Love Young People

Love Young People
I'am sorry.


__ADS_3

Mobil sport berwarna putih terparkir rapi diarea parkiran sekolah. Menampakkan seorang lelaki dan perempuan yang terlihat saling senyum antar sesama.


Kedua insan tersebut pun segera melangkah tuk menuju ke kelas mereka. Seperti biasa, mereka berdua selalu menjadi topik pembicaraan oleh siswa-siswi SMAN 1 Jakarta.


Tak berselang lama, datanglah sosok lelaki bertubuh jangkung yang menaiki motor ninja berwarna hijau. Senyum manis pun terukir dibibir gadis bermanik biru yang sedari tadi menatapnya.


Namun, kini pandangan Nisa pun teralih kepada sosok perempuan yang bergelayut manja dibelakang lelaki tersebut. Mereka menaiki motor seperti layaknya sepasang kekasih yang begitu mesra. Tunggu, siapakah perempuan itu?


Kini, dadanya pun terasa sesak. Retina birunya memanas seolah sedang menahan cairan bening yang hampir terjatuh dari pelupuknya. Nafasnya memburu seketika yang tampak kekurangan oksigen.


Hatinya bergejolak, ia tak mampu menahan semua ini. Tangannya mencengkram kuat, seolah ingin segera mencabik-cabik perempuan itu. Tubuhnya pun serasa ingin ambruk, karena kakinya yang bergetar hebat.


'Tahan, Nisa. Tahan! Kau tidak boleh terlihat lemah dihadapannya,' Batin Nisa dalam hati.


Merasa paham, Dimas pun langsung mengelus bahu adiknya secara lembut. Lalu, ia pun seperti menyemangati gadis tersebut agar tetap tegar atas apa yang sedang dialaminya.


Hingga sepasang lelaki dan perempuan itu pun segera turun dari motor mereka, dan hendak menuju kearah Dimas.


Pandangan lelaki tersebut yang tak lain adalah Arga, seolah tertuju kepada gadis bermanik biru yang berdiri disebelah Dimas. Gadis itu pun tak menatapnya sama sekali, hingga Arga pun menaikkan sebelah alisnya bingung.


Aneh, tak biasanya Nisa seperti ini!


Bahkan, Arga kini telah berdiri tepat didepannya. Namun, gadis tersebut enggan untuk menatapnya. Hingga Nisa memilih untuk segera masuk ke kelasnya saja.


"Bang, aku ke kelas dulu ya?"


Dimas pun mengangguk, "Iya, hati-hati."


Merasa heran, Arga senantiasa mengamati kepergian gadis tersebut yang terlihat mulai menghilang ditelan oleh tikungan koridor sekolah.


Sementara perempuan yang bersama Arga dan tak lain adalah Cika, sedari tadi ia hanya diam tak bergeming yang berada dibelakang agak jauh dari Arga seolah sedang menyimak pembicaraan mereka.


"Lo sama Cika, pacaran?" Tanya Dimas tersenyum kecut.


"Enggak, kita cuma teman!?" Sanggah Arga terlihat santai.


"Serius?" Tanya Dimas mengernyitkan alisnya.


"Iya, serius," ujar Arga datar.


"Lalu, kenapa berangkatnya bisa bersama? Terlihat mesra pula," cibir Dimas seraya tersenyum miring.


Seketika Arga pun menarik nafas panjang, "Ibunya Cika yang menitipkan dia ke gue."


Sementara Dimas, ia hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Ayah gue lagi sakit, dan tidak ada yang mengantarkan. Jadi, hari ini gue nebeng sama Arga!" Seru Cika yang ikut menjelaskan.


"Oh," balas Dimas.


Tanpa membuang waktu lagi, mereka pun langsung berjalan guna segera menuju ke kelas yang sebentar lagi akan dilaksanakan kegiatan belajar mengajar.


Dan kebetulan, kelas Cika juga berada di kelas XI-MIPA 4. Tepatnya satu kelas sama mereka berdua.


Ditengah perjalanan, seketika terdapat seorang siswi bersama dengan kedua sahabatnya. Sedang berjalan tergesa-gesa kearah mereka bertiga.


"Aduh, ****** gue!?" Umpat Dimas menepuk jidatnya pelan.


"Kenapa?" Tanya Arga bingung.


Namun, Dimas tak menanggapi ucapannya. Terlihat jika wajah Dimas saat ini tengah menegang. Seperti sedang dikejar oleh seekor hantu saja!


"MY HUSBAND DIMAS, I'AM COMMIIING," jerit siswi tersebut yang memenuhi seisi penjuru.


Siswi tersebut yang tak lain adalah Dara, langsung bergelayut manja dilengan kanan milik Dimas.


"Yaampun, suamiku. Aku kangen banget sama kamu. Utututu," Rengek Dara seolah tak ada malu sedikitpun.

__ADS_1


"Apaan sih, lepasin gue," sergah Dimas kesal seraya berusaha melepaskan benda yang tengah menempel dilengannya.


"Enggak mau, ayo kita jalan, My husband!" Ajak Dara dengan senyum sumringah.


"Jijik gue sama lo," ujar Dimas kesal.


Ia pun melepaskan tangan Dara yang bergelayut dilengannya secara kasar. Hingga mampu membuat tubuh Dara terhempas kesamping.


"Aduh, sakit Hanny. Kenapa kamu kasar begitu sama aku?" Lirih Dara memelas.


"Gue tidak peduli," geram Dimas sedikit emosi.


"Minggir, gue mau lewat!?" Lanjutnya seraya berlalu meninggalkan mereka semua, tepatnya agar dapat terhindar dari bahaya maut.


Sementara Arga, ia hanya dapat menahan tawanya. Karena perilaku Dimas yang berusaha menghindari cengkraman dari nenek lampir tersebut, terbilang sangat lucu dibenaknya.


"Ihh MY HUSBAND DIMAS KOK KAMU TEGA NINGGALIN AKU SIH," Pekik Dara yang menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Dara, kenapa kamu berteriak seperti itu? Ini masih pagi," ujar seorang pria yang tak lain adalah Bambang, guru yang terkenal galak dan ditakuti oleh para siswanya.


Seketika mereka pun langsung menatap kaget kesumber suara tersebut. Terutama Dara, ia merasa sangat terkejut dan ketakutan.


"Eh pak Bambang yang ganteng, bapak sejak kapan ada disini?" Tanya Dara yang cengar-cengir kearah guru tersebut.


"Cepat kamu masuk kedalam kelas!" Titah Bambang tegas.


"Jangan marah-marah dong, Pak. Nanti bapak bisa cepat tua," ujar Dara cengengesan.


"Cepat masuk atau bapak akan hukum kamu," sergah Bambang yang merasa jengah.


"Tapi, Pak_" Ucapan Dara terpotong dikala Bambang mulai menghitung angka.


"Satu... Dua..."


"Eh, iya, aduh, masuk, ayo cepat," Pekik Dara seraya berlari ketakutan.


"Cika, Arga, kalian juga cepat masuk kedalam kelas!" Tegas Bambang.


"Iya, Pak." Balas Arga kemudian.


Dengan segera, mereka pun kembali berjalan menuju ke ruangan kelas mereka untuk segera mengikuti kegiatan wajib sebagai seorang siswa.


****


Satu bulan telah berlalu, dimana seorang gadis cantik yang selalu ceria, seakan-akan tak memiliki beban dalam hidup. Kini, ia harus menjadi sosok yang amat pendiam dan sedikit arogan.


Senyumnya yang selalu terpancar dulu, sekarang sudah tiada lagi bak ditelan suramnya kehidupan. Gadis yang selalu berisik, kini harus mendadak bungkam seketika.


Baginya, semesta sangatlah kejam!. Bagaimana bisa ia telah kehilangan semuanya. Sekarang, gadis itu tak pernah lagi mengeluarkan sepatah kata sedikitpun. Jika itu tidaklah penting baginya.


Kini, ia menjadi wanita misterius, wanita yang sulit ditaklukan oleh siapapun. Bahkan, sama keluarganya sendiri, sikapnya berubah sangat dingin seketika.


Entah apa yang merasuki pikiran gadis tersebut. Ia lebih suka memilih untuk menyendiri daripada bergabung dengan yang lainnya. Baginya, menyendiri jauh lebih tenang! Ya, sekarang dia sangat suka pada ketenangan.


Dibawah pohon rindang yang berada agak jauh dari kelasnya, tepatnya diarea pojok sekolah, menjadi tempat kesukaan gadis itu untuk menyendiri. Bahkan, ia tidaklah pernah berbincang-bincang dengan ketiga sahabatnya. Jika itu hanya cipika-cipiki dan menurutnya sangatlah tidak penting. Hanya membuang waktu saja!!


"Arga, kenapa kamu tega sama aku?!"


"Disaat aku berhasil mencintai kamu, kenapa kamu pergi menjauh? Aku sayang banget sama kamu."


"Ternyata, semua cowok itu sama saja!?"


Tak terasa, jika tetesan bening dipelupuk birunya, jatuh lolos begitu saja membasahi pipinya. Entah kenapa, gadis itu menjadi cengeng sekarang. Baginya, ia akan rapuh jika harus berhadapan dengan Arga, yang kini menjadi kelemahannya.


Suara dentuman lonceng sekolah telah berbunyi, pertanda semua siswa-siswi diperbolehkan pulang kerumah masing-masing dan akan berjumpa besok pagi dengan semangat belajar baru.


Ditengah keramaian, terlihat gadis bermanik biru tengah melangkah gontai menuju kelasnya. Seketika ia disambut oleh ketiga sahabatnya, yang kurang lebih satu bulan lamanya tak mendengar ocehan ataupun jeritan nyaring dari gadis tersebut.

__ADS_1


"Nisa? Lo udah kembali, barusan kita mau mencari lo dan ternyata orangnya udah kesini," ujar Clara yang terlihat cengar-cengir serta diikuti oleh kedua gadis disebelahnya.


Namun, Nisa tak menggubris ucapan Clara, ia malah terlihat sibuk merapikan barangnya dan siap untuk berkemas pulang. Merasa tak direspon, Clara pun mendekati gadis tersebut guna ingin menanyakan perihal masalahnya. Barangkali, mereka dapat membantu!!


"Lo kenapa sih?" Tanya Clara sendu.


"Kalau ada masalah, lo bisa cerita ke kita,"


"Iya, Nisa. Cerita aja gih!" Seru Tina.


"Kita kangen sama suara lo, Nisa. Gue mohon, kembalilah seperti dulu!?" Ujar Laras menambahi.


Parah, gadis itu pun kembali tak merespon. Ia malah hendak pergi keluar kelas. Lalu, ia anggap apa mereka ini? Angin lewat?!


"Gue udah tidak tahan. Sekarang katakan, siapa yang telah membuat lo seperti ini?" Bentak Clara menarik pergelangan gadis tersebut secara kasar.


Clara membawa Nisa terduduk dibangku mereka, dan menguncinya agar gadis itu tidak berusaha untuk kabur. Sementara Laras dan Tina, mereka hanya dapat diam mematung, tanpa bisa berkata sedikitpun. Nisa juga terkejut, ia tak percaya jika Clara akan berubah ganas seperti ini.


"Clara, apa yang kau lakukan. Lepasin aku, kakakku sudah menungguku!?" Sergah Nisa meronta.


"Lo tidak dengar gue bicara? Bahkan, lo tidak menjawab pertanyaan gue," tekan Clara.


"Clara, sudah. Kasihan Nisa, biarkan dia pulang," ujar Tina yang merasa kasihan.


"Iya, Clara. Kasihan dia!" Tambah Laras.


Mendengar ucapan dari kedua sahabatnya, Clara pun merasa jengah, "Apa? Kasihan? Dia bahkan sudah mendiamkan kita selama satu bulan. Apa dia merasa kasihan? Tidak 'kan? Lalu, untuk apa kita kasihan terhadapnya."


Memang, keadaan kelas saat ini tengah sepi. Hanya terdapat mereka berempat, tiada lagi murid lain yang tersisa. Jadi, Clara tidak merasa khawatir jika ada yang mengetahui kejadian tersebut. Baginya, ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengetahui isi hati gadis blesteran tersebut.


"Baiklah, apa maumu?" Tanya Nisa dingin.


"Gue mau, lo cerita ke kita tentang masalah lo!" Lirih Clara yang menatapnya sendu.


"Untungnya apa buatmu?" Tanya Nisa yang terbilang sangat dingin.


"Kita ini sahabat, Nisa. Barangkali bisa membantu," ujar Clara meyakinkan.


Nisa pun tersenyum kecut, "Kau tak akan pernah mengerti tentang yang kualami."


Dengan segera, Nisa beranjak seraya mengambil tasnya. Ia berjalan keluar kelas meninggalkan mereka yang masih diam tak bergeming. Sementara Clara, ia merasa bingung atas ucapan gadis tersebut. Apa maksud dari kata-katanya?


Gadis itu berjalan melalui koridor sekolah, retina birunya yang senantiasa menyapu setiap sudut jalanan tersebut. Hingga ia pun telah tiba diarea parkiran, seketika ia disapa hangat oleh lelaki tampan yang tak lain adalah kakaknya.


"Udah gosipnya, aku udah nunggu lama disini!" Ujar Dimas mengacak rambutnya pelan.


Namun, tak ada respon dari gadis tersebut. Bahkan, ia hanya menatap kakaknya secara datar. Sementara Dimas, ia masih terlihat terus mencari topik pembicaraan bersama Nisa. Jujur, sekarang ia kesulitan untuk berbicara dengan gadis tersebut.


Seketika terdapat sesosok lelaki bertubuh jangkung tengah menghampiri mereka berdua. Tak lupa, ia juga memberikan sapaan hangat kepada mereka. Tepatnya gadis bule tersebut.


"Kalian belum pulang?" Tanya Arga dengan senyuman manisnya.


Tatapan Nisa pun langsung teralih kearah lelaki tersebut, yang kini tengah menatapnya dengan senyum yang terpancar diwajahnya. Gadis itu pun merasakan tenang dihatinya, ingin sekali ia memeluk lelaki itu saat ini. Namun, apalah dayanya yang hanya mampu untuk memendam segala rasanya!?


"Belum, kebetulan ketemu lo disini. Gimana kalau kita jalan dulu?" Tanya Dimas menawarkan.


"Boleh. Udah lama kita tidak berbicara," ujar Arga, tatapannya pun teralih pada Nisa. Dengan maksud, jika gadis tersebut akan peka.


"Nisa, kamu ingin jalan kemana?" Tanya Dimas memastikan.


Gadis itu pun hanya menggeleng pelan. Ia tak berniat untuk mengeluarkan suara. Dengan segera, ia memasuki mobilnya. Terdengar jika pintu mobil tersebut dibantingnya lumayan keras. Kenapa Arga harus kembali lagi, dengan keadaan yang seperti ini? Seketika pikirannya berkecamuk.


"Ga, lain kali aja ya!" Seru Dimas yang merasa tak enak kepada lelaki tersebut.


"Dia kenapa?" Tanya Arga khawatir.


Sementara Dimas, hanya mengangkat bahunya acuh. Ia segera menyusul gadis tersebut untuk memasuki mobilnya. Terlihat jika Nisa tengah mengusap air matanya kasar. Dimas pun memegang dagu gadis tersebut, seraya terlihat menenangkannya.

__ADS_1


__ADS_2