
Waktu sudah menunjukkan waktu maghrib, kami semua bersiap-siap untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah, ya rutinitas itu tidak pernah kami tinggalkan sejak aku kecil. Orang tua kami selalu mengajarkan hidup hanya sementara kami harus tetap melaksanakan perintah dari Allah agar bisa masuk surganya. Setelah shalat kami duduk santai diruang tamu, kulihat anakkku ssdang bermain dengan adik-adik ku. " Mbak rifqie tinggal disini aja ya, aku senang lo ada anak bayi lagi disini" celetuk Annisa adik bungsu ku. " Iya mbak bosen aku kalau cuma liat Annisa aja, mending yang ini lagi" celetuk Ira adikku nomor lima. " Kalian ini bertengkar terus kerjaan nya toh " ucap ibuku sambil tersenyum, kami semua pun tersenyum melihat tingkah adik-adik ku yang jarang bisa akur. "Terus bagaimana keputusan mu nak, bapak dan mamak akan menghargai apapun keputusan mu, tapi ingat ya anak mu masih kecil kamu juga harus memikirkan nya dengan baik-baik " ucap ayahku. " Benar yang dikatakan bapakmu nak, sekarang kamu gak sendiri udah ada Rifqie, jadi kamu harus memikirkan nya, bagaimana nanti masa depannya" ibu ku berucap sambil meneteskan air mata satu persatu sedih melihat nasib Putri sulungnya. "Udah to ma, jangan menangis lagi, kasihan anakmu melihat nya, tu dia ikut menangis juga " ucap ayahku sambil mengusap air mata ibuku. " Aku belum tau mak pak, tapi satu hal yang pasti aku gak akan bisa lagi hidup bersamanya karena dia dengan tega telah menikah lagi di belakangku hiks hiks hiks" tangisku pecah, aku tidak dapat menahan tangis ku saat ingat ternyata dia telah tega menikah lagi tanpa izinku saat anaknya masih bayi merah, dimana perasaannya ya Allah, apa selama ini dia perhatian padaku hanya sandiwara kenapa seperti ini gumamku dalam hati. " Ya sudah nak jangan menangis lagi, apapun keputusan kami terima, sekarang ayok kita shalat isya sudah azan tu, panggil adik-adik mu yang lain, kita berjamaah " perintah ayahku. Aku memanggil adik-adikku dan kami melaksanakan shalat isya berjamaah. Setelah shalat ayahku menyuruhku untuk beristirahat dikamar karena Rifqie pun telah tertidur lelap. "Sudah sana nak beristirahat lah sebelum anakmu bangun, tidurlah, tenangkan pikiran dan hatimu, kamu harus kuat demi anakmu, kami akan selalu ada di samping mu apapun keputusan yang akan kamu ambil" ucap ibuku sambil memeluk ku. Akupun mengangguk dan menuju kamar, kulihat anakku telah tertidur lelap, ku elus pipi kecilnya dan kucium, "maafkan aku, anakku" ucapkan lirih sambil berbaring di sampingnya.
__ADS_1
Tidak terasa shubuh telah menjelang, kurasakan kantuk susah ku membuka mata, iya karena semalam Rifqie bergadang, rutinitas malamnya menangis, untung ada orangtua dan adik-adik ku yang ikut membantu, kalau tidak aku tidak akan tidur sama sekali. Kulihat dia telah tidur nyenyak setelah minum asi. Kuturun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi untuk berwudhu kulihat semua telah menunggu ku di ruang shalat. Kami shalat berjamaah dengan Edo imamnya, karena bapakku shalat shubuh di masjid belakang rumahku. Setelah shalat karena aku masih mengantuk, aku pun tertidur lagi.
__ADS_1
Jangan lupa comment dan likenya ya agar aku semangat nih nulisnya. Dukungan kalian semua sangat membantu aku loh. Terima kasih. 🥰🥰
__ADS_1