Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Earphone


__ADS_3

Langkah Lunaya terasa berat untuk pergi ke pasar. Pertengkaran dengan bibi Danti pagi ini membuatnya kehilangan semangat. Naya berjalan pelan menelusuri trotoar pinggir jalan. Tampak dia sedang memikirkan sesuatu. Tanpa menghiraukan hiruk pikuk lalu lintas.


Tiba-tiba seseorang menarik baju Naya dari belakang. Dia tersadar dari lamunan dan repleks menoleh ke belakang. Seorang anak kecil tersenyum kecil sambil memainkan alisnya naik turun dan menunjuk ke arah depan.


“Eeeee,” senyum Naya getir.


“Kalau jalan jangan melamun Kak,” ucap bocah itu dan berlalu pergi menghampiri teman-temannya.


Mereka menertawakan Naya. Seakan mengejeknya.


Wajar saja. Tepat di depannya ada parit yang cukup besar. Melangkah satu langkah lagi tamat sudah. Nyebur dan jadi bahan tawaan orang yang lalu lalang. Bikin malu saja. Untung ada itu bocah. Jadi terselamatkan.


“Bego.. ****..” ucap Naya sambil memukul pelan kepalanya, “kok bisa sih.. Sial banget hari ini.”


Naya lanjut berjalan. Langkah demi langkah.


Tak berapa lama. Langkahnya terhenti. Sekarang dia berdiri di depan Bengkel Dito. Sahabatnya sejak dari bangku SMA.


“Kok jadi kemari, kan mau ke pasar.”


🌸🌸🌸


Tampak Dito sedang serius menangani sepada motor.


“Dito,” sapa Naya sambil menepuk pundak Dito


“Naya, ngagetin saja. Tumpahkan olinya.”


“Aduh maaf.”


“Minta maaf itu sama abangnya.”


“Maaf ya.”

__ADS_1


“Makanya kalau pacar lagi kerja jangan di ganggu Mbak. Kalau mau sayang-sayangan tunggu kerjaanya kelar.”


“Yee.. siapa yang pacaran?”


“Ya Mbak sama Masnya.”


“Ngasal.”


Dito hanya tersenyum.


“Tapi cocok kok Mbak kalau pacaran.”


“Jangan panggil Mbak aah.. masih muda gini.”


“Wuuuuh.” Dito menoyor kepala Naya.


“Kalau di bilang muda, ya mudaan saya lagi Mbak. Delapan belas tahun.”


“Buset.. Jadi tebalan kumis saja!” nyengir Naya.


“Hahahaaaa..” tawa Dito geli.


“Udahan motor saya Mas.”


“Sudah beres nih.. sekali lagi maafin teman saya ya.”


“Ok terima kasih Mas. Jangan lupa jadikan pacar saja.”


“Yeee...” Naya sewot.


Mulut Naya komat kamit. Merepet tidak jelas pada pemuda tadi.


“Gitu-gitu langganan aku. Tapi serius baru tahu umurnya delapan belas tahun,” seru Dito.

__ADS_1


Randito Putra. Anak kedua dari tiga bersaudara. Abangnya merupakan seorang Chef di sebuah Restaurant ternama. Memiliki postur badan tinggi, kulit putih dan wajah tampan. Dia“Cinta Monyet” Lunaya. Sementara adiknya masih umur sepuluh tahun. Usia Dito dan adiknya terpaut cukup jauh, empat belas tahun. Seorang gadis cantik dan imut menggemaskan.


Setelah pelanggannya berlalu pergi. Dito tampak merapikan peralatan bengkelnya. Sudah lima tahun Dito membuka usaha bengkel. Impiannya melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi harus luntur karena memilih merawat ayahnya yang sedang sakit stroke. Serta menjaga Dan merawat adik perempuan satu-satunya. Ibunya telah tiada sejak delapan tahun lalu.


Dito memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarganya. Hingga mengorbankan pendidikannya. Padahal sudah berulang kali abangnya menawarkan untuk ayah mereka di rawat seorang perawat. Tetapi Dito menolak dan bersikeras untuk merawatnya sendiri. Hingga akhirnya dia membuka bengkel tepat di depan rumahnya untuk mengisi waktu serta menambah penghasilan.


“Kenapa kamu Nay..? itu muka apa jeruk purut, mengkerut begitu.”


“Biasa,” jawab Naya singkat.


“Bertengkar lagi sama Bibi Danti,” tebak Dito seolah mengerti apa yang dialami Naya.


“Apalagi?”


“Pakai ini.”


Dito menyerahkan sesuatu pada sahabatnya itu.


“Earphone?”


“Pakai kalau Bibi Danti merepet gak jelas lagi. Aku selalu pakai itu kalau ke rumah kamu. Tahu sendirikan bibi tersayang kamu itu benci banget sama aku. Gak jelas alasannya.”


“Pantes diajak ngomong sering gak nyambung.”


“Maaf.. Lupa ngelepasinnya.”


“Untuk akukan!”


“Apanya?”


“Earphone.”


“Beli kok. Itu aku kasih pinjam sehari.”

__ADS_1


“Pelit”


🌸🌸🌸


__ADS_2