Love Young People

Love Young People
Munculnya tingkah aneh.


__ADS_3

Saat mereka sedang asyiknya bercanda ria, Seketika Retina biru milik gadis tersebut tertuju lekat pada seorang cowok yang tengah bermain basket di lapangan.


"ASTAGHFIRULLAH GANTENGNYAA," teriak Nisa yang membuat ketiga temannya kaget dan menoleh ke lapangan basket.


"YA AMPUN GANTENG BANGET TUH COWOK. PANGERAN GUE," lanjutnya seraya berdiri dan melompat-lompat seperti anak kecil serta secara terus menerus menatap ke arah lapangan basket guna memandang cowok tersebut.


Memang letak lapangan basket jika dilihat dari taman belakang sekolah kelihatan sangat jelas. Mendengar gadis tersebut yang berteriak histeris, teman-temannya pun langsung bingung dengan tingkah konyol gadis itu yang semakin hari semakin aneh.


Memangnya, Nisa sedang melihat siapa sih?


"Aduh, lo itu bisa nggak sih nggak teriak-teriak gitu. Bikin gendang telinga gue serasa kayak pecah tau nggak," cibir Laras yang kesal karena teriakan cempreng dari gadis konyol tersebut yang membuat para siswa-siswi menatap tajam sekilas ke arah mereka berempat.


"Tau nih Nisa, kagak santai banget kalo ngomong," tambah Clara tak terima.


"Ya maap lah guys, habisnya tuh cowok ganteng banget sih. Kan gue jadi reflek deh hehe," ujar Nisa seraya tersenyum kikuk.


"Cowok siapa sih?" Tanya Clara penasaran.


"Itu loh, yang pake baju biru yang sedang bermain basket di lapangan," jelas Nisa seraya menunjuk sosok cowok tersebut.


Belum sempat Clara, Laras, dan Tina angkat bicara, gadis bermanik biru itu pun hendak berjalan ke lapangan basket untuk segera menghampiri cowok tersebut. Akan tetapi, teman-temannya pun menahan langkahnya.


"Eh Nis, lo mau kemana?" Tanya Clara seraya memegang sebelah tangan gadis bermanik mata biru tersebut.


"Mau ke lapangan lah," jawab Nisa tanpa menoleh kearahnya.


"Hah? Mau ngapain?" Tanya Tina yang sedikit terkejut.


"Ya mau kenalan sama tuh cowok lah, sekaligus minta nomor WhatsApp-nya," ujar Nisa dengan senyum sumringah seraya melepaskan genggaman Clara dan menuju ke lapangan basket.


Melihat hal itu, dengan segera Laras berlari dan menarik gadis cantik tersebut untuk kembali menuju ke tempat mereka semula, yaitu di taman belakang.


"Ish apaain sih lo narik-narik gue, ganggu aja deh," ketus Nisa dan menghempaskan tangan Laras secara kasar.


"Lo-lo serius ma-mau nyamperin cowok itu?" Tanya Clara gelagapan seolah tak percaya dengan jawaban gadis itu barusan.


"Ya serius dong, ngapain juga gue bercanda kagak berfaedah banget. Gara-gara kalian nih kan jadinya gue nggak jadi kenalan sama pangeran gue," kesal Nisa seraya menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.


"Terus kalo lo udah kenalan sama dia. Apa yang bakalan lo lakuin?" Tanya Tina penasaran yang diangguki oleh kedua temannya.


"Gue mau tembak dia dong," kata Nisa santai dan tanpa rasa malu sedikitpun.


Sontak mereka bertiga membelalakkan mata tak percaya dan membuka mulut mereka lebar-lebar. Mereka telah dibuat terkejut oleh jawaban dari gadis tersebut yang menurut mereka terlalu mendadak.


Apa? Nisa mau nembak cowok?


Hm, ada-ada saja.


"WHAT? LO NGGAK SALAH NIS?" Teriak Clara histeris.


"Kenapa emangnya? Ada yang salah ya?" Tanya Nisa dengan polosnya.


"Gini-gini, gue punya saran sama lo. Gue bakal ngasih tau tentang nama cowok itu beserta identitasnya, tetapi asal lo jangan nekat buat ngedeketin tuh cowok lagi. Gimana?" Tawar Laras yang terlihat memberi solusi kepada gadis cantik tersebut.


"Yaudah deh iya gue akan nurut, tapi lo harus ceritain semuanya ke gue tentang semua hal yang menyangkut kehidupannya pangeran gue," balas Nisa pasrah dan mendengus pelan.


"Baik, namanya tuh kak Rio, dia dari kelas XII-IPS 1. Kak Rio juga salah satu idola disekolah ini. Tapi masih populeran Arga sih," kata Laras menjelaskan.


"Emang lo kagak malu gitu ucapin cinta ke cowok duluan," ujar Clara yang masih dengan ekspresi melotot, belum percaya.


"Enggak tuh, kan aku cinta sama kak Rio," kata Nisa seraya memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi.


"Dasar Nisa malu-maluin," dengus Clara pelan.


Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi terdapat sosok mata hazel yang tengah mengintai mereka dari kejauhan.


'Cewek konyol,' gumamnya pelan.


****


Bel telah berbunyi, yang membuat para siswa-siswi menuju kelas mereka untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.


Saat ini, di kelas XI-IPS 2 memang sedang kosong, dikarenakan gurunya sedang tidak masuk karena masih ada tugas dan urusan yang belum selesai, membuat murid-murid kelas tersebut bebas dari kegiatan wajib sebagai seorang pelajar.


Di bangku belakang, terdapat seorang gadis yang memiliki manik mata biru, sedang asyiknya bercanda ria dan bernyanyi dengan teman-temannya. Namun, ada sosok yang memintanya untuk menemuinya di taman belakang sekolah yang telah mengetahui bahwa kelasnya pun sedang kosong dan sebentar lagi bel pulang sekolah. Membuat sang empu terkejut dan penasaran dengan sosok yang tengah memanggilnya tersebut.


"WOY NISA ADA YANG NYARIIN TUH DI TAMAN BELAKANG, LO DI SURUH NEMUIN DIA SEKARANG," teriak Dodi si ketua kelas yang terkenal memiliki mulut mercon.


"Siapa?" Tanya Nisa yang terlihat sedikit ragu.


"KAGAK TAU POKONYA LO DISURUH KETAMAN BELAKANG SEKARANG," teriak Dodi yang mendapat lemparan sepatu dari Clara.


"Woy mulut mercon, lo kagak usah teriak-teriak atau gue sumpel tuh mulut pake sampah," kesalnya yang dibalas tatapan tajam oleh si ketua kelas.


"Guys, gue cabut dulu," ujar Nisa seraya berlalu pergi menuju taman belakang.


Sesampainya di taman belakang, gadis itu pun terkejut dikala mengetahui siapa sosok yang telah menyuruhnya untuk datang ke tempat tersebut.


"Lo? Ngapain sih lo nyuruh-nyuruh gue datang kesini? Belum puas gangguin hidup gue hah?" Kesalnya seraya menunjuk lelaki yang tak lain adalah Arga yang kini telah berdiri di hadapannya.


"Lo nanti pulangnya bareng gue," kata Arga dengan ekspresi datar dan menaruh kedua tangannya didalam saku celananya.


"Hah? Gue kan sama abang gue," kata Nisa membela diri.


"Dimas ada urusan, dia bakal pulang telat, jadi dia nitipin lo ke gue untuk jagain lo," jelas Arga dingin serta datar.

__ADS_1


"Ih ogah banget gue bareng sama lo, pake acara jagain gue segala lagi. Ihh najis," cibir Nisa seraya bergidik ngeri membayangkannya.


"Yaudah kalo lo nggak mau gue nggak maksa," balas Arga seraya berlalu pergi. Dan seketika itu, ia kembali membalikkan tubuhnya ke belakang dan mendekati gadis tersebut seolah membisikkan sesuatu.


"Kalo lo butuh gue, lo tinggal cari di kelas gue. Gue akan selalu ada buat lo," tambahnya lalu pergi dari hadapan Nisa yang masih diam mematung.


"DASAR LO COWOK KEPEDEAN, GUE NGGAK BAKAL CARI LO KULKAS BERJALAN," teriak Nisa seraya menatap sosok tubuh jangkung yang telah menghilang.


Hingga bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak sepuluh menit yang lalu. Gadis bermanik mata biru yang sedari tadi berjalan keluar untuk mencari taxi. Namun, sampai saat ini belum ada juga taxi yang lewat ditambah cuaca hari ini sangatlah panas, membuat gadis yang tengah menunggu sedari tadi merasa bosan.


"Aduh panas banget, belum ada taxi yang lewat lagi," pekiknya seraya mengibas-ngibaskan tangannya kedepan mukanya.


"Apa gue nebeng aja ke si kulkas itu kali ya? Ishh apaan sih nggak-nggak-nggak boleh. Eh tapi daripada gue nungguin disini lama dan tidak ada taxi yang lewat, mana udaranya panas banget lagi," gerutunya sambil terus menerus mengibaskan kedua tangannya ke mukanya.


Setelah memikirkannya dengan matang, akhirnya Nisa memutuskan untuk menemui Arga di kelasnya serta pulang bersama Arga.


What? Nisa pulang bareng sama Arga?


Saat sudah sampai di depan pintu kelas XI-MIPA 4, dilihatnya Arga masih sibuk mengerjakan tugas. Lalu dengan perlahan gadis itu pun menghampirinya.


"Ga..," lirih Nisa.


"Hm," Arga hanya berdehem dan menatap laptopnya tanpa beralih ke sumber suara.


"Gue mau nebeng sama elo," ucap Nisa kikuk seraya menunduk.


Arga tidak memperhatikan ucapan Nisa dan masih terus menatap laptopnya tanpa enggan sedikitpun mengalihkan pandangannya kepada gadis di hadapannya. Melihat hal itu, akhirnya Nisa kesal kepada Arga.


"LO DENGAR NGGAK SIH?" bentak Nisa kesal kepada Arga. Namun, Arga masih tetap tak bergeming.


"GA, LO JADI NGGAK SIH NGAJAKIN GUE PULANG BARENG," teriak Nisa yang emosinya sudah meluap-luap. Namun, Arga masih tetap fokus kepada laptopnya.


"Huft.. gue pergi aja deh, percuma ngomong sama ES BATU," ujar Nisa seraya membalikkan badannya untuk keluar dari kelas tersebut.


Namun, ketika hendak melangkah pergi keluar, tiba-tiba ada sebuah cekalan tangan kekar yang menahannya.


"Jangan pergi, lo harus bersama gue," ujar Arga datar seraya berdiri di hadapan gadis tersebut. Kini tatapan mereka saling bertemu satu sama lain.


'Kok gue jadi aneh gini ya,' batin Nisa grogi.


'Gadis konyol dan aneh, gue nggak menyangka kalau lo itu ternyata cantik juga!' batin Arga yang menatap manik mata biru milik gadis tersebut secara mendalam.


****


"ARGAAA" teriak seorang cewek yang tengah berlari menuju ke parkiran dengan tergesa-gesa seolah melihat seorang artis dan ingin meminta tanda tangannya.


Arga hanya acuh menanggapinya dan seolah tak peduli pada cewek tersebut. Sementara gadis cantik yang berdiri disamping Arga merasa heran dan bingung atas semua yang terjadi.


"Arga ih kok aku ditinggalin sih, kan aku nungguin kamu buat pulang bareng sama aku" ujarnya seraya menggandeng sebelah tangan Arga.


"Kamu kenapa sih kan aku lagi pengen peyuk kamu, baby," rengek Renata yang kelihatan sangat alay dan membuat Arga jijik melihatnya.


"Bodo," ucap Arga seraya merangkul pundak Nisa yang berdiri disampingnya. Melihat perlakuan Arga, Nisa hanya tercengang dan ingin melepaskan rangkulan Arga, tetapi Arga malah mempereratnya.


"Eh dia siapa beb?" Tanya Renata dengan tatapan tak suka.


"Woy lo cewek kegatelan nggak usah ganggu hubungan gue sama beb Arga deh, dasar cewek kegatelan," lanjutnya seraya menunjuk gadis tersebut dan memberikannya tatapan sinis.


"Ck sembarangan aja lo ngatain gue kayak gitu, harusnya lo tuh ngaca siapa elo? Emang lo udah benar hah? Yang kegatelan tuh elo, lo tuh nggak punya harga diri banget sebagai seorang wanita. Dimana kehormatan lo hah? Jijik gue dengarnya," cibir Nisa tak terima.


"DASAR CEWEK TAK BERGUNA," bentak Renata yang hendak menampar Nisa, tetapi Arga menahannya dan mencengkramnya hingga membuat Renata kesakitan.


"Aw, Ga. Lepasin sakit," ringis cewek itu yang memohon untuk segera dilepaskan.


"Jangan pernah lo berani gangguin cewek gue lagi, atau lo akan berurusan sama gue!" ujar Arga melepaskan cengkramannya dan berlalu pergi seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Nisa.


Sejak kapan Nisa jadi ceweknya Arga?


Gadis bermanik mata biru tersebut membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan Arga barusan dan harus terpekik kaget akibat perlakuan Arga yang melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang mungil miliknya tersebut.


'Awas aja lo, tunggu pembalasan dari gue karena lo telah berani merebut Arga dari gue' batin Reta seraya mengepalkan tangannya dan menatap tajam kearah mereka berdua.


Saat mereka berdua sudah sampai didepan motor sport berwarna merah bermerk yang tak lain adalah milik Arga, segera Nisa tepiskan tangan lelaki tersebut dari pinggang mungilnya.


"Ish apaan sih lo meluk-meluk gue, banyak yang ngeliatin ih gue malu. Nanti kalo abang gue tau juga gimana?" Cibir Nisa seraya memanyunkan bibirnya kedepan.


"Emangnya kalo tau kenapa?" Tanya Arga seraya mempertajam tatapannya.


"Ya-ya ng-nggakpapa sih," kata Nisa gelagapan.


"Yaudah kalo gitu santai aja !" seru Arga dingin dengan tatapan datar khas miliknya.


"Dasar nyebelin," gumam Nisa pelan tetapi masih bisa didengar oleh Arga.


Setelah kejadian tadi, gadis itu selalu memasang wajah kesalnya dan enggan untuk tersenyum. Tingkahnya yang kocak, mulutnya yang komat-kamit tak jelas, serta tangannya yang selalu memainkan jari jemarinya.


Membuat Arga tertegun sebentar karena ia baru kali ini melihat gadis selucu Nisa, ia bahkan selalu menahan tawanya jika Nisa berbicara dengan ekspresi yang amat sangat menggemaskan baginya.


'Lo lucu banget sih Nisa' batin Arga dan tanpa sadar, bibirnya sedikit terangkat keatas.


"Cepetan naik," ucap Arga dingin.


"Hah? Kemana?" Tanya Nisa tak mengerti.


"Ke motor gue lah cepetan," kesal Arga.

__ADS_1


"Idih ini ternyata motor lo? Lo kalo sekolah selalu bawa motor ya? Wah keren banget," ujar Nisa yang terlihat sedikit kagum.


"Hm," Arga hanya berdehem dan memutarkan bola matanya malas.


"Kenapa nggak naik mobil aja?" Tanya Nisa penasaran.


"Cih banyak tanya lo, mau naik atau gue tinggal," decih Arga seraya menghidupkan mesin motornya.


Nisa hanya mengerucutkan bibirnya kesal dan melirik Arga sekilas seraya memberikan tatapan tajam kepada lelaki tersebut.


"Pegangan," ucap Arga hendak menjalankan kendaraannya.


"Peluk gue, lo jangan nolak. Nanti lo jatuh kalo nggak pegangan," tambahnya yang melihat ekspresi gadis dibelakangnya dari kaca spion.


Segera Nisa menuruti perintah Arga dan melingkarkan kedua tangannya ke perut Arga seolah memeluknya.


'Kalo bukan karena terpaksa, gue nggak bakalan mau pulang bareng lo!' gerutu Nisa dalam hati.


"Yaudah, kalau lo nggak mau turun aja," jawab Arga tiba-tiba dan membuat gadis tersebut terlonjak kaget.


"Loh kok lo dengar sih? Padahal kan gue ngomongnya dalam hati?" Tanya Nisa tak percaya.


"Orang lo ngomongnya kencang banget kok," jawab Arga menambahi.


"Nggak mungkin Ga, gue tuh ngomongnya dalam hati serius deh. Atau jangan-jangan lo punya ilmu yang bisa membaca pikiran orang kali, ngaku aja deh lo," cibir Nisa seraya menyelidiki Arga.


"Serah lo," balas Arga singkat.


Motor sport berwarna merah yang membelah jalanan ibukota Jakarta yang tak pernah sepi dari keramaian dan sering macet oleh orang-orang yang berlalu lalang melewati jalan tersebut untuk bekerja dan mencari nafkah.


Gadis bermanik mata biru yang masih setia memeluk lelaki yang ada didepannya, sesekali menatapnya dari spion bundar milik lelaki tersebut. Hening diantara keduanya tanpa ada yang mau membuka suara. Hingga motor sport tersebut berhenti disebuah gerbang besar berwarna putih serta rumah bak istana yang tak lain adalah milik kediaman keluarga Nisa.


"Terimakasih," ujar gadis bermanik mata biru seraya menyodorkan helm kepada sang pemilik tersebut.


Lelaki tersebut hanya mengangguk dan menerima helmnya kembali. Saat ingin melajukan mesin motornya, Nisa menahannya sebentar untuk bertanya kepada Arga.


"Lo tau alamat rumah gue darimana?" Tanya Nisa yang terlihat kebingungan.


Arga pun mendengus pelan, "Abang lo teman gue."


Seketika gadis bermanik biru itu pun kikuk, ia merasa sangat malu. Kenapa ia bisa seceroboh ini? Hm, Memalukan.


"Em nggak mau mampir dulu?" Tanya Nisa menawarkan.


"Nggak," ujar Arga datar dan melajukan motornya kencang yang menghilang dari hadapan Nisa.


"Cowok nyebelin," gerutunya sambil masuk kedalam rumahnya besarnya.


****


"Assalamualaikum," Sapa Nisa.


"Waalaikumsalam, eh adik udah pulang," jawab wanita paruh baya itu sambil menyalimi anaknya.


"Eh abang kamu mana?" Tambahnya yang celingukan mencari seseorang.


"Abang belum pulang, masih ada tugas disekolah. Jadi pulangnya telat, Mah," kata Nisa yang hendak pergi ke kamarnya.


"Lalu kamu tadi pulangnya sama siapa?" tanya Ratna kepada gadis tersebut.


"Teman mah," jawab Nisa yang masih berjalan lurus tanpa enggan menoleh.


"Hem teman apa teman? Cowok loh tadi yang nganterin," goda Ratna yang membuat Nisa terkejut dan membalikkan badannya ke belakang.


"Mamah liat tadi?" Tanya Nisa memastikan.


"Iya, ganteng banget cowok kamu," kata Ratna yang masih menggoda Nisa.


"Apaan sih mah, Nisa cuma temenan sama dia," kesal Nisa seraya berlalu pergi menuju ke kamarnya.


Setelah memasuki balkon kamarnya, gadis itu pun merutuki dirinya tak jelas.


"Ih capek gue, hari ini benar-benar kacau gegara si kulkas cowok nyebelin itu. Kenapa sih kok dia selalu aja bikin hidup gue nggak tenang. Mamah juga tuh, kenapa bisa mikir kalo Arga cowok gue? Ihh ogah banget gue," gerutu Nisa seraya mengambil handuk untuk segera membersihkan dirinya yang sudah lengket.


Setelah selesai, Nisa berjalan menuju lemarinya untuk mengambil pakaian. Ia mengenakan T-shirt berwarna biru serta celana selutut yang memamerkan kaki putihnya dan menambah kesannya lebih cantik dengan pakaian santainya yang sedikit sexy body.


Ia berjalan menuju dapur untuk membantu bu Ratna memasak. Bu Ratna sepertinya akan menyambut kedatangan tamu karena ia memasak begitu banyak.


"Mah, kok masaknya banyak banget, emang lagi ada pesta ya," ujar Nisa penasaran.


"Nggak kok dek, mamah lagi cuma pengen masak aja," jawab Ratna.


"Tapi kok banyak banget mah?" Tanya Nisa lagi.


"Karena nanti kita akan kedatangan orang spesial," ujar Ratna dengan senyum melekat di bibirnya.


"Siapa mah?" Tanya Nisa penasaran.


"Nanti kamu akan tau sendiri. Yaudah lanjutin, jadi bantuin mamah kan!!" Seru Ratna seraya melanjutkan pekerjaannya.


Nisa hanya mengangguki dan membantu Ratna memasak seraya terus memikirkan siapa orang yang akan disambut oleh mamahnya nanti, sepertinya orang itu tidaklah asing bagi Nisa.


****


"Kita bertemu dalam ketidak sengajaan hingga datang sebuah perasaan yang membuatmu semakin terlihat berkesan. Seperti halnya rumput ini, yang setiap pagi di singgahi oleh embun dan selalu tegar di sirami sinar matahari."

__ADS_1


~Arga Kusuma Sanjaya~


__ADS_2