Love Young People

Love Young People
Kedatangan tamu spesial.


__ADS_3

Saat sedang asyiknya memasak sambil bernyanyi-nyanyi, seketika ada yang mengejutkan gadis bermanik mata biru tersebut dari belakang.


"DOORRR!" kejut lelaki tersebut yang tak lain adalah kakaknya sendiri.


"ARGHHH,"


"IH ABANG, AKU KAGET TAU. LIHAT JADI BERANTAKAN KAN GARA-GARA ABANG. POKOKNYA AKU NGGAK MAU TAU ABANG HARUS BERSIHIN SEKARAANGG," jerit Nisa yang berhasil membuat Ratna dan Dimas menutup kedua telinga mereka masing-masing.


 


Gadis tersebut kesal atas kelakuan Dimas yang mengejutkannya saat ia sedang memasukkan tepung kedalam nampan, yang akibatnya tepung itu tumpah dan berserakan ke lantai. Sementara Dimas ia malah tertawa terbahak\-bahak melihat rambut dan wajah adiknya terkena tumpahan tepung.


 


"Hahaha bercanda doang dek," ujar Dimas yang masih dipenuhi gelak tawa.


"TAPI BERCANDA NYA NGGAK LUCU, SEKARANG ABANG BERSIHIN SEMUANYAAA," teriak Nisa yang terlihat kesal.


"Kalo abang nggak mau gimana?" Goda Dimas seraya merapikan rambutnya yang berantakan akibat jambakan dari gadis tersebut.


"Mamaa abang tuh nyebelin," rengek Nisa yang meminta dibela oleh Ratna.


"Kamu itu ya, masih aja menjaili adik kamu saat sedang begini," geram Ratna yang mengangkat sebelah tangannya lalu menarik telinga Dimas.


"Aww ssh sakit, Mah. Ampunn, iya Dimas akan beresin," ringis Dimas yang mendapat jeweran mendadak dari Ratna.


"Hwaha sukurin emang enak wlekk," ujar Nisa yang tertawa kemenangan seraya menjulurkan lidahnya dan mendapat tatapan tajam dari Dimas.


"Adek bersihin rambut sama muka dulu sana, biar mamah dan abang yang akan melanjutkan," pinta Ratna yang hanya diangguki oleh gadis bermanik mata biru tersebut.


Ia pun segera berlalu pergi menuju ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan rambutnya yang terkena tumpahan tepung.


"Mah, ini ada acara apa sih kok tumben masaknya banyak banget dan bikin adonan kue segala?" Tanya Dimas yang penasaran dan bingung.


"Nanti kamu juga akan tau sendiri," ujar Ratna seraya tersenyum simpul.


****


Saat berada di kamar mandi, gadis tersebut terus saja merutuki kebodohan kakaknya. Tak lupa, mulutnya selalu komat-kamit mengucap berbagai sumpah serapah tak jelas.


"Nyebelin banget sih abang, rambutku jadi kotor begini lagi," cerocosnya seraya mengibas-ngibaskan rambutnya guna menghilangkan tepung yang menempel.


"Huft, muka gue yang cantik ini harus terkena tepung pula," gerutunya yang terlihat memuji-muji dirinya sendiri.


Setelah selesai, gadis itu pun langsung menuju ke dapur guna untuk segera membantu ibu dan kakaknya. Tak lupa, ia selalu melirik sinis ke arah kakaknya.


"Kenapa di bersihkan? Kamu lebih cantikan yang seperti tadi," Ujar Dimas tertawa jail.


Nisa hanya menjawabnya dengan ketus, "Terserah."


"Sudah-sudah, ayo bantu mama merapikan semuanya," pinta Ratna yang melerai pertengkaran kecil kedua anaknya.


"Siap, Mah." Ujar Dimas semangat.

__ADS_1


Mereka telah selesai memasak yang akhirnya di bawa ke meja makan sembari di susun rapi layaknya restoran. Tak henti-hentinya Dimas selalu menjaili adiknya.


Hm, dasar Dimas. Kalau Nisa naik darah, baru tau rasa dia !


Namun, di tengah-tengah mereka yang sedang seriusnya menata serta merapikan makanan, seketika terdengar suara ketukan pintu dari seseorang di luar sana.


Tok! tok! tok!


Suara ketukan pintu terdengar sangat jelas dan membuat mereka menghentikan aktivitas sejenak.


"Ada yang ngetuk pintu tuh, adek bukain ya? Biar mamah dan abang yang lanjutin," pinta Ratna lembut kepada anak gadisnya.


"Baik, Mah." balas Nisa seraya menuju ke ambang pintu.


Saat sedang membuka pintu, betapa terkejutnya gadis tersebut dikala melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Manik birunya yang berkaca-kaca menatap sosok lelaki paruh baya tersebut, hatinya candu karena sudah beberapa tahun lamanya ia tak bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan saat ini.


Tanpa berfikir panjang, dengan segera gadis bermanik biru tersebut memeluk sosok lelaki paruh baya yang kini berada di hadapannya hingga ia terisak pelan.


"PAPAAA," jeritnya seraya memeluk sosok lelaki tersebut yang tak lain adalah papanya sendiri yaitu Buyung Daquavalen.


"Apa kabar kamu nak? Kamu sudah besar sekarang," lirih Buyung yang masih terlihat dipeluk anak gadisnya.


"Papa kemana aja, waktu Sasa pulang dari Prancis papa nggak ada di rumah. Sasa kangen benget sama papa," ujar Nisa yang masih terisak pelan.


"Papa ada tugas di Surabaya nak, papa minta maaf karena tidak mengabari kamu. Papa juga kangen sama Sasa," balas Buyung seraya melepaskan pelukan mereka.


"Oh ya, papa ingin memperkenalkan seseorang kepada kamu," tambahnya lalu memegang kedua bahu putrinya.


"Siapa, Pah?" Tanya Nisa penasaran.


"Tante Maria, om Junet, dan ini_" ucapan Nisa terpotong dikala seorang lelaki muda tampan tersebut memotong pembicaraaanya.


"Iya, aku Dion," ujar lelaki muda tersebut seraya melipat kedua tangannya di depan dada dan bergaya cool.


"DION BAGASKARA? YAAMPUN LO UDAH BESAR SEKARANG?" Jerit Nisa yang terlihat sangat bahagia, dan ia pun mengamati Dion dari ujung kaki hingga kepala.


"Lah, yang ada gue nanyain gitu ke elo Sasa. Masih tua'an gue juga kali," ucap Dion yang terlihat tertawa kecil.


"Hehe iya juga sih ya," jawab Nisa kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Eh kalian udah datang, ayo silahkan masuk," ucap Ratna yang tiba-tiba dari belakang mereka dan sontak membuat mereka menoleh ke sumber suara.


Mereka pun makan malam bersama di rumah keluarga 'Valen'. Seketika canda tawa mereka pecah, mulai dari cerita tentang anak-anak mereka, hingga ke topik bisnis.


Dan setelah selesai makan, Dion pun mengajak Nisa jalan-jalan ke samping kolam renang milik gadis tersebut.


"Sa," panggil Dion lirih.


"Hm, apa?" Jawab Nisa seraya menoleh ke hadapannya.


"Lo makin cantik ya, gue sampai sedikit nggak ngenal lo tadi," lirih Dion sambil menatap bintang-bintang yang berada di langit.


"Hm, biasa aja lah," ujar Nisa yang sedikit tersipu malu.

__ADS_1


"Eh btw, lo sekolah dimana sih yon?" Tambahnya yang terlihat serius menatap lelaki tampan di sebelahnya.


"SMAN 2 Jakarta," balas Dion singkat yang masih setia menatap bintang berkelip di atas langit.


"DAEBAK, YANG BENER LO?" Teriak Nisa yang membuat Dion melonjak kaget dan harus menutup telinganya karena suara cempreng gadis tersebut.


"Aduh, nggak usah teriak juga kali Sa. Bikin gue kaget aja," gerutu Dion seraya memegangi kedua telinganya.


"Emang bener yang lo ucapin tadi?" Bisik Nisa yang kini telah memandang Dion serius seolah ingin meminta jawaban.


"Ya benar lah, bahkan gue udah tau lo dari awal. Lo di kelas XI-Ips 2 kan? Kalo gue di kelas XI-ips 5 Sa," ujar Dion seraya membenahi dan merapikan rambutnya.


"Iy-iya kok lo tau sih? Padahal kelas kita lumayan jauh, ya pantes aja gue nggak pernah liat lo," kata Nisa yang terlihat berpikir.


"Kan gue udah bilang kalo gue tau lo sejak awal lo masuk sekolah disitu Sa," ujar Dion yang terlihat kesal.


"Kenapa lo nggak nemuin gue padahal lo tau gue dari awal," rengek Nisa seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Waktu itu gue belum ngenal lo, Lo aja sekarang beda banget nggak kayak 7 tahun yang lalu. Ya wajar aja kalo sebelumnya gue nggak ngenal lo Beauty," ujar Dion santai seraya mencubit kedua pipi Nisa gemas.


*****


Disisi lain, terdapat seorang lelaki muda angkuh yang tengah merindukan sosok keharmonisan keluarganya.


Terlihat langkah seorang lelaki muda bermata hazel sedang berjalan gontai menuruni anak tangga. Di lihat sekelilingnya dengan teliti, yang akhirnya membuat ia kembali menggeram marah ketika menyaksikan pertengkaran lagi-lagi dari kedua orang tuanya.


Membuat niatnya yang akan turun kebawah kembali ia urungkan untuk berbalik dan berjalan menuju balkon kamarnya, siapa lagi kalo bukan Arga kusuma sanjaya. Ia memiliki alasan kenapa ia selalu bersikap dingin dan angkuh ke semua orang. Itu karena: dirumahnya selalu ada pertengkaran antara kedua orang tuanya.


Kurangnya kasih sayang Arga terhadap kedua orang tuanya yang sibuk pada pekerjaaan mereka, membuat ia menjadi sosok yang dingin dan memiliki tatapan yang mematikan yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa takut.


Tetapi, banyak siswi yang nekat untuk mendekati hatinya yang membuat ia pun risih dan sesekali bertindak kasar terhadap siapapun yang telah berani mengusik ketenangannya.


'BRAKK'


Dengan kasar, Arga membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju balkon kamarnya seraya menatap bintang-bintang di langit yang tengah memancarkan sinarnya, membuat amarahnya kembali sedikit mereda.


Saat sedang asyiknya menatap bintang, tiba-tiba saja pikirannya berkelana terhadap sosok gadis bermanik mata biru yang selalu ia temui beberapa hari ini. Tak terasa, bibirnya pun ikut menyunggingkan senyum ketika melihat foto Nisa berbalut tepung diwajah dan rambutnya yang diunggah Dimas di medsos.


"Manis," gumamnya pelan yang masih melihat gambar gadis cantik tersebut dilayar ponselnya.


Baginya, dengan melihat setiap tingkah gadis cantik tersebut. Arga yang selalu emosi pun harus sesekali tersenyum di buatnya.


****


Setelah selesai mengobrol, akhirnya Nisa dan Dion memilih kembali ke dalam rumah untuk menemui keluarga mereka. Akhirnya, Maria, Junet, dan Dion pun segera pamit undur diri untuk pulang kerumah mereka.


Setelah kepulangan Dion dan orang tuanya, Nisa pun memilih untuk istirahat di dalam kamarnya. Saat sedang merebahkan tubuhnya dikasur empuknya untuk bersiap menuju alam mimpi, tiba-tiba saja pikirannya mengarah pada sosok Arga. Entah kenapa hati gadis tersebut selalu merasakan hal aneh ketika sedang bersama Arga.


"Ish apaan sih gue mikirin si es balok, kurang kerjaaan banget. Mendingan gue tidur," ujarnya menggelengkan kepalanya cepat.


"Tapi, dia ganteng juga ya?" Tambahnya hingga tak terasa matanya pun ikut terpejam.


****

__ADS_1


"Sebelumnya, aku belum pernah merasakan jatuh cinta. Tetapi entah kenapa, saat aku bertemu dengan sosok dirimu. Segalanya pun ikut berubah."


~Arga Kusuma Sanjaya~


__ADS_2