Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Kebun Bunga


__ADS_3

Rencananya pagi ini Naya akan mengunjungi teman ibunya untuk mengambil bibit bunga untuk memulai usaha berkebunnya. Dito yang tadinya janji akan menemani secara tiba-tiba mengatakan tidak bisa. Tumben. Biasanya Dito selalu mengusahakannya walau dia ada kepentingan lain yang mendesak.


Hendrik nangkrik di atas motornya sambil berbincang dengan bi Danti. Naya yang sedang bete karena Dito, semakin kesal melihat Hendrik.


“Halo Naya..” sapa Hendrik


“Halo,” jawab Naya jutek.


“Kamu pergi sama Hendrik saja, bukannya teman kamu itu gak bisa diandalkan.”


“Dito sedang ada urusan,” bela Naya. “Aku bisa pergi sendiri kok.”


“Ada yang mau menemani kenapa harus sendiri.” Paksa Bi Danti.


Hendrik tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk kecil.


Bikin Naya tambah kesal.


Naya menoleh Ibu Marni yang ada di sampingnya. Meminta pendapat.


“Ya sudah pergi sama Hendrik saja,” pinta ibunya.


Naya menarik nafas panjang dan menghempaskannya. “Ya sudah deh.. ayuk! Tapi awas kamu macem-macem atau mengerem mendadak.” Naya mengepalkan tangannya hendak meninju Hendrik.


“Nay,” ibu Marni memukul pundak Naya pelan.


“Cepetan sama berangkat. Keburu siang,” ucap bi Danti.

__ADS_1


Naya berjalan tak semangat. Dan duduk berjarak dari Hendrik.


“Naya kok jauh-jauh. Pegangan pinggang Hendrik biar gak jatuh.”


“Berisik! cepetan jalan,” bentak Naya.


Hendrik sudah datang dari pagi. Bibi Danti yang meminta. Dia tahu bila Dito tidak dapat menemani Naya. Maka dari itu dia meminta Hendrik untuk menemani Naya. Ternyata Bi Danti tidak berhenti untuk menjodohkan keponakannya pada Hendrik.


Disepanjang perjalanan muka Naya cemberut. Tidak senang harus pergi dengan Hendrik. Sesekali dia membetulkan duduknya agar jauh dari Hendrik.


Akhirnya sampai di tempat tujuan. Naya segera turun dari motor.


“Sudah sampai sini, kamu pulang saja,” ucap Naya


“Kata bibi aku harus temani kamu sampai kamu selesai dan di antar pulang.”


“Iih..! kamu kok ngajarin aku bohong.”


Naya terdiam. Kata yang akan terucap menyangkut di kerongkongan. Dia menghentakkan kakinya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Ya sudah deh! tapi kamu jauh-jauh dari aku.”


“Sip Boss,” sahut Hendrik sambil memberi hormat.


Naya memandang sinis. Dan dengan cepat berjalan pergi. Hendrik yang dibelakangnya berlari kecil untuk menyeimbangi.


“Benarkan alamatnya, gak nyasar,” ucap Naya pelan.

__ADS_1


Tampak seorang pria paruh baya sedang berdiri memandang Naya yang mendekatinya. Dia tersenyum ramah. Seakan mengenali Naya.


“Lunaya kan?” tanyanya memastikan.


Naya mengangguk pelan, “iya.. Om Surya!”


“Semalam ibu kamu sudah menelepon, katanya pagi ini kamu akan datang jadi Om tunggu.”


“Maaf Om jadi merepotkan.”


“Tidak. Ayo lihat-lihat dulu,” ucap Om Surya. “Yang bareng kamu siapa? pacar?” tanyanya berbisik.


“Tukang Ojek,” jawab Naya dengan berbisik juga.


“Ooh.”


Naya dan Om Surya jalan berkeliling kebun bunga. Hendrik seperti kambing congek yang hanya mengikuti mereka dari belakang. Om Surya dengan senang hati menjelaskan berbagai macam bunga dan cara perawatannya. Dia juga mengajarkan Naya cara menanam bunga dengan benar.


“Kamu tahu tidak, dulu Om sempat naksir ibu kamu.”


“Aah yang benar Om?”


“Benar, tapi karena kena tikung bapak kamu, ya.. begitulah.”


“Om sih gak gerak cepat. Kalau tidak kan aku sudah jadi anak Juragan bunga.”


Hahaaaha.. Naya dan om Surya tertawa berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2