
Hari sebelumnya...
Bengkel Dito sedang sepi pelanggan. Dia menghabiskan waktu dengan bersih-bersih. Merapikan peralatan bengkel. Barusan dia mendapat telepon dari Naya yang meminta untuk menemaninya bertemu dengan teman ibunya besok. Dengan senang hati Dito menerimanya. Sejak dulu Dito tidak pernah menolak permintaan Naya.
Praaaang
Terdengar ada sesuatu yang terjatuh dari dalam rumah. Dito terkaget dan berlari ke dalam rumah. Pikirannya kalut. Nalurinya berkata sesuatu yang buruk terjadi. Dia berkeliling mencari sumber suara. Ruang tamu dan dapur. Tidak ada apa-apa. Kamar ayah, pikirnya. Jantungnya berdetak kencang. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada ayahnya. Dibukanya pintu kamar. Betul saja. Tampak ayahnya sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Pecahakan gelas berserakan di sampingnya.
“Ayah,” teriak Dito
Dito mengguncang pelan tubuh ayahnya. Memeriksa nafasnya. Nafasnya tidak beraturan.
“Ayah bangun,” ucapnya lirih penuh sedih.
“Bang Dito! Om kenapa?” ucap Sekar yang sudah berdiri di dekat pintu kamar.
“Aku tidak tahu saat aku datang ayah sudah jatuh, kamu kenapa bisa ada di sini?”
“Tadi aku tidak sengaja lewat dan melihatmu berlari jadi aku mengikuti, maaf aku lancang nyelonong masuk ke rumah tanpa permisi.”
“Tidak apa-apa, kamu bisa bantu aku.”
“Dengan senang hati.”
Sekar membantu Dito membopong ayahnya pergi ke rumah sakit.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Hari ini Naya tampak terlihat lelah. Sehabis pulang dari kebun bunga, dia tidur rebahan di sofa ruang tamu. Matanya terpejam sejenak. Melepas peluh. Senyum terkembang menghiasi wajah teringat kejadian tadi. Saat berkenalan dengan Sam. Sebelum pulang mereka saling bertukar nomor telepon. Dia sangat mengagumi Sam yang kharismatik dan juga ramah.
“Naya sudah pulang,” ucap ibunya.
“Barusan Bu,” sahut Naya masih dengan mata terpejam.
“Bagaimana tadi dapat bunganya?
Menarik nafas panjang Naya bangkit untuk duduk, “dapat Bu, ternyata kebunnya luas dan bunganya banyak jenis dan cantik. Bunga-bunga yang aku pilih akan di antar anggota om Surya besok pagi.”
“Bagus kalau seperti itu.”
“Oh ya Bu, tadi om Surya bilang kalau dia pernah naksir Ibu,” goda Naya.
Hahahaa. Ibu Marni tertawa kecil. Mengingat masa lalu
“Itukan dulu waktu masih muda.”
Ibu Marni tersipu malu. Pipinya memerah, “sudah ah.. kamu bikin Ibu malu saja.”
“Iya iya Ibuku,” ucap Naya sambil memeluk ibunya.
“Teringat Ibu kamu gak ngejenguk ayah Dito.”
“Emangnya om Damar kenapa?”
“Kamu nggak tahu? tadi waktu Ibu ketemu Dinda, dia bilang ayahnya masuk rumah sakit.”
__ADS_1
“Yang benar Bu,” ucap Naya tak percaya.
“Iya.. kalau tidak salah katanya semalam jatuh dan tidak sadarkan diri.”
“Kenapa Dito gak kasih tahu aku sih,” ucap Naya kesal.
“Mending sekarang kamu telpon Dito, tanya bagaimana kabar ayahya.”
Naya mengangguk dan mengambil Handphone dari kantong celananya. Segera dia menelepon Dito.
Telepon tersambung tapi tidak ada jawaban. Beberapa kali tapi tetap tidak ada jawaban. Naya mencoba menelepon kembali. Lama masih tidak ada jawaban. Hampir saja Naya membanting Handphonenya karena kesal.
“Ya Nay, ada apa?” ucap Dito.
“Harusnya aku yang bertanya ada apa, kenapa tidak memberitahuku.”
“Beritahu apa?”
“Jangan pura-pura, bukannya ayah kamu masuk rumah sakit!”
“Hanya luka sedikit dan sekarang sudah membaik.”
“Mengapa tidak memberitahuku,? aku seakan menjadi sahabat yang tidak berguna.”
“Bukan masalah besar.”
“Di Rumah Sakit mana,? Aku akan ke sana.”
__ADS_1
“Tidak perlu, paling besok sudah bisa pulang.”
“Katakan atau tidak persahabatan kita akan berakhir.”