
Keesokan harinya saat aku sedang duduk dengan keluarga kecolku tiba-tiba dia datang dengan istri barunya. Kucoba menahan emosi saat melihat wajah mereka. Ayahku yang melihat itu hanya diam dan ibuku mempersilakan mereka untuk masuk. Ayah ku bertanya apa maksud nya untuk datang kerumah. Dia menyampaikan maksudnya bahwa dia rindu pada anaknya dan ingin melihat anak nya, kutahan emosi dari tadi, saat anaknya didepan matanya saja dia tidak ada perasaan sekarang saat kami sudah bercerai apa katanya, kangen, aku tidak percaya itu, kutarik nafasku, satu healaan dua helaan tiga helaan, dan aku pun berbicara padanya dengan menahan emosi. " Rindu anakmu mas, kemana saja kamu, selama dia dirumahpun kamu tak pernah melihat nya sedikitpun, dan sekarang kamu berkata rindu padanya" aku tersenyum sinis. Dia hanya melihatku frustasi, ada sesuatu yang tidak aku ketahui telah terjadi padanya. " Apa salah aku rindu pada anak ku sendiri, cukup sudah kau menghukum aku, aku hanya ingin dekat dengan darah dagingku karena dia hanya akan menjadi satu-satunya untukku" ucapnya dengan frustasi. Aku dan orang tuaku kaget mendengar ucapanya, apa maksudnya, satu-satunya, kenapa. Ayahku pun mulai berbicara padanya, "Kalau kamu masih ingin melihatnya saja tak apa, tapi hanya melihat karena hak asuh Rifqie ada pada ibunya, kami tidak akan melarang mu untuk bertemu anakmu, silahkan, dek Ira bawa Rifqie kesini, ayahnya ingin bertemu "panggil ayahku pada adikku. Dengan cepat adikku datang membawa Rifqie, kulihat matanya berkaca-kaca melihat anaknya pertama kalinya setelah beberapa bulan, aku masih tidak mengerti apa maksudnya. Lalu diambilnya Rifqie dari pelukan adikku dan diciumnya, kulihat ia meneteskan air mata. "Maafkan ayahmu ya nak, ayahmu telah bersalah telah melukai mu dan ibumu". Kulihat istri baru disampingnya juga hanya menatap sendu pada mereka berdua. Aku yang tak tahan karena penasaran pun akhirnya bertanya pada mereka " Apa maksud kalian sebenarnya ke sini, sebelumnya kamu tidak ada perasaan pada anakku sekarang kamu memeluk dia dan menangis seperti ini, aku tidak akan memberikan anakku pada kalian, karena dia adalah hartaku satu-satunya. Dia menoleh padaku, dan berucap lirih " Aku tidak akan bisa punya anak lagi, aku didiagnosa mandul oleh dokter, mungkin ini adalah karmaku karena telah menghianati mu, maafkan aku" Mendengar penjelasan kami semua kaget sedang kan dia masih saja meneteskan air matanya.
"Semua yang telah berlalu biarlah berlalu, aku tidak akan melarang kamu untuk bertemu anakmu, karena darah lebih kental daripada air, tidak akan ada yang bisa memutuskan hubungan antara ayah dan anaknya tapi hanya disekitar sini saja aku tidak mengizinkan anakku kamu bawa jauh dari rumahku, dan untuk yang kamu telah lakukan padaku, aku sudah memaafkan mu, mungkin aku belum bisa jadi terbaik bagimu" ucapku lirih.
__ADS_1
" Baik terimakasih karena telah mengizinkan untuku bertemu dengan anakku" dia tersenyum senang.
" Maafkan aku Nita telah menjadi pengganggu rumah tangga mu, aku tidak bermaksud, aku hanya tidak bisa lepas dari rasa cintaku pada Wijaya, aku telah melakukan kesalahan besar padamu hiks hiks" baru kudengar suara wanita itu menangis tapi kenapa hatiku masih sakit mengingat apa yang telah mereka lakukan dulu padaku.
__ADS_1
Kulihat Rifqie sangat senang digendongan ayahnya, dia berceloteh sengang sambil tertawa-tawa, aku sangat sedih melihatnya andai saja dia tidak berkhianat pasti anakku sekarang sangat bahagia dengan kasih sayang ayahnya, dan sebentar lagi aku pun akan meninggalkan nya untuk mencari uang dinegeri orang, maafkan aku, anakku tidak bisa melihatmu dewasa, tidak bisa mengasuhmu dengan benar sebagai ibumu karena ibumu masih ada kewajiban lain sebagai seorang anak dan kakak ucapku dalam hati.
Hari sudah menjelang sore setelah puas bertemu dengan anaknya, mereka pun pamit untuk pulang, kulihat Rifqie sudah tertidur lelap dipelukan ayahnya, kuambil anakku dan kubawa masuk ke kamar nya. Mereka mencium tangan ayah dan ibuku lalu pulang dengan hati yang damai.
__ADS_1