Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Bertemu Lee Min Ho


__ADS_3

Naya terpesona melihat bunga Mawar merah yang tengah mekar. Menyejukkan hati. Dia mendekat untuk memandangnya lebih jelas. Dan jongkok untuk menghirup aromanya yang harum. ‘Aku sangat ingin menanammu’ ucapnya pada diri sendiri. Di memasukkan bunga mawar di list bunga yang akan dia tanam. Hatinya terpikat pada pandangan pertama. Dia sudah tak sabar akan segera menanam bunga-bunga itu. Harus cepat-cepat bilang pada Om Surya.


Bruuk.. Kepala Naya membentur sesuatu saat akan bangkit.


“Aduh,” keluhnya.


“Maaf,” sahut seorang pria yang tengah berdiri tepat di belakang Naya. Di tangannya sedang memang satu pot bunga kaktus.


Naya memegang kepalanya yang sakit. Terjedot pot bunga kaktus. Pantas saja pot bunga dari batu alam. Naya meringis kesakitan.


“Maaf saya tidak sengaja,” ucap pria itu sambil meletakkan potnya di bawah.


Bukannya marah atau kesal Naya justru memandang kagum pria itu. Hidung mancung, bibir merah muda dan rambut belah samping.


Lee Min Ho ada dihadapanku, ucapnya dalam hati. Gara-gara kepalanya terbentur pot bunga membuat jadi halusinasi.


“Darling,” Hendrik berlari ke arah Naya.


“Darling.. daging guling!” sahut Naya kesal.


“Kamu gak kenapa-napa kan, mana yang sakit,” ucap Hendrik panik.


“Apa kamu terluka,” ucap pria tadi lembut.


“Harusnya kamu hati-hati, gak lihat ada orang,” marah Hendrik.

__ADS_1


“Tadi saya penasaran lihat kamu serius banget lihatin bunga, jadi saya samperin gak taunya kamu langsung bangkit.”


“Iya.. kan kasihan My Darling jadi sakit kepalanya,” sahut Hendrik.


“Sekali lagi saya minta maaf, tidak sengaja.”


Bukannya memberi respon. Sedari tadi Naya tidak mendengarkan ucapan pria itu. Dia tersenyum memandang pria itu. Pipinya merah. Pria itu tampak persis Lee Min Ho idolanya.


“Nay.. kok kamu mala senyum,” ucap Hendrik kesal. Dia memukul lengan Naya.


“Apa?” ucap Naya kesal.


“Bukannya sakit, kok kamu justru senyum.”


“Lengan aku yang sakit kamu pukul.”


Mendengar ada keributan om Surya segera menyamperi.


“Ada apa ini,” ucapnya penasaran


“Gak apa-apa Om, hanya insiden kecil,” jawab Naya masih sambil memegang kepalanya.


“Inseden yang membuat kepala seseorang jadi benjol Pak Surya,” ucap pria itu.


“Sam,” sapa om Surya.

__ADS_1


“Om kenal?” tanya Naya.


“Kenalkan ini Sam, pemilik toko Florist yang menampung bunga-bunga di sini.”


Nama pria itu Sam. Dia mengulurkan tangannya pada Naya. Malu-malu Naya berjabat tangan dengan Sam.


“Lunaya,” ucap Naya lembut.


Mereka saling pandang satu sama lain. Cukup lama. Hati Naya berbunga-bunga. Senyum mengembang lebar menghiasi wajahnya hingga mata menyipit. Sam tampak seperti idolanya. Sangat persis. Seperti kembarannya saja. Dia menghayal seakan sedang berjabat tangan dengan Lee Min Ho.


“Eeemh,” sela Hendrik.


Naya menarik tangannya. Salah tingkah.


“Naya baru akan memulai berkebun seperti saya. Jadi bila saya tidak ada bunga kamu bisa ambil sama Naya.”


“Om ngayur, belum tentu berhasil.”


“Kalau usaha itu harus Optimis, jangan Pesimis.”


“Pak Surya benar harus Optimis, kalau usaha berkebun kamu berhasil saya bisa ambil dari kamu juga.”


“Belum lagi mulai dan tahu hasil aku sudah dapat pelanggan. Beruntung banget aku, terima kasih ya Om sudah ngebantuin.”


Om Surya tidak menjawab. Hanya tersenyum dan mengangguk pelan. “Kepala kamu tidak apa-apa kan?”

__ADS_1


“Sudah tidak Om,” ucap Naya sambil tersenyum pada Sam.


__ADS_2