Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Jangan Menyerah


__ADS_3

Karena lebih besar pasak dari pada tiang. Dengan terpaksa Naya harus menutup warung bubur miliknya. Untuk kesekian kalinya gagal. Pasti ntar bibi Danti ngomel dan kasih ceramah lagi. Untuk menghindari omelan bibinya, Naya lebih memilih mengurung diri sejak pagi di kamar. Heran melihatnya, energinya gak habis-habis untuk mengomel.


Menyendiri dalam diam, ditemani musik Favoritenya.


Tak ada manusia


Yang terlahir sempurna


Jangan kau sesali


Segala yang telah terjadi


Syukuri apa yang ada


Hidup adalah anugrah


Tetap jalani hidup ini


Melakukan yang terbaik


Tuhan pasti kan menunjukkan


Kebesaran dan kuasaNya


Bagi hambaNya yang sabar


Dan tak kenal putus asa


Jangan menyerah


Jangan menyerah


Jangan menyerah


Jangan menyerah oh...

__ADS_1


Memandang poster Lee Min Ho.. yang sedang tersenyum sambil mengepalkan tangannya seakan memberi semangat. Membuat hatinya senang. Terhibur. Artis Korea idolanya.


Naya tertidur pulas saat ibu Marni mengetuk pintu kamar untuk mengajaknya makan siang. Berulang kali. Hingga akhirnya Naya tersentak terbangun. Berat dia membuka matanya. Dengan langkah gontai Naya membuka pintu kamarnya yang terkunci dan kembali lagi berbaring ke tempat tidur.


“Nay.. Makan dulu yuk!”


“Ntar saja deh Bu, masih kenyang.”


“Kenyang apanya. Dari pagi belum makan. Nanti sakit looh!”


Dengan malas Naya duduk di tempat tidurnya dengan mata terpejam.


“Buruan. Bi Danti lagi gak ada.”


“Beneran Bu?” sahut Naya dengan mata terbelalak.


“Barusan keluar, katanya ada u...” belum lagi ibunya selesai bicara, buru-buru Naya pergi ke dapur, “rusan,” sambungnya pelan. Terpelongo dengan kelakuan putrinya.


Naya yang tadinya malas, dengan cepat menuju meja makan.


“Ibu belum siap ngomong sudah nyelonong pergi.”


“Maaf Bu.”


“Makannya yang pelan.”


“Laper.”


“Tadi katanya gak laper.”


Naya hanya tersenyum nyengir. Dengan pipi tembam karena penuh makanan di mulut.


Ibu Marni tersenyum melihat tingkah putrinya. Dia memang ibu sekaligus bapak yang baik untuk Naya. Semenjak di tinggal pergi oleh suaminya. Dia membesarkan Naya seorang diri tanpa terpikir untuk menikah lagi. Hanya fokus terhadap putrinya seorang. Bekerja dari pagi hingga malam, sebagai seorang penjahit. Sikapnya yang lemah lembut, bijaksana dan penyayang membuat Naya selalu nyaman bersamanya. Salah satu team penyemangat saat Naya sedang jatuh dalam kegagalan.


Naya terduduk tak berdaya sambil memegang perutnya. Kekenyangan. Panas, kegerahan sehabis makan. Keringat bercucuran dari wajahnya. Ibu Marni hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Mengambil tisu dan menyeka keringan Naya pelan. Dia sangat perhatian.

__ADS_1


“Kenyang Bu.”


“Kalau tidak kelewatan, nasi sebakul di habisi.”


Naya tersenyum lebar menampakkan gigi kelincinya.


“Jadi rencana kamu sekarang apa?”


“Gak tahu ah Bu! pikiran lagi mumet,” ucap Naya tertunduk lesu.


“Ibu punya ide, itu juga kalau kamu mau.”


“Ide apaan?”


“Kenapa tidak coba untuk berkebun? bukannya dulu kamu suka berkebun sama nenek.”


“Berkebun?”


“Iya. Berkebun bunga, jadi nanti hasilnya kan kamu tolak ke toko-toko bunga. Teman ibu yang usaha seperti itu, hasilnya lumayan.”


Naya terdiam. Tampak dia sedang memikirkan sesuatu.


“Kalau Naya mau, nanti ibu coba bilang ke teman ibu. Kita minta bibit yang bagus. Lagian sayang halaman belakang rumah yang begitu lebar isinya ilalang semua.”


“Naya takut gagal lagi Bu.”


“Jadi ceritanya sudah menyerah ini sebelum mencoba.”


“Menurut Ibu bagaimana? bakalan berhasil gak?”


“Bagaimana ibu bisa tahu kalau belum di coba”


“Iya deh.. aku mau coba. Semoga kali ini berhasil.”


Naya tersenyum kaku. Masih ada keraguan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2