
Motor sport berwarna merah yang tengah melaju kencang di setiap sudut hari yang menjelang senja. Hingga motor tersebut harus berhenti dikala terdapat rumah besar berpagar hitam dengan tulisan 'Sanjaya' di pojok dindingnya.
"Assalamualaikum," ujar Nisa dan Arga bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab wanita paruh baya yang barusan muncul dari ambang pintu.
Wanita paruh baya tersebut tak lain adalah Yuni kurnia, mamanya Arga. Ia pun terkejut dan kelimpungan melihat kondisi putra sulungnya dengan luka dan bercak darah di sekitar wajah.
"Arga, kamu kenapa, Nak? Kok bisa seperti ini?" Tanya Yuni dan segera menghampiri anak lelakinya.
"Biasa lah, Mah. Anak lelaki ya emang gini," ujar Arga malas.
Yuni pun mendengus marah, "Kamu itu ya, udah di bilangin jangan berantem lagi. Masih aja nggak mau mendengarkan, jadi gini kan akibatnya."
"Udah hobi," balas Arga yang terlihat enteng.
Sementara Nisa, yang sedari tadi membopong tubuh jangkung milik lelaki tersebut, hanya bisa diam seraya menyimak percakapan di antara keduanya.
"Yaudah, sana kamu masuk kamar. Supaya mama obati lukamu," sergah Yuni sedikit kesal.
Mendengar perintah Yuni, gadis bermanik biru itu pun segera melepaskan cekalannya ke tubuh lelaki jangkung tersebut, yang akhirnya membuat tubuh lelaki tersebut terhuyung ke samping karena tak mampu menahan bobotnya sendiri.
"Eh, kenapa di lepas? Nanti gue jatuh," dengus Arga panik.
Nisa pun menjawab, "Lo kan mau masuk ke kamar?"
"Iya, tapi ya jangan di lepas gitu. Nanti gue bisa jatuh," ujar Arga kesal.
"Jadi?" Tanya Nisa tak mengerti.
"Lo antarin gue ke kamar," titah Arga jelas.
Seketika membuat gadis tersebut terkejut dan harus memekik kaget dikala terdapat cekalan di pinggang rampingnya. Retina birunya yang membulat sempurna, bibirnya yang sedikit terbuka. Ia tertegun dengan ucapan lelaki tersebut.
"Apa lo bilang?" Tanya Nisa memastikan.
"Ck, makanya kalo ada orang ngomong itu di dengarkan," kesal Arga memutarkan bola matanya malas.
Yuni yang sedari tadi baru menyadari akan kehadiran gadis bermanik biru tersebut, segera angkat bicara. Terdapat banyak pertanyaan yang terlintas di benaknya.
"Dia siapa? Pacar kamu?" Tanya Yuni penasaran.
"Bukan tante, saya te_" Ucapan Nisa terpotong.
"Iya, Mah. Ini pacar Arga," sanggah Arga seketika.
Sontak gadis bermanik biru itu pun lagi-lagi harus terkejut dengan ucapannya, ia melotot tajam ke arah lelaki tersebut. Tetapi Arga hanya membalasnya dengan tatapan datar, seolah tak mengucap apapun.
"Wah, cantik sekali ya pacar kamu. Seperti orang luar," ujar Yuni memuji seraya memegang dagu gadis tersebut.
"Nama kamu siapa, Nak?" Lanjutnya kemudian.
Nisa pun hanya tersenyum kikuk, "Saya Nisa tante."
"Nisa, kamu antarkan Arga ke atas ya," titah Yuni lembut.
"Baik, Tante." Balas Nisa canggung.
Dengan segera mereka berdua berjalan ke balkon atas, tak henti-hentinya gadis tersebut memberikan tatapan tajam seolah ingin segera menerkam lelaki yang berada di sampingnya.
Hingga langkah mereka harus terhenti dikala tengah berdiri di hadapan sebuah kamar milik lelaki tersebut.
"Mau lo apasih sebenarnya," sergah Nisa yang terlihat marah.
"Tidur," balas Arga datar.
"ARGAAAA !" Jerit Nisa yang memenuhi setiap sudut ruangan tersebut.
"Apa?" Tanya Arga yang terlihat cuek.
"Lo itu satu-satunya orang menjengkelkan yang pernah gue temui. Kenapa sih, heran gue sama lo," parau Nisa dengan emosi yang meledak.
Arga hanya menjawabnya malas, "Oh !"
"Kenapa sih, lo bilang gitu sama nyokap lo," sergah Nisa galak.
"Bilang apa?" Tanya Arga santai seolah tak tau mengenai apa yang terjadi.
"Lo jangan pura-pura nggak tau deh," pekik Nisa kesal.
"Emang nggak tau," ujar Arga mengangkat bahunya acuh.
"Bilang yang tadi itu, masa lo lupa sih?" Tanya Nisa menahan emosi.
"Yang mana?"
"Yang barusan tadi, sama nyokap lo,"
"Tadi yang mana?"
"Ihh, yang itu barusan."
"Itu apa?"
"Argaa ihh, jangan gitu deh,"
"Kenapa?"
"Tadi lo bilang itu ke nyokap lo,"
"Apa?"
"Bilang kalau gue, pacar lo !" Seru Nisa gugup.
"Oh, yang itu? Emang kenapa?" Tanya Arga cukup santai.
"Kenapa lo bilang kalau gue pacar lo sih," dengus Nisa kasar.
"Biarin, lo suka kan?" Tanya Arga yang terlihat menyeringai.
"Gue nggak suka," ketus Nisa.
"Lah jangan bohong deh, kalau suka bilang aja. Tidak usah di tutup-tutupi," ujar Arga tersenyum jail.
"Siapa yang bohong?" Ketus Nisa menatap sinis.
"Lo suka sama gue kan?" Tanya Arga tertawa jail seraya terus mengamati gadis tersebut.
"Ihh amit-amit," sergah Nisa tak terima.
"Udah jujur aja deh,"
"Nggak,"
"Lo cinta sama gue kan?"
"Nggak,"
"Lo sayang sama gue kan?"
"Nggak,"
"Apa lo mau kehilangan gue?"
__ADS_1
"Nggak,"
"Cie, nggak mau kehilangan gue," goda Arga yang mencubit gemas pipi gadis tersebut.
"Eh, nggak. Apa tadi?" Tanya Nisa gelagapan.
Seketika Arga terus menggodanya, "Katanya lo nggak mau kehilangan gue."
"Gu-gue nggak sengaja bilang gitu," elak Nisa tak terima.
"Dih, jujur aja lah !" Seru Arga tertawa kemenangan.
"Terserah deh, gue capek sama lo. Gue mau pulang," raung Nisa seraya berjalan pergi meninggalkan lelaki tersebut.
"Ngambek lagi," lirih Arga disertai tawanya yang belum berhenti.
Gadis bermanik biru tersebut berjalan menuruni tangga dengan penuh rasa kesal. Seketika ia harus terkejut, dikala Yuni datang menghampiri.
"Nisa, kamu mau pulang?" atanya Yuni.
"I-iya tante, Nisa pamit dulu," ujar Nisa tersenyum manis.
"Kamu beneran pacarnya Arga?" Tanya Yuni yang terlihat masih ragu.
"Iya tante," balas Nisa.
"Tante mohon ya sama kamu, tolong kembalikan Arga seperti dulu," pinta Yuni yang terlihat berkaca-kaca.
"Maksudnya?" Tanya Nisa tak mengerti.
"Jagain Arga, dukunglah dia selalu. Jangan pernah berhenti untuk berikan pengertian padanya, jangan pernah capek terhadap sikapnya," lirih Yuni seraya memeluk tubuh ramping gadis tersebut.
Seketika gadis bermanik biru itu pun terkejut, dan dengan segera membalas pelukan wanita paruh baya tersebut. Ia merasa iba kepadanya.
Hingga ia pun harus segera pamit undur diri kepada pemilik rumah tersebut.
Hari yang mulai petang, jalanan yang terasa sunyi. Tak ada taxi yang lewat sedari tadi, membuat gadis bermanik biru itu pun jengah seketika.
"TAXII !" Teriaknya memberhentikan kendaraan tersebut.
Seperti yang telah di lakukan, taxi itu pun berhenti. Hingga gadis itu pun membuka pintu penumpang untuk segera menaiki kendaraan tersebut.
"Mau kemana neng?" Tanya sopir taxi ramah.
"Antarkan saya di Jalan Mawar Indah No.57 ya, Pak." Pinta Nisa yang tak kalah ramahnya dengan sang sopir.
Sopir itu pun segera menjalankan mesin taxinya, "Siap, Neng."
Taxi berwarna putih berhasil membelah jalanan yang sunyi, suasana sekarang sedang hujan. Retina biru miliknya yang tiada henti memandang jendela keluar. Hingga tak terasa, bibirnya pun ikut terangkat keatas, menyunggingkan sebuah senyuman.
Sedari tadi, gadis itu pun hanya melamun. Seraya memikirkan kejadian yang tengah menimpanya beberapa menit lalu. Tak henti-hentinya ia turut tersenyum bila mengingatnya.
"Pacar," gumamnya lirih disertai dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Hingga lamunannya harus terbuyar, dikala sang sopir bertanya tentang alamat yang akan di tuju gadis bermanik biru tersebut.
"Ini kemana neng?" Tanya sang sopir celingukan.
Nisa pun gelagapan, "Em, itu, belok ke kanan pak."
Sopir taxi itu pun menuruti yang telah di ucapkan oleh gadis penumpangnya. Ia terus memberikan pertanyaan, sebagai ancang-ancang akan tujuannya.
"Berhenti di situ ya pak, di rumah sebelah kiri yang bercat putih !" Pinta Nisa ramah seraya menunjuk tempat tersebut.
Mobil taxi yang berhenti di sebuah rumah mewah bak istana, gadis bermanik biru itu pun segera turun. Hujan yang selalu menyertai langkahnya, dengan senyuman khas miliknya. Menambah kesan kecantikannya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu dari luar, dengan segera wanita paruh baya yang tak lain adalah Ratna. Membukakan pintu guna mengetahui siapa yang berada di luar.
"Yaudah sana, kamu masuk dulu. Nanti masuk angin," lanjutnya seraya menggiring putrinya untuk segera memasuki rumah tersebut.
Di ruang tamu, terdapat Dimas dan Buyung. Yang terlihat tengah menunggu seseorang, tak lupa mereka juga merasa panik dan cemas.
"Dek, kamu darimana aja? Abang telfon kamu nggak bisa. Telfon Arga juga nggak bisa," tanya Dimas khawatir.
"Handphone Nisa mati bang," ujar Nisa meyakinkan.
"Lain kali, kalau mau keluar sama teman, pulang dulu. Izin dulu sama papa atau mama," tegur Buyung tanpa beranjak dari sofa.
Nisa pun menunduk dan merasa bersalah, "Iya, Pah. Maafin Sasa."
"Dimas juga minta maaf, Pah. Gara-gara Dimas adik jadi begini." Lirih Dimas yang mengelus pucuk rambut adiknya.
"Iya tidak apa-apa. Dimas, kamu antarkan adikmu ke kamarnya ya," pinta Ratna lembut.
Dimas hanya mengangguk, pertanda mengerti akan ucapan Ratna. Dengan segera ia pun mengantarkan gadis tersebut.
Dengan langkah yang sedikit gontai, akhirnya mereka pun sampai ke balkon kamar atas milik gadis tersebut.
"Kamu mandi dulu, abang tungguin disini !" Tutur Dimas seraya memegang kedua pipi adiknya tersebut.
"Tumben, biasanya abang nggak pernah seperti ini?" Tanya Nisa heran dan terlihat kebingungan.
"Banyak yang ingin aku tanyakan, sudah sana mandi dulu !" Usir Dimas membawa tubuh gadis tersebut ke kamar mandi.
10 menit telah berlalu, gadis bermanik biru itu pun keluar dengan memakai Tshirt berwarna abu tua, serta celana pendek selutut.
Dengusan kasar Dimas keluarkan, "Lama banget sih kamu kalau mandi."
"Suka-suka aku lah," ujar Nisa santai.
"Abang mau nanya apa?" Lanjutnya seraya mendekat ke arah kakaknya dan duduk di sampingnya.
"Tadi kamu kemana aja sama Arga? Kok bibir kamu ada bekas luka?" Tanya Dimas penasaran.
"Oh, waktu itu aku lagi di perjalanan sama Arga. Terus melihat seorang ibu yang di jambret sama kedua preman. Ya kami samperin deh," jelas Nisa santai seraya mengangkat bahunya acuh.
"Terus bibir kamu kok ada lukanya?" Tanya Dimas yang terlihat belum mengerti.
"Aku berantem sama preman," ujar Nisa malas.
Seketika tawa Dimas meledak, "Jangan ngaco deh kamu."
Gadis itu pun hanya memutarkan bola matanya malas.
"Dih, udah di bilangin. Malah di katain," cibir Nisa kesal.
"Buktinya apa coba?" Tanya Dimas menjaili adik perempuannya.
Nisa pun menjawab dengan malas, "Tanya aja sama Arga,"
"Bercanda kamu nggak lucu dek," ujar Dimas yang masih tergelak tawa.
"Aku nggak bercanda ya, terserah kalau abang nggak percaya. Sekarang abang keluar gih, aku mau tidur," titah Nisa memperingati.
"Dih, ngambek !" Cibir Dimas seraya berjalan keluar dari kamar tersebut.
"Biarin," ujar Nisa yang terlihat menjulurkan lidahnya.
Merasa sangat capek, gadis bermanik biru itu pun merebahkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya. Ia menatap langit-langit kamarnya, seraya tampak memikirkan sesuatu.
Retina biru miliknya yang menyapu setiap ruangan di sekelilingnya, tak henti-hentinya ia tersenyum dikala mengingat kejadian beberapa saat lalu.
Hatinya berdegup kencang, semilir angin yang berhembus pelan di balkon kamarnya. Sunyi malam yang terlihat mencekam, terdengar suara hujan yang mengiringinya. Menambah kesan damai yang kini ia rasakan.
__ADS_1
Gadis itu pun menutup matanya pelan, terlihat bayangan lelaki yang selalu melintas di pikirannya. Beberapa kali ia harus meringis pelan.
Nisa pun mengumpat kecil, "Cih, kenapa dia selalu muncul di pikiranku? Apa dia serius mengatakan itu padaku?"
"Tapi, dia kan kelihatannya juga sudah memiliki pacar. Waktu yang di taman itu, dia bersama perempuan, terlihat mesra pula, siapa perempuan itu sebenarnya?" Gumamnya.
"Hati gue kenapa selalu sakit, kalau mendengar fakta dia sudah memiliki pasangan? Ah, terserah deh gue nggak peduli," parau gadis tersebut seraya memaksakan matanya tuk segera terpejam.
****
Hari libur, hari menyenangkan. Tiada kesan haru di dalamnya. Kicauan burung yang merdu, sinar mentari yang berhasil menerobos pelan. Membuat gadis yang tengah tertidur pulas harus terusik seketika.
"Eugh," lenguhnya pelan seraya mengerejapkan matanya beberapa kali.
"Jam delapan," gumamnya pelan yang terlihat mengambil sebuah jam weker di sebelahnya.
Dengan langkah gontai, ia pun memasuki kamar mandi. Setelah selesai, barulah ia segera turun ke bawah untuk menyapa segenap keluarganya.
Suasana yang sepi, tiada siapapun disana. Hanya terdengar suara seseorang tengah memasak di dapur.
"Mungkin mereka belum bangun," pikirnya.
Gadis bermanik biru itu pun segera menuju ke dapur. Terlihat seorang wanita paruh baya tengah memasak seorang diri.
"Nisa, tumben kamu udah bangun," sapa Ratna seraya masih sibuk memasak.
"Kamu mau bantuin mama memasak?" Lanjutnya disertai senyuman kecil.
"Iya, Mah." Ujar Nisa pelan.
Seperti biasa, mereka menyajikan makanan yang telah di hidangkan ke meja makan. Seketika terlihat dua lelaki muda dan paruh baya menuju ke meja makan.
Tak ada pembicaraan di antara mereka, hanya suara dentingan sendok dan piring yang senantiasa terdengar.
"Sasa, hari libur kok tumben kamu bangunnya pagi sekali !" Seru Buyung yang terlihat melahap makanannya.
"Dari semalam Nisa nggak bisa tidur, Pah." Jawab Nisa pelan.
"Pasti kamu selalu mikirin_" Ucapan Dimas terpotong.
Seketika gadis bermanik biru itu pun menginjak sebelah kaki Dimas secara kasar.
Dimas meringis kesakitan, "Aduh."
"Kamu kenapa Dimas?" Tanya Ratna kebingungan.
"Ini, Mah. Ada semut yang menggigit kaki Dimas," ujar Dimas hambar.
Sementara Ratna hanha ber'oh' ria menganggapi jawaban dari anak sulungnya tersebut.
"Sasa mikirin siapa?" Tanya Buyung seketika.
Nisa pun segera menjawab, "Tugas, Pah."
"Oh, kamu itu seharusnya lebih rajin belajar lagi !" Tutur Buyung seketika.
Gadis itu pun hanya mengangguk pertanda mengerti akan ucapan papanya.
Hari tengah menunjukkan pukul sepuluh pagi, terlihat seorang lelaki muda tengah berpakaian rapi. Rambut bak artis korea, wajah tampan yang senantiasa menghiasi. Ia mengenakan kemeja merah jambu yang di padukan dengan celana jeans panjang.
Aktivitasnya seketika terhenti, dikala terdengar bunyi ponsel di sebelahnya. Ia melihat dan segera mengambil benda pipih itu, tertera nama 'Captain Tampan' disana.
Triiingg!
"Halo," sapa Dimas bersemangat.
"Jadi nggak?" Tanya orang dari seberang sana.
"Jadi dong, gue udah mau berangkat !" Ujar Dimas santai.
"Ajak adek lo juga," pinta seseorang tersebut.
"Hm, pasti udah mulai tumbuh benih-benih cin_" Seketika ucapan Dimas terpotong.
"Gue cuma pengen dia menemani adek gue di rumah," ujar lelaki di telepon tersebut yang tampak datar.
"Yakin cuma itu?" Goda Dimas.
"Terserah," ujar seseorang dari seberang sana. Ia lalu menutup teleponnya.
Tut! tut! tut!
Dengan segera, Dimas pun melangkah ke arah pintu kamar yang terlihat bernuansa pink tersebut.
Terlihat seorang gadis cantik tengah mendengarkan alunan musik seraya bernyanyi ria. Seketika ia terkejut, dikala ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.
"Abang ihh, aku kaget !" Pekik Nisa seraya memegangi dadanya.
"Ayo ikut abang," ujar Dimas seraya menarik lengan adiknya.
"Kemana?" Tanya Nisa yang kebingungan.
"Udah ikut aja, cepetan ganti baju gih," pinta Dimas tak sabaran.
"Iya-iya sebentar, bawel banget sih," cibir Nisa kesal seraya memajukan bibirnya sedikit ke depan.
Lima menit berlalu, hingga gadis itu pun keluar dari kamar mandinya yang terlihat mengenakan pakaian dress berwarna cream selutut.
"Aku mau ambil mobil dulu," ujar Dimas seraya berlalu menuju bagasi mobilnya.
"Oke,"
Mobil sport berwarna hitam tengah melaju kencang membelah ramainya ibukota Jakarta. Terlihat beberapa kendaraan berlalu lalang melewati jalanan tersebut. Hingga seketika mobil itu pun harus berhenti di halaman sebuah rumah mewah yang menjadi tempat tujuan mereka.
"Kenapa berhenti?" Tanya Nisa malas.
"Udah sampai," ujar Dimas dingin.
Retina biru milik gadis tersebut tengah menyusuri sepanjang jalan di sekitar rumah tersebut. Hingga ia merasa tertegun sebentar, dikala merasa tak asing lagi dengan rumah tersebut.
"Loh, ini kan rumah_" Ucapan Nisa terpotong.
"Iya, aku tau. Cepetan turun," sanggah Dimas seketika.
"Tapi_" Perkataan Nisa kembali terpotong.
"Udah turun dulu, nanti abang jelaskan !" Pinta Dimas lembut.
Dengan segera, gadis itu pun turun diikuti dengan lelaki di sebelahnya. Mereka melangkah gontai menuju ke arah pintu rumah di hadapannya.
"Abang kalau kesini, tidak perlu mengajakku," pekik Nisa kesal.
"Udah kamu jangan bawel !" Sergah Dimas.
Ting! tung!
Suara bel di samping pintu terdengar sangat nyaring. Terlihat lelaki tampan bertubuh jangkung yang mengenakan pakaian santai keluar dari rumah tersebut.
Hingga gadis itu pun tertegun, dikala tau siapa yang pertama kali membuka pintu rumah tersebut.
'Aduh, mimpi apa gue semalam?' Gumamnya dalam hati.
****
"Pandangi langitnya, tetapi jangan menghitung bintangnya. Karena kamu takkan pernah sadar, jika kau salah satu dari bintang tersebut."
__ADS_1
~Arga Kusuma Sanjaya~