Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Sahabat Tersayang


__ADS_3

Lunaya duduk asyik memandang layar handphonenya. Membuka track musik miliknya. Dan mengkoneksikan earphone bluetooth yang diberikan Dito. Dia mulai mendengarkan musik. Dia memejamkan matanya, begitu menikmati musik. Bahkan Naya tidak mendengarkan Dito yang sedari tadi memanggilnya.


Frustasi, akhirnya Dito menghampiri Naya dan melepas earphonenya.


“Aduh.. kenapa sih..”


“Efek sampingnya bikin budek, buat orang kesel.”


“Kan memang begitu biar gak denger omelan bi Danti hahaaa,” tawa Naya.


Dito memanyunkan bibirnya dan melirik sinis Naya.


“Tapi Dit, baru nyadar aku.”


“Kalau aku ganteng.”


“Aduh.. bukan, pantesan selama ini kamu selalu pakai hoodie setiap ke rumah walau cuaca panas. Biar gak kelihatan pakai Earphone!”


“Kamu gak bakal ngerti penderitaannya bagaimana Nay.. berasa kayak di sauna.”


Lunaya hanya tertawa terbahak-terbahak mendengarkan ucapan sahabatnya itu. Sambil menghayal membayangkan yang dialami Dito saat itu. Pasti bermandikan keringat. Apalagi bila Matahari begitu menyengat.


Dito menempelkan Earphone ke telinganya. Mendengerkan musik yang di dengarkan Naya. Dan menyambar cepat Handphone dari genggaman Naya.


“Dari dulu ini saja musiknya. Satu-satunya lagi. Jangan Menyerah – D’Masiv. Kayak gak ada musik lain,” ucap Dito. “Kalah kamu sama tetanggaku. Musik yang di dengarinnya setiap hari Girlband dan Boyband Korea.”


“Si Sekar, yang naksir sama kamu itu.”


Dito mengangguk.

__ADS_1


“Aku kan cinta Indonesia,” ucap Naya bangga.


“Cinta Indonesia tapi gambar poster di kamarnya Lee Min Ho.”


“Hafal juga nama artis Korea.”


“Ada namanya di gambar, ya jelas tahu.”


“Masa aku pajang gambar kamu. Muka oke sih, badan juga atletis. Tapi bosen lihatnya tiap hari itu-itu mulu, sesekali lihatnya Lee Min Ho. Mana tahu bisa jadi pacarnya.”


“Kebanyakan ngayal.”


Dito menyerah. Dia hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Naya. Sementara Naya menggoda Sahabatnya dengan mencubit pelan pipi Dito.


Naya sudah menganggap Dito seperti saudara kandungnya sendiri. Hampir setiap hari Naya ke rumah Dito, bahkan sesekali menginap di rumahnya. Keluarga Dito selalu menyambut hangat dengan tangan terbuka kedatangan Naya, yang membuatnya merasa nyaman.


“Lagipula musik itu buat penyemangat aku kalau lagi Down. Setiap aku denger seakan Rian D’Masiv lagi menyemangati aku,” sambung Naya.


“Tuhkan ngayal lagi. Lagian ngapai jauh-jauh, kan masih ada aku,” ucap Dito sambil menepuk dadanya pelan.


“Ooh So Sweet sekali sahabat tersayangku,” ucap Naya hendak merangkul Dito. Tapi dengan cepat ditepis Dito.


“Sahabat mana ada yang tersayang! emangnya pacar, tersayang.”


“Ya ada lah.”


“Kalau kamu punya pacar, apa mau sayang-sayangan sama sahabat. Begitu sebaliknya pacar kamu yang sayang-sayangan sama sahabatnya.”


“Ya nggak lah!”

__ADS_1


“Kalau mau juga gak apa-apa.”


“Aku tuker deh.. sahabat terbaik”


“Eemh”


“Puas.”


Dito dan Naya saling curi-curi pandang. Ada rasa canggung.


Naya melirik Handphonenya. Dan dengan cepat bangkit dari tempat duduknya. Membuat Dito kaget bukan main.


“Gila kamu Nay.. bikin kaget.”


“Aduh..”


“Kenapa? bisul di bokongmu pecah?”


“Enak saja. Siapa yang bisulan. Aku lupa tadikan tujuan mau ke pasar, beli untuk perlengkapan dagang besok. Sudah siang gini lagi. Masih buka gak ya.”


“Ya sudah.. Buruan sana, ntar tutup lagi.”


“Aku pergi dulu ya. Earphonenya pinjam dulu.”


“Iya.”


Wajah Dito seketika berubah. Tampak ada kesedihan dimatanya, seperti ada sesuatu yang dia pendam.


🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2