Love Young People

Love Young People
Wonderful Experience.


__ADS_3

Waktu yang terus berjalan tanpa henti, yang tengah menunjukkan pukul sebelas malam, dimana terdapat seorang gadis yang sedang terbaring pulas menikmati alam mimpinya. Suasana yang sunyi, Udara yang dingin karena hembusan pelan angin malam yang menerpa setiap insan.


Membuat siapapun yang merasakannya akan dibuat tenang nan damai. Suara dengkuran halus milik sang gadis yang masih tertidur lelap, harus terbangun secara tiba-tiba dikala mendengar suara dering telepon dan chat masuk di aplikasi WhatsApp nya.


Tringggg....


Suara panggilan tak terjawab sebanyak 4 kali, awalnya sang gadis tidak peduli akan notifikasi tersebut. Namun, suara itu berhasil mengusik ketenangannya dalam tidur lelapnya.


"Ih siapa sih malam-malam begini nelpon? Ganggu aja deh," umpatnya pelan.


085xxx:


'P'


'Save nomor gue'


Nisa Falentina :


'Siapa?'


085xxx:


'Masa nggak kenal gue hm:')'


Nisa Falentina :


'Dih siapa sih? Nggak usah basa-basi deh'


085xxx:


'Ini gue Arga,'


'Save nomor gue'


Nisa Falentina :


'Oh, dapat nomor gue darimana lo?'


Arga Monyet :


'Kepo lo'


Nisa Falentina :


'Dih nyebelin banget sih lo:/, yaudah gue mau lanjutin tidur lagi'


Arga Monyet :


'Jadi lo tadi tidur?'


Nisa Falentina :


'Iyalah, gara-gara lo tidur gue jadi keganggu. Dan gue mau lanjutin mimpi gue lagi yang tadi sempat terpotong ! Goodbay monyet:v'


Arga Monyet :


'Nanti dulu, sekarang lo keluar gih'


Nisa Falentina :


'Hah ngapain? Ini udah malam diluar juga sepi'


Arga Monyet :


'Udah keluar aja, ini gue didepan rumah lo'


Nisa Falentina:


'What ngapain lo malam-malam dirumah gue?'


Arga Monyet :


'Cerewet, cepetan gih!'


Nisa Falentina :


'Iya-iya bentar bawel banget sih lo:/'


Read... Begitulah isi chattingan mereka berdua. Setelah membuang handphone miliknya ke sembarang arah, gadis bermanik biru itu pun segera membuka tirai jendelanya.


Betapa terkejutnya ia melihat sosok Arga benar-benar berdiri didepan rumahnya. Gadis bermanik mata biru tersebut terlonjak kaget dan seketika Arga memberikan kode untuk segera turun kebawah.


Gadis bermanik biru tersebut menuruni tangga dengan penuh hati-hati agar keluarganya tidak terbangun. Lalu dengan segera ia membuka knop pintu rumahnya.


"Ngapain lo disini ? Ini udah malam Ga," parau Nisa setengah berbisik.


"Menurut lo?" Ucap Arga dingin dan ikut balik bertanya.


"Menurut gue lo tuh gila," ketus Nisa yang masih terlihat dengan cara berbisik.


"O." Balas Arga singkat, jelas, padat.


"Sebenarnya mau lo apasih, nggak capek apa gangguin gue terus?" Tanya Nisa yang kini sudah mulai kehilangan kesabaran.


"Justru gue malah bahagia," jawab Arga tersenyum miring.


"Ihh lo tuh nggak waras, serah deh mending gue kekamar lagi aja, males gue debat sama lo," ketus Nisa yang menatap Arga sinis.


"Lo hobi banget sih marah-marah, nggak capek?" Tanya Arga melipat seraya kedua tangannya didepan dada.


"Nggak," balas Nisa cuek.


"Gitu aja udah marah," ucap Arga yang melangkah mendekat kearah Nisa.


"Eh ma-mau nga-ngapain lo," kata Nisa gelagapan.


Arga pun tak kunjung memberikan jawaban.

__ADS_1


Justru, ia malah mendekatkan langkahnya. Ah, yang benar saja !


"Ga, mau ngapain sih lo," panik Nisa yang mendorong tubuh jangkung cowok itu ke belakang.


Namun, Arga tak menggubris perkataan gadis di hadapannya yang tengah panik tersebut, dan terus melangkah kedepan. Gadis itu pun memundurkan langkahnya dikala jarak di antara mereka berdua terlalu dekat.


Hingga akhirnya tubuh rampingnya ikut terhadang oleh dinding di belakangnya. Melihat Arga yang mendekatkan wajahnya ke wajah mulusnya, gadis itu pun refleks memejamkan matanya.


Tubuhnya yang bergetar hebat seolah tak mampu lagi menahan bobotnya sendiri, suaranya tercekat. Nafasnya yang ikut terengah-engah, detak jantungnya menjadi tak beraturan dan harus berkontraksi lebih cepat dari sebelumnya.


"Gue hanya mau ngembaliin ini," bisik Arga ke telinga gadis bermanik biru tersebut sembari mengangkat tangan kanannya guna menunjukkan sesuatu.


Sontak gadis tersebut menjadi salah tingkab dan langsung membuka matanya. Pipinya yang telah merah merona akibat menahan malu, segera ia tutup-tutupi.


"Ini kan cardigan gue, kok bisa ada di elo sih?" Tanya Nisa yang berusaha bersikap biasa aja karena menahan ronaan di pipinya.


"Kemarin waktu lo pulang sama gue, cardigan lo ketinggalan di kerah baju belakang gue," ujar Arga santai seraya menyodorkan cardigan merah milik gadis di hadapannya.


"Yaudah siniin, gue mau masuk." Ketus Nisa seraya mengambil cardingan merah miliknya.


"Hm, lanjutin tidur lo. Ingat besok sekolah, kalo telat baru tau rasa lo," ujar Arga seraya berlalu pergi.


Kenapa Arga malah menyalahkan Nisa?


Hm, ada-ada saja.


"Yang gangguin malam-malam siapa, yang disalahin juga siapa, dasar makhluk astral," cibir Nisa kesal seraya berjalan menuju ke kamarnya.


Gadis bermanik biru itu pun akhirnya membaringkan tubuhnya lagi ke kasur empuk miliknya. Dengan segera, ia pun memejamkan matanya dan tertidur pulas.


****


Kringggg.....


"NISAA UDAH JAM BERAPA INI KOK BELUM BANGUN JUGA. NANTI KAMU TELAAT," teriak seorang wanita paruh baya yang terlihat membawa panci dan sendok di kedua tangannya.


Ditabuhnya kedua benda tersebut secara berkali-kali. Untuk apa? hanya untuk membangunkan anak gadisnya yang terlihat tengah tertidur lelap. Sungguh keterlaluan !


"Lima menit lagi, Mah." ucap Nisa yang masih dengan keadaan mata terpejam.


"LIMA MENIT APANYA, INI SUDAH JAM 7. KAMU MAU MOLOR SAMPAI JAM BERAPAAA," teriak Ratna yang sudah muak dengan kelakuan anak gadisnya.


 


TONG...TONG...TONG...


 


Tak henti-hentinya Ratna memukuli kedua benda dapur yang di bawanya.


Gadis itu pun mendengus pelan, "Apaan sih, berisik !"


Hingga akhirnya gadis tersebut merasa risih. Lalu, ia pun terbangun malas dan terlihat masih memejamkan kedua matanya. Dengan segera, ia berjalan menuju kamar mandinya.


****


Terdengar suara langkah kaki seorang gadis bermanik mata biru yang tengah menuruni anak tangga dengan sangat tergesa-gesa.


"Mah, abang mana?" Tanya Nisa tidak sabaran.


"Udah berangkat," ujar Ratna santai sambil menyiapkan bekal putrinya.


"Lah kok adek ditinggal sih, kalo papa mana?" Tanya Nisa yang terlihat dengan nafas memburu.


"Udah berangkat juga," balas Ratna.


"Makanya kalau dibangunin itu buruan bangun nggak molor terus," tambahnya yang terlihat menasehati anak gadisnya.


Nisa mendengus pelan dan hanya bisa pasrah, "Terus adek gimana dong berangkatnya?"


"Kamu berangkat sama Dion," kata Ratna santai.


"Hah? Dion? Dia udah kesini? Dimana dia sekarang?" Tanya Nisa yang terlihat tak sabaran.


"Itu didepan, Dia udah nungguin kamu daritadi. Yaudah, sana berangkat. Kasian tuh Dion nungguin nanti dia ikut telat juga lagi," ujar Ratna memperingati.


Segera gadis itu pun berlari menuju ke teras rumahnya. Dan benar saja ! Sosok lelaki tampan tersebut telah berdiri didekat mobilnya.


 


"Udah molornya?" Ejek Dion kepada gadis yang berdiri di hadapannya.


"Ihh apaan sih, yaudah ayo berangkat nanti keburu telat." Ajak Nisa yang diangguki oleh Dion.


 


Suasana didalam mobil sangatlah hening, tidak ada yang membuka suara. Hanya terdengar suara musik yang diputar dimobil tersebut. Hingga akhirnya Dion mengalah dan ingin mengatakan sesuatu yang terbilang cukup penting.


 


"Sa?" Sapa Dion melirik gadis disebelahnya.


"Why?" Balas Nisa yang terlihat masih sibuk dengan ponselnya.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Dion dengan suara lembut.


"Ngomong aja," jawab Nisa yang enggan menoleh kearahnya.


"Aku_" ucapan Dion terpotong dikala mendengar suara deringan telepon di handphone milik gadis tersebut dari seseorang.


"Halo, ada apa bang?" Tanya Nisa yang sedikit serius.


'Kamu dimana aja? Ini gerbang udah mau di tutup,' Ujar seseorang dari seberang sana.


"Ini aku sama Dion lagi di perjalanan menuju ke sekolah, sebentar lagi kita akan sampai," jawab Nisa meyakinkan seraya menutup teleponnya.


"Yon cepetan dong gerbangnya akan segera di tutup nih," pekik Nisa panik.

__ADS_1


 


Dion akhirnya menurut dan melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya. Bagaimanapun, dalam waktu lima menit mereka harus segera sampai ke area sekolah.


 


****


Saat sudah sampai di depan gerbang sekolah, seketika gerbangnya telah di tutup dan mereka berdua di nyatakan telat.


"Aduh, kita telat !" Seru Nisa seraya menepuk jidatnya pelan.


"Ayo kita menerobos saja," Ajak Dion seketika.


"Caranya?" Tanya Nisa tak mengerti.


Terlihat Dion tampak berfikir sejenak, "Hm, kita manjat pagar aja."


"Yaudah ayo buruan," Ujar Nisa antusias.


Dikala mereka berdua hendak melakukan aksinya untuk memanjat pagar, seketika terdengar suara seseorang yang tengah mencegah mereka berdua.


"Kalian telat, sekarang saya akan memberikan surat peringatan ini kepada kalian," suara bariton lelaki yang berada di belakang mereka.


Seketika gadis tersebut membalikkan tubuhnya ke belakang. Betapa terkejutnya dirinya, dikala melihat siapa yang sedang berbicara dengannya kali ini.


Retina birunya yang terus menatap lawan bicaranya tanpa berkedip sedikitpun. Hingga lamunannya harus terbuyar, dikala terdapat sebuah lambaikan tangan kekar tepat di depan wajahnya.


"Hey, apakah anda mendengar ucapan saya?" Tanya lelaki tersebut seraya melambaikan tangannya ke depan wajah gadis tersebut.


"Kak Rio," satu lontaran kata berhasil keluar lolos begitu saja dari mulut Nisa yang terlihat masih tak percaya ia bisa berbicara dengan sosok yang dia idamkan.


Cowok tersebut yang tak lain adalah Rio Aldi Bimantara yang juga menjabat sebagai sekretaris osis. Setiap pagi, tugasnya ialah mencatat siapa yang telat dan akan memberikannya hukuman supaya si murid tersebut insyaf dan tidak akan lagi mengulangi perbuatannya tersebut.


"Iya? Apakah anda mengenal saya?" Tanya Rio mengernyitkan sebelah alisnya bingung.


"Hari ini, saya akan memberikan hukuman kepada kalian karena sudah terlambat masuk ke sekolah. Dengan tujuan supaya kalian tidak akan pernah lagi mengulangi perbuatan yang seperti ini . Bisa di mengerti?" Ujar Rio panjang lebar menjelaskan secara detail akan ucapannya tersebut.


"Bisa," jawab mereka berenam secara serempak.


Selain Nisa dan Dion, terdapat empat orang siswa lelaki yang juga terlambat masuk ke sekolah.


"Untuk yang lelaki, kalian akan membersihkan halaman belakang sekolah serta membersihkan sekitar area parkiran. Dan untuk perempuan di harapkan membersihkan toilet sekolah. Berhubung anda sendirian, maka saya akan menemani anda menjalankan hukuman anda karena ini sudah termasuk tugas dan kewajiban saya," Jelas Rio kembali membenarkan perkataannya.


Semua siswa lelaki serempak mengangguk pertanda mengerti akan ucapan lelaki tersebut. Dengan segera, mereka pun langsung menuju ke area yang telah di tugaskan oleh sekretaris osis tersebut.


Namun, berbeda dengan gadis bermanik mata biru ini. Gadis tersebut tak menggubris perkataan Rio melainkan terus saja menatap lekat wajahnya.


Hal ini, Dion yang sedari tadi berada di sebelah gadis tersebut juga sedikit bingung dengan perilakunya dan segera menyenggol bahu kiri Nisa untuk menyadarkan gadis tersebut dari lamunannya.


"A-anu gi-gim-gimana tadi?" Kata Nisa gelagapan setelah sadar dari lamunannya.


"Makanya kalo saya ngomong itu anda dengarkan secara teliti," dengus Rio yang terlihat sedikit kesal.


"Maaf," ujar Nisa kikuk seraya menunduk.


"Ayo, anda akan saya temani untuk melaksanakan hukuman anda yang telah saya berikan tadi," kata Rio dingin seraya berlalu mendahului gadis tersebut.


Gadis tersebut kembali melamun. Baginya, ia tak kuasa berkedip dikala sedang berada di samping sang pujaan hati. Bahkan, ia tak sadar bila yang di tatapnya tengah menghilang dari hadapannya.


Hm, namanya juga cinta ! Pasti akan membutakan segalanya.


"Sasa, lo nglamun mulu daritadi, udah sana ikutin Rio supaya hukumannya cepat selesai dan bisa kembali ke kelas," Dion mendengus pelan yang menyuruh Nisa untuk segera menyusul langkah Rio.


"Eh iya gue ikutin kak Rio sekarang," ujar Nisa semangat seraya berlari mengejar Rio yang mulai menghilang di telan oleh tikungan koridor sekolah.


Sementara Dion, ia hanya mendengus kasar melihat tingkah sahabatnya itu. Ia tak kaget karena sudah sedari kecil mereka bersahabat.


****


"YAAMPUN NISA LO DARIMANA AJA SIH, JAM SEGINI BARU DATANG. UNTUNG GURUNYA MASIH RAPAT SEKARANG," teriak Clara menghampiri gadis cantik tersebut yang terlihat hendak memasuki ruangan kelas.


"Woy Clara, lo bisa nggak sih ngomong itu biasa aja nggak usah lebay gitu." Teriak si Dodi ketua kelas yang terkenal mempunyai mulut mercon.


Clara hanya menatapnya tajam, "Suka-suka gue lah. Mulut juga mulut gue, kenapa lo yang sewot?"


Dodi hanya meliriknya sekilas seraya mejulurkan lidahnya guna untuk mengejek Clara yang tengah menatapnya sinis.


Setelah itu, Clara mempersilahkan Nisa untuk segera duduk di bangkunya. Gadis tersebut juga tengah di tatap bingung oleh Laras dan Tina yang duduk di sebelahnya.


"Tau nih Nisa, darimana aja sih lo?" Tanya Laras yang terlihat kebingungan.


"Gue tadi telat," ujar Nisa santai seraya tersenyum singkat.


"WHAT? Lo telat? Tapi kok lo keliatan bahagia gitu sih, bukannya telat malah sedih ya," parau Tina bingung seraya mengintrogasi.


"Ya emang gue lagi bahagia," kata Nisa seraya memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi.


"Bahagia kenapa sih? Gue jadi kepo ih," pekik Clara tak sabaran.


"Tadi waktu gue telat, gue di hukum sama kak Rio dan dia_" ucapan Nisa terpotong oleh Clara yang seketika menyanggahnya.


"Gitu aja udah bahagia, ya emang kak Rio sekretaris osis jadi dia tiap pagi tugasnya mencatat dan menghukum murid yang terlambat," ketus Clara jengah.


"Ihh makanya dengarkan dulu Clara, jangan main potong-potong aja lo," cibir Nisa tak terima.


"Yaudah lanjutin gih. Gue kepo," ujar Clara yang terlihat bersemangat.


Laras pun juga ikut membenarkan, "Iya, Nisa. Gue juga udah kepo banget."


"Oke, mohon bersabar dulu semuanya !" Seru Nisa yang di ikuti oleh gelak tawa.


****


"Apa yang lebih menyakitkan dari mencintai sendirian? Menunggu seseorang yang tidak pernah tau bahwa ada seseorang yang sedang memperjuangkannya."


~Aura Nisa Beautifalentina~

__ADS_1


__ADS_2