki seharusnya mencintai. Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah harapan. Dalam percintaan, butuh pengertian dan kepercayaan."


~Arga Kusuma Sanjaya~

__ADS_1


__ADS_2