
Hayalan penulis tentang para tokoh dalam Novel
🌸 Lunaya
Gadis penghayal yang ceria, dan pantang menyerah.
🌸 Dito
Pekerja keras, sayang dan bertanggung jawab pada keluarga. Mencintai Naya dalam diam.
🌸 Sam
Pria yang lembut, pintar dan kharismatik.
🌸 Hendrik
Sangat mencintai Naya walau cintanya tak berbalas. Dan tulus membantu Naya.
🌸 Sekar
Gadis periang dan gemar memasak. Terus berjuang untuk mendapatkan cinta Dito.
🌸 Ibu Marni ( Ibunya Naya )
Penyabar dan penyayang. Moto hidupnya untuk membahagikan Naya.
🌸 Bibi Danti ( Bibinya Naya )
Tegas, cerewet. Terauma pada kegagalan
__ADS_1
🌸 Digo ( Abangnya Dito )
Baik, tampan dan seorang Chef
🌸 Om Surya
Pekerja keras, humoris
🌸 Dinda ( Adiknya Dito)
Seorang gadis imut dan penurut.
Kembali ke cerita...
Lunaya sangat menekuni usaha berkebunnya. Dia tidak kaku lagi mengejarkannya. Sejak kecil Naya sudah terbiasa berkebun bursama neneknya. Sangat cekatan. Bunga-bunga yang di tamam juga tumbuh subur dan berkembang dengan cepat. Belum genap sebulan sudah tumbuh kuncup bunga yang sebentar lagi akan mekar. Sudah hampir sebulan juga Naya tidak bertandang ke rumah Dito.
“Naya ada tamu jauh,” sahut ibu Marni dari dalam rumah.
“Biasanya kamu yang datang ke bengkel sekarang aku yang datang ke kebun,” ucap Dito.
Mereka duduk santai di gajebo di tengah kebun. Menikmati semilir angin yang berhembus sepoi. Dito memperhatikan seksama kebun yang sudah penuh dengan berbagai macam bunga. Dari yang sudah tumbuh besar sampai yang baru saja mulai tanam.
“Bisa kangen juga sama kamu, sudah hampir sebulan gak ketemu,” ucap Dito
“Aku kan memang ngangenin,” jawab Naya sambil nyengir.
“Sepertinya bakal sukses ini!” ucap Dito.
“Kamu bisa saja, ini masih permulaan bahkan pertarungan belum juga di mulai.”
“Pertarungan?”
“Ya.. belum juga mulai mencari toko yang akan menampung bunga.”
“Bukannya kemaren bilang pelanggan Om Surya mau menampung.”
“Itulan bila Om Surya tidak ada, setidaknya harus ada beberapa toko.”
__ADS_1
Dito menggangguk sambil memetik kelopak bunga mawar tepat di sampingnya. Lalu menghirup aromanya yang harum.
Ploook.. melihat kelakuan Dito, Naya memukul pundak Dito kuat.
“Sakit Nay..!” keluh Dito.
“Siapa suruh merusak bunga aku, itu harusnya sudah bisa siap jual.”
“Maaf! Kebablasan, aku terpikat sama kecantikannya.”
“Merugikan orang saja.”
Keira memasang muka murung membuat Dito merasa bersalah.
🌸🌸🌸
“Permisi.”
Sam tengah berdiri di depan rumah Naya. Ibu Marni yang sedang memasak di dapur segera menghampirinya.
“Siapa ya?” tanya Ibu Marni. Matanya berbinar melihat ketampanan Sam. Dia sedang mengingat, seperti pernah melihat wajahnya.
“Saya Sam, temannya Lunaya.” Sahut Sam.
“Temennya Naya! Dikira siapa,”
Sam tersenyum tipis.
“Naya ada di kebun belakang, langsung ke sana saja ya,” sahut Ibu Marni sambil menunjuk ke arah kebun.
Sam baru akan membuka sepatunya untuk masuk ke dalam rumah. “Pakai saja nanti kakinya kotor, dihalaman belakang tidak ada sandal,” larang Ibu Marni pada Sam.
Sam berjalan mengikuti Ibu Marni. Melewati dapur. Dari kejauhan tampak Naya dan Dito tertawa lepas. Sam tampak serius melihat. Pandangannya hanya tertuju pada Naya. Tanpa sadar dia tersenyum melihat Naya tertawa lepas. Saat pandangannya beralih ke Dito, raut wajahnya berubah kesal.
“Nay..! Ada tamu lagi,” jerit Ibu Marni. Suaranya yang keras mengejutkan Sam yang ada di sampingnya.
“Sam,” ucap Naya.
“Yang waktu itu kamu ceritain,” sahut Dito.
“Ceritain? kamu gak mau dengar.”
Naya menghampiri Sam, meninggalkan Dito yang masih duduk terdiam
__ADS_1