
Sekar mondar mandir di depan rumah Dito. Bengkel sedang tutup, seperti tidak ada orang di rumah. Tapi tidak mungkin, ayah Dito baru saja keluar dari rumah sakit pasti ada di dalam dan seseorang yang menjaga. Sekar membawa sesuatu di tangan. Ragu-ragu dia mengintip ke dalam rumah. Kacanya terlalu gelap sinar matahari juga menyilaukan. Tiba-tiba sesorang membukakan pintu. Seketika Sekar terperanjak kaget.
“Bang Digo,” sapa Sekar.
“Sekar!” balas Digo, “cari Dito?”
Sekar mengangguk malu-malu. “Ada di dalam bang?”
“Tadi pamit pergi, katanya mau ke rumah Naya.”
“Naya!” Sekar tertunduk lesu. Dia sengaja bangun lebih pagi agar sempat memasak kue untuk Dito. Tadi malam dia mendapat pemberitahuan di media sosialnya bahwa Dito hari ini berulang tahun. Apa daya Dito justru tidak ada.
“Happy Birthday Dito! Kuenya untuk Dito?” ucap Digo.
“Hari ini ulang tahun Dito kan bang?” tanya Sekar menyakinkan.
“Astaga! Lupa,” Digo menepuk jidatnya pelan. Padahal minggu lalu Digo berencana membuat kue spesial resep terbarunya untuk Dito. Apa mau di kata Digo terlalu sibuk mengurus ayahnya hingga melupakan rencananya.
Sekar menertawakan tingkah Digo.
“Ngobrol di dalam saja yuk!” ajak Digo dan mempersilahkan Sekar masuk.
Sekar meletakkan kue di atas meja. Dia tidak memberanikan diri untuk duduk. Menunggu instruksi dari Digo.
Dari dapur Digo membawakan segelas jus jeruk lengkap dengan es. Cuaca siang ini terik pasti segar minum sesuatu yang dingin.
“Kok tidak duduk! anggap saja rumah sendiri, jusnya juga di minum. Cuma bisa bikin itu maklum bahan di dapur sudah pada kosong.”
“Jadi merepotkan,” ucap Sekar sambil menenggak minumannya.
“Sekar yang buat kue?” tanya Digo.
“Iya, belajar dari Bunda jadi harap maklum jika rasanya tidak enak.”
__ADS_1
“Waah.. Sekar merendah saja! Justru abang mau belajar sama Sekar, makanan yang sering kamu kasih sangat enak. Kemaren kalau tidak salah juga kamu kasih Waterzooi kan masakan khas Belanda.”
“Abang juga makan?” tanya Sekar.
“Sedikit, berebut dengan Dito.”
“Bang Dito?”
“Dia yang paling rakus. Dinda merengek hanya kebagian dikit,” jelas Digo.
Wajah Sekar memerah. Tampak raut bahagia. Dia terdiam melamun. Mambayangkan Dito.
“Sekar.. Sekar! kamu melamun? ditanya kok gak jawab,” ucap Digo, menyadarkan Sekar dari lamunan.
Sekar jadi salah tingkah dan Merapatkan kedua bibirnya.
“Mikirin Dito?” tanya Digo.
“Tadi bang Digo tanya apa?” ucap Sekar mengalihkan pembicaraan.
“Kebetulan Bunda keturunan Belanda jadi kita sering masak makanan Belanda, lain kali akan Sekar buatkan Ontbijtkoek.”
“Kalau begitu boleh kapan-kapan masak bareng bundanya Sekar.”
“Tentu saja! nanti akan Sekar sampaikan pada Bunda,” sahut Sekar.
“Ada yang mau abang tanyakan.”
“Soal apa?” tanya Sekar penasaran.
“Sekar suka ya sama Dito?”
“Eemh..,” Sekar ragu untuk menjawab.
__ADS_1
“Kenapa?” ucap Digo, ekspresi wajah Sekar berubah. Yang sebelumnya dia tampak ceria sekarang tampak muram.
“Sebenarnya.. sudah beberapa kali Sekar mencoba untuk menyatakan perasaan pada bang Dito tapi selalu di tolak,” ucap Sekar dengan sedih.
“Oh ya..!”
“Bang Dito sudah punya pacar ya bang?” tanya Sekar pada Digo.
“Gimana mau punya pacar! Bergaul saja tidak mau, temannya paling hanya Naya.”
“Cewek yang sering datang ke sini bang?”
“Iya,” Dito membenarkan.
“Dia bukan pacar bang Dito.”
“Mereka sudah bersahabat sejak lama, abang rasa tidak mungkin.”
“Seiring berjalannya waktu perasaan bisa berubah tanpa kita sadari.”
Digo termenung mendengarkan perkataan Sekar. Bisa saja. Tidak menutup kemungkinan. Tapi selama ini Dito tidak pernah mengatakan nya jadi itu tidak mungkin.
“Mungkin saja, tapi abang yakin itu tidak terjadi pada Dito dan bila Sekar berkenan abang bisa membantu membuat Dito membuka hatinya untuk kamu.”
“Benarkah? Tentu saja!” ucap Sekar girang.
“Ya.. sepertinya kalian cocok. Abang juga mau kalau Dito memiliki pacar.”
“Abang sendiri bukannya belum punya pacar?”
Digo dan Sekar tertawa bersama.
🌸🌸🌸
__ADS_1
*Waterzooi merupakan makanan khas Belanda yang biasa di hidangkan saat musim dingin, berbentuk soup yang terbuat dari ikan maupun ayam.
*Ontbijtkoek merupakan kue khas Belanda yang terbuat dari gandum yang sering dibumbui dengan cengkeh, kayu manis, jahe dan pala.