
Sesampainya dirumah, kulihat Rifqie sudah mandi dan di gendong Ira adekku. Kupandangi anakku yang sedang tertawa karena digoda adekku. "Dek, mbak titip Rifqie ya, mbak mau kerja, cari uang untuk kalian, kasian mamak bapak, sekarang giliran mbak yang membantu".
Adekku tersenyum mendengar nya dan berkata "la iya to mbak, ini lo keponakan ku juga, ganteng lagi, aku suka anak bayi ha ha ha".
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Aku pun meninggalkan adekku dan ingin menghampiri orang tuaku yang sedang duduk dibangku bawah pohon. Ya depan rumah ku ditanami pohon oleh ayah ku agar rindang dan sejuk dan bisa dijadikan untuk tempat bersantai. Kulihat ibu dan ayahku walau sudah berumur dan punya anak tujuh masih saja mesra, aku merasa iri melihatnya, kembali kenangan menyakitkan itu terukir di ingatan ku, tak terasa air mata ku mengalir. Ibu yang melihat terkejut melihatku meneteskan air mata dan segera memeluk ku. "Ada apa nak, kenapa kamu menangis, ayo cerita sama kami" ucap ibuku sambil menghapus air mata ku.
__ADS_1
Aku pun segera duduk disamping ayahku, dan aku ingin segera membicarakan hal itu pada mereka.
" Pak mak, aku mau pergi bekerja, aku mau sedikit mencari rezeki di negara orang di Taiwan mak pak, aku minta restunya, doakan aku disini aman dan dapet bos yang baik, tadi aku sudah pergi ke sponsor, itu orang yang membawa calon tki ke luar negeri, mungkin tiga hari lagi aku berangkat ke Jakarta mak pak, aku titip Rifqie, maaf menyusahkan mak pak karena harus menjaga cucu lagi saat suda tua hiks hiks" tangis ku pecah saat aku menjelaskan maksudku.
" Coba kamu pikirkan lagi nak keputusan mu, Rifqie masih tiga bulan lo, dia masih butuh kamu ibunya, dia masih butuh minum asi, masih terlalu kecil untuk kamu tinggalkan, tunggu lah sampai dia berumur satu tahun" ayahku mencoba membujuk ku untuk memikirkan ulang keputusan ku. Tapi aku menggeleng dan sudah mantap untuk pergi bekerja, aku kasihan melihat ayah ibu ku di kejar hutang setiap hari, belum lagi uang sekolah adek-adek ku yang lumayan karena salah satunya masih ada yang kuliah, dan yang sudah menikah pun kadang masih meminta ke orang tua nya karena hidupnya masih belum baik, walaupun dia mendapatkan suami yang mencintai nya tapi suaminya pemalas sehingga adikku lah yang bekerja mencari sesuap nasi, padahal seharusnya dia dulu bisa lulus perguruan tinggi juga tapi sampai sekarang tidak lulus- lulus karena dia sibuk mencari rezeki untuk kebutuhan anaknya, ayah ibuku yang melihatnya tidak tega dan sering membantu mereka.
__ADS_1
"ya sudah kalau itu keputusan mu nak, mamak hanya bisa mendoakanmu dari sini, untuk Rifqie anamu tenang saja karena dia akan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kami dan adik-adik mu, dia tidak akan merasa kekurangan kasih sayang hanya karena orang tua nya tidak ada disampingnya, yang ibu bisa lakukan hanya mendoakanmu nak" ibuku memelukku sambil menciumi pipiku.
kami berpelukan dan sambil menangis disore itu. Tidak pernah terbayang hidup ku jadi seperti ini, yang selalu kubayangkan saat alu kecil dulu hidup sangat Indah, tetapi ternyata tidak seindah sinetron televisi.
Keesokan harinya aku pergi ke rumah sponsor yang akan membawaku ke luar negeri, aku membawa berkas-berkas yang dibutuhkan. Dia berkata bahwa tiga hari lagi kita semua akan berangkat ke Jakarta, untuk membuat paspor dan medikal kesehatan dan aku menyetujui nya..
__ADS_1