Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Nona Egois


__ADS_3

Setelah menutup telepon Naya segera pergi. Tanpa mandi. Padahal dia seharian di kebun bunga terkena sinar mentari. Hanya mengganti baju dan memakai Parfum di sekujur badannya, Naya berangkat pergi. Baunya menyengat.


Naya datang seorang diri. Dia mencari-cari ruangan yang telah di beritahu Dito lewat telepon.‘Kenangan 4’ . Saat tadi Dia bertanya pada suster ada di lantai dua. Naya menelusuri tangga menuju lantai dua. Tampaknya ruangan Kenanga ada di pojok kanan. Di ujung lorong Dito terlihat sedang duduk termenung. Naya segera menyamperi Dito.


“Dito,” sapa Naya.


“Naya..! datang juga.”


“Kan sudah bilang mau datang.”


“Emh.. menyengat sekali, mau ke Mall atau Rumah Sakit sampai pakai Parfum sebotol.”


Dito menutup hidung dan menjauh dari Naya.


“Masa sih? Soalnya tadi gak mandi dari pada bau ketek,” Naya mencium lengan bajunya. Menghirup wangi Parfumnya. Naya menahan nafasnya dan menjauhkan lengannya. Dia baru sadar telah memakainya berlebihan.


“Jorok.”


“Tapi cantik,” ucap Naya sambil menyentuh pipinya dengan telunjuk jari dan memainkan mata.


“Mana ada jorok yang cantik.”


“Sudah ah,, gak usah di bahas. Bagaimana keadaan om Damar?” tanya Naya sambil duduk di samping Dito.

__ADS_1


“Kata dokter tensi darahnya naik itu yang mungkin menyebabkan jatuh, kepalanya terbentur dan ada luka di lengannya kena pecahan gelas.”


“Kasihan om, semoga segera sembuh.”


Naya bangkit dari tempat duduknya. Berjalan ke arah kamar om Damar. Dia mengintip ke dalam ruangan lewat kaca yang menghiasi pintu. Naya tidak memberanikan diri untuk masuk. Dia tidak mau membuat ayah Dito kesulitan bernafas karena Parfumnya. Naya berhayal jauh. Saat dia masuk ke ruangan, om Damar yang sedang tertidur pulas secara tiba-tiba kesusahan bernafas dan menarik tangan Naya meminta tolong hingga membuat panik Dito serta perawat. Tidak.. tidak. Ucapnya dalam hati sambil geleng kepala.


“Aku marah sama kamu, kenapa tidak memberitahuku kalau om masuk rumah sakit? Kamu tidak menganggapku sebagai sahabat lagi,” ucap Naya.


“Bukan seperti itu,” Dito juga bangkit dari duduknya menyamperin Naya.


“Lantas apa?”


“Bukannya kamu akan pergi melihat bunga, aku hanya tidak mau merepotkan.”


“Maaf deh.”


“Aku yang minta maaf, seharian ini sudah banyak yang minta maaf sama aku. Seharusnya aku tanya alasan kamu gak jadi nemeni. Bukannya langsung main tutup telepon, aku terlalu egois.”


“Bagus kalau sudah sadar, Nona Egois.” ucap Dito sambil tertawa


Naya meninju tangan Dito. Dia tersipu malu melihat Dito menertawakannya.


“Uust.. jangan berisik,” ucap Dito menutup mulut.

__ADS_1


Naya menutup mulutnya juga. Dan menarik Dito untuk duduk kembali.


“Terakhir si Hendrik yang antar aku tadi.”


“Ada kemajuan Hendrik.”


“Pengen jitak kepalanya, naik motor sengaja ngerem mendadak.”


Wkwkwkkk. Dito tertawa puas mendengar cerita Naya. Dia tahu betul Naya sangat tidak menyukai Hendrik.


Naya segera menutup rapat mulut Dito, sebelum mereka di tegur oleh suster dan keluarga pasien yang lain.


“Tapi aku beruntung hari ini, bisa bertemu dengan Lee Min Ho.”


“Ngayal.”


“Beneran, Lee Min Ho Made Indonesia, ganteng persis seperti yang asli.”


Wajah Dito berubah menjadi muram. Dia tidak suka mendengar Naya membicarakan pria lain.


“Bunganya bagaimana?” tanya Dito mengalihkan pembicaraan.


“Ada banyak bunga yang aku pilih dan besok diantar.”

__ADS_1


__ADS_2