Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Pupus sudah Hayalan


__ADS_3

Dito baru menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini bengkel ramai pengunjung yang memperbaiki sepada motor. Dia bergegas masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Hari ini dia telah berjanji pada Naya untuk singgah ke warung bubur miliknya.


Dia bergegas mengambil handuk dan pergi mandi.


“Dito.” Panggil ayahnya ketika Dito baru keluar dari kamar mandi.


“Ada apa Yah?”


“Tolong kembalikan piring nak Sekar, tadi dia mengantar makanan.”


“Dinda saja deh Yah!”


“Dinda belum pulang dari tadi pergi main.”


“Ya sudah.. Dito pakai baju dulu.”


Padahal sedang terburu-buru. Janji pada Naya datang jam dua siang, ini sudah hampir jam tiga. Yang ada ntar bisa ngambek Naya. Harus mengambalikan piringnya Sekar lagi. Dito paling malas bila berhubungan dengan Sekar. Sudah berulang kali Dito menolak cintanya tapi Sekar tidak pernah menyerah. Tetap berusaha mendapat hati Dito.


Dito berdiam terpaku berdiri di depan rumah Sekar. Ragu-ragu mengetok pintu. Belum lagi tangan Dito mendarat ke pintu. Sekar sudah membukakan pintu, seakan tahu kedatangan Dito.


“Bang Dito!” sapanya malu-malu.


Dito langsung menyodorkan piring yang ada di genggamannya, “mau balikin ini.”


Sekar mengambilnya dengan tersenyum manis.


“Masuk dulu Bang.”


“Aku harus pergi, ada urusan.”


“Ooh,” jawab Sekar singkat. Tampak perasaan kecewa dari wajahnya.

__ADS_1


“Aku pergi dulu.”


“Eemh Bang! Minggu ada waktu gak?” tanya Sekar, “mau nonton gak bareng Sekar?”


“Sepertinya tidak bisa. Belakangan bengkel ramai terus. Mungkin lain kali,” senyum Dito terpaksa.


Sekar mengangguk pelan. Dan Dito pergi berlalu tanpa sepatah kata pun. Gadis ini tergila-gila pada Dito. Bermula sejak setahun yang lalu. Ketika keluarga Sekar pindah tepat di samping rumah Dito. Dengan ramah Dito menawarkan bantuan untuk mengangkat barang-barang. Dito juga sering menawarkan tumpangan saat Sekar hendak pergi ke pasar. Bila bertemu selalu menyapa dengan senyum manisnya. Kebaikan Dito membuatnya jatuh hati. Hingga akhirnya dia memberanikan diri menyatakan perasaannya. Bukannya mendapat balasan rasa yang sama. Dito malah menjauh dan jarang memperlihatkan senyumnya. Yang ada hanya muka jutek. Walau begitu Sekar tidak menyerah untuk mendapatkan hati Dito. Yang ujungnya membuat Dito risih dan semakin menjauh. Usahanya seakan sia-sia.


🌸🌸🌸


Butuh waktu lima belas menit untuk Dito sampai ke warung bubur Naya. Dia disambut dengan muka Naya yang ditekuk. Pantas saja warungnya tampak sepi tanpa pelanggan. Belum lagi Dito yang jam karet.


“Kok lama? janjinya jam dua.”


“Maaf tadi bengkel ramai.”


“Alesan!”


Naya memanyunkan bibirnya.


Sudah seminggu Naya memulai usaha barunya, berjualan Bubur Ayam. Menghayal suatu saat dapat membuka warung yang lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Tapi sepertinya itu semua hanya tinggal hayalan. Ramai sih ramai, tapi hanya awal-awalnya saja. Ini sudah seminggu pembeli hanya beberapa. Padahal buburnya enak. Resep Nenek Moyang. Setiap buat untuk hajatan kelurahan selalu habis tak bersisa. Apa karena sekarang banyak pesaing. Bisa saja. Pupus sudah hayalan.


Apa karena bibi Danti? Belum juga mulai sudah bilang akan gulung tikar. Atau jangan-jangan karma karena kemaren melawannya. Yang ada, pasti nanti di paksa nikah lagi sama Hendrik.


Untung saja ada ibu yang pengertian dan sahabat baik hati yang selalu mensuport. Setidaknya tidak merasa sendiri di saat kegagalan.


“Apes bener sih.. gagal lagi.. gagal lagi,” keluh Naya.


“Yang pentingkan sudah usaha.”


“Jadi males pulang ke rumah. Pasti kena omel bi Danti.”

__ADS_1


“Masa mau tidur di sini?”


“Kamu gak mau kasih aku tumpangan.”


“Masih punya rumah mala mau menumpang?” Ucap Dito. “Lagian apa kata tetangga tiap malem bawa teman cewek nginap di rumah, kan jadi gak enak.”


“Kan kita sudah seperti saudara, ayah kamu sudah anggap aku seperti anak sendiri.” Ngotot Naya, “lagiankan tidurnya sama Dinda.”


“Kalau keluarga aku sih gak masalah. Tetangga mana mau tahu.”


Naya menyandarkan kepalanya di meja.


“Dari pada aku yang kena omel.”


“Gak setia sahabat.”


“Ya sudah.. Earphonenya buat kamu. Jadi gak perlu dengerin omelan lagi.”


Naya menggeleng.


“Yakin gak mau?”


“Kamaren ketahuan kalau aku pakai itu.”


“Kok bisa.”


“Gak biasa pakai, jadi kalau lama pakai bikin gatal. Pas garuk ketahuan. Makin kena omel,” jawab Naya dengan cemberut.


Dito hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Naya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2