
Pagi ini langit cerah. Sinar mentari menghangatkan dari hawa dingin pagi hari. Naya bangun dengan wajah ceriah dengan senyum sumringah di wajahnya. Dan siap melakukan aktivitas Seperti biasa.
Lunaya Kharisma. Gadis ceria dengan sifat optimis dan pantang menyerah. Naya, biasa dia disapa. Naya tinggal bersama Ibu dan Bibinya di rumah peninggalan Mendiang Neneknya. Naya tumbuh hanya dengan kasih sayang sang Ibu. Sejak kecil Bapaknya pergi menghilang tanpa kabar berita hingga sekarang. Hingga dia memendam rasa kecewa yang besar pada sang Bapak. Setiap kali temannya bertanya mengenai Bapaknya, dengan lugu Naya menjawab “Bapak lupa jalan pulang.” ada saja.. Yang berujung Naya sering di ejek teman-temannya. Dan dia memilih tidak pernah memperdulikannya.
“Masak apa Bu?” ucap Naya menghampiri ibunya di dapur.
“Masak Gulai Ayam kesukaan kamu.”
“Harum,” ucap Naya sambil menghirup aroma masakan, “aku bantu ya Bu..!”
“Bukannya kamu mau ke pasar? beli bahan untuk jualan bubur besok.”
“Sebentar lagi, mau bantu Ibu dulu,” ucap Naya manja sambil memeluk ibunya dari belakang dan menyandarkan kepala di punggung ibunya.
“Masih belum jerah?” sahut Bibi Danti, bibinya Naya.
“Maksudnya Bibi apa?” tanya Naya.
“Ya kamu.. Ngayalnya ke tinggian. Sudah bolak balik jatuh gak kapok juga,” sahut Bibi Danti sinis.
“Jatuh?” jawab Naya ketus.
“Masih belum sadar? ngayalnya ingin buka toko Bakery yang besar dan terenak, nyatanya apa? buat usaha kopi kekinian.. dan terakhir buka usaha catering. Semuanya pada gak jelaskan. Gulung tikar. Itu masih kurang.”
Naya menatap Bibi Danti penuh kesal.
“Namanya juga usaha Bi.. kalau gagal itu biasa,” ngotot Naya.
__ADS_1
“Kamu luar biasa, terlalu keseringan. Mending Nikah urus Suami, urus Anak. Kerjaannya di dapur. Ini.. kemaren ada ngelamar kok mala di tolak, kalau tidakkan kamu sudah hidup enak.”
“Terus ujungnya cerai kayak Bibi atau di tinggal lakik kayak Ibu.”
“Lancang kamu ya Nay..” ucap Bibi Darti sambil menunjuk Naya dengan penuh kesal.
Melihat pertengkatan Naya dan kakak perempuannya tak terkendali, ibunya Naya mencoba melerai. Merangkul Naya menenangkannya.
“Naya kamu tidak boleh seperti itu. Tidak sopan!” ucap ibunya Naya lembut.
“Bibi yang mulai duluan Bu.. Lagian apa bagusnya si Hendrik itu sih.. pengangguran begitu, hanya mengandalkan uang orang tua,” bela Naya. “Tidak sekalian saja Bibi suruh Naya nikah sama Bapaknya. Yang banyak uangkan Bapaknya.”
“Kurang ajar kamu.”
Bibi Darti mengangkat tangannya hendak mendaratkan ke pipi Naya. Dengan amarah. Matanya terbelalak. Dan dengan cepat ibunya Naya menampisnya. Melindungi Naya.
“Kamu ajari anak kamu sopan santun, Marni,” ucap Bibi Darti berlalu pergi dengan wajah penuh kesal.
Ibu Marni membawa putrinya ke kamar tidurnya. Memberikannya air minum untuk menenangkan Naya. Dengan lembut dia membelai pundak anaknya.
Naya menghabiskannya minum dengan sekali teguk. Dan menghela napas panjang. Mukanya di tekuk tampak rasa kesal masih menyelimuti hatinya.
“Salah ya Bu kalau punya Hayalan yang tinggi?”
“Tidak!, mala kalau bisa yang setinggi-tingginya.”
“Gagal itu wajarkan? mungkin Naya belum cocok dengan usaha yang di gelutin sebelumnya.”
__ADS_1
“Gagal itu manusiawi. Setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan. Seperti anak yang harus bolak balik jatuh saat akan belajar berjalan. Yang terpenting mau terus berusaha pantang menyerah. Contohnya Pernikahan Ibu juga mengalami kegagalan.”
“Kenapa bibi bicara seperti itu.”
“Itu berarti bibi memperhatikan kamu.”
“Perhatian? ngemusuhin iya. Perasaan semenjak cerai dengan Paman, sikap bibi berubah total.”
Sebelumnya Hubungan Bibi Darti dan Naya sangat baik. Bibi Darti sangat menyayangi keponakan satu-satunya itu. Kemana pun dia pergi Naya akan selalu ikut di sampingnya. Ketika perceraian Bibi Darti dengan suaminya, seketika sikapnya berubah drastis pada Naya. Selalu marah-marah gak jelas. Setiap bertemu seperti hawa menjadi panas. Ujung-ujungnya bertengkar. Ibu Marni tidak bisa berbuat apa-apa, sepertinya dia tahu sesuatu yang di rasakan kakaknya. Dia hanya meminta untuk Naya lebih sabar dan berbesar hati.
“Benarkan! bibi memperhatikan pekerjaan yang Naya lakukan.”
“Iya tapi bukannya mendukung mala menjatuhkan. Sudah begitu nyuruh aku nerima si Hendrik. Ogah ah Bu.”
“Bibi hanya tidak mau kamu merasakan gagal. Dan bisa saja bibi khawatir diumur kamu yang sekarang masih belum menikah juga, kita ambil positifnya saja ya,” ucap Ibu Marni menghibur Naya.
“Ibu selalu saja begitu.”
Ibu Marti mencubit pipi Naya dengan sayang serta membelai rambutnya.
“Yang penting Ibu selalu mendukung aku kan?”
“Itu sudah pasti. Ibu akan selalu mendukung Naya selama yang dilakukan itu benar dan pundak ini akan siap menampung kelu kesah apalagi saat Naya lelah dan menyerah.”
“Terima kasih Bu, terima kasih sudah menjadi ibu sekaligus bapak terbaik untuk Naya,”
ucap Naya memeluk haru ibunya.
__ADS_1
Begitu hangat dekapan seorang ibu terhadap anaknya. Menenangkan jiwa yang diselimuti amarah.