
Pagi yang indah, mentari yang tengah bersinar cerah dari balik lembah. Terlihat seorang gadis cantik yang memiliki manik mata biru, sedang berjalan gontai menelusuri koridor sekolah.
Hari ini, gadis itu berangkat lebih awal dari biasanya. Bahkan, ia berangkat sendiri tanpa di temani oleh kakak lelakinya. Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini !
Cukup lama ia berjalan, akhirnya ia pun tiba di sebuah kelas yang lumayan sepi. Tak lain adalah kelasnya sendiri. Saat gadis tersebut ingin segera menduduki tempatnya, seketika terdapat sebuah tangan yang tengah menempel di punggungnya. Sontak gadis itu pun terkejut.
"Arghh," jerit Nisa terkejut.
"Kalian ini, ngagetin aja !" Dengus Nisa yang terlihat kesal.
"Maaf," ujar Clara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Untung aku nggak terlalu kaget amat !" Sergah Nisa malas.
"Eh, Nisa. Tumben lo pagi-pagi begini udah datang?" Tanya Laras penasaran.
"Gue kan setiap hari juga selalu pagi berangkatnya," ujar Nisa yang terlihat sibuk merapikan bangkunya.
Sontak Clara pun berbicara jengah, "Pagi tapi kok sering terlambat."
Gadis bermanik biru itu pun hanya menyengir tak jelas seraya terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tak terasa, cukup lama mereka berbincang-bincang. Seketika bel masuk pun berbunyi, pertanda jam pertama pelajaran tengah di mulai.
"Udah bel masuk, kalian duduk dibangku masing-masing !" Tutur Nisa seraya mengeluarkan buku catatan biologinya.
"Dih, tumben lo bijak," cibir Laras tersenyum kecut.
__ADS_1
"Iya lah, gue itu selalu bijak dan cerdas !" Ujar Nisa percaya diri.
Tina pun bertanya bingung, "Nisa, kamu bajak akunnya siapa?"
Seketika mereka bertiga pun menepuk jidat masing-masing dan menatap Tina sinis seolah ingin segera memakan gadis lugu tersebut.
"TINAAA !" Teriak mereka bertiga serempak.
Suasana seisi kelas yang sebelumnya terlihat gaduh, harus hening dan bungkam seketika mendengar teriakan nyaring mereka. Hingga keempat kawanan gadis itu pun menjadi tontonan sekilas oleh teman sekelasnya.
"Kenapa? Ada yang salah ya?" Tanya Tina dengan polosnya.
"Kapan sih, lo kalau diajak bicara bisa nyambung?" Ujar Nisa gemas yang berucap seperti dramatis.
"Capek kita ngomong sama lo," tambah Clara yang terlihat sedikit kesal.
Nisa pun mendengus dramatis, "Aduh, Tina. Bolehkah aku mencekik lehermu?"
"Sudah-sudah. Tina, ayo duduk ke bangku kita sebelum bu Sri datang !" Seru Laras melerai.
Gadis itu pun hanya mengangguk tanpa enggan untuk berkata-kata lagi. Ia tak mau, jika teman-temannya marah lagi kepadanya.
Hingga tak berselang lama, guru biologi mereka yang kerap dipanggil Sri, seketika datang ke kelas mereka guna untuk segera melaksanakan belajar mengajar.
Tiga puluh menit telah berlalu, waktu istirahat pun telah tiba. Semua murid sibuk mengisi perut masing-masing. Tak heran jika mereka selalu mengantri secara berdesak-desakan di kantin yang tak pernah sepi tersebut.
"Ayo ke kantin !" Ajak Clara yang terlihat sudah tak sabar.
__ADS_1
"Ayo," balas Laras bersemangat.
Disaat mereka hendak pergi ke sebuah kantin, seketika langkah mereka terhenti tepat di depan pintu keluar dikala baru menyadari jika keberadaan gadis bermanik biru itu tidak ada diantara mereka. Lantas, kemana kah gadis tersebut?
Clara pun celingukan mencari keberadaan sosok tersebut. Hingga matanya pun tertuju kepada seorang gadis cantik yang tengah tersenyum seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Woy, Nisa. Kita udah nunggu daritadi, lo malah cengar-cengir nggak jelas disitu !" Sergah Clara seraya menghampiri gadis tersebut.
"Kalian duluan aja, nanti gue menyusul," ujar Nisa yang masih tersenyum.
"Mau kemana lo?" Tanya Clara penasaran.
"Dih, kepo !" Seru Nisa tertawa seraya berlalu keluar kelas.
Sementara Laras dan Tina, yang sedari tadi menunggu di luar kelas. Merasa bingung, dikala melihat seorang gadis bermanik biru yang tengah keluar kelas seraya tersenyum manis yang mampu membuat mereka terpana. Memang benar, gadis itu sangatlah cantik !
Hingga Clara pun keluar dengan ekspresi sedikit kesal yang membuat mereka berdua heran seketika.
"Kenapa lo?" Tanya Laras heran.
"Dan, Nisa. Dia mau kemana?" Lanjut Laras.
Clara pun mendengus pelan, "Tidak tau. Dia nggak kasih tau ke gue."
"Udah, ayo ke kantin !" Ajak Tina yang terlihat lesu.
"Iya," balas Laras seraya berlalu pergi dan diikuti oleh mereka berdua.
__ADS_1
****