Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Sebuah Rencana


__ADS_3

Dito masuk ke dalam rumah dengan wajah suram. Dia hanya melawati Digo dan Sekar yang asyik mengobrol. Tanpa menyadari mereka memperhatikannya. Hanya nyelonong masuk. Pintu kamarnya dia tutup dengan sedikit keras, seakan meluapkan emosi dalam hati.


“Sepertinya bang Dito sedang ada masalah,” ucap Sekar. Dia mengkerutkan keningnya, mencoba menebak apa yang telah terjadi sambil menatap pintu kamar Dito.


“Tadi waktu pergi biasa saja, apa mungkin bertengkar dengan Naya?” tebak Digo.


“Mungkin saja,” ucap Sekar.


“Mereka jarang bertengkar jadi rasa-rasanya tidak mungkin, terakhir kali saat Dito tidak mau melanjutkan kuliahnya padahal dia mendapat program beasiswa.”


“Mengapa?” tanya Sekar penasaran.


“Dito ngotot tidak mau kuliah karena mau mengurus ayah padahal waktu itu abang berencana mempekerjakan seseorang untuk merawat ayah,” jelas Digo.


“Lantas mengapa sampai bertengkar dengan Naya?” tanya Sekar penasaran.


Digo menghela nafas, “Naya itu orang yang peduli pada Dito, mereka selalu bersama saling mendukung satu sama lain. Bisa di katakan Naya lah yang paling senang dan bersemangat dari pada kami semua saat tahu Dito mendapatkan beasiswa walaupun beasiswa dia sendiri ditolak. Karena Dito gak mau menerima jadi Naya marah besar sampai-sampai mereka tidak saling bicara selama sebulan.”

__ADS_1


“Boleh tahu bang Dito dapat beasiswa apa?”


“Teknik Sipil di salah satu universitas ternama.”


“Waw..! Sekar baru tahu,”


Digo tersenyum melihat espresi Sekar. Dan jahil mencuil sedikit kue buatan Sekar dan menyicipinya. Wajahnya tampak serius, dia mangatup mulutnya rapat. Seperti Chef yang sedang menilai masakan para peserta lomba di acara Televisi. Sedetik kemudian dia menganggukkan kepala. Sekar yang sedang termenung memikirkan sesuatu tidak menggubris Digo.


Mulut Digo yang masih bergoyang mengecap rasa seketika terhenti saat Sekar tiba-tiba menoleh padanya dengan ekspresi wajah datar dan sorot mata yang tajam.


“Bagaimana kalau bang Dito bekerja di tempat Om David,” ucap Sekar dengan semangat mengejutkan Digo yang diam terpaku.


“Ooh,” Digo mengelus dadanya legah.


“Kok Oh?” tanya Sekar heran.


“Aah,” Digo diam sejenak mencoba memahami yang di katakan Sekar.

__ADS_1


Sekar memgkerutkan dahinya menunggu jawaban Digo.


“Bekerja! maksud Digo bekerja di perusahaan om kamu?”


“Sebenarnya om David mencari Sarjana Teknik siih..! tapi bukannya bang Dito punya bakat design sampai mendapatkan beasiswa harusnya seperti itu yang di butuhkan. Nanti akan Sekar tanyakan dulu pada om David.”


“Yang jadi masalahnya nanti Dito, dia mau atau tidak. Anak itu Keras Kepala.”


“Nanti akan kita pikirkan caranya, kita harus susun rencana tapi harus memastikan dulu pada om David.”


Digo mengangguk mengerti.


“Kalau begitu Sekar pamit dulu, jangan lupa kuenya untuk bang Dito,” Sekar bangkit dari duduknya dan menoleh memandang kue buatannya. Tanpa sengaja mata menyorot kue yang tak lagi utuh sempurna karena ulah Digo. Sekar menyipitkan matanya untuk lebih fokus. Wajah berubah cemberut dan melirik Digo sinis. Sementara Digo hanya menunjukkan ekspresi panik. Dengan polos dia tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapi dengan sisa kue yang menempel.


Menghindari amukan Sekar, dia mengangkat tangannya dan mengacungkan dua jempol pada Sekar.


Seakan mengerti Sekar langsung membalas dengan tersenyum manis. Dan berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2