Lunaya... Gadis Penghayal

Lunaya... Gadis Penghayal
Cinta berkedok Persahabatan


__ADS_3

Dito berbaring di kasur sambil memeluk guling. Pandangan matanya kosong. Pikirannya jauh melayang. Digo membuka pintu tanpa mengetok pintu. Menyelinap masuk tanpa suara. Dia berdiri dengan menyilangkan tangan di depan dada memperhatikan Dito. Menggelengkan kepala melihat tingkah konyol adiknya yang tiba-tiba menghentakkan kaki ke kasur sambil menggerutu. Dito bangkit dan duduk lalu menggaruk kepalanya membuat rambutnya berantakan. Tangan Dito meraih ponsel di ujung tempat tidurnya, menatapnya sejenak dan melemparkanya kembali dengan kesal.


“Kurang keras,” ucap Digo.


...Mata Dito terbelalak melihat abangnya berada tepat di depannya. ‘Sejak kapan’ ucapnya dalam hati....


“Sudah dari tadi,” ucap Digo seakan tahu isi hati Dito.


Wajah Dito memerah, malu terhadap Digo yang melihat tingkah konyol kekanak-anaknya. Senyumnya mengembang tipis sedikit terpaksa dan menampakkan giginya. Tangannya tanpa dia sadari menggenggam baju dengan kedua tangannya.


“Ada masalah apa?” tanya Digo memulai pembicaraan.


“Masalah? tidak ada,” jawab Dito singkat.


“Lagu lama.. sok tegar kamu, bilangnya saja tidak ada masalah dalam hati meronta,” ejek Digo.


Dito tetap diam tak berbicara sepatah kata pun. Raut wajahnya memperlihatnya dia sedang memikirkan sesuatu.


“Kalau ada masalah itu di Sharing jangan di pendam. Diam.. diam.. lama-lama eek di celana,” goda Digo.


“Emangnya anak kecil.”


“Soal Naya?” tanya Digo.


Dito tidak menjawab hanya meliririk Digo sejenak menyisyaratkan membenarkan pertanyaan Digo lalu menundukkan kepalanya.


“Wanita.. wanita, paling jago meledak letupkan hati lelaki.”


“Apaan sih kamu bang.”


“Sudah ngaku saja, mulai dari kapan,” desak Digo.


Digo masih ragu untuk menjawab. Mulutnya terasa berat untuk mengeluarkan kata-kata.

__ADS_1


“Sudah dari pertama bertemu,” jawab Dito pelan.


Hahaaha..


Digo tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Dito, sampai membuat perutnya sakit dan mendaratkan tangannya di perut menahan sakit.


“Puas tertawanya,” ucap Dito ketus.


“Jadi selama ini cinta berkedok persahabatan,” ucap Digo sambil mengatur nafasnya.


“Ya nggak juga,” jawab Dito terbata-bata.


“Gak salah lagi!.”


“Bukan,” Dito menyangkal.


“Hebat kamu bisa memendamnya begitu lama, abang salut,” sahut Digo dengan mengacungkan dua jempol.


Dito mati kutu. Tidak tahu harus merespon apa. Pipinya merona merah, malu pesaaan yang terpendam selama ini terbongkar.


“Sekar! dia gadis yang baik dan aku tahu dia menyukaiku tapi aku hanya menganggapnya teman, atau bisa dikatakan sudah seperti adik.”


“Cinta tapi hanya jadi sahabat, ada yang mencintai eh.. justru di anggap adik.”


“Bukannya cinta tidak bisa di paksakan?” ucap Dito.


“Tapi cinta bukan juga untuk di pendam, ungkapkan! kenapa gak berani? takut cinta di tolak dan persahatan berakhir.”


Dito mengangguk.


“Itu sih cerita di Film.”


“Bagaimana kalau benar terjadi, aku akan kehilangan keduanya cinta dan persahabatan.”

__ADS_1


“Hei Bro.. jadi lah pria yang Gentleman, berani mengungkapkan perasaan hati walau hasil tidak sesuai yang diinginkan. Setidaknya sudah berusaha jangan menjadi pria pengecut.”


Digo meranjak pergi, saat membuka pintu dia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Dito.


“Satu lagi, setidaknya bertindak tegas pada Sekar bila kamu tidak menyukainya. Agar dia tidak banyak berharap.”


“Siap Bro...”


Dito termenung memikirkan kata-kata Digo. Mampukah dia mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan perasaan pada Lunaya.


🌸🌸🌸


Televisi menyala tanpa di tonton. Lunaya yang tengah duduk di depannya hanya termenung memandang layar ponsel. Matanya terbelalak saat membuka Sosial Medianya. Ada notifikasi yang membuatnya memejamkan mata sambil menepuk jidatnya pelan.


“Bego.. kok bisa sih,” ucapnya kesal.


Layar ponsel menampilkan pengingat ulang tahun Dito.


Dia benar-benar lupa. Dan teringat kembali pada kejadian tadi siang.


Flashback..


Saat Lunaya sedang asyik berbincang dengan Dito, Sam muncul. Dari pintu belakang rumah dia melambaikan tangan dengan wajah manis dan senyum yang lebar. Segera Lunaya berlari kecil menghampirinya.


“Kok sudah sampai sini saja tidak menghubungin lebih dulu,” sahut Naya.


“Memang tidak boleh.”


“Ya boleh sih..” ucap Naya dengan tersipu malu.


Naya mengobrol dengan Sam sejenak. Melupakan Dito yang tengah duduk sendirian memperhatikan keakraban Naya dan Sam dengan sorot mata tajam. Hatinya mulai panas melihat pandangan mata pada Naya. Insting lelakinya mengatakan Sam pasti memiliki niat merebut hati Naya darinya. Benar-benar situasi yang buruk. Disaat Dito belum dapat memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya pada Naya sudah datang lelaki lain yang siap membidik hati Naya dengan panah cinta dan itu sama saja kalah sebelum berperang.


Sinar mentari yang semakin terik menambah hawa panas dalam hati. Tak di hiraukannya lagi keringat yang jatuh bercucuran. Ditambah Sam yang dengan sengaja mengkaitkan helaian rambut Naya ke belakang telinganya. Dan parahnya Naya melupakan Dito. Dengan perasaan penuh kesal Dito pergi meninggalkan tempat duduknya.

__ADS_1


“Tante, Dito pamit pulang,” ucap Dito sambil mencium tangan ibu Marni dan pergi berlalu tanpa menyapa Naya dan Sam. Sementara Naya terbengong dengan sikap Dito tanpa sepatah kata pun.


__ADS_2